Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001
Malam Gala
Rangga Wicaksana tahu ia hanya punya waktu kurang dari tiga menit sebelum layar utama ballroom menyala.
Di depannya, ratusan tamu undangan berdiri dengan gelas kristal di tangan. Gaun malam berkilau, jas hitam mahal, aroma parfum lembut, dan tawa yang sengaja dibuat pelan memenuhi ballroom sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Dari luar, gala dinner itu tampak seperti acara amal biasa. Dari dalam, Rangga tahu sebagian besar orang di ruangan itu datang untuk mencuci nama, uang, atau keduanya.
Di panggung utama, Jenderal Hartono Prakoso sedang berbicara tentang pembangunan daerah.
"Kalimantan bukan sekadar tanah," suara Hartono rendah dan berat, disambut kamera media. "Di sana ada masa depan bangsa. Kita tidak boleh membiarkan rakyat kecil tertinggal."
Rangga menatap pria itu dari sisi ruangan, wajahnya tenang seperti biasa. Tangannya menyentuh saku dalam jas, memastikan flashdisk kecil itu masih ada. Di dalamnya tersimpan laporan pengiriman alat berat ilegal, foto lokasi tambang tanpa izin, rekening perantara PT Garuda Perkasa, dan daftar orang yang menerima aliran dana.
Selama enam bulan ia mengumpulkan semuanya.
Malam ini, ia akan membuat ruangan semahal ini menelan kebenaran yang paling kotor.
"Mas Rangga."
Rangga menoleh sedikit. Reno berdiri dua langkah di belakangnya, wajahnya tegang meski suaranya tetap pelan.
"Tim hotel baru saja mengganti operator layar. Orang kita tidak bisa masuk."
"Siapa yang mengganti?"
"Orang Hartono."
Rangga tidak langsung menjawab. Di panggung, Hartono mengangkat tangan, membuat para tamu bertepuk tangan lebih keras. Di meja VIP, beberapa pejabat tersenyum sambil berpura-pura terharu.
"Berarti dia sudah mencium sesuatu," kata Rangga.
"Kita batalkan?"
Rangga menatap layar besar yang masih menampilkan logo acara amal. Kalau ia mundur sekarang, data itu akan segera basi. Sumbernya di Kalimantan sudah hilang kontak sejak pagi. Orang yang berani mengirim bukti itu mungkin sudah tidak hidup saat ini.
"Tidak."
Reno menarik napas pendek. "Mas, ini bukan rapat direksi. Kalau mereka tahu Anda membawa bukti itu, mereka tidak akan menunggu pengacara."
"Saya juga tidak berniat menunggu mereka."
Rangga mengambil ponsel, membuka folder tersembunyi, lalu mengirim satu pesan terjadwal ke tiga alamat email. Kalau ia gagal memasukkan flashdisk ke sistem hotel, berkas itu tetap akan terkirim. Namun tanpa layar, tanpa saksi, tanpa wajah Hartono tepat di depan kamera, dampaknya akan jauh lebih kecil.
Ia bergerak ke sisi ballroom, melewati pelayan yang membawa nampan canape. Langkahnya tidak tergesa. Orang seperti Rangga tidak berlari di ruang publik. Ia cukup berjalan, dan orang-orang biasanya memberi jalan.
Di dekat pintu servis, seorang pelayan perempuan mendorong troli kosong. Rangga mengangguk kecil padanya, lalu melewati pintu tanpa menunggu izin.
Lorong belakang hotel jauh lebih dingin dan terang. Suara musik dari ballroom terdengar teredam. Di ujung lorong, dua teknisi hotel berdiri di depan ruang kontrol, tetapi wajah mereka bukan wajah staf hotel. Sepatu mereka terlalu kaku. Bahu mereka terlalu siap.
Rangga berhenti setengah detik.
Salah satu dari mereka menoleh.
Mata mereka bertemu.
Rangga berbalik tepat saat pria itu menyentuh earpiece di telinganya.
"Dia di lorong servis."
Kalimat itu pelan, tetapi cukup.
Rangga berjalan cepat. Belokan pertama, kiri. Belokan kedua, melewati dapur. Seorang koki hampir menabraknya dengan panci besar.
"Maaf," kata Rangga singkat.
"Pak, area ini tidak boleh..."
Kalimat itu putus ketika dua pria berjas hitam masuk dari belakang Rangga.
