Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6—Startegiku adalah Keamanan Finansial
Laju kereta kuda keluarga Shen akhirnya tiba di pelataran kediaman utama. Suasana malam menyambut mereka dalam keheningan yang mencekam, kontras dengan gejolak emosi yang baru saja pecah di jalanan ibu kota. Xuer berjalan tergesa-gesa mendahului masuk ke dalam gerbang, meninggalkan Pei Chanqing dan Yueli yang berjalan berdampingan dalam jarak yang terpaut tegang.
"Yueli'er, apa sebenarnya maksud dari ucapanmu tadi?" tanya Pei Chanqing dengan suara rendah, menahan geram.
Yueli bahkan tidak repot-repot membuang muka untuk menoleh ke arahnya. "Kau bahkan masih bisa berpura-pura tidak mengerti."
Seketika, cengkeraman tangan Pei Chanqing mendarat di pundaknya. Jemari pria itu meremas kain mantel dengan kuat, menyalurkan rasa sakit sekaligus dingin yang mencengkeram.
"Kita sebentar lagi akan menikah, apa lagi yang kaulakukan? Apakah kau sengaja ingin mengacaukan semuanya?" tanya sang jenderal dengan tatapan tajam menghunus, menuntut penjelasan.
Dada Yueli berdenyut ngilu, menahan sisa-sisa rasa sakit milik raga yang ia tempati. "Jika begitu, batalkan saja perjodohan ini dan nikahi adikku. Itu jauh lebih baik daripada harus hidup tersiksa dengan pria yang mendambakan wanita lain."
"Aku tidak pernah bersikap seperti itu padamu!" sanggah Pei Chanqing sengit.
Yueli mendongak, matanya menyalang menatap sang jenderal tanpa gentar. "Kalau begitu, apakah Anda sanggup berjanji padaku? Bahwa setelah pernikahan kita terjadi, Anda tidak akan pernah mengambil selir dari mana pun?"
Pria itu langsung terdiam, lidahnya kelu seketika.
Melihat kebisuan itu, senyum getir terbit di bibir Yueli. "Jika kau tidak bisa... jadikan aku sebagai istri pendamping saja, dan biarkan Xuer menjadi istri utamamu. Itu jauh lebih masuk akal."
"Yueli, kau tahu betul aturan istana..." Pei Chanqing akhirnya melepas cengkeramannya dari pundak gadis itu dengan kasar. "Jangan bicara sembarangan. Kita dibesarkan dalam lingkaran bangsawan, jangan mengambil keputusan gegabah hanya karena terbawa emosi."
"Baiklah, anggap saja aku sedang tidak waras," desis Yueli dingin.
Keduanya terdiam dalam sela napas yang memburu, saling melempar tatapan penuh ketegangan sementara angin malam berembus dingin menyapu halaman. Di tengah keheningan itu, Bai Ting—pelayan setia yang baru saja turun dari bangku kusir—tergesa-gesa melangkah mendekati sang nona.
"Nona Yueli," panggil Bai Ting dengan suara ragu-ragu.
Yueli segera memutus kontak mata yang menyesakkan itu dari Pei Chanqing. Ia menoleh ke arah pelayannya dengan ekspresi datar. "Bai Ting, segera siapkan air hangat untukku mandi."
Begitu Bai Ting bergegas pergi melaksanakan perintah, Shen Yueli menundukkan kepalanya sejenak. "Terima kasih atas tumpangannya, Tuan Pei. Hamba pamit."
"Yueli'er, bukankah kita sudah sepakat untuk menikah?" suara bariton itu menghentikan langkah Yueli yang baru bergeser beberapa jengkal.
Gadis itu tidak langsung berbalik, melainkan memiringkan kepala dengan dingin. "Hapus kesepakatan itu."
"Baiklah, aku bersumpah di hadapanmu. Aku tidak akan mengambil selir dari mana pun," ucap Pei Chanqing cepat, nadanya menyiratkan ketegasan yang mendesak.
Shen Yueli akhirnya membalikkan tubuhnya, sebelah alisnya terangkat tinggi. "Bukan itu yang ingin kudengar. Dapatkah kau juga berjanji untuk tidak menemui Xuer di luar batas wajar kegiatan keluarga?"
Pei Chanqing terdiam seketika. Iris matanya menatap lurus manik mata Yueli, menimbang beban dari syarat mutlak tersebut sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Aku bersumpah."
"Jika kau melanggar sumpahmu, hukuman apa yang siap kau terima?" tantang Yueli tanpa gentar.
"Katakan apa yang kau inginkan," jawab pria itu datar.
