Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Tidak ada cara lain untuk menghadapi Ahn Yoo kalau sedang usil seperti ini. Jika tidak bertindak lebih dulu, maka aku yang akan dijadikannya mainan.
Kunci untuk memenangkan pertandingan dengan Ahn Yoo adalah aku harus lebih dari dia. Jadi aku memberanikan diri untuk membuatnya tidak bisa berkutik.
"Baiklah kalau kamu tidak mau meminggir. Jangan salahkan aku kalau bertindak kasar denganmu," ancamku kepada Ahn Yoo yang tampak sama sekali tidak merasa tertantang dengan yang kukatakan.
"Owh, silahkan."
Mendengar jawaban singkat dari Ahn Yoo, membuatku semakin ingin menghancurkan percaya dirinya.
Aku mendekat dan mendorong Ahn Yoo hingga tersudut di dinding dekat pintu. Ini memang rencanaku, ketika dia sudah tersudut aku akan memegang gagang pintu kemudian keluar setelahnya.
"Apa kau sedang menggodaku?" Mata Ahn Yoo berkedip dengan sangat cepat dan terbelalak. Mungkin dia sangat terkejut dengan keberanianku, sampai ekspresinya jadi ambigu.
"Bukankah sudah ku bilang untuk meminggir, kenapa masih belum minggir juga. Dari tadi semua orang membuatku emosi, dan sekarang kamu semakin memancing amarahku," kataku menakut-nakutinya dan semakin mendekat ke arahnya.
"Menjauh dariku, aku sangat ketakutan denganmu saat ini," sambung Ahn Yoo.
"Sekarang baru tahu takut denganku, selama ini kamu yang menindasku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk menjahilinya," decakku dalam hati.
"Benarkah? Apa CEO PT TIG yang terkenal ini takut kepada seorang wanita?" Kataku mengejek.
"Bisakah kau menyingkir, aku takut sekali melihatmu," jawab Ahn Yoo dengan wajah datarnya.
Aku rasa Ahn Yoo sudah takut, dan aku sudah puas menindasnya. Aku memegang gagang pintu dan mencoba membuka pintu. Namu sayang, saat aku menarik gagang ini kebawah, pintunya tidak bisa terbuka. Aku sudah menarik-narik gagangnya dengan kuat, tapi tetap saja tidak bisa.
"Apa kau ingin merusak pintu itu?" Tanya Ahn Yoo yang masih berdiri di samping pintu.
Aku tidak menjawabnya dan terus berusaha membukanya.
"Itu tidak akan berhasil," lanjutnya mematahkan semangatku.
Aku yang masih belum menyerah untuk membuka pintu ini, terus menarik dan menolak gagang agar pintunya terbuka.
"Kenapa ini tidak bisa di buka?" Tanyaku dengan polos.
"Aku mengkuncinya," jawab Ahn Yoo datar sambil menunjukkan kunci yang dipegangnya.
"Jadi ... jadi kamu mengkuncinya? Sejak kapan?" Tanyaku kebingungan.
"Sejak kau ingin menakutiku dengan ancaman bodoh itu," decaknya sambil mengejek.
"Berikan kuncinya! Aku ingin keluar dari sini!" Teriakku sambil mencoba mengambil kunci yang ada di tangannya. Namun dia terus mengangkat tanganya sampai aku tidak bisa menggapainya. Bahkan aku sudah melompat-lompat untuk mengambilnya, tapi tetap saja tidak sampai.
"Ahn Yoo! Berikan kuncinya!" Perintahku.
"Aku sudah bilang kalau aku takut melihatmu tadi, tapi kau belum juga meminggir. Padahal aku sudah mengingatkanmu dua kali," timpal Ahn Yoo.
"Aku tidak peduli," jawabku singkat.
"Kau tahu kenapa aku takut melihatmu?"
Aku berhenti melompat dan diam seketika.
"Aku ....," belum sempat aku siap menjawab pertanyaannya, dia langsung mencium bibirku dengan lembut. Kali ini dia hanya mengecup saja, tidak seperti terakhir kali, sampai membuatku tidak bernapas.
"Aku takut kalau aku tidak bisa menahan diri lagi," timpal Ahn Yoo dengan suara nakal.
Aku hanya bisa berdiri kaku tanpa berkutik menanggapi Ahn Yoo. Jantungku berdetak tidak beraturan, sangat cepat hingga darahku mengalir dengan deras. Seketika aku merasa gerah berada di sini, dan sangat canggung saat menatap Ahn Yoo.
