Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NATASYA 2
Dika menyadari kesan tidak suka antara boss nya dengan gadis yang tengah menyentuh punggung tangan Bram itu, kalau dilihat memang tidak ada ekspresi benci di mata pria disebelahnya tetapi dari cara penyambutan gadis itu ketika datang cukup menjawab semua penglihatan Dika.
"Pak Hartono?"
"Iya ada apa?"
"Sebaiknya saya permisi pulang dulu, besok saya akan berkunjung kembali."
"Baiklah, terimakasih ya sudah mau meluangkan waktunya."
"Itu sudah tugas saya Pak, kalau begitu ponsel Bram saya bawa."
"Saya serahkan kepadamu." Ayah Bram menepuk pundak Dika sebagai tanda perpisahan.
Sekarang di tempat itu hanya ada ketiga manusia dewasa, Natasya melirik ke arah laki-laki yang sedang sibuk dengan ponselnya. Cukup lama tidak ada suara apapun hingga ayah Bram menyuruh Natasya untuk ikut duduk disofa sebelahnya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Lancar om," Natasya mengucapkan itu sembari tangan kanannya meraih kantung plastik makanan ringan yang tadi dia beli di minimarket, tangan kurus itu meraih satu bungkus dan menyodorkannya kepada Hartono.
"Saya tidak makan jajanan seperti itu," tolaknya dengan tegas yang membuat Natasya sedikit merasa tersindir karena malah membawakan makanan yang tidak sehat.
"Kalau begitu aku belikan makanan diluar ya om?"
"Tidak perlu."
Natasya diam dan mengembalikan bungkusan jajan tadi kedalam plastik kembali.
Nada pesan masuk dalam pendengaran Natasya, dia hafal dengan suara itu lalu meraih ponsel dalam saku jaket kulitnya. Dibacanya dengan seksama lalu mengetik sesuatu sebagai balasan, dia adalah Tiara yang meminta alamat rumah sakit tempat dimana Bram dirawat.
"Natasya!"
"Iya om?" Natasya menyimpan kembali ponselnya untuk sekedar sedikit menghargai manton calon bapak mertuanya itu yang seperti ingin membicarakan sesuatu.
"Tidak perlu repot-repot seperti ini, kamu dan Bram sudah berpisah."
"Maafkan aku om," Natasya merasa begitu ditolak oleh dari ayah Bram, kalau boleh jujur dia merasa sangat tidak percaya diri.
"Tidak perlu meminta maaf, Bram sudah punya penggantimu jadi saya harap kamu mengerti."
"Aku mengerti om," ayah Bram menatap kepada gadis di sebelahnya yang tengah melamun.
"Besok pagi pulang saja, saya yang akan menunggu istri saya sampai datang kesini."
"Baik om," laki-laki itu berdiri dan menghampiri ranjang Bram sesaat sebelum dirinya melangkahkan kembali kaki besarnya.
"Aku akan menunggu diluar, kamu tidur saja disitu."
"Tidak perlu om, biar aku saja yang menjaga diluar!" tidak menghiraukan sergahan Natasya laki-laki itu sudah dulu membuka pintu dan keluar.
Natasya sendiri masih tidak bergerak sedikitpun untuk sekedar merubah posisi duduknya, dia meratapi sendiri nasibnya yang seperti tengah mengemis cinta kepada laki-laki yang tidak berdaya. Meski dia berada ditempat itu karena permintaan dari ibunya Bram namun Natasya tidak merasa keberatan sama sekali, dia justru merasa senang ketika wanita itu masih mau membutuhkannya. Namun siapa sangka pria yang baru saja keluar dari ruangan itu memang tidak pernah berubah bahkan ketika Natasya sudah tidak lagi bersama Bram, Natasya sadar betul bahwa orang itu tidak pernah menyukainya. Kata-kata bahwa Bram sudah mempunyai tambatan hati yang baru membuat Natasya merasa benar-benar pupus, meski setiap kali dia berharap dan mengucap doa agar bisa kembali menjalin kasih dengan Bram namun dia tidak bisa menghindari takdir bahwa ke duanya sudah tidak bisa bersatu.
Langkah gontainya menuju ketempat ranjang Bram berada, dia menarik kursi untuk duduk disebelah laki-laki itu. Natasya menatap wajah Bram yang dipenuhi luka goresan dan kepalanya yang terpasang perban disana, dia meneteskan air mata menangisi keadaan mantan tunangannya yang begitu memilukan. Sekian lama tidak bertemu dan ketika saat ini dia bisa melihat kembali tubuh kokoh laki-laki itu yang terkulai tidak berdaya, Natasya mengingat masa-masa perjalanan cintanya bersama Bram. Meski tidak banyak momen berharga dan mengesankan namun dia tetap menikmati saat-saat itu.
"Bram!"
tes
Satu tetes air mata Natasya kembali jatuh mengenai pipi tirusnya, dia tidak menyeka dan membersihkan wajahnya yang basah. Tetap tujuan pandangnya masih kepada wajah Bram, kedua tangan itu memegang dadanya yang bisa terasa sangat ngilu.
"Aku tidak menyangka kita berakhir, sampai sekarang aku masih tidak percaya."
Dilanjutkan lagi dengan wajah Natasya yang kini tertunduk, bahunya bergetar hebat. Dia menambah volume tangisnya yang mungkin bisa Bram dengar meski dalam keadaan koma.
"Dan saat papa kamu bilang bahwa kamu sudah memiliki seseorang yang baru rasanya aku ingin mati saja, kenapa kamu sebegitu mudahnya melupakan aku?"
"Aku memang tidak secantik perempuan lain, yang pandai merawat diri dan bergaya manis. Aku tahu itu kekuranganku."
huft
Terdengar berat sekali helaan nafas itu, Natasya kembali menengadahkan kepalanya. Kini arah matanya tertuju pada jari-jari besar Bram yang sudah tidak ada lagi cincin tunangan mereka, Natasya sendiri bergantian menatap jari manisnya yang masih begitu setia terpasang cincin kenangan mereka.
"Aku penasaran seperti apa perempuan yang berhasil menggeser posisi aku dihatimu?"
Natasya menyeka air mata yang sudah sedari tadi membanjiri wajah kusamnya, dia berdiri menuju kembali sofa yang akan dia jadikan ranjang sempitnya. Meski mungkin akan susah untuk terlelap namun dia harus beristirahat mengingat jadwal kerja tadi siang dan perjalanan dari Jogja ke Bandung yang jauh cukup membuatnya lelah, ditatap kembali Bram disana yang masih setia sibuk dengan dunia sulitnya.
"Bagaimana bisa terjadi?"
"Aku tidak tahu kronologinya, tetapi Natasya bilang kepadaku bahwa Bram sedang dirawat."
"Pantas saja dia tidak pernah menelfonku."
Pasangan suami istri itu tengah berunding dalam kamarnya yang mewah itu, Kelvin mencoba menghubungi seseorang dalam telfon namun sambungan tidak aktif. Setelah merasa percaya bahwa teman lamanya tengah dilanda musibah membuatnya merasa tidak rela, tahu sendiri bukan bahwa Bram bukanlah orang yang baru. Laki-laki itu bahkan tidak sungkan membagi ilmu bisnis maupun barang-barang mewah yang pastinya sangat mahal.
"Besok siang kita kesana."
"Tidak berangkat pagi saja?" Tiara bertanya sembari mengoleskan kutek merah darah ke atas kuku mungil itu.
"Tidak bisa, aku ada urusan kerja sebentar."
"Baiklah," Kelvin terus teringat niat Bram datang ke Bandung, pasti menemui Sinta. Tidak disangka membawa petaka sendiri bagi Bram, kalau boleh ingin tahu sedikit Kelvin merasa penasaran apakah Bram sudah berhasil menemukan Sinta atau belum. Mengingat laki-laki itu pernah mengatakan jika dirinya tidak akan pulang jika belum menemukan Sinta.
"Kamu kenapa?" Tiara menyenggol lengan suaminya yang tidak tertutupi baju, hanya terpampang kaos lengan pendek yang dipakai Kelvin.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?" mata Tiara memicing beserta jari kelingking nya yang kemenyek karena baru saja diolesi kutek itu.
Kelvin menarik selimut sebatas dadanya, memiringkan tubuh kekar itu membelakangi Tiara yang tampak acuh dan tetap fokus pada kuku-kuku nya.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih