NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Realitas Fisik

Di tengah kerumunan Pasar Kecamatan Sungai Besi yang mendadak sunyi senyap, Lin Wanru berdiri tegap dengan napas tersengal-sengal.

Namun, di dalam hatinya, akal sehat seorang CEO modern berteriak kencang menyadari kenyataan pahit: Bahwa ada batas antara teori strategi pertahanan diri di dunia modern dan kondisi fisik nyata dari tubuh gadis berusia delapan belas tahun yang kurang gizi ini!

Bayangan tentang gerakan silat mematikan atau melumpuhkan tiga preman berbadan besar dalam sekejap mata tadi hanyalah angan-angan kosong belaka. Faktanya, baru saja ia melangkah maju, otot-otot lengannya terasa pegal dan betisnya bergetar hebat.

Dua preman bayaran Lin Dehai yang berbadan tegap itu saling berpandangan, lalu tertawa sinis melihat gadis di hadapan mereka mengambil kuda-kuda yang tampak kaku dan rapuh.

"Hah! Gadis gila ini sudah kehilangan akal sehatnya!" cibir preman pertama sambil memutar-mutar pentungan kayunya. "Mau sok pahlawan, ya? Hajar dia!"

Preman kedua menerjang maju terlebih dahulu, mengayunkan tinjunya sekuat tenaga ke arah wajah Wanru.

Whoosh!

Melihat tinju besar meluncur ke arahnya, Wanru tidak punya pilihan selain menghindar menggunakan refleks instingnya. Dengan panik ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dalam posisi setengah melengkung, mirip gerakan penari limbo profesional.

Tinju sang preman pun melayang sia-sia di udara tepat beberapa milimeter di atas hidungnya. Karena terlalu kuat mengayun dan kehilangan keseimbangan akibat bobot tubuhnya sendiri, preman itu terus terdorong ke depan, dan...

Bruuk!

Preman tersebut justru tersandung kakinya sendiri dan menubruk tumpukan keranjang rotan berisi buah apel milik pedagang di sebelah lapak, hingga membuat puluhan buah apel berhamburan menggelinding ke segala arah.

Penonton pasar yang tadinya menahan napas ketegangan kini mendadak terkejut, lalu sebagian dari mereka mulai membekap mulut menahan tawa melihat pemandangan konyol tersebut.

"Sialan! Kau menghindar ya?!" geram preman kedua yang bangkit sambil mengusap kotoran buah apel di jidatnya. Ia bangkit dan kembali menyerang bersama rekannya secara bersamaan.

Wanru panik bukan kepalang. Ia tahu jika ia terkena satu pukulan saja, tulang rusuknya bisa patah. Maka, alih-alih bertarung, ia memutuskan untuk menggunakan strategi penghindaran berbasis kekonyolan fisik dan hukum gravitasi.

Saat preman pertama mengayunkan ranting besi, Wanru merunduk dengan cepat, dan berputar meliuk-liuk ke sisi kiri. Preman itu pun gagal mengenai sasaran dan justru menghantamkan rantainya ke punggung preman kedua yang baru saja bangkit!

"Aduh! Sialan, kau memukulku?!" pekik preman kedua kaget.

"Bukan aku! Itu pukulanmu sendiri yang meleset!" bela preman pertama.

Sebelum mereka sempat berdebat, Wanru sengaja melompat kecil ke belakang, tepat di atas genangan tumpahan air cucian sayur yang licin di dekat lapak pedagang ikan.

Pluk!

Kedua preman yang menyerang membabi buta itu tidak sempat mengerem laju langkah mereka. Begitu menginjak area basah tersebut, kaki mereka terpeleset secara bersamaan.

Bum! Bum!

Dua tubuh preman berbadan besar itu jatuh terjerembab mencium tanah dengan posisi yang sangat memalukan, yang satu menubruk keranjang ikan hingga kepalanya terjepit di dalam bak air, sementara yang satu lagi terduduk kaku sambil memegang celananya yang robek di bagian belakang.

"Hahahahaha!"

Tawa lepas meledak dari ratusan pengunjung pasar yang menonton. Suasana tegang yang tadinya mencekam seketika berubah menjadi pertunjukan komedi slapstick paling konyol yang pernah disaksikan warga Kecamatan Sungai Besi.

Para pedagang menunjuk-nunjuk sambil memegang perut karena tertawa terbahak-bahak melihat dua preman berbadan seram itu tak berdaya di atas lantai basah.

Wajah Lin Dehai yang tadinya menyeringai sombong kini berubah menjadi merah padam menahan malu yang luar biasa. Suara gelak tawa para penonton menusuk telinganya bagaikan ribuan jarum.

"Hentikan permainan bodoh ini, gadis sialan!" bentak Lin Dehai dengan suara menggelegar penuh kemurkaan yang luar biasa.

Rasa gengsi dan amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Melihat dua anak buahnya yang berbadan besar justru dipermalukan oleh seorang gadis kurus kering lewat trik konyol, Lin Dehai kemudian maju sendiri dengan tongkat kayunya.

Sebelum Wanru sempat memikirkan langkah pelarian selanjutnya, Lin Dehai sudah menerjang dan mencengkeram kerah baju Wanru dengan kekuatan penuh.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau mempermalukan anak buahku di depan umum!" maki Lin Dehai dengan mata melotot merah.

Dengan tenaga seorang pria dewasa yang dikuasai amarah, Lin Dehai mengangkat tubuh ringan Wanru, lalu melemparkannya begitu saja ke atas tanah berbatu pasar.

Brak!

"Ugh...!" Erangan Wanru tertahan. Hantaman keras di atas tanah membuat napasnya seketika tersengal. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di punggungnya, dan ia terbatuk-batuk hebat mengeluarkan sisa liur dengan darah segar menetes di sudut bibirnya.

"Kakak!" jerit Lin Bao histeris.

Nyonya Lin dan Lin Bao yang berdiri tidak jauh dari tempat itu langsung berlari menghampiri. Nyonya Lin berlutut, dan mendekap tubuh putrinya dengan linangan air mata yang deras.

"Wan-er! Ya Tuhan... Nak, bertahanlah!" ratap Nyonya Lin sambil memeluk putrinya erat-erat. Lin Bao pun ikut menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan kakaknya.

Namun, Lin Dehai yang sudah kehilangan akal sehatnya sama sekali tidak memiliki rasa belas kasihan. Melihat ibu dan anak itu berkerumun, ia mengibaskan tongkatnya dengan beringas.

"Pergi kalian, perempuan-perempuan tak berguna!" bentak Lin Dehai, seraya menendang bahu Nyonya Lin hingga wanita paruh baya itu terjungkal ke belakang, sementara Lin Bao ditarik paksa bajunya dan dicampakkan ke samping oleh sang paman biadab.

"Ibu! Bao-er!" rintih Wanru dengan suara parau, lalu mencoba bangkit namun tubuhnya terlalu lemah setelah dihantam begitu keras ke tanah.

Lin Dehai berdiri di atas kepala Wanru, bernapas memburu dengan seringai iblis di bibirnya. Dua preman anak buahnya yang tadi terpeleset kini sudah bangkit berdiri dengan wajah malu bercampur geram, sambil merapikan pakaian mereka.

"Cukup sudah drama murahan hari ini!" seru Lin Dehai kepada seluruh penonton pasar yang langsung terdiam bungkam ketakutan. "Gadis ini berutang padaku, dan karena keluarganya tidak mampu membayar lunas lima tael perak hari ini, maka hakku sebagai paman untuk menyerahkannya kepada pengelola rumah bordil demi melunasi utang keluarga!"

Lin Dehai membungkuk, dan menyambar pergelangan tangan Wanru yang kurus, lalu mulai menyeret tubuh gadis itu secara paksa di atas tanah berdebu pasar.

"Tidak! Lepaskan aku!" rintih Wanru, kuku-kukunya mencengkeram tanah berbatu, mencoba melawan sekuat tenaga meski tenaganya sudah terkuras habis. "Paman... kau iblis...!"

