Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Dirgantara's
...بسم الله الر حمن الر حيم...
.... ...
.... ...
...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...
...Karya : Ms_nyms...
***
Menjelang sore hari para prajurit sedang bermain sepak bola di lapangan, ada juga yang sekedar berolahraga atau sekedar menonton sepak bola. Mahija saat ini sama dengan prajurit lainnya, duduk bersantai di atas rumput bersama para cecurut nya yang selalu mendampingi nya. Kalau ditanya Mahija saat ini tertekan atau tidak, tentu saja sangat tertekan.
Sepertinya hidup Mahija hanya untuk merasa tertekan karna adiknya Fian ditambah lagi para anggota nya itu, ia hanya tersenyum secara terpaksa setelah uang yang ada di dompetnya dikuras para cecurut nya.
"Terimakasih ndan traktiran nya.. " diikuti anggukan dari Jaka, Hansen, dan Yusuf. Mereka terlihat bahagia setelah memborong jajanan yang lewat di depan Lanud. Dengan tangan yang penuh ke tiga anggota nya itu membawa bungkusan yang sangat banyak.
Mereka sama sekali tidak menawarkan kepada anggota lain untuk bergabung dengan mereka, mau bagaimana lagi Mahija terlanjur mencekoki mereka dengan traktiran yang selalu ia janjikan setiap hari sabtu sore. Sejak pertama bergabung dengan kesatuan Mahija sempat kebingungan harus bagaimana dalam menghadapi para bawahannya, namun berkat mereka bertiga Mahija terbantu dalam bertugas.
"Ndan, nyuantiii malam lagu aapa? " Hansen dengan makanan yang penuh di mulutnya. Yusuf dan Jaka menatap Mahija yang masih memandangi para prajurit yang sedang asik bermain sepak bola.
"Hm.. " jeda Mahija dengan tarikan nafas yang sangat dalam " Resah jadi luka. " menyelesaikan ucapannya secara singkat.
"Wih jadi anak senja kita hari ini, apa tu Jak istilahnya.. Adduh aku lupaa " Hansen yang menepuk-nepuk keningnya. "Indie." sahut Jaka dan Yusuf bersamaan.
"Ya indie.. " Hansen menyetujui ucapan Jaka dan Yusuf, mengangguk memberikan ibu jarinya.
"Yaudah saya mau balik ke barak dahulu ya, mau mandi. Kalian belakang saja nyusul nya" titah Mahija yang beranjak dari posisi duduknya.
"Siap ndan.. " trio JHY menjawab bersamaan, melanjutkan mengunyah cemilan sore yang dibeli kan oleh Mahija tadi.
Mahija berjalan sendirian menuju barak dengan kaos berlengan pendek dan celana pendek, ia berjalan menggunakan sendal jepit. Satu tahun sudah setelah wanita yang membuatnya khawatir itu menghilang ntah kemana, hanya bermodal tempat kerjanya yang ia dapat dari pihak rumah sakit ia menelusurinya. Namun nihil, wanita itu tidak bekerja lagi disana.
Berulang kali ia bertanya pada staff yang bekerja disana dan berulang kali tidak ada yang mau memberikan sebuah informasi, sudah 1 tahun lamanya ia mencari keberadaan wanita yang bernama Mahika kata Fian.
"Sore ndan.. " sapa prajurit yang melewati nya.
Mahija hanya melambaikan tangannya, kembali meneruskan jalannya menuju barak. Kalian mencari Fian dimana? Tidak usah ditanyakan Fian saat ini berada dimana, tentu saja seperti idamannya yang suka rebahan. Fian pun sedang rebahan di barak sore hari ini, ia menikmati kesendirian di barak dengan memutar musik melalui speaker yang di koneksi kan melalui bluetooth.
Saat memasuki pintu depan barak jelas terdengar suara musik yang dapat dipastikan berasal dari ponsel Fian saat ini, Mahija menghampiri ranjang Fian. Mahija kembali menarik nafasnya sangat dalam, melihat sang mpunya ponsel sedang tertidur lelap. Mahija mematikan musik yang di putar melalui speaker, mencoba membangunkan adiknya itu.
"Ian.. Fian.. " panggil nya.
"Hm.. " menyahuti panggilan dengan mata tertutup, Fian masih saja tidur dan malah semakin bersembunyi dibalik bantal guling.
"Bangun.. Udah mau jam 6 sore, lu gak sholat? "
"Engga.. " dengan suara sengau, masih belum sadar.
"Lu datang bulan?? " tanya Mahija yang mulai berniat untuk mengerjai adiknya itu.
"Ha? " Fian membuka sebelah matanya dengan rasa kantuk yang luar biasa.
"Lu gak sholat magrib? Lu datang bulan? Berarti lu cewek dong selama ini " cetus Mahija yang duduk di ranjang Fian.
"Eeee, gua cowok lah, jantan, gentleman" Fian yang langsung bangun setelah mendengar ucapan Mahija. Mahija hanya tertawa setelah berhasil membangunkan Fian dan beranjak dari ranjang Fian.
"Jangan tidur lagi, bentar lagi sholat maghrib" peringatnya pada Fian dengan mengacungkan jari telunjuk nya lalu pergi menuju kamar mandi.
Makan malam telah selesai para prajurit sebagian ada yang kembali ke barak, ada yang sedang bermalam mingguan dengan pacar, ada juga yang pergi ke aula seperti Mahija, Fian, Yusuf, Jaka dan Hansen saat ini. Mereka sedang bersiap dengan alat musik nya masing-masing, Dirgantara's band.
