NovelToon NovelToon
Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You

Status: tamat
Genre:Teen / Komedi / Cintamanis / Contest / Perjodohan / Dosen / Tamat
Popularitas:781.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dewi Yuliana S

Cerita ini bermula dari gadis cantik dan manis bernama Arianti Permata. Dia jatuh cinta dengan kepala sekolahnya sendiri, dan perlahan mulai mencoba untuk mendekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Yuliana S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan Ke Puncak

❤️❤️❤️

Kini aku dan pak Juan tengah berada di jalanan luas nan ramai yang memadati jalanan kota J, dengan kecepatan sedang kami mengikuti laju mobil para orangtua yang ada di depan. Iya, saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju puncak seperti yang dikatakan para orangtua, bahwa kami akan merayakan pertunanganku dan pak Juan. Meski awalnya pak Juan menolak untuk ikut tapi karna kegigihan bu Nala yang terus membujuknya akhirnya mau tidak mau dia harus mau dan tak bisa membangkang perkataan ibunya.

Kulihat dari samping wajahnya masih terlihat kesal akibat ulah ibunya yang pantang menyerah itu. Bahkan ketika aku mengajaknya bicara dia sama sekali tidak menghiraukan ku tetapi juga tidak protes dengan apa yang ku ucapkan. Hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Berselang beberapa jam akhirnya kami sampai di tempat yang ingin kami tuju.

Suasana yang sejuk dan asri langsung menyambut kedatangan kami ditambah karna hari sudah sore dinginnya semakin terasa dalam tubuh kami.

Kami menginap di villa keluarga ayah Adiyatmo, tempatnya terlihat sejuk dan nyaman sekali. Ditumbuhi tumbuh-tumbuhan hijau disertai bunga-bunga yang cantik menambah keindahan villa yang nampak megah di mataku ini.

"Selamat datang di villa sederhana kami?!". Ujar ayah Adi dengan senyuman sumringahnya.

"Yang seperti ini, kamu bilang sederhana Di". Sahut ayahku menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hahaha, ya sudah silahkan masuk silahkan masuk". Ujar ayah Adi lagi mempersilahkan.

"Iya ayo ayo masuk, jangan malu. Anggap saja milik sendiri". Seru bu Nala yang juga ikut mempersilahkan masuk kedua orangtuaku sambil merangkul ibuku.

Sedangkan aku masih saja terpaku takjub dengan pemandangan yang ku lihat di depan villa ini, terlihat sangat menyegarkan dan cantik sekali kalau dilihat dari atas puncak.

Aku menarik napasku dalam-dalam guna menghirup udara sejuk yang tidak bisa ku dapatkan di kota padat seperti kota J.

"Apa yang kau lakukan? Cepat bantu mengangkat ini?!". Perintahnya yang tiba-tiba mengganggu aktivitas menyenangkan ku barusan.

"Iya iya". Sungutku. Meskipun sedikit kesal mendengar perintahnya, tapi aku tetap melakukannya. Bukannya aku tidak mau membantunya, tapi tidak bisakah dia membiarkan ku menikmati kesejukan ini sebentar lagi?

"Cepat angkat itu?!". Tunjuknya pada sebuah tas yang cukup besar yang ada di bagasi mobil.

"Iya, bawel". Sahutku, tanpa memperhatikan apa yang ku ucapkan barusan.

"Apa kau bilang barusan?". Ujarnya menelisik.

"Eh, ng.. ngga. Maksud Ri...".

"Aduh Tuan, Nona. Maaf tadi mang Juki lagi dibelakang jadi tidak dengar bahwa kalian sudah sampai". Ujar mang Juki mengambil alih barang bawaan yang kami tenteng.

"Ngga papa mang, santai aja". Sahutnya tersenyum ramah.

"Cih, giliran sama aku aja ngga pernah tuh senyum kayak gitu". Protesku dalam hati.

"Oiya, Nona. Perkenalkan saya Juki pelayan sekaligus penjaga villa keluarga Tuan Juan. Tapi Nona bisa panggil saya mang Juki biar akrab". Ujarnya memperkenalkan diri lalu menyalami tanganku dengan ramah.

"Ah iya, saya Riri mang. Panggil aja Riri ngga usah pake Nona". Sahutku sambil menyambut uluran tangannya dengan tersenyum ramah.

"Hehe, iya. Tapi boleh saya panggil neng aja biar nyaman". Sambungnya lagi.

"Wah boleh tuh mang". Ujarku yang setuju dengan usulannya.

"Neng sama Tuan istirahat saja di dalam, biar mang Juki yang bawa barangnya". Ujarnya lagi.

"Ya sudah, titip ya mang". Kata pak Juan sambil menepuk-nepuk bahu mang Juki pelan lalu berjalan masuk ke dalam villa tanpa menunggu ku.

