NovelToon NovelToon
JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Ketos
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan

Kata orang, satu detik itu bisa menjadi selamanya.

Dan sekarang Kay Morgan menginginkan itu terjadi saat ini. Detik ini. Bersama dengan gadis ini dengan waktu selamanya. Rasanya Kay Morgan ingin berlama-lama berada dalam posisi seperti ini dengan Rora, cowok itu enggan menyudahinya.

Namun detik selanjutnya Kay Morgan terpaksa harus menjauhkan kepalanya dari Rora, lantaran gadis itu mulai kehabisan nafas. Setelah memberikan satu kecupan penuh arti pada ujung bibir gadis itu, Kay Morgan memandang Rora yang masih linglung dengan sorot mata dalam dan hangat.

"Maaf kelepasan," ujarnya tanpa ekspresi.

Rora yang masih mengalami keterkejutan ringan, hanya mengangguk di tempat.

Kedua mata Rora mengerjap tatkala merasakan tangan Kay Morgan bergerak lembut menyusuri rambutnya—membantu gadis itu untuk merapikan helai rambutnya yang berantakan, karena tertiup angin malam.

Kedua mata Kay Morgan berkilat geli menyadari adanya semburat merah yang menjalar pada kedua pipi Rora. Gadis itu salah tingkah dan gugup. Kay Morgan sadar itu, karena dirinya juga merasakan hal yang sama.

Tangannya terasa dingin tanpa alasan.

Terlepas dari itu, Kay Morgan juga sadar jika ini salah, dan tidak sesuai rencana awal.

Tapi mau bagaimana lagi, Kay Morgan sudah terlanjur jatuh tanpa perlawanan.

Kay Morgan menunduk untuk menautkan jemarinya di tangan Rora. Sesaat cowok itu menarik seulas senyum kecil, menyadari bagaimana tangan kecil itu terasa pas dalam genggamannya.

"Ayo pulang!"

****************

Keesokan harinya…

"Sekali lagi untuk murid-murid yang namanya dipanggil, dimohon menuju ke ruang guru. Sekarang!"

"WOI! ADA POLISI DATANG KE SEKOLAH!"

"DENGER-DENGER MEREKA NANGKEP KAY MORGAN SAMA TEMEN-TEMENNYA!" Teriakan milik Retha—tukang gosipnya kelas 11 IPS 3—terdengar bebarengan dengan suara pengeras suara sekolah.

Itu suara Bu Damara, guru BK mereka. Seperti biasa terdengar begitu lugas dan menakutkan.

"SUMPAH?! DEMI APA?!" Rami langsung menggebrak meja di hadapannya. Gadis yang semula tengah menyalin jawaban milik Sheila itu, mendadak heboh mendengar informasi yang diberikan oleh Retha.

Nggak cuma Rami doang sih, anak cewek di kelas itu mendadak langsung heboh. Jelas—kumpulan yang paling dicari dari sekolah mereka lagi-lagi sedang dalam masalah. Tapi nyatanya tidak pernah separah ini sebelumnya, kalau sampai bawa-bawa polisi gini... kira-kira mereka udah ngelakuin apa coba?

Sama halnya dengan Rora, gadis itu baru saja datang dari kantin bersama Sheila. Mendengar apa yang Retha katakan membuat Rora langsung bergeming di tempat.

"Gara-gara apaan sih?" tanya Bari yang terlihat sangat kepo, lantas nimbrung ke meja Retha.

Dan pergosipan pun dimulai.

"Nggak tau anjir! Katanya mereka ikut tinju ilegal sama anak SMA Tunas Bangsa. Korbannya itu sampe koma, terus orang tuanya nggak terima dan lapor polisi."

"Parah!" sahut Randi tak bersuara di tempat.

"Menurut gue sih kasus narkoba!" celetuk Alberto mulai memanas-manasi dari bangku belakang. "Lo pada dengarkan si Kael William, katanya dirawat di rumah sakit. Tapi pihak sekolah nggak boleh tahu alasannya karena apa."

"Gue yakin dia lagi rehab gara-gara pake narkoba," lanjutnya yang membuat semua orang menatap kepadanya.

"Sembarangan mulut lo!" balas Selsy, tidak terima kalau cogannya dihujat.

"Yee! Nggak percaya lo!"

"Asli parah! Kay Morgan yang notabenenya ketua juga ikutan kena anjir."

Spekulasi-spekulasi yang tidak karuan benarnya mendadak muncul ke permukaan.

Suasana sekolah mendadak tegang, benar! Pihak polisi memang datang bahkan bertemu langsung dengan Pak Surya. Kepala sekolah SMA Garuda Indonesia. Pintu dan jendela ruang guru pun terlihat ditutup rapat, banyak guru yang menghimbau murid-muridnya untuk kembali ke kelas, padahal bel istirahat baru berbunyi.

"Berdiri kalian!" gertak Pak Surya, menatap Kay Morgan dan teman-temannya yang sejak tadi duduk di sofa panjang dalam ruangan bernuansa putih gading itu.

"Bikin malu nama sekolah!" Kelima orang itu masih terdiam ketika Pak Surya menggebrak meja kerjanya. Pria paruh baya itu menekan pelipis dengan kasar, nyaris frustasi menghadapi murid-muridnya yang gemar sekali membuat masalah.

Bayangkan saja, tiba-tiba pihak sekolah dihubungi oleh polisi setempat lantaran mendakwa murid mereka melakukan aksi kekerasan kepada murid dari sekolah lain. Parahnya lagi korban mengalami koma, pantas orang tuanya melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib.

"Benar kalian datang ke tempat itu, dengan menggunakan identitas palsu?!"

"Jawab! Kalian laki-laki bukan?! Harus berani bertanggung jawab!" herdik Pak Surya yang membuat Mahendra langsung mengeraskan rahang.

"Iya pak! Kami dateng ke Aldeoz," sanggah Mahendra dengan mata tajam menatap lurus kepala sekolahnya, tanpa rasa takut.

Guru-guru yang berada di ruangan itu langsung menghela nafas berat, mereka langsung menggelengkan kepala, seolah tidak habis pikir dengan sikap murid-muridnya itu. "Mau jadi apa kalian?! Jagoan, iya?!"

Pak Surya menunjuk satu persatu wajah murid-muridnya dengan tatapan penuh kekecewaan.

"INI TINDAKAN KRIMINAL! KALIAN SADAR?!"

"Kalian ini masih pelajar! Apalagi kalian bertiga sudah kelas 12!" Tatapan Pak Surya berhenti kepada Tristan—yang notabenenya adalah keponakannya sendiri.

Yeah—Sudah jadi rahasia umum jika cowok itu adalah keponakan dari Pak Surya, kepala sekolah SMA Garuda Indonesia.

"Sampai orang tua kamu denger ini, saya yakin mereka sangat kecewa," lirih Pak Surya, sendu. Sukses membuat Devandra dan Digo yang berdiri di sebelah Tristan langsung menunduk.

Berbeda dengan Kay Morgan dan Mahendra, mereka masih berani mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

Biadab emang!

Pak Surya menghela nafas berkali-kali, sebelum akhirnya beralih kepada petugas polisi yang sejak tadi berdiri di sisi pintu. "Silahkan pak polisi membawa murid-murid kami, mereka harus dihukum sesuai hukum yang berlaku."

Kepala sekolah itu angkat tangan. Sudah tidak sanggup mengurus kelima murid itu.

"Kami juga sudah menghubungi orang tua mereka," lanjut Pak Surya. Lantas kedua pihak polisi mendekat ke arah Digo, Tristan, Mahendra, Devandra dan Kay Morgan. Mereka menggiring langkah kelimanya untuk ikut dengan mereka.

"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak!"

