[TERBIT NOVEL]
Demi sebuah kontrak kerjasama mereka harus mendapatkan tanda tangan pria tua menyebalkan. Selain menyebalkan pria tua itupun berpikiran kotor, ia memasukkan obat pada minuman Alicia, melihat ada yang janggal Richard berusaha menemukan celah keluar agar mereka berdua bisa segera terlepas dari perangkap pria tua itu.
Namun tak disangka, malam itu pun menjadi cinta satu malam yang susah dilupakan oleh Richard, malam terindah yang pernah ia dapati bersama perempuan yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.
Disetiap pertemuannya dengan Alicia pun membuat Richard selalu menginginkannya lagi dan lagi. "Kau milikku, dan kau tidak akan pernah bisa lepas dariku!"
CEO Series #1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama
Richard keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya dan handuk kecil yang ia gunakan untuk menggosok rambut basahnya.
Setelah mengantar Alicia tadi, Richard langsung membersihkan dirinya dengan air dingin, dan itu benar-benar cara yang paling berhasil mengembalikan mood nya.
Ia masuk kedalam ruangan yang tak terlalu besar, pakaian nya berjajar rapi disana. Kini ia akan bersantai di apartemen nya, tidak berencana pergi ataupun mencari hiburan diluar sana.
Pilihan Richard tertuju pada kaos hitam dan celana pendek.
Setelah mengenakan pakaian santainya, ia duduk diatas ranjang, bersandar pada kepala ranjang. Jarinya mencari nama seseorang yang tepat untuk memecahkan rasa penasarannya.
"Hallo. Aku ada tugas baru untuk mu."
"Ya, sir. Apa yang bisa aku lakukan?"
"Aku ingin kau terbang ke New York sekarang." Richard memperhatikan dinding kamar nya yang mewah, pikirannya merancang kata-kata yang tepat untuk mengatakan keinginannya.
"Apa ada sesuatu di New York?"
"Ya. Aku ingin kau mencari sesuatu mengenai seorang wanita, aku akan mengirimkan data dirinya. Cari apapun yang berkaitan dengannya, apa pekerjaan ayah ibunya, apa dia pernah bermasalah atau apa pun itu aku ingin tau. Sedetail mungkin tentangnya." Richard menekan kalimat terakhir nya.
"Baik sir. Aku akan ke New York sekarang, aku tunggu data dirinya." Richard mematikan panggilannya, ia mengirimkan semua data mengenai Alicia, ia ingin tau apa yang pernah terjadi dengan wanita itu.
"Sebenarnya ada apa dengan mu Alicia." Gumam Richard pelan.
°°°
"Alicia." Panggil Bella dengan semangat. Ia menghampiri Alicia yang baru keluar dari kamarnya.
"Bagaimana acara kencan mu?"
Alicia memutarkan bola matanya.
"Itu bukan kencan Bella. Aku hanya menemaninya ke pesta."
"Angelina bilang kekasih mu tampan."
"Dia bukan kekasih ku Bella, Angelina akan mengatakan semua pria tampan." Bella berdecak dan menggelengkan kepalanya.
"Selera anak ku tidak rendah Alicia, aku sudah mengajarinya itu." Alicia mengangkat sebelah alisnya, ia tertawa.
"Serius? Kau mengajarinya cara memilih pria?" Tanya Alicia tak percaya.
"Ya. Dia akan cantik jika sudah remaja nanti, ia harus melihat dari fisik, sikap, dan ketebalan dompet pria." Kini Alicia yang menggelengkan kepalanya.
"Kau benar-benar ibu yang pengertian Bella." Ujar Alicia dengan nada kagum yang mengejek.
"Ah iya, mana mama?" Dari pulang tadi Alicia belum menemukan mama nya, ia langsung memberikan make up dan mandi.
"Mama sedang berjalan-jalan ditaman bersama Angelina." Jawab Bella. Ia sedikit terdiam dan menatap Alicia ragu.
"Apa mama sudah berobat?"
"Sudah, awal bulan kemarin. Dan sekarang aku mendapatkan bonus, sepertinya lusa aku akan memeriksa keadaan mama."
"Apa mama mengeluh sakit?" Tanya Alicia was-was.
"Sebenarnya.." Bella menggantung ucapannya. Alis Alicia bertaut, ia mendekatkan diri pada Bella.
"Ada apa Bella?" Kini ketakutan Alicia meningkatkan melihat Bella yang ragu seperti ini.
"Aku.. aku melihat mama mimisan tadi siang. Apa itu bahaya?" Mata Alicia membola.
"Apa?" Pekik Alicia. Ia segera bergegas namun Bella menahan tangannya.
"Mama sudah mengingatkan ku untuk tidak memberitahu mu, bisa kah kau bertanya nya nanti? Bertanya baik-baik saja." Alicia menggelengkan kepalanya.
"Aku mohon." Bella memasang wajah memelas, ia sendiri panik siang tadi, namun mama malah memohon pada Bella agar tidak memberitahu Alicia.
"Aku akan melihat sendiri keadaan mama terlebih dahulu. Sepertinya malam ini aku akan memeriksa keadaan mama, bolehkah aku meminjam mobil mu?" Bella mengangguk semangat.
"Boleh. Tentu, aku berharap mama tetap baik-baik saja."
"Terimakasih Bella. Aku akan turun dulu melihat mama." Alicia tak bisa berusaha setenang itu, hanya mama yang ia punya, jika mama nya sampai terjadi apa-apa, ia tak tau lagi apa ada alasan lain untuknya tetap bersemangat hidup?. Pikirannya menjadi teringat ucapan dokter gila itu, dengan tidak sopan dokter itu menentukan umur kehidupan mama nya, memang siapa dia bisa menentukan umur manusia?!. Bahkan Alicia setahun yang lalu mengamuk merutuki agar dokter itu yang terlebih dahulu kehabisan umur!.