"Ahn ... Ahn Yoo, bisakah bukakan pintu ini. Aku merasa ada yang salah dengan jantungku," kataku dengan polos karena tidak mengira kalau jantungku berdetak karena Ahn Yoo.
"Apa jantungmu berdetak dengan kencang?"
"Aku tidak yakin, tapi bisakah kamu beri aku kunci itu," jawabku sambil menjulurkan tangan.
Bukannya memberikan kunci padaku, Ahn Yoo malah menarik tanganku kepelukannya dan mulai mencium bibirku lagi. Dekapan tangannya semakin kencang memelukku, napasnya terdengar berat di telingaku. Suara jantungnya terasa dekat denganku, kemudian tangannya yang hangat memegang wajahku membuatku semakin terbawa malam yang dingin ini.
Tanpa sadar, perlahan aku merangkulkan tanganku ke lehernya dan membalas ciuman yang di berikannya. Aku menutup mataku dan menikmati setiap detik ciuman yang di berikannya.
Wangi tubuhnya yang tercium dari badannya, membuatku merasa sangat nyaman memeluknya. Kali ini aku tidak bisa mengontrol diri untuk menjaga jarak dengannya, aku tidak takut lagi dengannya.
Namun kenikmatan ini tidak berlangsung lama karena ponsel Ahn Yoo berdering disaat-saat seperti ini.
Nit-Nit-Nit!
Ahn Yoo tidak menghiraukan ponselnya yang sedang berdering, dan tetap mencium bibirku dengan lembut. Untungnya aku tersadar dari napsu sesaat ini dan melepaskan rangkulanku dari lehernya.
Ahn Yoo berhenti dan melepaskan pelukannya dariku secara perlahan, kemudian menatapku. Aku sangat gugup saat dipandanginya saat suasana begini. Dia sama sekali tidak merasa canggung, padahal aku sudah merasa malu.
"Po-Ponselmu berdering," kataku terbata-bata karena grogi.
Ahn Yoo berjalan mengambil ponselnya yang diletakkannya di atas ranjang. Aku ingin sekali keluar karena merasa sangat canggung dengannya, tapi dia sama sekali tidak membukakan pintu ini.
Ahn Yoo mengangkat panggilan dari ponselnya dengan wajah kusut. Aku mencoba mendengarkan siapa yang sedang menelepon Ahn Yoo.
"Mulai dari sekarang kau bukan manager dari PT TIG, kau ku pecat" bentak Ahn Yoo dan langsung mematikan ponselnya. Kemudian dia melempar ponselnya itu ke atas ranjang.
Apakah dia baru saja memecat karyawan di perusahaannya? Kepalaku berisi banyak pertanyaan untuknya, tapi aku tidak berani menanyakan hal itu kepadanya, aku masih merasa canggung untuk bicara santai dengan Ahn Yoo.
Ahn Yoo mendekatiku yang sedang berdiri di pintu sedari tadi.
"Tetaplah di sini," perintahnya dengan nada yang tulus meminta.
"Aku ... ingin kunci itu," kataku sambil menunjuk kunci yang sudah dikantunginya di saku celananya.
"Apa kau benar-benar akan meninggalkan ku?"
"I-Iya, jadi berikan aku kuncinya," jawabku gugup karena merasa canggung.
Ahn Yoo mengambil kunci yang ada di sakunya dan memberikannya kepadaku. Aku langsung membuka pintu dan keluar dari kamarnya tanpa melihat wajah Ahn Yoo terlebih dahulu. Aku langsung berlari ke kamarku, kemudian menutup dan mengkunci kamarku rapat-rapat.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan hembusan luas. Aku melakukannya berulang kali agar aku bisa tenang kembali, dan jantungku kembali dengan normal.
"Kenapa denganku? Aku merasa gerah, padahal harinya sangat dingin. Ya tuhan, kenapa denganku? Ini karena Ahn Yoo sialan itu menciumku. Dan bodohnya aku juga merangkulnya tanpa sadar," gumamku kepada diriku sendiri dan memukul kepala ku dengan tanganku sendiri.
Karena terlalu malu, aku melompat ke atas ranjang dan mengguling-gulingkan badanku. Aku bangkit lagi dan menghempaskan badanku ke atas ranjang lagi. Aku terus menerus melakukan ini sampai hatiku merasa baikan.
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter