"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 26
Happy reading!
.
***
Seringai mematikan kembali terbit di wajah tampan dan mulus itu. Tatapannya tajam hingga alis yang tinggi miliknya hampir bersatu.
Diego masih bergeming. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya meskipun lelaki yang berstatus polisi di hadapannya berulang kali memohon agar anaknya dibebaskan.
"Saya mohon, Tuan ..., mohon bebaskan anak saya ...," pinta lelaki berseragam lengkap itu yang dijawab Diego dengan seringai.
"Saya akan menjadi bagian dari setiap misi Anda, Tuan ...." Sekali lagi Lucas memohon.
Diego menghembuskan napas kasar. Dia maju satu langkah dan berdiri tepat saat lututnya menyentuh kening lelaki itu. "Sayang sekali, padahal aku masih ingin kau jual mahal seperti kemarin. Ini menjadi sangat tidak menarik lagi," dengusnya dengan seringai tipis.
Lelaki yang bersujud itu melebarkan matanya, tidak paham apa maksud Diego. Bukan tidak ingin mengerti, pemuda berjambang yang berdiri menjulang di hadapannya sangat sulit dipahami. Setiap perkataannya selalu berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan sehingga Lucas tidak bisa menebak apa arti perkataannya.
"A-apa ... maksud Anda, Tuan?"
Diego berdecak, kemudian ikut berjongkok dan menyentuh kepala Lucas. "Aku tidak suka mengulangi perkataanku," ucapnya dengan penuh penekanan. "Sebenarnya aku hanya perlu mencari orang yang lebih pantas untuk ku jadikan santapan, hanya saja Michael tidak bisa menjalankan tugas dengan baik dan malah memilih bunuh diri."
Sekali lagi Lucas melebarkan matanya dan menatap manik yang mirip dengan milik Summer. Lagi-lagi, dia melihat pemuda yang menyeringai itu benar-benar seperti anaknya, hanya saja alis orang yang sering mengancamnya ini lebih tinggi. Mungkin ini yang menjadi alasan Summer dijadikan tersangka.
"Kenapa? Kau terkejut karena aku bilang Michael bunuh diri?" Diego tertawa kecil lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan adegan saat dia menusuk kepala Michael dengan belati. "Tidak sulit untuk mengubah fakta bahwa dia bunuh diri dengan cara ajaib."
Lucas masih terdiam tanpa kata. Sejenak rasa takut menggerogotinya. Pemuda yang selalu menghampirinya ini terkenal dengan kekejamannya dan sulit dilacak karena pintar menyembunyikan diri.
"Dan aku juga bisa mengubah fakta menjadikan anakmu sebagai tersangka," imbuh Diego sambil terkekeh. "Jadi, apa kau akan melebarkan peluang agar aku bisa menjalankan bisnis di sini tanpa diketahui jajaran kepolisian?"
Tanpa berpikir lagi, Lucas langsung mengangguk. Kebebasan anak remajanya yang lebih utama. Kebahagiaan putranya yang perlu dia dahulukan. "Saya berjanji, Tuan," ujarnya mantap.
"Hm, aku perlu bukti nyata."
Setelah mengatakan itu, Diego berbalik dan menelpon seseorang. "Sebarkan semua bukti pembunuhan yang dilakukan Michael terhadap Sersan Samuel Mathis, berikan rekaman yang menyebutkan dia bunuh diri, sudah saatnya kita bermain di negeri Uncle Sam."
"Sí, Signore," sahut seseorang dari seberang.
Bukan tanpa alasan Diego menekan lelaki yang masih berlutut di tanah itu, keberadaan Summer sebagai temannya membuat dia merasa harus melindungi keluarga pemuda berlesung itu.
Kekuasaan mafia Rusia yang menggemparkan negeri Paman Sam membuat orang-orang lemah menjadi santapan lunak. Dan Michael adalah bagian dari orang Rusia.
Kematian seorang sersan yang disegani membuat seorang Lucas Owhadi, saksi mata pembunuhan yang dilakukan Michael, menjadi incaran utama para mafia.
Untuk memastikan keselamatan keluarga Owhadi, Diego mengubah dirinya menjadi seorang predator berbahaya, mencari peluang agar dirinya bisa bertransaksi di Amerika tanpa diketahui oleh aparat polisi. Memosisikan seseorang di jajaran kepolisian sebagai bagian dari dirinya.
Di dunia tidak ada yang gratis, berbisnis harus mendapatkan keuntungan, bukan kerugian. Dan Cosa Nostra tetap akan maju dengan segala kejahatannya untuk berbisnis di dunia gelap.
***
Rambut pirang itu mulai acak-acakan karena posisi tidur yang selalu berantakan, seperti sedang berperang di ranjangnya.
Berulang kali Alita berguling-guling, membaca berbagai artikel yang membuatnya terkikik sendiri. Beralih ke akun instagram yang sering dia pakai untuk stalking, wajah-wajah baru pria tampan tampak menarik perhatiannya.
