NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesal dan Ancaman untuk sang Preman

Raka memutar gas motor dengan kasar. Mesin berteriak protes di tengah kegelapan jalan desa yang hanya diterangi lampu depan yang goyah. Tiga tubuh berdesakan di atas jok yang sempit. Raka di depan, rahangnya mengeras, jari-jari mencengkeram stang seolah ingin mematahkannya. Di belakangnya, Devi duduk diam, tubuhnya kaku menempel pada punggung kakaknya. Di ujung, Devan duduk santai, satu tangan bertumpu di pinggang, seolah perjalanan malam ini hanyalah jalan-jalan biasa.

Angin malam menusuk wajah. Suara raungan mesin memenuhi telinga, tapi tidak cukup untuk menenggelamkan amarah yang menggelegak di dada Raka. Ia masih belum terima. Sama sekali belum. Adeknya, Devi, harus menikah dengan preman. Preman. Kata itu saja sudah membuat perutnya mual. Bagaimana mungkin ia menyerahkan gadis yang ia besarkan dengan susah payah kepada laki-laki bertato yang baru saja mereka temukan di gubuk kosong tengah sawah?

“Dasar sialan,” gumam Raka pelan, tapi cukup keras untuk didengar dua penumpangnya. “Gubuk kosong. Tengah malam. Sendirian. Orang waras mana yang nongkrong di situ kalau bukan niat jahat?”

Devan tertawa kecil di belakang. Tawa itu ringan, tidak menantang, seolah Raka hanya mengomel soal cuaca buruk. “He eh, Mas Bro. Kalau saya niat jahat, paling-paling saya sudah lari dari tadi. Bukan malah ikut naik motor bareng kalian.”

Raka mengeratkan rahang. “Jangan sok lucu. Aku masih belum percaya sama kamu. Tato naga di badanmu itu … orang kampung mana yang nggak takut lihat begitu?”

“Tato cuma gambar, Mas,” jawab Devan santai, suaranya hampir tenggelam oleh angin. “Naga itu biar keren aja. Bukan buat nunjukin saya jahat. Lagian, kalau saya jahat, Devi udah nggak mau ikut dari tadi.”

Devi tetap diam. Air matanya sudah mengering sejak mereka meninggalkan sawah. Ia hanya menunduk, rambutnya diikat asal-asalan tertiup angin, jari-jarinya mencengkeram jaket kakaknya seolah itu satu-satunya yang bisa ia pegang. Ia tidak membela Devan. Ia juga tidak membela Raka. Ia hanya duduk di antara dua laki-laki yang sedang bertarung diam-diam, satu dengan amarah, satu dengan ketenangan yang menyebalkan.

Raka semakin kesal. Sepanjang jalan ia mengomel tanpa henti. Tentang harga diri keluarga. Tentang bagaimana warga akan bergunjing. Tentang bagaimana ia merasa gagal sebagai kakak. Setiap kalimat keluar seperti racun yang ia paksa telan sendiri.

“Kamu pikir aku rela? Hah? Aku rela serahin adekku ke preman?!” suaranya naik. “Dari kecil aku yang jagain dia. Dari kecil! Sekarang tiba-tiba harus nikah sama orang yang bahkan namanya aja baru aku dengar malam ini?!”

Devan menghela napas pelan. Ia tidak marah. Sama sekali tidak. Ia hanya memandang punggung Raka yang tegang, lalu menjawab dengan nada yang sama sekali tidak berubah, santai, sedikit slengekan, seolah mereka sedang ngobrol di warung kopi.

“Mas Bro, tenang dikit. Nafas. Saya nggak maksa siapa-siapa. Kalau Devi nggak mau, saya cabut. Tapi … kayaknya dia udah putusin, deh.”

Raka mendengus kasar. “Persetan dengan putusan. Aku masih kakaknya. Aku yang putusin!”

Motor terus melaju. Lampu jalan desa yang jarang membuat bayangan mereka bergoyang-goyang di aspal. Raka masih mengomel, kadang pelan, kadang meledak. Devan menjawab sesekali dengan kalimat pendek yang tidak pernah naik pitam. Devi tetap bisu, air matanya sudah habis, hanya menyisakan rasa kosong di dada.

Sampai akhirnya Raka menghentikan motor di tepi jalan yang gelap. Ia mematikan mesin. Raungan itu berhenti mendadak, digantikan oleh keheningan yang penuh ancaman. Raka menoleh ke belakang, mata merah, napas memburu. Ia menggantung kalimatnya sejenak, membiarkan keheningan itu menekan dada mereka semua.

“Awas kalau sampai kamu kurang ajar dan menyakiti dia ...,"

Raka menggantung kalimatnya sejenak, membiarkan raungan mesin motor mengisi jeda yang penuh ancaman tersebut.

"... Jangankan tato naga di badanmu itu, nyawamu pun bisa saya preteli satu per satu! Kamu belum tahu siapa saya di desa ini!" lanjut Raka dengan nada rendah yang sangat berbahaya.

Devan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Bukannya tersinggung atau marah oleh ancaman mati-matian dari seorang kakak yang protektif, Devan justru mengulas senyum tipis di kegelapan malam. Ia dapat merasakan betapa besarnya rasa sayang dan rasa bersalah yang sedang menggerogoti dada pemuda di depannya ini.

"Tenang saja, Mas Bro," sahut Devan dengan nada suara yang tiba-tiba melunak, namun tetap menyisakan sedikit kesan santai yang menjadi ciri khasnya. "Tato di badan saya ini cuma gambar naga, bukan gambaran niat jahat. Saya bukan tipe laki-laki yang suka kasar sama perempuan."

"Persetan dengan tatomu!" balas Raka kasar, meski dalam hati ada sedikit rasa lega yang samar mendengar jawaban pria itu. "Kamu pikir saya percaya begitu saja sama omongan lelaki asing yang baru ditangkap warga di gubuk tengah sawah?! Orang benar mana yang tengah malam nongkrong di gubuk kosong sendirian kalau bukan orang niat jahat?!"

"Saya kan sudah bilang sama Pak Kades tadi, Mas," jawab Devan membela diri dengan santai. "Saya ini perantau dari kota. Saya kemalaman, tidak tahu jalan, terus tiba-tiba hujan turun lebat banget kayak disiram dari langit. Saya lihat ada gubuk, ya saya masuk buat berteduh. Tahu-tahu sepuluh menit kemudian adikmu datang basah kuyup. Niat saya mau keluar biar tidak canggung, tapi hujan makin gila dan petir menyambar-nyambar. Belum sempat hujan reda, wargamu yang beringas itu sudah mendobrak pintu pakai bambu. Mau bayar berapa coba buat nonton drama komedi gratisan kayak begitu?"

"Ini bukan drama komedi, Gila!" semprot Raka gemas. "Ini hidup adik saya yang kamu jadikan bahan lelucon!"

Devi yang duduk di depan hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat mendengarkan perdebatan dua pria di belakangnya. Setiap kali Devan berbicara, getaran suaranya terasa merambat pelan melalui tubuh Raka hingga ke dada Devi.

Suara pria itu terasa begitu dekat, nyata, dan membakar kesadarannya bahwa malam ini, dunianya benar-benar telah berubah total.

"Saya tidak pernah menganggap ini lelucon, Mas," suara Devan tiba-tiba berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya, menghentikan ocehan Raka yang hendak keluar lagi. "Kalau saya menganggap ini lelucon, saya sudah lari atau melawan saat warga datang menyerbu tadi. Saya bisa saja kabur kalau mau. Tapi saya tetap tinggal di balai desa, menyetujui opsi pernikahan itu, karena saya tahu apa akibatnya buat adikmu kalau saya menolak."

Raka terdiam sejenak. Tangannya yang mencengkeram stang motor sedikit mengendur. Pengakuan Devan yang meluncur jujur itu seolah memukul kesadarannya. Memang benar, jika pemuda di belakangnya ini menolak atau mengamuk di balai desa tadi, situasi pasti akan menjadi tak terkendali dan Devi akan menjadi korban utama kebuasan massa.

"Tapi tetap saja ..." suara Raka melemah, berganti dengan nada keputusasaan yang sangat dalam. "... kamu itu orang asing. Kami tidak tahu kamu siapa, keluarga kamu di mana, atau pekerjaanmu apa. Dan sekarang saya harus membawa pulang seorang preman bertato ke rumah orang tua saya sendiri ..."

"Penampilan sering menipu, Mas," potong Devan pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin motor yang mulai memasuki kawasan permukiman rumah warga Dukuh Parang. "Siapa tahu preman yang Mas maksud ini sebenarnya adalah pangeran bersenjata lengkap yang sengaja dikirim Tuhan buat menolong keluarga Mas?"

"Ngasal kalau bicara!" umpat Raka, meski hatinya tak lagi sekeras tadi.

Motor bebek tua itu akhirnya berbelok memasuki sebuah gang sempit yang diapit oleh pagar tanaman teh-tehan. Di ujung gang, berdiri sebuah rumah sederhana berdinding tembok bercat hijau kusam dengan teras kecil bersemen kasar. Di atas teras rumah itu, dua buah lampu bohlam berwarna kuning menyala terang, menerangi dua sosok paruh baya yang tampak duduk gelisah di atas kursi rotan.

Pak Suryo dan Bu Sumi, kedua orang tua Devi, telah menunggu di teras dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan luar biasa.

Raka mematikan mesin motornya tepat di depan halaman rumah. Keheningan malam seketika menyergap kembali, hanya disisakan oleh suara derit cakram rem motor yang panas dan deru nafas mereka bertiga.

"Kita sudah sampai," bulu kuduk Raka berdiri saat menatap kedua orang tuanya yang langsung berdiri tergesa-gesa dari kursi teras. "Siapkan dirimu, Devan. Ujian sesungguhnya baru dimulai sekarang."

1
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!