Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keesokan harinya, rumah Tante Ami sudah sibuk. Ada yang sibuk membuat sarapan, pagi, ada pula yang sibuk membuat hidangan untuk tamu. Winda sendiri membantu Irna menyiapkan sarapan. Mereka bekerja sambil ngobrol.
"Mbak Winda pacarnya pak Radit, ya?" tanya Irna. Usia Irna dua tahun lebih muda dari Winda jadi dia memanggil Winda dengan panggilan mbak.
"Enggak kok, Ir. Kami gak pacaran."
"Masa sih mbak?"
"Iya bener. Cowok nyebelin begitu. "
"Nyebelin tapi ganteng kan mbak."
"Buat kamu aja."
"Kalau aku selevel sama dia, mau lah aku mbak. Sayang, level ku jauh di bawah dia."
"Ah, kamu bisa aja. Udah ngobrol terus kapan selesainya."
Winda dan Irna melanjutkan kegiatan memasak. Pagi itu menu sarapan yang di buat soto ayam lengkap dengan perkedel kentang dan sambal. Selesai memasak, makanan itu di hidangkan di meja makan. Winda menghampirinya Isah yang tengah mencuci perabotan bekas masak.
"Mbak, ada yang bisa aku bantu?"
"Duh, Winda bikin kaget aja. Gak ada. Udah selesai semua."
Winda melihat beberapa menu makanan sudah selesai di masak.
"Kaldu begitu, aku mandi dulu ya mbak."
Isah mengangguk. Winda menuju kamarnya untuk mandi. Selesai mandi dan berhias, Winda hendak menuju ke dapur. Di depan pintu dia bertemu dengan Tante Ami.
"Selamat pagi, Tante." sapa Winda.
"Selamat pagi, Winda. Cantik sekali kamu."
"Terimakasih, Tante. Oh iya sarapan sudah siap, Tante."
"Oh iya? Kamu sudah sarapan?"
"Ini baru mau sarapan di dapur. Bareng mbak Isah dan yang lainnya."
"Kok di dapur? Kamu sarapan bareng Tante ya."
"Tapi Tante..."
"Ayo."
Tante Ami menggandeng tangan Winda. Mau tak mau Winda mengikuti langkah Tante Ami menuju meja makan. Di sana telah menunggu Vika.
"Selamat pagi, kak Vika." sapa Winda.
"Selamat pagi, Winda. Silahkan duduk."
"Terimakasih."
Winda duduk di kursi sebrang Vika. Winda merasa ada yang kurang. Radit. Radit tidak ada.
"Mas Radit kemana, Tante?"
"Radit..."
"Ternyata ada yang kangen sama aku, ya."
Terdengar suara Radit dari tangga. Winda menoleh dan langsung menunduk. Wajahnya merona. Radit turun dari tangga dan duduk di sebelah Winda.
"Tenang aja. Hari ini aku gak ke mana-mana. Jadi jangan merasa kehilangan." kata Radit.
"Apaan sih gak jelas."
Di bawah meja, Winda menginjak kaki Radit. Radit meringgis menahan sakit. Tante Ami dan Vika hanya tersenyum.
"Sudah... sudah. Kamu jangan menggoda Winda terus, Dit. Ayo, sarapan." Tante Ami menengahi. Radit tertawa kecil mendengar perkataan mamanya sedangkan Winda masih tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Tepat jam sepuluh pagi. Keluarga Arya telah datang. Tante Ami dan Radit menyambutnya. Sementara itu, Winda menemanin Vika di kamarnya.
"Winda, kakak kok jadi gugup begini ya." kata Vika sambil mengenggam tangan Winda. Winda merasakan tangan Vika dingin.
"Ah, kak Vika. Baru di lamar udah gugup begini. Bagaimana kalau sudah jadi pengantin. Pingsan kali di pelaminan."
"Winda, kamu bikin kakak jadi tambah gugup aja."
Winda tertawa.
"Kakak Tatik nafas pelan, hembuskan pelan juga. Lakuin sebanyak tiga kali. Jangan lupa berdoa."
Vika melakukan apa yang di katakan Winda. Perasaannya menjadi lega. Di saat itulah Isah datang.
"Non Vika, di minta untuk ke depan."
"Iya, mbak. Terimakasih ya."
Isah berlalu.
"Ayo, kak."
Winda menggandeng tangan Vika menuju ruang tamu. Winda hendak ke dapur, bergabung dengan Isah dan Irna tetapi ujung jarinya di tarik oleh Radit.
"Ada apa?" Winda bertanya setengah berbisik.
"Duduk."
Radit memberi kode ke arah Winda untuk duduk di sampingnya.
"Tapi..."
Radit menggelengkan kepalanya tanda tak mau di bantah. Akhirnya, mau tak mau Winda duduk di samping Radit.
"Itu siapa, Tante?" tanya Arya memandang ke arah Winda.
