Bila kita membenci seseorang itu wajar, namun bencilah dengan sewajarnya. Karena kadang kala benci bisa berubah menjadi cinta.
Di sebuah ruangan.... Seorang wanita tengah di tarik paksa oleh seorang pria yang sangat ia benci, begitu pun dengan si pria yang sangat membenci si wanita.
"Tidak ada orang yang tidak menyukai aku!" tegas seorang pria bertubuh tegap yang bernama Aran Rianda, pada seorang wanita yang kini sedang berada di bawah kungkungannya.
Wanita yang bernama Velisya Khumairah itu tidak pernah mengenal kata takut hingga ia sama sekali tidak merasa gentar dengan pria yang kini tengah mengungkungnya, "Aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah...!" tegas Velisya Khumairah.
"Kau......" pria tersebut menarik paksa si wanita hingga tanpa sadar wanita itu ikut menarik si pria, dan keduanya terjatuh di sofa dengan Velisya yang berada di bawah tubuh kekar Aran.
Tanpa bisa di tolak lagi, seorang pria paruh baya menyaksikan itu semua.
"KALIAN HARUS MENIKAH.....!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Anggia kini tengah mual dan muntah, ia merasa tidak nyaman sekali karena terus merasakan mual. Namun walaupun begitu Bilmar tidak pernah jauh darinya, sebab Bilmar kini bukan hanya sekedar suami tapi sekaligus bodyguard bagi Anggia.
"Hueek-hueek......."
Di usia kehamilan yang masih cukup muda ini Anggia harus ekstra hati-hati, dalam menjaga kandungannya. Dan ia pun selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk baby twins, sebab bayi kembar nya itu kini cukup rewel karena sudah tidak minum asi lagi.
"Sayang, kamu dari pagi mual terus, apa kita ke dokter aja?" tanya Bilmar yang sedari tadi terlihat cukup khawatir akan kondisi sang istri.
"Anggi cuman mual dan ini biasa terjadi, Anggi minum obat aja," terang Anggia yang tidak ingin melihat suami tercintanya itu khawatir.
"Sayang kamu mual terus apa kamu pingin sesuatu? Untuk menghilangkan mual nya?"
"Abang kita cari rujak yuk," tiba-tiba Anggia ingat saat dulu ia hamil baby twins dan Bilmar menemaninya makan rujak, hingga Anggia merasa makanan yang tepat untuk siang yang panas ini adalah rujak.
"Yakin cuman cari aja?" Bilmar mencolek Anggia, istrinya itu kini sangat manja. Bahkan hanya makan saja ia ingin di suapi Bilmar, di tambah lagi malam hari nya saat tidur pun Bilmar ia peluk sampai pagi hari, dan bila Anggia membuka mata tidak ada Bilmar ia akan langsung menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Bilmar sangat tidak keberatan akan hal itu, sebab bila Anggia tidak hamil ia lebih mandiri. Sedangkan Bilmar ingin terus di butuhkan oleh istrinya.
"Ish......Abang," Anggia mencubit kecil lengan Anggia, karena ia tahu suami nya itu sangat suka menggoda.
"Ish......mentel nya......." Bilmar mendekati Anggia dan memeluk gemas sang istri.
"He-he-he."
"Itu kenawa atau apa?" tanya Bilmar yang melihat tingkah istri manjanya.
"Ish.....ayo, kita cari rujak......" Anggia ingin menarik Bilmar keluar dari rumah, tapi Bilmar tidak mau bergerak.
"Tidak ada yang gratis sayang, di dunia ini semua harus ada bayarannya."
"Em......ish.....Abang ya, nggak ada yang bener."
Bilmar tersenyum dan menunjuk pipinya, dengan berjijit Anggia berhasil mengecup sebelah pipi Bilmar. Namun Bilmar kembali menunjuk pipi yang sebelah nya lagi yang artinya ia ingin keduanya.
CUP......
CUP.....
Dengan cepat Anggia langsung memberikan apa yang di pinta oleh Bilmar, agar ia bisa segera menikmati rujak yang sedang ia inginkan sekarang.
"Udah, ayok berangkat......." Anggia tersenyum dan menarik lengan Bilmar.
"Iya ayo."
Keduanya keluar dari rumah dengan berjalan beriringan, kemudian ia membuka pintu mobil dan mempersilahkan Anggia masuk kedalam mobil.
"Silahkan my wife."
"Thanks you my husband.....I love you," Anggia tersenyum dan ia masuk kedalam mobil Bilmar, kemudian duduk manis di sana.
"Love you to....." Bilmar menutup pintu mobil, lalu ia mengelilingi mobil dan masuk kedalam mobil kemudian ia mengemudikan mobilnya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat penjual rujak yang di tuju, Bilmar sudah tahu di mana Anggia suka makan rujak. Hingga ia tidak perlu lagi banyak bertanya, kehamilan yang pertama membuat Bilmar banyak tahu tentang Ibu hamil.
"Anggi sayang ayo turun," Bilmar membuka pintu dan memberikan tangannya untuk dipegang Anggi.