Aku hanya mengerucutkan bibirku kala melihatnya berjalan semakin jauh tanpa memperdulikan ku.

"Maklumin aja neng, Tuan Juan orangnya memang seperti itu. Tapi dia adalah sosok laki-laki yang baik dan juga bertanggung jawab". Ucap mang Juki tiba-tiba yang mengagetkanku.

"Eh, hehhe.. iya mang". Sahutku tersenyum kikuk menanggapi perkataannya.

"Kalau begitu saya tinggal antar barang dulu ya neng". Pamitnya tersenyum ramah padaku.

"Iya mang, silahkan". Sahutku.

Aku kembali menikmati pemandangan yang ada di depan villa ini, kini aku duduk di atas sebuah batu yang besar menambahkan kenyamanan ku dalam memandangi ciptaan Tuhan yang indah di depan mata ku.

Hari sudah semakin sore, rasa dinginnya semakin menyeruak masuk kedalam pori-pori kulitku. Tapi aku masih belum bergeming dari tempatku, karna aku ingin menyaksikan matahari cantik yang sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat. Aku menatapnya dengan antusias sambil menggosok-gosok telapak tanganku karna rasanya memang sudah sangat dingin meskipun aku sudah mengenakan jaket.

"Apa kau mau mati membeku?". Ujar sebuah yang berhasil membuatku melonjak kaget.

"Ya ampun pak, kalo muncul itu bisa ngga sih pakai suara". Protesku sambil memegangi dadaku yang masih berdebar karna terkejut.

Dia tidak membalas perkataan ku, tapi sekarang dia juga ikut duduk di sebelahku menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.

"Cantik ya pak". Ujarku tiba-tiba sambil terus menatap matahari yang akan tenggelam sebentar lagi di depan ku.

Lagi-lagi dia tidak membalas perkataan ku.

"Apa bapak tau kutipan makna yang indah dari tenggelamnya matahari?".

Ku lirik dia sebentar, ku lihat dia masih diam seribu bahasa di tempatnya sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam di depannya, aku sedikit menyunggingkan senyumku melihatnya.

"Matahari tenggelam menjadi bukti bahwa apa pun yang terjadi setiap hari dapat berakhir dengan indah". Ujarku tersenyum sambil menatap kembali matahari di depan kami yang sebentar lagi akan hilang sepenuhnya dengan membawa pancaran cahayanya yang indah.

"Atuh tuan sama eneng di cariin ibu sama bapak, tau-taunya ngejogrog di dieu". Ujar mang Juki mengagetkan kami.

Sebelum aku menoleh pada mang Juki, ku lihat samar-samar pak Juan seperti menatapku sebelum ia kembali membuang pandangannya ke sembarang arah.

"Kau terlalu banyak bicara". Ujarnya sebelum kemudian berdiri meninggalkan ku dan mang Juki.

"Mang, apa majikan mamang itu juga mengalami pms? Dikit-dikit sewot". Sungut ku menatap kepergiannya.

"Hahaha, atuh eneng. Bisa aja". Ujarnya tertawa mendengar perkataan ku. Setelah itu kami jadi tertawa bersama membicarakan Tuan macan jantannya itu.

❤️❤️❤️

Cie lirikan matamu 🙈

1
Angie
saya menyukai nya
Maulana ya_Rohman
mampir thor
Andi Yuliana
Biasa
Andi Yuliana
Kecewa
Salwa Aqila
yg ada di bayangan aku kepsek y seperti Kim namjun ... 😂
bukannya dia pernah jatuh di bibirnya Juan juga ya sebelumnya. jadi itu bukan ciuman pertama.
Ingka
Hahaha ...😂😂🤭 qu ngakak..ngabayangin Riri, berasa qu jaman sklh dulu...
Lagian si Riri juga dodol
seharusnya jangan ketawa ngakak di situ. jadinya kan sial mulu.
Dhena
eng ing enggggg...
Maya●●●
udah aku masukin fav kak.. semangattt
jangan lupa mampir juga di karyaku yang masih amatir😁😁😁
Maya●●●
halo kak salam kenal.
aku mampir nih, ceritanya baguss😉
Nengzah
wkwkwk Mamanya Juan iseng banget🤣🤣
Nengzah
tanya sama authornya deh ri🤣🤣
Nengzah
aduh🤦‍♀️
Nengzah
wkwkwk suka 🥰
Nengzah
jadi mesam mesem sendiri 😂😂
Nengzah
ceritanya bagus tapi yang like dan komen sedikit hiks, tetap semangat thor🤗
Nengzah
ya elah aku yang baca nyengir" sendiri😁
Nengzah
lanjut terus suka😉
Nengzah
suka rapi sekali penulisannya dan juga enak di baca🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!