"Oh, dia Winda, calon menantu Tante juga."
Winda terkejut mendengarnya.
'Nah, bener kan. Pasti Tante Ami bilang begitu. Nyesel deh ikut duduk di sini.' Teriak Winda dalam hati dengan kesal. Untuk menutupi kekesalannya, Winda menyunggingkan senyum tipis.
"Wah, Radit pintar ya cari calon pendamping hidup."
"Cocok gak aku sama Winda, kak?"
Pertanyaan Radit ke Arya itu membuat Winda semakin kesal.
"Cocok banget, Dit. Buruan di halalin."
"Tunggu waktu yang tepat, kak."
Semua yg hadir di tempat itu tertawa. Winda mencubit kaki Radit, karena bagian itulah yang terdekat dengan tangannya. Radit meringgis tanpa suara. Setelah berbincang-bincang sebentar, ayah dari Arya pun segera ke inti tujuan datang ke rumah Tante Ami. Beliau berniat melamar Vika untuk Arya, putra semata wayangnya. Karena sebelumnya Tante Ami sudah mengenal Arya, beliau langsing menyetujuinya. Demikian pula dengan Vika. Semua bersyukur karena acara itu berjalan dengan lancar. Dan di sepakati bahwa pernikahan mereka akan di laksanakan sebulan kemudian. Mereka menuju ke ruang makan untuk makan siang bersama. Winda yang masih duduk di ruang tamu, menitikkan air mata menyaksikan acara lamaran itu. Dia teringat dengan Gito.
'Andai mas Gito melamar aku, pastinya aku akan bahagia. Mas Gito, kapan kamu akan melamar aku?' tanya Winda dalam hati.
"Kenapa kamu menanggis?" tanya Radit saat melihat ada air mata yang menetes di pipi Winda.
"Ah, enggak."
Winda menyusut air matanya menggunakan tisu yang dia bawa. Radit tersenyum.
"Kamu mau aku ngelamar kamu seperti kak Arya melamar kak Vika? Oke dengan senang hati. Ayo kita menemui kedua orang tua mu, aku akan melamar kamu dan esok juga kita langsung menikah. Gimana, mau?"
Winda melotot kearah Radit, lalu segera beranjak menuju dapur. Tapi sebelumnya dia mendaratkan sebuah cubitan untuk Radit. Kali ini pipinya yang menjadi sasaran Winda.
"Ih, dasar genit." seru Radit. Winda menjulurkan lidahnya ke arah Radit dan berlalu.
Setelah acara selesai, Winda pun berpamitan pulang. Dia menemui Tante Ami dan Vika yang berada di ruang keluarga.
"Tante, kak Vika, Winda pulang ya."
"Kok pulang, Winda? Gak nginap lagi?" tanya Tante Ami.
"Enggak, Tante. Besok Winda kerja."
"Ya udah. Terimakasih ya kamu sudah mau datang ke acara ini. Kamu pulang naik apa?"
"Naik taksi, Tante."
"Gak boleh. Kamu di antar Radit ya?"
Winda melirik ke arah Radit. Yang dilirik senyum-senyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Gak usah, Tante. Sepertinya mas Radit juga lagi kecapekan. Winda naik taksi saja."
"Eeehh...gak boleh bantah perintah orang tua. Radit, kamu antar Winda sampai rumah. Jangan ada luka sedikitpun meski cuma lecet. Paham?"
"Siap, mam."
Winda menghembuskan nafas dengan sedikit kasar.
"Ya udah Tante, kak Vika, Winda pamit. Assalamualaikum..."
Winda mencium punggung tangan Tante Ami dan Vika.
"Waalaikumssalam. Hati-hati."
Winda mengangguk dan masuk ke mobil. Dia duduk di bangku belakang.
"Kok duduk di belakang? Pindah depan sini."
"Gak mau."
"Pindah gak?"
"Enggak."
"Ya udah kamu nginap lagi."
Winda pindah duduk di bangku depan, di sebelah Radit. Radit tertawa penuh kemenangan.,
"Nah gitu dong kl nurut cantiknya makin keluar."
Winda tak menyahuti perkataan Radit. Dia melihat keluar jendela. Radit menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikiran Winda kembali melayang ke acara lamaran Vika tadi. Dia kembali teringat akan Gito.
'Kapan mas Gito melamar aku?'
Pertanyaan itu kembali terlintas di benaknya. Radit heran melihat Winda yang sedari tadi hanya diam.
"Hei, kok tumben diam saja. Ada apa?" tanya Radit memecah lamunan Winda. Winda menarik nafasnya.
"Aku cuma berfikir, kapan mas Gito melamar aku?"
Ciiiiitt !!!!
Tiba-tiba Radit mengerem mobilnya secara tiba-tiba setelah mendengar cerita Winda
meluncur ke cerita lainnya