Koki itu langsung diam.
Rangga tidak punya pilihan selain masuk ke dapur utama. Panas dari kompor, bau mentega, saus daging, bawang putih, dan gula karamel langsung menyerbu hidungnya. Di antara staf yang sibuk, ada satu gadis berkaus lusuh sedang berdiri di dekat meja dessert dengan mata berbinar.
Gadis itu tidak memakai seragam.
Di tangan kirinya ada piring kecil berisi dua potong steak, tiga udang panggang, dan sepotong roti. Di tangan kanannya ada sendok yang masih meneteskan saus cokelat.
Ia sedang mengunyah.
Rangga dan gadis itu saling menatap.
"Kamu siapa?" tanya Rangga.
Gadis itu menelan buru-buru. "Staf tambahan."
Rangga menatap sendal jepitnya.
Gadis itu ikut menunduk, lalu mengangkat dagu. "Staf tambahan bagian kelaparan."
Dalam keadaan lain, Rangga mungkin akan menganggap jawaban itu mengganggu. Malam ini, ia hanya melihat pintu keluar di belakang gadis itu.
"Minggir."
"Enak aja. Ini jalan gue duluan."
Pria berjas hitam muncul di ambang pintu dapur. Salah satunya mengeluarkan sesuatu dari balik jas. Bukan pistol, terlalu berisiko di hotel penuh pejabat. Sebuah tongkat pendek logam.
Wajah gadis itu berubah. Ia melihat tongkat itu, lalu melihat Rangga.
"Lu dikejar?"
"Ya."
"Utang?"
"Bukti kejahatan."
"Oh." Gadis itu masih memegang piringnya. "Levelnya beda."
Rangga menyambar pergelangan tangannya dan menariknya menjauh tepat saat tongkat logam menghantam meja dessert. Piring kecil gadis itu jatuh. Saus cokelat menciprat ke lantai putih.
"Woi! Makanan gue!"
"Kalau kamu masih ingin makan besok, lari."
Mereka menerobos pintu belakang dapur. Lorong sempit membawa mereka ke area loading. Di luar, hujan Jakarta turun tipis, membuat lantai semen licin. Suara musik gala berganti menjadi deru mesin pendingin, klakson mobil, dan bentakan seseorang dari jarak dekat.
"Tahan dia!"
Gadis itu tiba-tiba menarik tangannya dari Rangga.
"Sini!"
Ia melompat melewati tumpukan peti air mineral dengan gerakan lincah yang tidak cocok dengan tubuh kurus dan kaus usangnya. Rangga mengikuti, meski jasnya tersangkut ujung besi. Di belakang mereka, langkah para pengejar makin dekat.
"Nama kamu?" Rangga bertanya sambil berlari.
"Sekarang kenalan? Romantis banget, Pak!"
"Saya perlu tahu kalau harus menulis laporan kematian."
"Gak usah doain!" Gadis itu menendang pintu samping hingga terbuka. "Bunga. Bunga Lestari."
Mereka keluar ke koridor parkir bawah tanah. Lampu neon berkedip. Aroma bensin dan air hujan bercampur. Beberapa mobil mewah berjajar seperti hewan mahal yang tidur.
Rangga melihat kamera CCTV di sudut, lalu mengutuk dalam hati. Area itu pasti sudah mereka kuasai.
"Ke kanan," katanya.
"Kanan buntu."
"Kiri ada orang mereka."
"Lu tahu dari mana?"
"Dari cara mereka mengepung."
Bunga menatapnya sekilas, seperti baru menyadari jas mahal dan wajah tenangnya bukan sekadar pajangan. "Oke, Tuan Strategi. Kalau buntu, lu yang jadi tumbal."
Mereka berbelok ke kanan. Benar, ujung koridor ditutup pagar besi untuk area renovasi. Bunga tidak berhenti. Ia menarik satu batang pipa kecil dari tumpukan material dan memukul kunci gemboknya dengan sudut yang tepat.
Tak.
Gembok terbuka.
Rangga menatapnya.
"Anak kampung juga punya skill," kata Bunga cepat. "Jangan kagum dulu."
Mereka masuk ke area renovasi. Lantai belum rata, sebagian tertutup plastik, dan bau semen basah menyengat. Rangga meraba saku jasnya lagi.
Flashdisk masih ada.
Bunga melihat gerakan itu. "Benda kecil itu yang bikin kita hampir mati?"
"Ya."
"Kasih ke gue. Kalau mereka cari lu, gue bisa kabur."
"Tidak."
"Percaya sama orang miskin susah banget, ya?"
Rangga menoleh tajam, tetapi tidak sempat menjawab.
Satu orang muncul dari sisi kiri dan langsung mengayunkan tongkat ke kepala Bunga. Bunga menunduk, memutar tubuh, lalu menyikut perut pria itu. Gerakannya cepat, kasar, dan terlatih. Pria itu terdorong, tetapi yang kedua datang dari belakang.
Rangga menarik Bunga ke samping. Pukulan itu mengenai bahunya. Nyeri menjalar sampai ujung jari, namun wajahnya tetap datar.
"Lu bisa berantem juga?" Bunga terkejut.
"Saya bisa bertahan."
"Beda tipis kalau lagi mau mati."
Mereka mundur sampai punggung Bunga hampir menyentuh dinding beton. Tiga pria mengepung. Di belakang mereka, langkah lain mendekat. Rangga menghitung jarak, sudut, kemungkinan. Terlalu sedikit jalan keluar. Terlalu banyak risiko.
Ponselnya bergetar di saku.
Pesan terjadwal terkirim.
Setidaknya bukti itu sudah keluar.
Salah satu pria menyeringai. "Pak Hartono cuma minta flashdisk. Jangan bikin susah, Mas Rangga."
Bunga langsung menoleh. "Mas Rangga?"
Rangga tidak menjawab. Ia menatap pria itu. "Kalau Pak Hartono ingin bicara, dia tahu nomor saya."
"Beliau sudah bosan bicara."
Pria itu menyerang.
Semua bergerak terlalu cepat. Bunga mendorong Rangga ke belakang, menghantam lutut penyerang pertama dengan pipa, lalu berputar untuk menghindari pukulan kedua. Namun orang ketiga tidak menyerang Rangga.
Ia menyerang Bunga.
Tongkat logam itu diarahkan ke tengkuknya.
Rangga melihatnya sepersekian detik sebelum terjadi. Gadis itu tidak akan sempat menghindar. Kepalanya masih miring, kakinya belum menapak sempurna. Tubuhnya kecil, terlalu ringan untuk menahan hantaman seperti itu.
Rangga tidak berpikir.
Ia menerjang ke depan dan memeluk tubuh Bunga dari samping, memutar posisi mereka.
Hantaman keras menghantam belakang kepalanya.
Dunia pecah menjadi cahaya putih.
Ia mendengar Bunga berteriak, sangat dekat di telinganya. Tubuh mereka jatuh bersamaan ke lantai beton. Flashdisk terlepas dari saku jas, meluncur ke bawah lembar plastik basah.
Rangga mencoba mengangkat tangan, tetapi jarinya tidak bergerak.
Di atasnya, lampu neon berkedip sekali, dua kali, lalu berubah buram.
"Pak! Pak jas mahal! Jangan mati di atas gue!"
Suara Bunga terdengar panik. Tangannya menepuk pipi Rangga, kasar dan hangat.
Rangga ingin mengatakan bahwa secara medis, menepuk pipi korban trauma kepala bukan prosedur yang dianjurkan. Ia juga ingin mengatakan agar gadis itu mengambil flashdisk dan lari.
Tidak ada suara keluar.
Yang terakhir ia rasakan adalah bau saus cokelat yang masih menempel di tangan Bunga, bercampur darah dan hujan yang terbawa dari luar.
Lalu semuanya gelap.
Ketika Bunga membuka mata, yang pertama ia lihat adalah lampu putih rumah sakit yang menusuk.
Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut. Ada suara mesin monitor di sebelah kanan, tirai hijau pucat, dan seseorang berteriak memanggil perawat dari balik pintu.
Ia mencoba bangun.
"Jangan bergerak."
Bunga membeku.
Suara itu laki-laki. Rendah. Tenang. Terlalu dekat.
Ia menoleh ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.
Ia menoleh ke kanan. Hanya infus dan kursi kosong.
"Siapa?" bisiknya serak.
Suara itu terdengar lagi, bukan dari telinga, melainkan dari dalam kepalanya.
"Saya juga sedang berusaha memahami situasi ini."
Napas Bunga tertahan.
Monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat.
"Dan untuk sementara," kata suara itu, dingin dan jelas, "tolong jangan berteriak."