NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:31.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang di jaga dan sifat jahil Bima

Latifah masih berdiri di dekat ranjang, sementara Bima berada tak jauh darinya. Ponsel yang tadi berdering kini telah kembali sunyi.

Bima melirik layar ponsel itu sekilas, lalu mengalihkan pandangannya kepada sang istri.

“Bu Latifah, siapa yang menelepon tadi?”

Latifah meremas jemarinya. Ia tahu, cepat atau lambat, dirinya harus menjelaskan.

“Itu… Ustaz Firman, Pak Bima.”

Bima terdiam sejenak.

“Ustaz Firman?”

Latifah buru-buru mengangguk.

“Iya. Beliau teman saya. Hubungan kami hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu.” Ia menarik napas gugup, kemudian menambahkan, “Dulu kami memang cukup dekat sebagai teman, tapi… tidak ada hubungan apa-apa di antara kami, Pak.”

Bima memperhatikan wajah istrinya.

Anehnya, bukan nama pria itu yang membuatnya terdiam, melainkan sikap Latifah yang terlihat begitu gugup ketika menjelaskannya. Ada sesuatu yang seolah ingin disembunyikan perempuan itu, meskipun Bima tak tahu apakah itu benar atau hanya perasaannya saja.

Namun, ia memilih tidak bertanya lebih jauh.

“Baiklah,” jawab Bima singkat.

Latifah mendongak. “Pak Bima tidak marah?”

“Untuk apa saya marah? Anda punya teman, itu hal yang wajar.” Bima berhenti sejenak. “Lagi pula, ini sudah malam, Bu Latifah. Sebaiknya Anda tidur. Besok kita masih punya banyak kegiatan.”

Latifah mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

Bima kemudian berjalan menuju sisi ranjangnya.

Sementara itu, Latifah masih berdiri kaku. Ada satu pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.

"Apakah malam ini aku dan Pak Bima tidur satu ranjang?"

"Duh… kenapa aku malah menjadi takut begini? Beliau kan suamiku sendiri."

Dengan langkah kecil, Latifah akhirnya duduk di sisi ranjang. Ia melirik Bima yang sudah berbaring, kemudian perlahan menarik selimut.

Ia berusaha mengambil posisi senyaman mungkin, tetapi tubuhnya terasa tegang.

Bima menyadari hal itu.

“Bu Latifah?”

“I...iya, Pak?”

“Kenapa masih tegang begitu?”

“Tidak apa-apa.”

Bima menghela napas kecil. Ia lalu mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Latifah.

Seketika, perempuan itu terkejut.

“Pak Bima!”

Bima sedikit tersenyum melihat reaksi istrinya.

“Tenang, saya hanya ingin bicara.”

Ia mendekat sedikit, lalu membisikkan sesuatu dengan suara rendah agar tidak membangunkan penghuni rumah lainnya.

“Bu Latifah, tenang saja. Saya tidak akan menyentuhmu sebelum kamu siap.”

Latifah terdiam.

Kalimat sederhana itu seolah mengangkat beban berat dari pundaknya. Ia tidak menyangka Bima akan mengatakan hal tersebut dengan begitu tenang.

“Terima kasih, Pak Bima,” bisiknya lirih.

Bima kembali berbaring menghadap langit-langit.

“Istirahatlah. Kita tidak perlu terburu-buru untuk apa pun.”

Latifah tersenyum tipis dalam kegelapan.

"Alhamdulillah… ternyata Pak Bima mengerti." batinnya

Perlahan, ia memejamkan mata.

Malam itu, untuk pertama kalinya, keduanya tidur berdampingan sebagai suami istri. Masih ada jarak di antara mereka, tetapi setidaknya tak ada lagi ketakutan yang mengusik hati Latifah.

Keesokan paginya.

Cahaya matahari menembus celah tirai kamar.

Bima sebenarnya sudah bangun sejak beberapa waktu lalu. Namun, ia memilih tetap berbaring karena ada sesuatu yang membuatnya enggan bergerak.

Seseorang sedang memeluknya. Dan orang itu tak lain adalah istrinya sendiri.

Latifah tidur menyamping, kedua tangannya melingkar di tubuh Bima. Kepalanya bersandar nyaman, sementara wajahnya tampak begitu damai.

Bima membeku. Ia menatap perempuan yang masih terlelap itu dengan perasaan campur aduk.

“Ya ampun…” gumamnya nyaris tanpa suara.

Semalaman Latifah rupanya mencari posisi tidur yang nyaman. Terbiasa memeluk guling, tanpa sadar ia justru menjadikan Bima sebagai penggantinya.