Yueli bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum penuh perhitungan. "Nyawamu terlalu mudah. Sebagai gantinya, aku ingin kau membayar seratus tael emas untuk setiap kesalahanmu, menyerahkan kepemilikan sebuah toko, dan..." ia menjeda kalimatnya sejenak, "...menjadikanku pemegang kendali penuh atas rumah tangga. Jadi, jika kelak kau tetap mendatangkan wanita lain, setidaknya aku hidup berkuasa dan berlimpah harta."
Pei Chanqing mengerutkan dahinya dalam-dalam, terkejut dengan permintaan yang sama sekali tidak lazim bagi seorang wanita bangsawan. Namun, melihat sorot mata tanpa keraguan di sana, ia akhirnya mengangguk. "Baik, disetujui."
Di balik topeng tenangnya, Alya dalam raga Shen Yueli tersenyum sangat puas. Persetan dengan cinta pria itu, keamanan finansial jauh lebih utama. Ia menepuk pelan dadanya sendiri, membatin untuk menenangkan sisa-sisa rasa sakit milik si pemilik tubuh asli. Tenanglah, kehilangan seorang pria bukan akhir segalanya; asalkan pundi-pundi emas terjamin sampai mati, hidup kita akan tetap aman.
Ia akhirnya benar-benar membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya, membiarkan pikirannya berkelana pada sisa ingatan sejarah yang ia ketahui. Toh, dalam alur aslinya, Xuer memang ditakdirkan bersanding dengan sang jenderal dan hidup bahagia. Biarkan saja pria itu tersiksa dengan segala sumpah dan aturan ketat yang baru saja ia buat.
Namun, langkah kakinya terhenti ketika bayangan sesosok pria paruh baya muncul di ambang gerbang utama. Jenderal Shen berdiri di sana menyambut kedatangan Pei Chanqing, sementara Xuer dengan sigap telah melangkah maju dan menggelayut manja di lengan sang ayah.
"Jenderal Pei," sapa Jenderal Shen ramah.
Pei Chanqing menangkupkan tangan, memberi salam hormat. "Salam, Tuan Shen."
"Terima kasih telah mengantar kedua putriku malam ini," ucap kepala keluarga Shen itu dengan nada sopan penuh segan.
"Itu sudah menjadi kewajiban hamba, Tuan."
"Tuan Pei, bagaimana jika kita menikmati jamuan malam sebentar? Hari sudah sangat larut, tapi kedatangan Anda..."
"Saya rasa..." Belum sempat Pei Chanqing menolak, Tuan Shen sudah merangsek mendekat dan menepuk hangat pundak calon menantu sulungnya itu.
"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih kecil dari keluarga kami. Cukup duduk sesuap atau dua suap saja, saya pasti akan merasa sangat senang."
Pei Chanqing terdiam sejenak sebelum mengangguk kaku. "Baiklah, Tuan."
Di tengah percakapan itu, Shen Yueli memilih untuk tidak peduli. Ia kembali melangkah menyusuri jalan setapak menuju paviliun pribadinya—sebuah tempat terpencil di sudut kediaman yang sesuai dengan memori sang pemilik tubuh asli. Letaknya memang cukup jauh dari hiruk-pikuk halaman utama, tetapi keindahannya begitu memukau dengan hamparan taman bunga di sisi depan, pintu kayu berukir, serta sentuhan ornamen merah muda lembut yang konon dirancang sendiri oleh Yueli di masa lalu.
Begitu ia mendorong pintu geser, aroma rempah yang harum bercampur wangi bunga air mandi langsung menyambut indra penciumannya. Bai Ting bergegas keluar dari ruang pemandian dengan langkah ringan.
"Nona, air hangatnya sudah siap," lapor pelayan setianya itu.
Shen Yueli mengangguk pelan, mengikuti Bai Ting masuk ke dalam. Di sana, ia menanggalkan jubah dan mantel tebalnya satu persatu, lalu mulai membenamkan diri ke dalam bak kayu beruap hangat. Sensasi air yang menyentuh kulit seketika melunturkan ketegangan dan lelah yang merajai saraf-sarafnya sepanjang malam. Ini saatnya menjernihkan pikiran dan menyusun rencana.
Ia bersandar sejenak di tepi bak, menatap pantulan bayangannya di permukaan air yang beriak kecil.
"Bai Ting," panggilnya lirih memecah kesunyian ruangan.
"Ya, Nona?"
"Apakah kau ingat di mana aku biasa menyimpan kotak surat-surat itu?"
Bai Ting mengangguk mantap tanpa ragu. "Tentu saja, Nona. Kotak kayu itu tersimpan aman di dalam laci tersembunyi di meja samping tempat tidur."
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu