"Dia istriku."
"Tapi dia milikku, Kak."
---------
Menggantikan sang Adik dalam sebuah pernikahan tak pernah menjadi mimpi dalam hidup Dirgantara Avgian. Sebuah kejutan yang disusun sebaik mungkin untuk sang adik nyatanya menyeret Gian dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak dia inginkan.
Bagaimana mungkin ia mencintai gadis yang sudah bertahun–tahun menjadi kekasih adiknya, dan bagaimana mungkin ia menjalani pernikahan dengan gadis kecil yang masih sibuk dengan pelajaran Matematika, sungguh tidak dapat dipercaya.
ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap (Tidak, PR ku Banyak!!)
"Raka!!"
Takkan mungkin seorang suami takkan melindungi istrinya kala seseorang menyakitinya. Apapun alasan dan sebabnya, tetap saja perlakuan Raka terlampau kasar pada Maya.
Kemarahan Wira, suami Maya membuat gaduh suasana. Ia baru saja pulang, dan ia saksikan rumahnya kini tampak ramai. Derab langkah itu terdengar pelan namun cukup membuat Radha tercekat, ia cukup mengenal sosok Wira.
"Ada apa kalian datang ke rumah ini?!!"
Tidak ada keramahan sama sekali, sejak awal memang mereka tidak baik-baik saja. Dendam Wira terhadap Ardi membuat Maya terpengaruh akan racun-racun yang membuatnya ikut membenci Radha.
"Kami datang baik-baik, Maya perlu tahu kabar putrinya."
Raka berucap santai, mantan rekan bisnisnya itu tersenyum miring. Sejak pernikahannya dengan Maya, baik Randy maupun Raka memutuskan untuk tidak membuka diri pada penghianat macam Wira.
"Hahaha, putri katamu? Putri dari siapa? Maya tidak memiliki putri selain mereka."
Bahkan dua putrinya yang kini menyaksikan keributan itu hanya mampu menatap bingung. Keduanya masih cukup kecil, Jingga masih 10 tahun, sedang Aruni mungkin 8 tahun.
Radha sejenak menatap dua adik seibunya, mereka sama cantiknya. Hanya rambut saja yang berbeda, jujur Radha teriris, ia ingin memeluk keduanya. Namun, saat ini, bahkan tentang Maya tak mampu ia peluk.
"Hentikan mulut bodohmu itu, Wira! Dimana letak nuranimu, sejak kecil Radha kehilangan Ibunya, dan kini izinkan dia datang sebagai putri meski kau tak menginginkannya."
Raka sadar betul, ia salah. Berbohong pada Maya agar ia menerima kedatangan mereka bukanlah hal yang tepat, namun ia tak punya cara lain untuk menemukan keduanya.
"Jangan salahkan aku, Papanya bahkan tak mengakui Maya sebagai istrinya. Lalu, mengapa Maya harus begitu baik pada putri Ardi ini?"
Sungguh terlampau sakit, mengapa drama orangtua-Nya begitu rumit. Radha hanya mampu menelan salivanya pahit, tak ia duga sebegitu buruk keadaan mereka.
"Benar-benar pandai kau, Wira. Sejak kapan ada mantan anak? Aku rasa tidak ada, jangan memutuskan tali kasih sayang yang seharusnya jadi hak dia."
Maya terdiam, pun dengan Jelita. Dalam keadaan sadar, Maya tahu ia rindu pada putrinya. Namun, tertutup fakta yang di sampaikan Wira dan lukanya pada Ardi.
"Ck, tidak ada gunanya berdebat dengan kalian ternyata, lebih baik pergilah. Bawa istri dan menantu tak bergunamu itu."
"Jangan mengharapkan Maya memberikan peluknya."
Gian tak mungkin diam saja, ia meradang kala Radha masuk dalam ucapan tak pantas dari bibir Wira. Hendak maju dan menghadiahkan pukulan, namun Radha secepat itu menahannya.
"Kita pulang saja, Kak ...."
Lelah, Radha sangat amat lelah. Jika ia tahu keadaannya akan seperti ini, ia lebih baik menolak ajakan Jelita, pikir Radha.
