Seluruh bangunan yang berada di pulau Kanawa terancam di gusur, karena kepemilikannya berpindah tangan pada pria asing berasal dari Jerman. Yang akan merubah semua isi pulau tersebut untuk di jadikan tempat wisata yang akan menambah kekayaannya.
Pria asing itu adalah Jerricco
Alessandro, pria sukses dalam bidang teknologi dan wisata mancanegara.
Tidak ingin mata pencaharian warga hilang begitu saja karena ke serakahan pria itu, Damara harus merelakan diri menjadi istri Jerry, agar dirinya serta seluruh warga pulau Kanwa tetap bisa bekerja dan mencari pundi-pundi rupiah.
"Hidupnya harus membawa banyak keuntungan besar untukku!" pria paru baya tersebut menyeringai sambil memandangi foto wanita berparas cantik dengan rambut sebahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Takut
“Ra kamu wanita beruntung yang menemukan pria yang sangat mencintai wanitanya, meskipun wanita itu sudah pergi. Bayangkan jika kamu berhasil mengambil hatinya, membuatnya jatuh cinta padamu. Jerricco tidak akan mudah melupakan rasa cintanya padamu, sama seperti wanita yang sekarang masih dia cintai.”
Damara menghapus air matanya, dia menatap lekat-lekat manik sang ibu. “Rara takut, Bu.”
“Kenapa mesti takut, dia sudah memilihmu menjadi istrinya. Itu artinya dia berharap banyak pada kebahagiaan pernikahan kalian, mungkin Jerricco ingin kamu membantunya untuk keluar dari masa lalu itu Ra.”
Alice tidak ingin melihat rumah tangga anaknya yang baru beberapa hari ini hancur karena Damara tidak bisa mengerti posisi Jerricco, Damara pasti merasakan sakit yang luar biasa. Tapi Alice yakin Damara bisa mengambil hati Jerricco, dan mereka akan bahagia.
Damara merasa ucapan ibunya benar, bahkan tadi Jerricco sampai berani berlutut di hadapannya. Tapi melihat Jerricco memanggil wanita lain bahkan berhubungan badan di mimpi itu jelas membuat hati Damara sakit.
Bahkan dia di campakkan oleh Jerricco di malam pertamanya, Damara menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Alice menghapus air mata Damara, “Lebih baik Rara istirahat, kakimu bengkak seperti itu. Nanti Ibu buatkan obat untuk kakimu.”
“Terima kasih, Bu,” lirih Damara. Tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang, Damara hanya ingin istirahat lelah rasanya menangis seperti ini.
Padahal sebelumnya dia tidak pernah menangis dengan waktu yang cukup lama. Dengan menggunakan alat bantu berjalan miliknya, Damara berjalan ke kamarnya
Aroma bunga lavender menyeruak ke indra penciumannya.
Damara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menatap langit-langit kamarnya. Mencoba memikirkan setiap ucapan sang ibu.
***
Jerricco menunggu kabar dari Kevin, ia diam di ruangan kerjanya tanpa melakukan aktivitas apa pun. Hatinya terasa resah, sebenarnya dia ingin menahan Damara untuk tetap tinggal.
Kalau boleh memilih dia tidak ingin berada di dalam bayang-bayang Mira. Jerricco juga ingin bahagia, dia ingin memiliki keluarga kecil yang harmonis, memiliki keturunan dari orang yang dia cintai untuk meneruskan perusahaannya.
Membayangkan memiliki keturunan dari Damara menimbulkan senyum manis di tengah kerisauannya.
Suara ketukan di pintu membuat Jerricco mengalihkan perhatiannya, dari foto yang dia pegang, foto pernikahannya dengan Damara.
“Masuk!”
Jerricco menatap Kevin yang kini menunduk hormat padanya. “Lord, Nona Damara meminta saya mengantarkannya ke rumah ibunya. Sekarang nona ada di sana.”
“Antarkan saya ke sana.”
“Baik, Lord.”
Jerricco berjalan keluar dari ruangannya, di ikuti Kevin yang mengekor di depannya.
Dengan sigap Kevin membukakan pintu mobil untuk Arvan, dia kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Damara.
Mobil Mercedes Benz Maybach S 560 yang di bandrol dengan harga di atas 6M terparkir cantik di halaman rumah Damara.
Jerricco masih diam memperhatikan rumah kecil itu, rumah yang pernah dia datangi beberapa hari lalu untuk meminta restu dari ibu Damara.
Sementara para tetangga yang melewati rumah Damara berbisik-bisik saat melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumah Alice.
Kevin keluar dari mobil untuk membuka pintu tuannya. Jerricco keluar dari dalam mobil dengan pakaian kasualnya.
Jerricco berjalan lalu menekan bel, Kevin masih setia berdiri di belakangnya.
Tidak memakan waktu lama pintu terbuka, Jerricco menampilkan senyum ramah pada Alice.
Alice membalas senyum ramah menantunya, membuka lebar pintu rumahnya. “Silakan masuk.”
Jerricco dan Kevin masuk ke dalam rumah. “Duduk dulu, biar ibu buatkan minum.”
“Terima kasih,” jawab Jerricco.
***
#Temansorehari
Jangan lupa dukungannya ya, biar aku semangat carzy up.
Love u 💞
Kenapa setelah menikah terjesan spt gadis cengeng..?
koq aku ga paham yaa