Bima menelan ludah.

"Bu Latifah, kalau kamu tidur memelukku seperti ini, aku tidak akan menjamin untuk tidak menyentuh mu."

Ia segera mengoreksi pikirannya sendiri.

"Astaga, Bima. Jangan berpikiran macam-macam. Dia cuma tidur."

Meski demikian, wajahnya mulai terasa hangat.

Beberapa menit kemudian, Latifah mulai bergerak kecil. Ia mengernyit, lalu mengusap pipinya pada sesuatu yang terasa empuk dan hangat.

"Nyaman sekali… gulingku hari ini empuk banget."

Namun, ketika ia merasakan hembusan napas seseorang yang begitu dekat, Latifah perlahan membuka matanya.

Pandangan pertamanya tertuju pada kemeja tidur pria di hadapannya.

Ia mendongak sedikit.

Dan…

“ASTAGHFIRULLAH!”

Latifah menjerit kecil sambil buru-buru melepaskan pelukannya.

Ia langsung bangkit terduduk, wajahnya memerah sampai ke telinga.

“P...Pak Bima!”

Bima ikut bangkit, menahan senyum yang nyaris lolos dari bibirnya.

“Iya, Bu Latifah?”

Latifah menatapnya dengan mata yang membulat.

“Maaf! Maaf sekali, Pak! Saya tidak sengaja!”

Bima mengangkat alisnya.

“Tidak sengaja apa?”

“Saya… saya memeluk Bapak!”

“Memangnya saya tidak tahu?” jawab Bima datar.

Latifah semakin panik.

“Aduh, bukan begitu maksud saya! Biasanya saya tidur sambil memeluk guling. Saya tidak sadar kalau semalam malah memeluk Bapak. Maaf, ya, Pak. Saya benar-benar tidak bermaksud....”

“Bu Latifah.”

Latifah langsung terdiam.

Bima menatapnya, lalu akhirnya tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa. Anda tidur nyenyak, itu bagus.”

Latifah menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena sangat malu.

“Ya Allah… malu sekali rasanya.”

Bima terkekeh pelan.

“Kalau begitu, lain kali saya harus menyiapkan guling tambahan?”

Latifah mengintip dari sela-sela jemarinya.

“Pak Bima malah menggodaku…”

“Memangnya saya salah?”

“Tidak, tapi…”

Kalimat Latifah menggantung.

Bima memperhatikan wajah istrinya yang masih merah, kemudian bangkit dari ranjang.

“Sudahlah. Saya mau bersiap-siap. Hari ini saya harus ke Mabesad, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

Latifah mengangguk cepat.

“Iya, Pak.”

Sebelum melangkah menuju lemari, Bima sempat menoleh.

“Oh, iya satu lagi, Bu Latifah”

Latifah kembali menegang.

“A...apa, Pak?”

“Kalau nanti malam ingin memeluk guling, bilang saja. Tidak perlu salah sasaran lagi.”

“PAK BIMA!”

Tawa kecil Bima terdengar sebelum ia menghilang di balik pintu kamar mandi.

Latifah menatap pintu itu dengan wajah merona, lalu menghembuskan napas panjang.

Namun, tanpa disadarinya, sudut bibir perempuan itu perlahan terangkat.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, pagi terasa sedikit lebih ringan.

Dan bagi Bima, kehangatan sederhana itu ternyata meninggalkan kesan yang tak mudah diabaikan.

*

*

Pagi itu, setelah selesai mandi dan menunaikan salat Subuh, Latifah bergegas menuju dapur. Ia ingin menyiapkan sarapan untuk suami dan anak sambungnya sebelum Bima berangkat bekerja.

Dengan mengenakan gamis rumahan berwarna lembut dan hijab sederhana, Latifah mulai menyiapkan nasi hangat, ayam goreng, serta beberapa lauk pendamping.

Sesekali, ia melirik jam dinding.

“Semoga sarapannya selesai sebelum Pak Bima berangkat,” gumamnya.

Sementara itu, Bima mengajak Kaning bermain sebentar di taman belakang rumah. Anak perempuan itu berlari kecil mengejar kupu-kupu, sedangkan Bima berjalan santai sambil mengawasinya.

“Papah, lihat! Kupu-kupunya cantik sekali!”

Bima tersenyum. “Jangan dikejar terus, Sayang. Nanti kupu-kupunya takut.”

Kaning berhenti, lalu menengadah kepada ayahnya.

“Papah, nanti Bunda ikut main sama kita, ya?”

“Kalau Bunda sudah selesai menyiapkan sarapan, nanti kita ajak.”