"Diam, anak jalang!" bentak Lin Dehai tanpa peduli pada rintihan dan tetesan air mata Nyonya Lin yang memohon-mohon di kaki preman lain. "Nikmati sisa hidupmu di tempat kotor itu!"

Suasana pasar menjadi sangat tegang. Tidak ada satupun warga atau pedagang yang berani maju menolong keluarga Lin karena takut berurusan dengan Lin Dehai dan preman-premannya yang dikenal beringas di wilayah kecamatan tersebut.

Tepat di saat situasi mencapai titik keputusasaan yang paling gelap di mana Lin Dehai hampir berhasil menyeret Lin Wanru keluar dari gerbang pasar, suasana mendadak terbelah oleh suara derap kaki kuda yang diiringi oleh dentingan lonceng perunggu yang elegan.

Kring... kring... derap...

Dari arah jalan utama kecamatan, sebuah tandu megah berbalut kain sutra biru tua dengan bordiran benang emas tampak menyamar sederhana namun tetap memancarkan kemewahan tersendiri meluncur perlahan, dikawal oleh beberapa pengawal tepercaya berpakaian sipil yang menyembunyikan pedang di balik jubah mereka.

Kehadiran rombongan itu membuat para pedagang di sekitar secara refleks merunduk hormat.

Keributan yang diciptakan oleh Lin Dehai mencuat di tengah suasana tersebut, hingga menghentikan langkah iring-iringan tandu itu tepat beberapa meter dari lokasi mereka.

Di dalam tandu, tirai sutra hijau disingkapkan perlahan. Seorang pemuda berwajah tampan rupawan dengan sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh wibawa menoleh keluar.

Ia bukan sekadar pedagang kaya, ia adalah Pangeran Mahkota yang sedang melakukan penyamaran untuk mengecek langsung kondisi jalur perdagangan dan kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan provinsi.

Pangeran penyamar itu menatap sekilas ke arah seorang gadis remaja berlumuran debu yang diseret oleh seorang pria gempal, sementara seorang wanita paruh baya sedang menangis histeris.

Dengan suara bariton yang tenang, berwibawa, namun mengandung otoritas mutlak, sang pangeran bertanya kepada ajudan kepercayaannya yang berjalan di samping tandu.

"Terjadi keributan apa di sana? Mengapa ada rakyat yang bertindak semena-mena di jalur perdagangan utama ini?"

Bersambung...

1
Osie
jangan jangan ini pemuda sosok.sang putra mahkota...hhmmmmm pucuk dicintai ulam jalan jalan nih🤣🤣
Aurora: xixixi...bener banget kok jadi tikih ya😅🤭
total 3 replies
Osie
andai wanru saat transmigrasi dibekali ruang dimensi duuhh pasti cepat ahli dlm segala bidang wanru..eh banyak maunya aku ya..hehehe


😄😄😄😄😄🤣😄😄
Aurora: biar jadi masukan buat cerita kedepannya 🤗😃
total 3 replies
Osie
lah jadi gila dehai gegara kekayaan wanru🤣🤣🤣nah disini nih warung kudu jadi ahli bela diri biar bisa hempasin si dehaii songong nih
Aurora: lihat saja tanggal mainnya 🤗
total 1 replies
Osie
btw nih desa hutan batu kagak punya kepala desa ya thor..kok bisa warga dah heboh tapi yg selesaikan masalah sendiri tanpa bantuan kepala desa
Aurora: yes, betul... semoga cerita ke depannya makin seru dan makin di sukai
🤗
total 3 replies
Osie
thor bikin wanru ahli bela diri donk kalau bisa jadi master bela diri..biar lebih komplit keahliannya
Aurora: bisa di pertimbangkan sih... tapi jiwa modern nya juga ga bisa bertarung 😅🤭
total 1 replies
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: pengen ikutan nimbrung dan meninggalkan jejak typo ny 😅😅 gak papa biar rame🤭
total 3 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!