Mengecek setiap nada dari alat musik yang mereka pegang saat ini, beberapa prajurit seperti biasa menunggu dibawah panggung yang tidak terlalu tinggi itu. Menghabiskan waktu malam minggu mereka dengan menonton komandan mereka bersama rekan-rekannya bermain musik, yah seperti hiburan singkat bagi prajurit yang jomblo. Begitulah.
Drrrrt drrrrt.
Ponsel Mahija berbunyi, sebuah nomor tidak dikenalnya. Ia sedikit kebingungan siapa yang menelpon nya saat ini, terlebih lagi nomor tersebut tidak terdaftar di daftar kontaknya.
"Hallo... " ucap seseorang disebrang sana.
Suara seorang wanita, Mahija bingung dan melihat kembali ke layar ponsel nya. Ya panggilan itu masih terhubung dengan nomor tidak dikenal.
"Assalamu'alaikum.. " jawab Mahija.
"Selamat malam, apakah ini dengan letnan Mahija yang sering berkunjung ke hotel kami? "
"Maaf hotel mana ya? dan dengan siapa saya berbicara saat ini.. " hanya satu hotel yang Mahija kunjungi secara rutin yaitu tempat lama Mahika bekerja, namun ia tidak yakin apakah benar hotel yang dimaksud adalah hotel yang sama dengan apa yang ada dipikirannya.
"International Grand Cempaka Hotel, dengan saya Dea yang berbicara saat ini. Mohon maaf Letnan Mahija saat ini sedang sibuk? "
"Tidak terlalu, ada perlu apa ya? "
"Apa benar Letnan Mahija mencari keberadaan teman saya, Mahika? "
"I-iya, kamu tahu dia sekarang berada dimana? "
"Mohon maaf, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda, ada hubungan apa anda dengan teman saya? dan kenapa selama 6 bulan secara berturut-turut terus mencarinya, mohon maaf saya baru menghubungi anda sekarang dikarenakan saya baru kembali masuk bekerja "
"Saya tidak ada hubungan apa-apa hanya seseorang yang membantunya saat tenggelam di laut dan pada saat kecelakaan motor, saya ada sesuatu yang harus saya berikan dan katakan padanya secara langsung. "
"Hm.. Kalau begitu saya akan beritahu dimana keberadaan Mahika sekarang, namun jika terjadi sesuatu pada Mahika saya akan menyebarkan nomor anda dan melaporkan anda ke pihak kepolisian, anda paham" ancam Dea dengan nada tegas.
"Baik.. "
Setelah menutup sambungan telepon, Mahija merasa lega dan akhirnya tahu dimana keberadaan Mahika saat ini. Satu yang ada di kepala Mahija saat ini, ia ingin segera bertemu dengannya. Namun setelah mendengar kondisi Mahika dari temannya yang bernama Dea itu, ia lebih baik melihat dari kejauhan terlebih dahulu. Memantaunya dari jauh dan mencoba membantunya tanpa Mahika tahu keberadaan nya, itu satu-satunya jalan yang saat ini paling aman bagi Mahija yang sangat bersyukur.
"Ndan.. Ayo apa lagi.. Udah pada nunggu nih" panggil Jaka yang sudah siap di posisinya berdiri. Yusuf, Fian dan Hansen juga mengangguk kan kepalanya, memberikan tanda bahwa mereka sudah siap untuk mulai.
Daun Jatuh - Resah jadi luka 🎶
Alunan suara dari gitar akustik dan piano saling berpadu, melodi indah dengan nada yang santai memenuhi seisi aula. Mahija bernyanyi dengan santai, suara gitar bass menambah kesan seperti konser sore di pinggiran pantai yang disambut oleh matahari yang akan terbenam.
Mungkin alam semesta tak menerimanya
Dan waktu tak memberi kesempatannya
Tapi setidaknya kau telah merubah ku
dari resah.. Menjadi luka..
.
.
Namun aku akan tetap disini
Menunggu alam semesta menerima
Dan angin membawakan jawabannya
Karna detak jantung dan nadiku akan selalu
Merindukan mu..
Petikan gitar akustik menutup lagu yang mereka mainkan, Mahija dengan masih duduk diatas kursinya menyelesaikan lagu di malam minggu dengan sendu. Para anggota melihatnya dengan terperangah, dibuat takjub kembali dengan suara Mahija yang bagus. Komandan mereka memang tidak bisa dibandingkan dengan yang lain, paket lengkap ibaratnya begitu.
Pandai atletik, pandai memasak, pandai terjun payung, agama tentu saja bagus, trendy, anak motor, mudah bergaul, panutan dari para anggota dibawahnya, dan selalu menjadi kepercayaan para atasan ditambah lagi ia pandai bermain musik dan bernyanyi.
Suara tepuk tangan para anggota menyadarkan nya, ia kembali memasang wajah datarnya setelah bernyanyi satu lagu penuh.
"Komandan kereen, berasa jadi anak senja betulan woii" sahut Jaka.
"Sebenarnya apasih yang komandan gak bisa? memang definisi paket lengkap " ujar Yusuf yang baru saja meletakkan stik drumnya kembali.
"Hm.. " Mahija mengerutkan keningnya seperti orang berpikir keras, cukup lama ia menjeda ucapannya itu.
"Gak bisa melahirkan" cetus Fian yang sudah sedikit kesal menunggu jawaban dari Mahija.
Mahija langsung memberikan uplus tepukan tangan pertanda jawaban Fian benar, Fian hanya diam dengan senyum sambil menaikkan kedua alisnya.