"Makasih, Abang aku......" Anggia tersenyum penuh cinta pada sang suami.
"Ngi, senyum yang seperti itu di rumah aja."
"Kenapa?"
"Kalau kamu senyum seperti itu di tempat umum begini, Abang nggak rela karena banyak lelaki yang melihatnya," terang Bilmar sambil berjalan bersama Anggia dan mereka mendekati gerobak penjual rujak, karena memang mereka makan rujak di pinggir jalanan.
"Abang ish......gombal....." Bilmar memeluk lengan Anggia sambil bergelayut manja.
"Kamu pesan sekarang....."
"Pak, rujak nya dua nggak pakek nanas ya," Anggia memesan rujak sesuai dengan seleranya saat ini.
"Iya Nona, sebentar ya Bapak buatkan," penjual tersebut terlihat tersenyum ramah dan ia pun sangat sopan.
"Iya Bapak...." jawab Anggia yang tidak kalah ramah.
"Anggi, senyumnya biasa aja," kesal Bilmar.
"Harus ramah sama orang Abang, itu udah keseharian Anggi menghadapi pasien, beda sama Abang kalau ketemu karyawan atau pun klien itu wajahnya datar aja," terang Anggia mengingatkan tentang profesi nya dan profesi nya yang saling berlawanan.
"Pak, bikin rujaknya pakek bahan yang ada aja nggak usah nambah yang lain," kata Bilmar pada si penjual rujak.
"Iya tuan."
"Abang apasih ngaco, emang kalau bukan pakek bahan yang ada pakek apa lagi," Anggia bingung dengan maksud Bilmar, hingga ia cukup penasaran.
"Mana tau si Bapak itu udah narok bumbu rujak, di tambah lagi bumbu cinta, Abang nggak suka," terang Bilmar Agar Anggia tahu maksudnya.
"Ahahahaa......." Anggia tertawa lepas mendengar alasan Bilmar, ia tahu suaminya itu memang cukup jail. Akan tetapi ia baru tahu ternyata kadar kejailan dan keanehannya itu kini semakin menjadi-jadi.
"Hemmm......ketawa terus sampek puas....."
"Uhuk.....uhuk......." karena terlalu banyak tertawa Anggia sampai terbatuk-batuk, sungguh ia merasa perutnya tergelitik ketika Bilmar sudah kembali ke mode jail.
"Minum....." Bilmar memberikan air mineral pada Anggia.
Anggia menerima dan meneguk air tersebut, kemudian ia menarik napas dengan panjang. Untuk kembali menghirup udara yang segar dan membuatnya lebih segar tentunya.
"Makanya, jangan durhaka sama suami, beginikan jadinya," Bilmar malah mengejek Anggia.
"Maaf Abang," Anggia memanggil rujak yang di berikan tukang rujak padanya, lalu memberikannya pada Bilmar.
Bilmar menerima nya, akan tetapi ia tidak menyuapi Anggia, melainkan ia menyuapi dirinya sendiri dan itu membuat Anggia kesal.
"Abang......" Anggia merengek dengan bibir yang manyun.
"Apa sayang....." tanya Bilmar seolah iya tidak tahu apa yang Anggia inginkan.
"Anggi mau....." pinta Anggia dengan suara manjanya.
"Mau apa?"
"Itu."
"Jangan di sini, di sini banyak orang dan banyak anak-anak, nanti di rumah aja ya....." Bilmar malah sangat suka melihat istrinya merengek dan kesal, karena istrinya terlihat lebih cantik dan membuatnya merasa gemas.
"Ahahahahah........" Anggia tertawa mendengar apa yang di katakan Bilmar, "Abang butuh di bawa ke bengkel, kayaknya otaknya konslet parah......"
"Kamu kalau masih ngejek begini Abang nggak mau nyiapin kamu."
"Kalau Abang nggak mau nggak papa, Anggia minta di suapin tukang rujaknya aja, sekalian nanti minta di antarin pulang," jawab Anggia santai tanpa perduli Bilmar yang melihatnya kesal.
"Enak aja," Bilmar mulai menyupi Anggia dan Anggia langsung membuka mulutnya, "Kamu tambah hari tambah nakal ya.....sekarang aja mau di suapin Bapak rujak."
"Biarin, kan Abang nggak mau nyuapin Anggi," Anggi menjawab sambil mengunyah rujaknya dengan lahap.
Bilmar mendekat dan berbisik di telinga Anggia, "Abang mau aja, asal bayaran nya lancar," bisik Bilmar.
"Hueeekk.....mual Anggi Abang," kata Anggia mengejek Bilmar.
"Kamu ngejek ya," Bilmar menumpahkan air mineral pada tangannya, kemudian mengusapkannya di wajah Anggi, "Ini kalau orang yang suka ngejek suami, rasain."
"Ahahhahahaa......." keduanya tertawa lepas tanpa perduli dengan orang-orang yang berada di sekeliling mereka yang juga melihat mereka mungkin saja mereka berpikir aneh, namun mereka benar-benar tidak perduli akan hal itu.
smangat thor
love u daddy Bilmar🥰🥰