"Astaga, aku tidak tahan untuk menyapanya," gumam Alita sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Senyumnya makin melebar tatkala membayangkan akan berkencan dengan mereka suatu saat nanti.
Kemudian Alita beralih ke story yang diunggahnya tadi dengan caption, "Musim panas ini terasa hampa tanpa pelukan hangatmu." Sebuah tulisan alay yang membuatnya tertawa sendiri.
Matanya makin terbelalak melihat satu pemuda tampan yang menjadi viewers.
Belum sempat dia berteriak, suara pintu yang dibuka paksa membuat Alita terkejut.
"Dia cuma lihat instastory kamunya malah ngebayangin resepsi, stop deh, halunya kejauhaaaan," sindir pemuda yang masuk tanpa permisi dan merebahkan diri di ranjangnya.
Alita mencebik, tiba-tiba saja dia merasa kesal kalau Diego sudah mencibir. "Bukan pacar, tapi aku mengupdate status untuk ucapin selamat hari ibu," kilahnya dan langsung menunjukkan layar ponsel setelah mengetik secepat kilat ucapan selama hari ibu.
Diego tertawa kecil dalam balutan selimut di kamar gadis itu. "Kamu ucapin selamat hari ibu kepada siapa? Masa pamer di medsos? Kalau mau ngucapin selamat, telepon langsung orang yang bersangkutan. Tidak ada artinya kalau kamu memasang di medsos, karena belum tentu Moon melihatnya. Dan juga, jangan hanya telepon doang tanpa bilang 'Terima kasih, Moon. Aku sayang kamu'," oceh Diego seperti rumus bangun datar persegi panjang, panjang kali lebar.
"Lagi pula, tidak perlu tunggu hari ibu baru ngucapin kata sayang pada ibu. Setiap hari adalah hari ibu dan ayah," lanjut pemuda itu lagi.
Alita tertegun, perkataan pemuda tengil itu benar juga. Tidak ada gunanya memasang status di medsos tanpa pernah mengatakan kata sayang langsung pada orang yang bersangkutan.
Tanpa peduli pada Diego yang mengambil selimutnya tanpa permisi, Alita menekan nomor ibunya. Tak lama kemudian, suara malaikat tanpa mahkotanya itu terdengar, menggelitik perut Alita dan tanpa sadar, gadis itu menitikkan air mata.
"Halo! Halo! Lele?" Masih terdengar jelas, tapi Alita seakan tidak berdaya.
Suara yang lembut nan indah itu membuat tenggorokannya tercekat. Rasa rindu pada wanita yang selalu galak padanya semakin menjadi. "Moon ...," lirih Alita menengadahkan kepalanya menahan air mata yang hampir tumpah lagi.
Terdengar helaan napas. "Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Everything ok?" tanya ibunya lagi.
"Hm," jawab Alita seadanya. Rasa haru, rindu dan bahagia bercampur jadi satu membuat Alita memilih merasakan itu lewat senyum yang berkembang di bibirnya. "Moon, aku rindu," ucapnya terbata-bata.
"Kalau begitu tahan dulu, kamu dilarang pulang sebelum menyelesaikan tantangan itu!" Bukan suara ibunya, tapi seseorang yang seketika menjadikan senyum itu berubah menjadi seringai tipis. "Rubah Tua licik," gumamnya.
Mendengar suara Silver, Diego bergegas membuka selimut yang menutupi setengah tubuh bagian atasnya. "Uncle, enam bulan mungkin sudah cukup waktunya," ujar Diego setelah mendekatkan wajahnya ke ponsel Alita.
"Waktunya dua tahun, Bocah."
Diego menyeringai. "Tidak ada perjanjian sah hitam di atas putih, Uncle. Jadi, kapan pun kami menyelesaikan tantangan itu, perjanjian dan tantangan itu tidak ada artinya dan kami bisa melanggar poin ketiga," ujarnya terkekeh.
"Itu benar, Dad," tambah Alita.
Gadis itu langsung menutup telepon sebelum suara sang ayah memecahkan pendengarannya. Dia tertawa puas, dan melupakan tujuan awal menelpon sang ibu.
"Benar juga, kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?" Alita mendelik pada pemuda yang kembali menutup kepalanya itu.
"Katakan apa?"
"Kita 'kan tidak tanda tangan dan cap materai, berarti perjanjian itu bisa berakhir begitu saja," tukas Alita dengan mata berbinar senang.
"Aku lupa," imbuh Diego. "Lagi pula, kamu tidak akan bisa berpacaran dengan banyak pria kalau aku mengatakannya."
Alita mengerucut, sebenarnya tidak salah tapi kenapa dia kesal. "Aku tidak akan pacaran kalau kita bisa mendapatkan uang yang banyak."
Tanpa membantah, Diego tersenyum di balik selimut.
"Aku hampir lupa, bagaimana dengan urusanmu tadi?"
"Beres."
.
---
---
Maaf ya kalo ada konten yg buat gak nyaman🙏.
Maaf juga karena lama up nya hari ini😁, semoga ada yg menunggu (Sok-sok'an padahal cuma barang recehan.
***