NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Katanya Aku menantu yang Tidak Tahu Diri

Semakin hari, aku mulai merasakan perubahan sikap tetangga. Jika dulu mereka selalu menyapaku dengan ramah, kini beberapa di antaranya hanya tersenyum tipis, bahkan ada yang pura-pura tidak melihatku. Aku hanya bisa menghela napas. Fitnah memang lebih cepat menyebar daripada kebenaran.

----

Hari Minggu akhirnya tiba. Hari yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat. Namun bagiku... Hari libur justru menjadi hari paling melelahkan. Sejak pukul lima pagi aku sudah membersihkan rumah.

Menyapu, Mengepel, Mencuci pakaian, Membersihkan kamar mandi.

Lalu memasak untuk makan siang. Sementara itu, Dinda masih tidur di kamarnya. Sedangkan Bu Mirna sedang menonton acara televisi favoritnya sambil menikmati kopi yang ku buatkan.

"Fitri."

"Iya, Ma?"

"Nanti habis ini bersihin gudang belakang ya."

Aku menghentikan gerakan tanganku.

"Gudang?"

"Iya."

"Sudah lama enggak dibersihkan."

"Baik, Ma."

"Terus jangan lupa bersihin loteng juga."

Aku mengangguk pelan. Padahal tubuhku sudah terasa pegal sejak pagi.

---

Sekitar pukul sepuluh siang, Mas Viyan keluar dari kamar.

"Wah...Rumah bersih sekali."

Aku hanya tersenyum.

"Sudah selesai nyapu?" tanya mertuaku.

"Iya."

"Mengepel?" tanya lagi mertuaku.

"Iya."

"Masak?" tanya lagi mertuaku.

"Sudah."

Mas Viyan memandangku dengan iba. "Kamu istirahat dulu sana."

Belum sempat aku menjawab, Bu Mirna langsung menyela.

"Istirahat apa? Lah, gudang belum dibersihin."

Mas Viyan menoleh kepada ibunya.

"Ma.. fitri dari pagi belum berhenti kerja."

"Ya memang kenapa?" Ucap mertuaku lagi.

"Capek lah ma"

Bu Mirna langsung tertawa kecil. "Baru kerja begitu saja capek? Dulu Mama ngurus dua anak sendirian enggak pernah ngeluh."

Aku melihat Mas Viyan ingin membalas. Namun aku lebih dulu menyentuh lengannya pelan.

"Sudah, Mas. Enggak apa-apa."

Aku tidak ingin hari libur berubah menjadi pertengkaran lagi.

---

Aku berjalan menuju gudang di belakang rumah. Begitu pintunya kubuka...

Debu langsung beterbangan.

"Astaghfirullah..."

Ruangan itu penuh kardus bekas, lemari rusak, kipas angin yang sudah mati, hingga peralatan rumah tangga yang sudah tidak dipakai.

Aku mulai membersihkannya satu per satu.

Hampir satu jam kemudian... Bajuku sudah penuh debu.

Keringat mengalir di pelipis ku. Saat sedang mengangkat sebuah kardus besar, tiba-tiba terdengar suara seseorang.

"Fitri?"

Aku menoleh.

Ternyata Bu Rina berdiri di belakang pagar.

"Iya, Bu?"

"Lagi bersih-bersih?"

"Iya."

"Sendirian?"

"Iya."

Bu Rina melihat ke arah ruang tamu. Bu Mirna masih duduk santai sambil menonton televisi. Sedangkan Dinda terdengar tertawa sambil bermain ponsel di kamarnya. Raut wajah Bu Rina berubah.

"Ya Allah..."

"Iya, Bu?"

"Enggak... enggak apa-apa."

Beliau pamit lalu pergi. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku tidak tahu... Bahwa untuk pertama kalinya... Ada tetangga yang melihat sendiri bagaimana aku diperlakukan di rumah ini.

----

Sore harinya. Bu Rina datang kembali. Namun kali ini bukan menemui ku. Beliau datang menemui Bu Mirna. Aku yang sedang menyiram tanaman mendengar percakapan mereka.

"Mir."

"Iya?"

"Kamu enak ya punya menantu rajin."

Bu Mirna tertawa kecil.

"Rajin dari mana."

"Lho, tadi saya lihat dia bersihin gudang sendirian."

"Oh...Itu memang tugas dia."

"Tugas?"

"Iya. Kan numpang di rumah saya."

Aku menghentikan kegiatan menyiram tanaman.

"Numpang?"

"Iya."

"Kalau enggak disuruh kerja, ya enak dong."

Bu Rina tampak terdiam beberapa saat.

"Lho, tapi dia juga kerja mir?"

"Iya."

"Terus masih ngurus rumah juga."

Bu Mirna langsung mendengus. "Itu sudah kewajiban istri. Kalau enggak kuat ya jangan numpang."

Kalimat itu menusuk hatiku. Aku memang tinggal di rumah ini. Tetapi sejak bekerja, aku juga ikut membantu kebutuhan rumah. Bahkan hampir seluruh pekerjaannya aku kerjakan sendiri.

Tetapi...

Di mata Bu Mirna... Aku tetap hanya orang asing.

---

Malam harinya. Setelah semua pekerjaan selesai, aku duduk sendirian di dapur sambil memijat pergelangan tanganku yang terasa nyeri. Mas Viyan masuk perlahan.

"Kamu kenapa sayang?"

"Enggak apa-apa mas."

Mas melihat tanganku. "Ini merah."

"Tadi angkat kardus."

Mas langsung mengambil minyak gosok dari lemari.

"Sini mas oleskan minyak."

"Mas..."

"Diem dulu. Cuma sebentar kok"

Beliau mengoleskan minyak perlahan ke pergelangan tanganku. Gerakannya sangat hati-hati.

"Besok enggak usah bersihin gudang lagi."

"Sudah selesai kok."

Mas menggeleng pelan. "Kalau Mama nyuruh yang berat-berat lagi....bilang sama Mas."

Aku tersenyum kecil. "Iya."

Namun senyumku hanya sesaat. Karena dari arah ruang tamu terdengar suara Bu Mirna.

"Yan!"

"Iya, Ma?"

"Kamu ngapain lama di dapur?"

"Ini, Ma. Fitri tangannya sakit."

"Halah. Cuma begitu saja manja. Sekarang apa-apa harus dibantu suami."

Aku menundukkan kepala. Sedangkan Mas Viyan mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya... Aku melihat rahangnya mengeras menahan emosi.

Namun... Beliau tetap memilih diam. Dan Bu Mirna menganggap diamnya itu sebagai kemenangan.

Beliau sama sekali tidak sadar... Sedikit demi sedikit... Kesabaran anak laki-lakinya mulai habis.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!