"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Ajakan
Setelah kejadian di restoran, aku memilih menjauh dari Danu. Aku tidak ingin memperpanjang masalah, apalagi besok adalah hari pernikahannya dengan Belinda. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku pergi dari toilet, tetapi saat kembali bertemu dengan mereka, sikap Belinda sudah terlihat jauh lebih lembut. Sepertinya ia tidak ingin memperpanjang masalah yang terjadi di restoran.
"Mungkin saja aku yang menyinggungnya karena kecurigaanku yang tidak berdasar. Lain kali aku akan meminta maaf padanya," ucap Belinda dengan wajah memelas.
Melihat wajah Belinda seperti itu, Danu terlihat serba salah. Namun, dari caranya memperhatikan Belinda, aku tahu lelaki itu tetap berada di pihak kekasihnya.
"Ya sudah, nanti kita bicarakan dengan kepala dingin. Yang penting saat ini kaki kamu harus segera diobati agar sepatu kaca yang sudah kita pesan bisa dipakai," sahut Danu.
Aku tidak ikut campur lagi. Keduanya kemudian pergi ke rumah sakit sesuai dengan yang sudah kusarankan.
Hari berlalu begitu saja. Besok adalah acara pernikahan Danu dan Belinda. Aku sengaja mengambil cuti agar bisa menemani sahabatku mengantarkan dirinya menuju status baru. Ditambah lagi, Ghina terus merengek padaku agar malam ini aku tidur bersamanya.
"Kakak, malam ini tidur ya sama aku. Agar besok kita bisa dandan lebih pagi," ucap Ghina.
"Ghina, kamu itu terlalu manja sama Dinda," tegur Saras pada putrinya.
"Kenapa sih, Ma? Aku dan Kak Dinda itu bagaikan panci dan tutup. Tidak bisa terpisah. Lagian Mama juga sih, kenapa gak ngasih aku adik, atau gak ngasih aku kakak cewek gitu. Em ... kalau sama Kak Danu gak bisa akur," protes Ghina.
"Mama hanya dikasih dua anak yang cantik dan tampan. Jadi orang gak boleh maruk, Ghina. Lagian sebentar lagi Belinda juga akan jadi kakak perempuan kamu," tutur Saras.
"Wanita itu? Gak mau dan aku gak pernah setuju," celetuk Ghina yang memang sejak awal tidak menyetujui hubungan keduanya.
Aku menahan tawa mendengar ucapan Ghina. Namun, Danu yang mendengar perkataan adiknya langsung berlari seperti anak kecil, mengambil bantal lalu membenamkan wajah Ghina ke dalam bantal itu.
"Kamu itu anak kecil suka banget bicara sembarangan. Belinda itu wanita lemah lembut, baik, perhatian. Apa yang kurang dari dia?" tanya Danu pada sang adik.
"Danu, lepaskan adikmu dulu. Dia bisa kehabisan oksigen," perintah Saras.
Setelah bantal itu disingkirkan dari wajah Ghina, gadis itu langsung menggunakan sisa tenaganya untuk menggigit tangan Danu.
"Sialan! Sakit, bocil!" pekik Danu.
Ghina langsung berlindung di sampingku sembari menjulurkan lidahnya. "Bodo amat!"
"Sudah, sudah, kalian ini. Tidak ada hari tanpa bertengkar," lerai Saras membuat kedua anaknya terdiam.
Saras kemudian menatapku. "Dinda, ibu kamu apa gak bisa datang? Ini juga pernikahan anaknya, loh."
"Benar, Kak. Sudah lama gak ketemu Ibu Wati, Ghina jadi rindu," imbuh Ghina.
Aku tersenyum. "Ibu gak bisa datang, Ma. Perjalanan jauh dan juga sudah tua. Apalagi punya penyakit gula, takut lihat makanan manis gak bisa nahan, katanya. Ditambah asam urat, jadi gak kuat perjalanan jauh."
"Ya ampun. Kalau begitu setelah ini kita pergi ke Surabaya saja buat nengok. Kamu ini kebiasaan gak mau cerita kalau ada apa-apa," sahut Saras.
Aku hanya tersenyum kecil. Aku memang tidak terbiasa menceritakan keadaan Ibu pada keluarga Saliyo. Selama ini aku selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri.
Aku sempat melirik Danu. Tatapannya terlihat berbeda. Ia menyipitkan mata seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin karena selama ini aku tidak pernah bercerita tentang keadaan Ibu dan baru kali ini menyebut penyakit gula serta asam urat yang dideritanya.
