Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Undangan yang Tak Terduga
Pagi itu, akhir pekan menyapa Jakarta dengan cuaca yang begitu cerah. Matahari merambat naik perlahan, membiaskan sinar hangat yang menerobos masuk lewat celah tirai ruang tamu kontrakan kami.
Aku duduk di balik meja kayu kecil dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis. Di depanku, Rayan sedang fokus mengarsir sketsa desain menggunakan pensil grafit. Sejak bergabung dengan sub-divisi publikasi OSIS di sekolahnya, ia tampak begitu bersemangat mengasah kembali hobi menggambarnya yang sempat terhenti sewaktu masa-masa sulit kami dulu.
"Gimana sketsanya, Dek?" tanyaku sambil menyesap kopi pelan.
Rayan memutar kertas gambar itu ke arahku dengan senyuman bangga. "Ini buat poster kegiatan bakti sosial sekolah minggu depan, Mas. Kata Ketua OSIS, gaya gambarku cukup berkarakter."
Aku menatap garis-garis tegas di kertas itu. Presisi, rapi, dan penuh kehidupan. Ada kebanggaan luar biasa yang meletup-letup di dalam dadaku. "Bagus sekali, Rayan. Detailnya dapet banget."
Saat suasana hangat itu tercipta, ponselku yang tergeletak di samping cangkir bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari Kareen.
Aku tersenyum kecil sebelum menggeser ikon hijau di layar. "Halo, Kareen?"
"Selamat pagi, Reno," suara Kareen terdengar begitu jernih dan manis di seberang telepon. "Lagi sibuk enggak?"
"Enggak kok, ini lagi santai di rumah sama Rayan. Ada apa, Reen? Kamu lagi di Bandung?"
"Aku lagi di Jakarta sejak kemarin sore, Reno," sahut Kareen ramah. "Pulang ke rumah orang tua untuk akhir pekan. Nah, begini... besok malam keluargaku mau mengadakan makan malam kecil di rumah."
"Oh ya?"
"Iya. Ayah mendengar banyak cerita tentang kamu dari pembicaraan kami belakangan ini. Beliau penasaran dan bilang ingin mengajakmu makan malam bersama," lanjut Kareen halus. "Rayan juga diajak, kok."
Jantungku mendadak berdesir pelan. Selama mengenal Kareen, aku memang belum pernah bertemu dengan orang tuanya. Mengetahui bahwa ayahnya ingin berkenalan langsung denganku tentu membawa getaran emosional dan sedikit rasa gugup.
"Reno? Kamu keberatan ya?" tanya Kareen pelan, terdengar sedikit cemas karena diamku.
"Eh, enggak... bukan begitu, Reen," sahutku buru-buru menetralkan nada suaraku. "Aku cuma agak kaget saja. Tapi tentu sebuah kehormatan buatku."
Kareen terkekeh lembut. "Ayah orangnya hangat kok, Reno. Dan buatku pribadi... aku memang ingin kamu dan Rayan datang."
Kalimat terakhir Kareen terucap dengan nada yang begitu tulus, membuat dinding keraguanku runtuh seketika.
"Baiklah, Kareen. Besok malam aku dan Rayan akan datang," jawabku mantap.
"Terima kasih ya, Reno. Nanti aku kirimkan alamat rumah dan jamnya lewat pesan," ucap Kareen dengan suara yang memancarkan kegembiraan jernih.
Setelah panggilan berakhir, aku mengembuskan napas panjang, mencoba meresapi undangan tersebut. Rayan yang memperhatikan perubahanku sejak tadi menghentikan pensilnya.
"Ada apa, Mas? Mbak Kareen ya?" tanya Rayan penasaran.
"Iya. Besok malam Mbak Kareen mengundang kita makan malam di rumah orang tuanya," jawabku.
Mata Rayan berbinar. "Wah, seru dong! Berarti Rayan harus siapin kemeja yang paling rapi?"
"Harus, Dek. Kita harus tampil rapi dan sopan saat bertamu," ujarku sambil menepuk bahunya pelan.
Hari Sabtu itu kami habiskan dengan mempersiapkan diri. Sore harinya, kami menyempatkan diri pergi ke pusat perbelanjaan terdekat untuk membelikan Rayan kemeja baru yang sesuai, sekaligus membeli buah tangan terbaik yang bisa kami siapkan sebagai tanda hormat sebagai tamu.
Malam harinya, ketika Rayan sudah masuk ke kamar untuk tidur, aku duduk sendirian di tepi tempat tidurku. Aku memandangi kemeja formal yang sudah kurapikan dan kugantung di pintu lemari.
Rasa syukur mendalam kembali mengaliri hatiku. Beberapa bulan yang lalu, pikiranku hanya dipenuhi oleh bagaimana cara menyambung hidup besok pagi, bagaimana melunasi tagihan, dan bagaimana menyembunyikan kerapuhan dari adikku. Kini, aku melangkah di jalur yang sama sekali baru—jalur yang dipenuhi oleh kehangatan dan ruang untuk bertumbuh.
Sama sekali tak terlintas dalam benakku, bahwa alamat rumah yang dikirimkan Kareen besok malam akan membawaku berdiri di depan pintu rumah Pak Bambang—atasan senior yang selama ini begitu kuhormati di pabrik.
Aku memadamkan lampu kamar, membiarkan kegelapan malam membungkus kontrakan kami dalam ketenangan yang sempurna. Aku siap menyambut besok dengan hati yang terbuka.