Tanpa menunggu, wanita mungil itu berlalu, pergi keluar tanpa peduli apa yang akan mereka ributkan. Dalam diamnya, Maya masih menatap kepergian putrinya, putri kecil yang dulu adalah dunianya.
"May_"
"Pergilah, Mba, benar katanya, kalian lebih baik pulang saja. Aku juga lelah, suamiku juga lelah, putriku tak selayaknya melihat keributan ini."
Maya berkata pelan, putus asa dan kecewa akan keadaan. Ia menatap sejenak putrinya yang kini terlihat murung menyaksikan keributan yang terjadi antara orangtuanya.
*****
Hari mulai gelap, wajah lelah Radha masih menatap nanar keluar. Jalanan yang kini begitu lenggang membuatnya dapat bernapas dengan tenang.
Perjalanan yang sangat melelahkan tentu saja, bahkan belum sempat duduk dan Gian harus mengemudi kembali. Keputusan Radha yang benar-benar meminta pulang tak dapat Gian tolak, terlihat jelas istrinya tampak tak baik-baik saja.
"Ra, tutup jendelanya, banyak debu."
Radha menoleh, terlalu menikmati udara luar membuatnya sejenak lebih baik. Namun teguran Gian membuatnya mencebikkan bibir.
"Mama mana?"
"Di belakang," jawab Gian seadanya. Kali ini, Raka tak ingin putra sok taunya itu salah jalan lagi.
"Ehm, berapa lama lagi kita sampai, Kak?" tanya Radha seadanya, ia memang lelah. Bahkan ingin rasanya berjumpa dengan tempat tidur segera.
"Bahkan seperempat perjalanan saja belum kita lalui, Zura, bagaimana bisa kau bertanya seperti itu."
Gian menggeleng, bukan hanya Radha ia pun juga lelah. Perjalanan menuju rumah mungkin akan memakan waktu beberapa jam lagi, belum lagi ini sudah malam, mana mungkin ia mau menanggung resiko.
Radha menjulurkan kepalanya, seperti biasa membuat ulah. Gian tengah berusaha mencari penginapan untuk mereka beristirahat malam ini.
"Kak?"
"Hem?"
"Kenapa kita kesini?" tanya Radha menuntut jawaban, meski matanya tak buta dan mampu melihat apa yang ada di depannya.
"Istirahat,"
"Tidur? Malam ini maksudmu?" tanya Radha was-was. Ia mulai berpikir macam-macam, bagaimana nantinya, apa mungkin mereka akan tidur bersama.
"Ck, kau bodoh apa bagaimana, Zura? Tanpa perlu di jelaskan kau pasti mengerti."
Gian berdecak sembari menggeleng, menjawab singkat begitu dingin dan melepas sabuk pengamannya.
"Turunlah, Mama sebentar lagi tiba."
Radha tersenyum kecut, sialan, kenapa harus ada kejadian seperti ini. Beberapa hari berlalu ia merasa aman lantaran tidur sendirian, haruskan ia tidur bersama Gian malam ini, pikirnya.
"Kak, kita pulang saja ya," ajak Radha setengah berteriak kala Gian telah berada di luar mobil.
"Pulang? Aku lelah, Zura, kau mengerti kan?" keluh Gian dengan wajah lemasnya.
"Tapi PR ku banyak, Kak ... iya, bahkan banyak sekali, aku sampai sakit melihatnya."
Radha berusaha semaksimal mungkin agar Gian benar-benar menuruti kemauannya, namun tentu saja takkan mendapat jawaban iya dari Gian.
"Salahmu di tumpuk, kerjakan sedari awal."
"Ays ... Kak, tapi sungguh memang banyak. Besok aku harus sekolah kan?!"
Pemilik mata bening itu menghentakkan kaki, benar-benar kesal lantaran Gian yang kini tak peduli dan memasuki penginapan terkutuk itu, iya, bagi Radha itu penginapan terkutuk.
"Matilah gue," batin Radha menggigit jari-jarinya.
Tbc