"Ma, aku lupa mau mengatakan ini. Sebenarnya dua hari lagi aku akan ikut relawan dari Rumah Sakit Medika untuk pergi ke Ujung Kulon," ucapku.
"Loh, Kakak masih mau pergi ke sana?" Ghina tampak terkejut.
Aku bisa melihat Ghina langsung melirik Danu. Sepertinya ia masih berharap kakaknya bisa mencegah kepergianku.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku lupa. Dua hari ini aku selalu bersama Belinda, kakinya lagi sakit," ungkap Danu.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Selama dua hari terakhir, memang Danu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Belinda.
Saras terlihat semakin bingung. "Jadi sekarang bagaimana keadaan Belinda?"
"Sudah membaik, Ma. Oh, ya, sebentar lagi mobil datang dan kita langsung ke hotel," ucap Danu.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Besok pagi langsung ke hotel," pamitku.
Aku baru saja hendak beranjak ketika Ghina menarik tanganku.
"Kakak sudah janji mau tidur sama aku."
"Tapi Kakak—"
"Ikut menginap saja, Dinda. Lagian Mama juga mau membicarakan soal kepergian kamu ke Ujung Kulon," potong Saras.
Jika sudah diminta seperti itu, aku tidak bisa menolak. Meskipun hubunganku dengan Danu sedikit renggang akibat kejadian di restoran, aku tetap mengangguk.
"Baik, Ma."
"Ya sudah, kita berangkat," ajak Danu.
"Kak Danu, sepertinya aku dan Mama ingin mencari sesuatu dulu. Kakak pergi dulu sama Kak Dinda."
Ghina langsung menarik tangan mamanya. Aku tahu ia sengaja ingin memberikan ruang untukku dan Danu. Namun, aku justru merasa tidak nyaman karena beberapa hari ini aku sudah berusaha menjaga jarak darinya.
"Aku ikut, siapa tahu bisa bantu," pintaku.
Aku sengaja mengatakan itu sebagai alasan agar tidak pergi berdua dengan Danu. Jujur saja, beberapa hari ini aku sudah memikirkan semuanya. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan lelaki itu karena aku harus mempersiapkan diri untuk melepaskannya pada wanita lain.
Ghina langsung menepuk dahinya. "Astaga, Kakak. Aku dan Mama itu mau nyari kado untukmu, kan? Waktu Kak Danu menikah itu juga hari ulang tahunmu. Masa iya kita mau minta bantuan Kakak untuk nyari kado?"
Aku bahkan lupa jika hari pernikahan Danu adalah hari ulang tahunku. Namun, mendengar ucapan Ghina membuat hatiku sedikit hangat. Meskipun aku akan kehilangan lelaki yang kucintai, setidaknya aku memiliki keluarga yang begitu mengasihiku.
"Kenapa harus nyari kado? Ghina dan Mama adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan di usiaku saat ini."
"Sudah, Dinda, jangan berkata seperti itu. Kamu kayak gak tahu saja adikmu yang manja ini. Kalau sudah punya keinginan gak bisa ditolak." Saras melebarkan senyum lalu melanjutkan kalimatnya, "Kamu pergi dulu dengan Danu."
Aku hanya bisa mengangguk mendengar perintah Saras. Setelah melihat kedua wanita itu pergi, pandanganku kembali tertuju pada Danu.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi setelah dua hari tidak bertemu dengannya, wajah Danu terlihat semakin tampan di mataku.
"Aku lupa kalau besok kamu ulang tahun. Kamu mau kado apa? Biar kita beli sekalian lewat," tanya Danu dengan sikap santai.
Aku berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita makan es krim di tepi danau?"
"Apa itu cukup?"
"Tentu saja. Sekalian untuk melepas masa lajangmu," sahutku. "Tapi kamu kabari Belinda dulu, takut salah paham."
Danu mengangguk lalu mengambil ponselnya. Namun, setelah melihat layar ponselnya, ia berkata, "Ponselku mati. Nanti aku kabari Belinda setelah men-charge."
"Gak mau pakai ponselku?"
"Tidak perlu. Aku takut dia makin salah paham. Ya sudah, ayo jalan, keburu malam. Musim kemarau, angin malam tidak bagus," ajak Danu.
Aku mengikuti Danu menuju mobil. Entah kenapa, perjalanan singkat itu justru membuat perasaanku kembali berantakan. Aku sudah berusaha meyakinkan diri bahwa aku akan pergi setelah pernikahannya, tetapi setiap kali berada di dekatnya, semuanya terasa lebih sulit.
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...