"Ucapkan terima kasih kami kepada murid yang sudah melapor dan memberi identitas mereka."

ucap salah satu petugas polisi, ketika berjabat tangan dengan Pak Surya.

Lorong sekolah ramai ketika Kay Morgan dan teman-temannya diamankan oleh polisi. Tanpa borgol—kepala sekolah yang meminta. Seolah berniat mencegah adanya skandal yang pastinya merusak nama baik sekolah, namun percuma. Murid-murid mereka sendiri saja banyak yang menyebarkan berita ditangkapnya murid-murid pembawa masalah itu, dengan foto dan video untuk dibagikan di media sosial.

"Masuk anak-anak!" Suara milik Pak Bandi terdengar menginterupsi. Namun sayang sekali, tidak ada yang bisa membubarkan kerumunan serta kegaduhan yang jelas disponsori oleh Kay Morgan dan teman-temannya.

Menghela nafas, lelah. Pak Bandi memutuskan untuk angkat tangan saja. Mau bagaimana lagi, fakta jika salah satu—eh! Salah lima teman mereka ditangkap polisi langsung di sekolah, jelas membuat keributan besar siang itu.

Bahkan kantin yang biasanya menjadi tempat muara murid-murid SMA Garuda Indonesia terlihat gersang alias sepi.

Di sisi lain, Rora tengah membelah kerumunan. Gadis itu mencoba mendapatkan tempat di depan untuk memastikan keadaan seseorang. Kay Morgan cowok itu berjalan memimpin di depan, dengan polisi yang menjaganya dari samping dan menuju ke mobil polisi.

Jantung Rora terpacu menyaksikannya. Pikirannya berkecamuk dengan cemas. Dari kejauhan pun, Kay Morgan mengedarkan pandang. Kedua netra tajamnya mencari-cari satu objek yang belum ia lihat sejak pagi. Objek yang ingin sekali dirinya lihat saat ini.

Rora—gadis itu berdiri di antara kerumunan. Menatap dirinya dengan sorot mata khawatir yang ketara.

Sial! Ini memalukan dan tidak keren, umpat Kay Morgan dalam hati.

Sesaat Kay Morgan memperlambat langkah dengan sengaja, cowok itu mengarahkan pandangannya kepada Rora. Seolah mencoba mengatakan semua baik-baik saja melalui tatapannya. Tak lupa cowok itu juga mengulas senyum lebarnya mendekati bodoh jenis senyum mengejek dan menyebalkan, yang mana biasanya selalu berhasil membuat Rora kesal.

Setidaknya kali ini, Kay Morgan ingin Rora menatapnya dengan sorot kesal alih-alih khawatir seperti sekarang.

****************

Di sisi yg lain…

Gadis itu melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke kamarnya. Suasana rumah sore itu seolah terasa mati. Oh! Selalu mati, seperti biasanya. Namun tak lama langkahnya terhenti, menyadari ada orang lain yang berada di kamarnya.

Menghela nafas lelah, gadis bersurai panjang itu dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Kedua mata cantiknya menatap tidak suka ke arah tamu yang tak diundang itu.

"Gue pikir lo udah lupa jalan pulang," sindirnya, lantas dengan santai meletakkan tas sekolahnya ke kasur, dirinya mulai melepas sepatunya.

Mengabaikan sosok yang tengah menatapnya penuh tanya dan pertimbangan.

"Kalau cuma mau bilang makasih, lo nggak perlu repot-repot dateng ke sini." Suara lembut itu berhasil memecah keheningan.

Sosok yang tengah duduk tepi ranjangnya itu tersenyum miring, kurang ramah. "Makasih, lo bilang?" desisnya tajam terkesan dingin.

Cowok itu beranjak dari tempatnya, memberikan atensi secara menyeluruh kepada lawan bicaranya. "Dengan lo ngelaporin mereka ke polisi, itu justru bikin posisi gue dan temen-temen gue nggak aman!"

"Lo nggak mikir, gimana kalau mereka nyeret nama gue?!" teriaknya ke arah gadis itu.

Gadis itu Sheila, saat ini tengah mendongak untuk membalas tatapan dari kakak laki-lakinya—Revan Gabriel.

Oh tunggu! Kakak?

Apakah sosok laki-laki dengan garis wajah tegas ini pantas dipanggil seorang kakak? Tentu saja tidak!

"Tenang! Hanya karena lo dateng dan ada di tempat kejadian, bukan berarti lo ikut kena masalah." Sheila melanjutkan aktivitasnya dengan tenang.

Menyingkirkan sepatunya, lantas berjalan ke arah lemari pakaiannya.

"Dia juga dateng kesana, tapi nggak ikut terlibat," lanjut Sheila dengan santai.

Dahi Revan berkerut. "Dia?"

"Rora."

Revan tersenyum sinis. "Setelah Kay Morgan, apa lo juga mau bikin dia masuk penjara?"

Sheila terdiam sebelum menggeleng. "No, she's my friend." Gadis itu mendesis penuh sesal. "Still my friend," lanjutnya seraya menutup lemari pakaiannya dengan keras.

Membalikkan tubuhnya, Sheila menatap sosok Revan yang masih berdiam diri di tempat. "Kalau nggak ada lagi yang mau diomongin, mending keluar!" usir Sheila terang-terangan.

Di tempatnya Revan mengalihkan pandang, tatapan cowok itu terlihat frustasi melihat tingkah saudaranya itu. "Gue nggak peduli kalau lo mau jeblosin mereka ke penjara, tapi sampe nama gue keseret ke kasus ini... lo tau akibatnya kan?" ancam cowok itu penuh penekanan.

Cowok itu tidak peduli fakta bila Sheila adalah adiknya, jika gadis ini membuatnya dalam masalah seperti yang dilakukannya kepada geng The Revenants, Revan tidak akan tinggal diam.

Sheila mengulum seulas senyum manis, sangat cocok dengan wajah cantiknya. "Relax brother!"

2 jam sebelumnya saat ini kay dan teman temannya sudah di Sel tahanan remaja.

Digo sungguh tidak habis pikir akan berakhir di tempat seperti ini, dengan memakai pakaian berwarna oranye di balik jeruji besi yang sudah berkarat.

"Gara-gara Kael William anjing! Sumpah... keluar dari sini gue jambak sampe rabies itu orang!" seru Digo rusuh. Tidak terima dirinya berada di balik jeruji besi saat ini.

Bayangan sang ibu mendapatinya di sini membuat cowok itu panik bukan kepalang. Fix! Dicoret dari daftar pewaris dia. Sesaat cowok itu melirik ke arah Devandra, cowok itu tengah menjedotkan kepalanya sendiri di dinding di ruangan satu petak itu. Digo juga mendengar sejak tadi Devandra menyebut-nyebut nama Tuhannya.

Kalian mungkin akan terkejut setelah mengetahui jika Devandra adalah anak Pastor. Digo yakin, keluar dari sini Devandra akan dibaptis oleh ayahnya. Valid, tidak diragukan lagi.

Sesat emang itu bocah—kalau gini aja baru inget Tuhan.

Sementara Tristan dan Kay Morgan hanya duduk terdiam. Tatapan keduanya kosong, seolah terlalu banyak yang harus dipikirkan—namun keduanya memilih diam. Setidaknya mereka harus tenang dan meredam emosi di saat seperti ini.

Berbeda dengan Mahendra yang sejak tadi terlihat tidak bisa tenang di tempat. Cowok itu bergerak ke sana kemari, benar-benar membuat Digo emosi sendiri. "Mahendra! Nggak usah mondar-mandir!"

Sekali lagi, cowok itu tidak mendengarkan ucapannya. Di tempatnya Digo naik pitam, jengkel sendiri.

