Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 27 (Tangisan Kak Manda)
“Hai Papa ... tuh, Papa udah pulang Nak,” ucap kak Manda sambil mengelus perutnya, ia berbicara dengan janin yang masih ada dalam kandungannya.
Bang Aril ngeloyor, masuk ke dalam kamar tanpa ia memperhatikan istrinya yang sedari tadi menunggu akan kepulangannya. Sungguh, gue kasihan melihat kak Manda yang sedang mengandung saat ini, malah kurang diperhatikan sama bang Aril.
Bang Aril yang dulu romantis, kini telah berubah menjadi dingin perlakuannya terhadap kak Manda.
Kak Manda terdiam. Hanya ekspresi wajah kecewa yang terlihat. Kak Manda menyusul bang Aril masuk ke dalam kamar. Gue mengekor dari belakang. Mendengarkan dari balik pintu kamar yang telah tertutup rapat.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya kak Manda.
“Enggak apa-apa.”
“Kamu capek, sayang? Aku pijit ya?”
“Enggak usah. Aku tidur, ya? udah ngantuk,” ucap bang Aril.
Hening.
Gue memilih masuk ke dalam kamar. Menaiki anak tangga dan membukakan pintu kamar.
Gue membuka jendela kamar, karena hawa panas yang gue rasa dalam kamar ini. Memperhatikan jalanan yang telah sepi. Menatap langit malam tanpa adanya bintang, udara dingin dari luar yang semakin menusuk.
Tak sengaja, gue melihat ke arah balkon kamar bang Aril, ada seorang wanita yang sedang duduk melamun. Terlihat sedih, bahkan sesekali ia seperti mengusap pipinya.
“Kak Manda?” Pekik gue dalam kamar.
Gue masih memperhatikan kak Manda dari jendela kamar. Terlihat ia telah mengenakan piyama untuk bergegas tidur. Namun, sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya, sehingga ia tidak bisa tidur.
Tok ... Tok ... Tok ....
Gue mengetok pintu kamar bang Aril.
“Ada apa, Dek?” ucap bang Aril setelah membuka pintu dengan mata yang memerah. Sepertinya bang Aril telah tertidur tadi.
“Lihat tuh, Kak Manda ada di balkon. Ajak tidur bang. Kasihan, dia lagi gandung anak lo.”
Bang Aril melihat ke arah balkon, terlihat ekspresi wajah yang kaget. Mungkin, memang bang Aril benar-benar enggak mengetahui kalau kak Manda tidak ada di kamarnya.
Terlihat kak Manda masih duduk termenung menatap langit malam. Sesekali tangannya mengusap perut dan pipinya bergantian.
Bang Aril melangkahkan kaki menuju balkon kamar, menghampiri istrinya yang sedang duduk termenung sendirian. Entah bang Aril ngomong apa, karena gue memilih masuk dalam kamar. Enggak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Tapi, sebagai adik ipar kak Manda, gue tetap care sama dia. Apa lagi memang bang Aril yang salah dalam hal ini.
Gue mengintai dari dalam kamar, melihat dari jendela kamar. Sepertinya bang Aril sedang membujuk kak Manda. Gue malah membayangkan kalau di situ adalah gue yang menghadapi Yumna yang lagi ngambek. Etdah, kok gue malah halu jadinya?
Mereka kini sudah tak terlihat lagi di balkon kamar, mungkin mereka telah tidur. Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, saatnya gue tidur. Menutup jendela kamar dan bergegas masuk dalam selimut dan memejamkan mata.
***
“Wedeh, pengantin baru udah masuk kerja nih?” Gue menepuk pundak Ferdy.
Ferdy tersenyum.
“Gimana, bro, udah lancar?” Timpal Ricki menggoda.
“Udahlah, pan udah satu minggu, bro.” Ferdy terkekeh.
“Lancar apanya sih? Emang jalanan macet, Fer?” ucap gue.
Ferdy dan Ricki tertawa, entah apa maksudnya menertawakan gue. Berasa kek orang ***** diantara mereka.
“Makanya jang, kawin dulu. Baru lu ngerti!” Ricki terkekeh.
Krikk ... Krikk ....
Gue masih belum paham. Serah dah, takluk gue mah.
Keadaan di bengkel masih sepi. Seperti biasa, sambil menunggu customer. Kami bertiga menikmati secangkir kopi di pagi hari. Ferdy dengan kopi hitamnya, Ricki dengan kopi susunya dan gue tetap dengan hot moccacino.
Kadang gue inget masa-masa ketika di kampus dulu, kita bareng-bareng menggalang dana untuk korban banjir. Dengan orang tua yang sibuk menghubungi kami melalui hape karena khawatir anaknya belum pulang. Berbeda dengan sekarang, kita nyari duit buat keluarga sendiri. Namun, hape tetap dengan konsistennya selalu berbunyi pantauan dari pasangan masing-masing.
Tiba-tiba gawai gue pun ikut bergetar, WA dari Yumna.
‘Oppa, bisa ke District Cafe & Resto sekarang enggak? Penting!’
‘Oke.’
“Bro, sorry ya. Gue ada urusan bentar,” ucap gue pamit pada Ferdy dan Ricki.
Langsung gue bergegas OTW ke daerah Dago Atas dengan mengendarai motor gue.
“Shit! Mana jalanan macet lagi.”
Bunyi klakson motor dan mobil saling bersahutan. Mana keadaan hari ini panas banget. Hape juga terus-terusan bergetar dalam saku celana. Terjebak lampu merah pula, semakin melengkapi suasana jengah gue pada hari ini. Jalanan mulai lancar, gue tancap gas melaju cepat karena Yumna pasti sudah menunggu dari tadi.
BRUKK!!!
Sial! Tepat di depan motor gue terjadi kecelakaan beruntun. Kurang lebih ada empat mobil yang saling bertubrukan, membuat jalanan kembali berada dalam kemacetan.
“Ya Allah, ya Robb. Naon deui ieu? (Apa lagi ini?)”
Terpaksa perjalanan gue terhenti, karena mobil menyilang dua arah yang mengakibatkan macet total. Untunglah, gak lama mobil derek segera datang. Mereka sigap untuk memindahkan mobil yang ringsek.
.
“Maaf, Na. Kakak terjebak macet barusan.”
Mungkin Yumna sedari tadi nunggu di cafe ini, di mejanya terlihat ada gelas jus strawberry yang isinya hampir habis.
“Oppa mau minum apa? Ice Moccachino ya?” tanya Yumna.
“Boleh. Sebenarnya ada apa Na? Tumben minta jemput di sini?”
“Kangen.” Yumna terkekeh.
Gue tersenyum.
“Biasanya jemput di kampus. Emang habis ngapain di sini?” Gue menyelidik.
Yumna mengambil gawai yang ada di dalam tasnya. Terlihat, ia menyentuh gawai dan membuka aplikasi hand phonenya. Yumna menunjukan rekaman video. Cukup jelas gambarnya namun sayang, suaranya gak ada. Mungkin karena Yumna mengambil posisinya lumayan jauh. Tadinya Yumna ingin gue melihat langsung keadaannya, tapi karena terlalu lama. Jadi Yumna yang videoin moment itu.
Setelah Yumna kasih tahu tentang rekaman video itu, kami berlanjut minum di cafe dan menikmati kebersamaan berdua. Tak lama, sekitar lima belas menit kamipun pulang. Gue antar balik Yumna dan bergegas kembali ke bengkel.
.
Allhamdulillah, grafik bengkel gue terus menunjukan kenaikan. Alhasil, gue dapat memberikan uang bagi hasil sama temen-temen gue agak gedean. Hingga akhirnya kami mulai bisa menyisihkan 2,5% untuk disumbangkan ke orang yang membutuhkan. Tidak banyak memang, tapi kami bahagia bisa berbagi walau nominalnya tidak banyak. Kami mengingat sewaktu menggalang dana untuk korban banjir dulu. Bukan bermaksud riya, kami hanya mengingat perjuangan dulu yang sampai turun kejalan ketika selesai kuliah. Meminta donasi dari orang yang berlalu lalang menggunakan kendaraan.
***
Sesampainya di rumah. Gue masih melihat kak Manda yang mengelus perutnya. Memang belum terlihat membuncit, tapi dari postur tubuhnya telah memperlihatkan kenaikan berat badan, sedikit lebih berisi.
Selama ia hamil dua bulan ini, sifat bang Aril belum kembali seperti dulu. Dimana bang Aril seorang suami yang romantis, yang selalu banyak waktu bersama kak Manda. Dulu, waktu istirahat kantorpun, bang Aril bela-belain pulang untuk makan masakan kak Manda sembari ngobrol di meja makan. Mungkin hal itu yang kak Manda rindukan saat ini.
“Nda, makan dulu, sayang,” ucap Mama dari dalam rumah.
Kak Manda terlihat masih berdiri tanpa menggubris ajakan Mama yang menyuruh makan. Gue menghampiri kak Manda. Terlihat kesedihan di wajahnya. Mata yang sembab terlihat di matanya.
“Kak, Mama nyuruh makan tuh,” ucap gue.
“Hah?” Kak Manda terperanjat, mungkin telah tersadar dari lamunannya.
“Mama nyuruh makan,” ujar gue.
“Kakak enggak laper, Reen.”
Wajahnya kembali menatap ke jalan. Mungkin kak Manda menunggu bang Aril pulang, karena dalam beberapa hari ini bang Aril sering telat pulang ke rumah.
“Kakak nunggu Bang Aril?” ucap gue.
Tiba-tiba mata kak Manda berkaca-kaca, dengan cepat ia mengusap Air mata yang meluncur dari pipinya. Gue tetap berdiri di samping kak Manda. Hening sesaat, hingga akhirnya tangis pun pecah. Air mata yang tak bisa ia tahan, akhirnya meluap, membasahi kedua pipi perempuan yang sedang hamil muda ini.
“Kakak, enggak kuat Reen. Bang Aril sudah sangat jauh berubah. Kenapa ketika Kakak hamil, bang Aril malah berubah? Bukankah selama ini Bang Aril menginginkan hadirnya bayi di rumah ini? Tapi mengapa setelah Allah beri, Bang Aril malah berubah?” ucap kak Manda meluapkan emosi.
Gue jadi ingat obrolan Ricki waktu lalu tentang istrinya, kalau wanita sedang hamil itu lebih sensitif, lebih gampang marah. Waktu lalu, ketika istri Ricki hamil kek gitu katanya.
Mungkin ini yang dirasakan kak Manda. Terlebih, bang Aril yang mulai berubah di mata kak Manda saat ini. Kehamilan awal yang mestinya bahagia dengan mendapat perhatian lebih dari sang suami. Malah berbalik, seolah tidak diperhatikan lagi. Mungkin itu salah satu alasan kak Manda sering melamun bahkan menangis di belakang bang Aril.
“Kak,” ucap gue memecah keheningan.
“Apa?” ucap kak Manda lirih.
“Gue ngerti perasaan Kakak saat ini, mungkin Kakak enggak mau makan saat ini karena gak mood. Tapi ingat, ada janin dari rahim Kakak yang memerlukan asupan makanan loh.”
Kak Manda terdiam.
“Mungkin Kak Manda kuat tidak makan berhari-hari, tapi janin Kakak? Bukankah selama ini Kakak juga mendambakan suara tangis bayi dalam rumah ini? Allah telah mempercayakan dan menitipkan janin dalam rahim Kakak, jagalah janin itu baik-baik Kak, sebagai titipan dari Allah.”
Kak Manda kembali menangis setelah mendengar ucapan gue, entah apa yang ia tangkap dari ucapan gue barusan. Hingga akhirnya Mama menghampiri Kak manda untuk membujuknya makan. Dengan cepat, kak Manda mengusap air mata yang ada di pipinya.
“Loh, masih pada di sini rupanya. Ayok masuk udah mau gelap juga. Nda, makan dulu ya Nak. Kasihan janin di perutmu sayang." Mama membujuk kak Manda.
Kak Manda mengangguk, mereka berdua masuk dan menghampiri meja makan yang telah siap dengan berbagai hidangan sehat. Banyak sekali farian menu makanan yang sudah tersaji di meja makan.
Kami makan bersama tanpa adanya bang Aril. Karena sudah beberapa hari ini, bang Aril suka pulang larut malam.
Setelah makan selesai, Mama dan Papa meninggalkan meja makan. Disusul dengan gue yang bersiap-siap mau sholat maghrib. Gue berdiri dan mendorong kursi ke belakang seraya melangkahkan kaki gue menuju tangga.
“Reen,” suara Kak Manda memanggil.
Gue menoleh, “Apa, Kak?”
“Makasih ya, udah ingatkan Kakak. Kakak janji, akan jaga baik-baik janin yang Allah titipkan sama Kakak.”
Gue tersenyum. Begitupun dengan kak Manda.
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