Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Aleah mengangkat sebelah alisnya ketika wanita di hadapannya justru mendengus, seolah pertanyaan sederhana itu merupakan penghinaan terbesar yang pernah diterimanya. Mata gadis berkulit putih susu itu menyipit.
“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” Tanyanya ketus.
Wanita itu kemudian melotot. Sejurus kemudian salah seorang pelayan di belakang Aleah buru-buru menundukkan kepala. Entah berusaha menyembunyikan ekspresi takut atau menahan tawa, Aleah sendiri tidak tahu.
“Aku Almira! cucu tuan Robert dan nyonya Gracia!” jawabnya lantang. “Aku sudah tinggal di mansion ini sejak kecil. Jadi, jangan samakan aku dengan orang sembarangan sepertimu!”
Aleah manggut- manggut mengerti. “Oh Almira.” Sekarang ia paham, wanita di depannya ini sepertinya memiliki sikap yang congkak. “Baiklah, nyonya Almira.” Aleah pura- pura menundukkan kepala, tapi sebenarnya di dalam otaknya ia menyusun rembulan besar.
Almira sendiri tersenyum puas, mengira Aleah akhirnya menyadari kedudukannya. Namun kalimat berikutnya justru membuat senyumnya lenyap.
“Lalu apa hubungannya dengan ku yang baru keluar kamar?” Ekspresi Aleah di buat sepolos mungkin yang sontak menyulut api amarah wanita itu.
“KAU—!” Almira sampai kehilangan kata- kata. Bagaimana bisa perempuan yang baru sehari menjadi istri Sagara itu berani menjawabnya seperti ini?
Selama ini para pelayan bahkan tak berani menatapnya terlalu lama. Sementara Aleah yang seharusnya sadar diri sebagai pendatang baru, justru berdiri santai dengan tampang wajah tanpa dosa.
“Kau memang tidak tahu malu!” desis Almira. “Baru sehari tinggal disini, kau sudah bertingkah seperti pemilik mansion!”
Gila! Aleah sampai tertegun di tempatnya sesaat. Bagaimana tidak, amarah wanita itu benar-benar terlihat meledak- ledak,urat- uratnya yang ungu kebiruan kentara sekali terlihat di batang lehernya.
Aleah lantas mengembuskan napas. “Dengar Almira, aku baru bangun, dan jangankan sarapan aku bahkan belum sempat menenggak air putih. Kalau kau datang hanya untuk memarahiku, setidaknya tunggu sampai perutku terisi. Aku tidak mau pingsan gara-gara mendengarkan omelan orang.”
Mendengarnya membuat seorang pelayan spontan terbatuk untuk menutupi tawanya.
Wajah Almira semakin memerah. “Kau pikir ini lucu?!”
“Tidak juga.” Aleah menggeleng. “Tapi kalau kau terus berteriak seperti itu, aku khawatir tenggorokan mu akan bermasalah.”
“Nyonya Aleah.” Bisik seorang pelayan hati- hati, “sebaiknya kita segera menuju ruang makan, nyonya Gracia sudah menunggu di sana.”
Aleah langsung mengangguk. “Nah ini baru informasi yang berguna. Ayo.”
Lantas ia melangkah melewati Almira tanpa merasa perlu memperpanjang perdebatan. Namun baru dua langkah ia ambil, tiba-tiba saja Almira mencengkeram tangannya.
“Berani sekali kau pergi begitu saja saat aku bahkan belum selesai bicara!”
Aleah sontak berhenti. Tatapannya turun ke tangan Almira yang mencengkeramnya, lalu perlahan beralih ke wajah wanita itu.
“Lepaskan tangan ku!” ujarnya dengan nada berubah dingin, selaras dengan sorot matanya saat ini.
“Apa?”
“Aku bilang lepaskan.”
Benar- benar, kali ini suara Aleah tidak lagi terdengar seperti bercanda.
Almira sempat tertegun melihat perubahan sikapnya, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan gengsi.
“Kalau tidak?” Ia justru menantang.
Tak sedingin tadi, tetapi Aleah kini menatapnya lurus. “Kalau tidak, aku akan berteriak memanggil pelayan lain. Setelah itu, kita lihat siapa yang akan menjelaskan kepada nyonya Gracia kenapa cucu tuan Robert menghalangi menantunya sendiri untuk sarapan.”
Almira langsung melepaskan tangannya.
Sialan!
Perempuan ini ternyata tidak sebodoh penampilannya.
Aleah sendiri mulai merapikan lengan gaunnya kembali, kemudian tersenyum tipis.
“Terima kasih. Nah, begitu kan lebih baik. Kita sama-sama punya tangan, jadi tidsk perlu di gunakan untuk mencengkeram orang.”
Tanpa menunggu balasan, Aleah melanjutkan langkahnya.
Almira berdiri mematung beberapa saat sebelum akhirnya menyusul dengan wajah masam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aleah benar-benar di buat takjub ketika tiba di ruang makan. Ruangan itu begitu luas dengan jendela- jendela tinggi yang menghadap taman.
Sebhah meja makan panjang berdiri di tengah ruangan,dihiasi vas bunga segar dan peralatan makan yang tampak berkilau.
Belum lagi deretan pelayan yang berdiri rapi di sisi ruangan, siap melayani siapapun yang duduk di meja tersebut.
Aleah sampai memperlambat langkahnya, geleng- geleng kepala lantas ia bergumam.
“Yaampun, ini ruang makan atau tempat jamuan kenegaraan?”
Di rumah nya dulu, meja makan hanya cukup untuk empat orang,itupun sering kali di penuhi suara pertengkaran ayahnya. Sementara disini, satu meja saja sepertinya bisa menampung seluruh warga desanya.”
“Jangan melongo begitu. Memalukan.” Bisik Almira yang berjalan di belakangnya.
Aleah menoleh sekilas. “Memangnya kenapa? kamu ini sepertinya sibuk sekali mencampuri urusan orang lain? apa kau pengacara?”
Kening Almira mengkerut. “Pengacara? pengacara apa maksud mu?”
“Pengangguran banyak acara.” Sahut Aleah lagi, yang sontak bukan hanya menimbulkan tawa bagi dirinya sendiri tapi juga pelayan yang tak sengaja mendengar nya.
Wajah Almira kontan saja memerah padam, bukan karena dikasih bunga sama bang rojali, tapi karena amarahnya yang siap meledak- ledak.
“ALEAH!”
Kontan mereka semua menutup telinga mendengar teriakan membahana Almira, sampai tiba-tiba saja…
Brak!
Tanpa mereka sadari, di ujung meja ternyata sudah duduk nyonya Gracia di kursinya bersama tuan Robert di samping. Matanya menyala dengan wajah sekeras batu.
“Almira.”
Suara itu dingin, yang sontak membuat Almira terkesiap. “I- iya nek.”
“Ada apa ini? sampai kau berteriak seperti itu? Kau pikir ini pasar?” suaranya yang mengintimidasi membuat semua orang merinding. Meski sudah berusia senja, sikap tegas dan otoriter nyonya Gracia memang tak perlu di ragukan.
“M-maaf nek.” Lirih Almira, menundukkan kepalanya dalam- dalam. Aleah menatap takjub bagaimana di depan nyonya Gracia, wanita itu sama sekali tak berkutik.
Sementara tuan Robert hanya menggeleng pelan, tanpa mau repot- repot membela cucunya tersebut.
Mayang kemudian datang bersebelahan Dion, cucu pertama Robert. Tak lama kemudian, Sagara menyusul.
Pris itu mengenakan setelan kemeja rapi, rambutnya pun di sisir rapi.
Lalu duduk di sisi kanan sang nenek. Begitu melihat Aleah, pria itu mengangkat pandangannya sebentar.
Tatapan mereka lantas bertemu.
Aleah spontan teringat kejadian pagi tadi, ketika dirinya bangun dalam posisi memeluk pria tersebut seperti guling.
Wajahnya langsung terasa panas.
Sagara menyadarinya, tetapi hanya mengangkat sebelah alis.
Pria itu bangkit lalu menghampiri sang gadis yang berdiri dengan kikuk itu.
“Kenapa?” tanjakan datar.
“Tidak kenapa-kenapa,” jawab Aleah terlalu cepat.
“Wajahmu merah.”
“Memangnya wajah orang tidak boleh merah?”
Sagara menatapnya selama beberapa detik, lalu kembali ke tempat duduk nya lantas mengambil cangkir kopinya.
“Silakan duduk. Sebelum kau menemukan alasan lain untuk berdebat.”
Aleah mendengus pelan. Dasar pria menyebalkan.
“Selamat pagi, Nyonya Gracia,” sapanya sambil mendekat.
Gracia mengangguk singkat. “Duduklah. Kita akan segera sarapan.”
Aleah hendak mengambil kursi kosong di dekat Sagara, tetapi Almira lebih dulu menyela.
“Maaf, Nenek. Bukankah tempat itu biasanya untuk Xavia?”
Suasana ruang makan seketika berubah.
Mayang menghentikan gerakan tangannya. Robert melirik Gracia, sementara Sagara meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan.
Aleah terdiam sesaat.
Nama Xavia memang pernah didengarnya. Perempuan yang seharusnya menikah dengan Sagara, sebelum dirinya terjebak dalam kekacauan ini.
Gracia menatap Almira tajam.
“Xavia belum menjadi bagian keluarga ini. Dan Aleah adalah istri Sagara yang sah. Jadi, tidak ada masalah jika dia duduk di sana.”
Senyum Almira menegang.
“Tapi, Nek, semua orang tahu pernikahan mereka terjadi karena—”
“Almira.” Suara Gracia memotong ucapannya. “Jangan membahas hal yang tidak perlu di meja makan.”
Almira terpaksa menutup mulut, meski sorot matanya masih menyimpan ketidaksukaan.
Aleah akhirnya duduk di samping Sagara. Ia berusaha bersikap biasa saja, walau rasa canggung kembali menyelimutinya.
Seorang pelayan segera meletakkan sepiring makanan di hadapannya.
Aleah menatap hidangan itu, lalu melirik Sagara yang sedang membaca sesuatu di ponselnya.
Ia mendekat sedikit dan berbisik, “Aku harus makan pakai sendok yang mana?”
Sagara menoleh pelan.
“Kau serius?”
Aleah membalas tatapannya dengan wajah polos. “Aku serius. Ada banyak sendok di sini. Aku takut salah ambil, lalu besok namaku masuk berita karena tidak tahu tata krama.”
Sagara memandang deretan alat makan di hadapannya, kemudian mengambil salah satu sendok dan meletakkannya di dekat piring Aleah.
“Pakai ini.”
Aleah tersenyum lega. “Terima kasih.”
“Jangan membuatku menyesal sudah membantu.”
Senyum Aleah langsung menghilang.
Baru juga terima kasih. Mulutnya memang tidak bisa sedikit saja bersikap manis?
Di seberang meja, Mayang mengamati interaksi keduanya dalam diam. Senyum lembut masih menghiasi wajahnya, tetapi jemarinya perlahan mengetuk permukaan meja.
Ia tidak menyukai pemandangan itu.
Sagara memang belum menunjukkan kasih sayang kepada Aleah. Namun, melihat keponakannya melayani perempuan itu, meski hanya dengan hal kecil, sudah cukup membuatnya merasa terganggu.
Terlebih, Aleah mulai berani menunjukkan sikapnya di hadapan keluarga Fernandez.
Mayang mengangkat cangkir teh, lalu tersenyum seolah baru teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong, Aleah, setelah sarapan nanti ada hal yang perlu kita bicarakan.”
Aleah sontak menoleh.
….
Bersambung