“Yeay! Kaning mau main sama Papah dan Bunda!”

Bima mengusap kepala putrinya. Entah mengapa, mendengar Kaning menyebut mereka bertiga seperti sebuah keluarga kecil membuat dadanya terasa hangat.

Tak lama kemudian, aroma ayam goreng dari dapur mulai tercium.

“Sepertinya sarapan sudah siap,” ujar Bima.

Kaning langsung berlari kecil menuju rumah.

Meja makan sudah tertata rapi ketika Bima dan Kaning tiba.

Latifah meletakkan piring terakhir, lalu tersenyum menyambut mereka.

“Ayo, sarapan dulu. Kaning, duduk di sini, Sayang.”

Kaning segera duduk di kursinya. Matanya langsung berbinar ketika melihat hidangan di meja.

“Wah, ada ayam goreng!”

Latifah yang duduk di sampingnya tersenyum geli.

“Kaning suka ayam goreng?”

“Tentu saja, Bunda! Ayam goreng masakan Bunda memang paling enak!”

Latifah tertawa kecil. Ia mengambil satu potong paha ayam goreng, kemudian meletakkannya di atas nasi hangat milik Kaning.

“Kalau begitu, makan yang banyak, ya.”

“Terima kasih, Bunda!”

Bima yang duduk di seberang mereka memperhatikan pemandangan itu. Pandangannya tanpa sadar beralih kepada Latifah.

Pagi tadi, ia masih teringat bagaimana perempuan itu memeluknya dalam tidur. Entah mengapa, bayangan tersebut kembali membuat sudut bibirnya terangkat.

“Papah juga suka, loh, ayam goreng,” ucapnya tiba-tiba, dengan tatapan menggoda ke arah istrinya.

Latifah yang sedang mengambil lauk langsung menoleh.

“Eh?”

“Apalagi kalau yang memasak istri sendiri.”

Latifah terdiam sesaat, kemudian buru-buru menundukkan wajahnya.

“Silakan dimakan, Pak Bima. Nanti keburu dingin.”

Bima tersenyum semakin lebar.

“Iya, Bu Latifah. Saya makan.”

Kaning yang sedang mengunyah ayamnya tiba-tiba melirik sang ayah.

“Papah, kenapa senyum-senyum sendiri?”

“Memangnya Papah tidak boleh senyum?”

“Boleh. Tapi Papah aneh.”

Latifah nyaris tersedak menahan tawa, sementara Bima hanya menggeleng pelan.

“Sudah, makan dulu, Nona kecil.”

Sarapan pagi itu berlangsung dengan suasana hangat. Sesekali Kaning bercerita tentang gambar yang dibuatnya semalam, sementara Latifah mendengarkan dengan penuh perhatian.

Namun, di sela percakapan mereka, Bima kembali mencuri pandang kepada istrinya.

Dan setiap kali Latifah memergokinya, perempuan itu selalu buru-buru mengalihkan pandangannya.

Selesai sarapan, Latifah membawa piring-piring kotor ke dapur.

Ia mulai mencuci peralatan makan, menggosok satu demi satu dengan spons yang sudah dipenuhi busa sabun.

Tak lama kemudian, Bima muncul di ambang pintu dapur.

“Bu Latifah, biar saya saja yang cuci piring.”

Latifah menoleh sekilas.

“Tidak usah, Pak Bima. Bapak bersiap-siap saja untuk berangkat kerja.”

“Tidak apa-apa. Saya bisa membantu.”

“Sudah, sedikit lagi selesai.”

Bima akhirnya berdiri di sampingnya.

Ketika Latifah mengangkat sebuah piring, busa sabun tanpa sengaja mengenai pipinya.

Bima memperhatikan hal itu.

“Bu Latifah, diam sebentar.”

Latifah menoleh bingung.

“Ada apa, Pak?”

Tanpa banyak bicara, Bima mengangkat tangannya. Dengan ujung jari telunjuk, ia mengusap busa sabun yang menempel di pipi istrinya.

Latifah seketika membeku.

“Pak Bima…”

Bima menatapnya sejenak, kemudian memperlihatkan busa di ujung jarinya.

“Pipinya kena sabun.”

Wajah Latifah langsung merona.

“Oh… terima kasih.”

Ia buru-buru membilas tangannya, lalu meletakkan spons di dekat wastafel.

Sebenarnya, masih ada beberapa piring yang belum dicuci. Namun, entah kenapa, keberadaan Bima yang berdiri begitu dekat membuatnya kehilangan konsentrasi.

Bima memperhatikan tingkah istrinya, lalu tiba-tiba bertanya.

“Bu Latifah.”

“I...iya?”

“Semalam, Anda yakin memeluk saya hanya karena menganggap saya seperti guling?”

Latifah berhenti bergerak.Ia perlahan menoleh, lalu mengerutkan keningnya.

“Memangnya kenapa, Pak?”

“Tidak apa-apa. Saya cuma bertanya.”

Latifah mengangguk malu.

“Iya… memang karena saya terbiasa memeluk guling saat tidur.”

Bima mengangkat sebelah alisnya.

“Yakin hanya menganggap saya sebatas guling?”

Latifah mulai curiga dengan ekspresi suaminya.

“Pak Bima ini sebenarnya mau bilang apa?”

Bima sedikit mendekat, tetapi tetap menjaga jarak yang nyaman.

“Kalau memang ingin memeluk saya, bilang saja. Tidak perlu menunggu tertidur dulu.”

Latifah membelalakkan matanya.

“Pak Bima!”

Bima menahan tawa.

“Apa?”

“Kenapa Bapak bicara seperti itu?”

“Memangnya saya mengatakan sesuatu yang salah?”

Latifah semakin salah tingkah. Ia tidak pernah menyangka pria yang biasanya tegas dan terkesan dingin itu ternyata bisa begitu jahil.

“Saya… saya tidak tahu harus menjawab apa.”

Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki kecil memasuki dapur.

Kaning berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya memasang ekspresi serius, persis seperti orang dewasa yang sedang menegur seseorang.

“Papah!”

Bima menoleh.

“Ya, Sayang?”

Kaning menunjuk ayahnya.

“Papah, berhenti menggoda Bunda Latifah!”

Latifah langsung menutup mulutnya, menahan tawa.

Bima justru terkekeh.

“Lho, Papah cuma bercanda.”

“Tidak boleh! Bunda jadi malu terus.”

Bima berjongkok, lalu mengusap kepala putrinya.

“Baiklah, baiklah. Papah menyerah.”

Kaning masih memasang wajah galak.

“Janji?”

“Iya, janji.”

Setelah itu, Bima berdiri dan melangkah meninggalkan dapur. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh ke arah Latifah, dan kembali tersenyum ke arahnya

Bima kemudian mengusap kepala Kaning sekali lagi sebelum bergegas pergi.

Kaning segera menghampiri Latifah.

“Bunda, Papah memang suka jahil, ya?”

Latifah tersenyum sambil mengelus kepala anak itu.

“Sepertinya begitu, Sayang.”

“Kalau Papah jahil lagi, nanti Kaning tegur.”

Latifah tertawa pelan.

“Iya, terima kasih sudah membela Bunda.”

Kaning tersenyum puas, kemudian berlari menuju ruang keluarga.

Latifah kembali memandang ke arah pintu dapur yang baru saja dilewati suaminya.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bima yang semula begitu kaku dan menjaga jarak, kini mulai sering melontarkan candaan kepadanya. Bahkan tatapan pria itu terkadang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.

Latifah menyentuh pipinya sendiri, teringat sentuhan singkat Bima saat mengusap busa sabun tadi.

"Kenapa Pak Bima akhir-akhir ini suka sekali menggodaku?"

Ia menghembuskan napas pelan.

"Jangan-jangan… aku saja yang terlalu memikirkan semuanya."

Namun, jauh di sudut hatinya, Latifah mulai menyadari satu hal.

Rumah tangga yang awalnya ia jalani dengan penuh kecanggungan perlahan menghadirkan kehangatan kecil yang tak pernah ia duga.

Dan tanpa mereka sadari, di antara candaan sederhana dan perhatian kecil, jarak di antara dua hati itu mulai berubah.

Bersambung…

1
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah, sabar ya kak... maklum mereka berdua aslinya kalem dan gak mudah akrab sama orang baru 🤗
total 3 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
sudah taman blum ya
atau baru bab 33
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belum kak🤗
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
semangat menulisnya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih kak 🤗☺️
total 1 replies
Ghiffari Zaka
nah kaaaan...ud ada hilal bucin tu😂😂😂.
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....
Ghiffari Zaka: iya Thor,seru pakai banget dech😂😂😂
total 2 replies
vania larasati
lanjut kak
Atik Kiswati
yah...tlp nya kok gk berlanjut.....msh penasaran nih...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kalau berlanjut bisa perang dunia ketiga kak, dan Bima pasti tahu soal perasaan Latifah yang masih menyukai Ustadz firman
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
suami mu jahil ya ifah,dan lama,,pasti bikin kmu terpesona☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!