Selang beberapa saat, di tempatnya Kay Morgan mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Mahendra menghentikan langkah di depannya. Cowok itu juga melempar tatapan permusuhan kepadanya. Melengos—Kay Morgan yang sejak tadi hanya diam mendadak terpancing emosi.

"Minggir lo!" desisnya berniat berdiri untuk berpindah tempat.

Pergerakan Mahendra selanjutnya berhasil membuat semua orang menoleh, cowok itu tanpa aba-aba menyeret kerah pakaian Kay Morgan. Memaksa cowok itu untuk berdiri menghadapnya.

"Apaan anjing!" Kay Morgan yang sudah terpancing emosinya mendorong tubuh Mahendra untuk menjauh darinya.

"Gue udah bilang! Jangan campurin urusan pribadi lo sama kita. Goblok lo, Kay Morgan!" Kay Morgan menggeleng kecil, rahangnya sudah mengeras namun cowok itu sedang tidak ingin meladeni Mahendra.

Nyatanya Mahendra selalu begitu, marah tanpa alasan yang jelas. Seolah mencari seseorang untuk disalahkan ketika mereka dalam situasi tidak baik seperti saat ini.

Merasa diabaikan, Mahendra semakin meledak amarahnya. Ditariknya pundak Kay Morgan dengan keras, Mahendra lantas mendorong cowok itu ke dinding. "Lo dengar kan kalau ada yang laporin kita?!"

Kay Morgan yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka merasa geram. Ditepisnya tangan Mahendra yang masih mencengkeram pundaknya. "Itu cewek lo, anjing!!!"

"Gue yakin yang lapor cewek sialan itu!" Langsung saja satu bogem mentah mendarat sempurna di pelipis Mahendra.

Kay Morgan yang melakukannya, dirinya tahu siapa yang Mahendra maksud.

Di tempatnya Digo langsung beranjak. Berniat mendekat untuk memisahkan. Namun Mahendra sudah dulu bangkit dan membalas pukulan Kay Morgan.

"Heh! Apa-apaan lo berdua, bangsat?!" Devandra di ujung ruangan menarik rambutnya frustasi. Sementara Tristan melengos dan memilih menjauh dari ketiganya.

Sungguh! Mereka hanya memperburuk keadaan.

"Stop njing! Heh! Lo berdua bantu gue ngapa?!" teriak Digo kepada Devandra dan Tristan.

Punya temen kok kelakuannya kayak anjing semua!

"Lo sebut dia kayak gitu, abis lo!" Sekali lagi Kay Morgan mendorong tubuh Mahendra untuk menjauh darinya dengan keras.

Mahendra jelas belum selesai. Cowok itu menyeka darah yang keluar dari sudut matanya. "Terus siapa kalau bukan Rora?! Dia satu-satunya orang yang tau kalau kita dateng ke sana!"

"Lo tutup mata, iya?!" Sekali lagi Mahendra mendorong tubuh Kay Morgan dengan kasar.

"Udah anjing!" umpat Digo seraya menarik Mahendra untuk menjauhi Kay Morgan.

Ini bukan situasi yang biasa Digo hadapi, dua orang ini seperti bom waktu. Mudah sekali meledak—nyatanya hanya Kael William yang selalu berhasil meredam amarah keduanya. Dan cowok itu sekarang tidak bersama mereka. Digo merasa frustasi sendiri.

Pengen ikut marah terus gelut sekalian di sana. Tapi Digo kok tau, yang babak belur paling parah pastilah dia kalau nekat ngelawan Mahendra dan Kay Morgan

"Lo sadar nggak?! Lo bertingkah goblok cuma gara-gara itu cewek!"

"Diem anjing!" sela Kay Morgan, seolah tidak ingin mendengar ucapan Mahendra lebih banyak lagi.

"Egois tau nggak lo! Cuma gara-gara rasa penasaran lo itu... kita semua kena imbasnya! Bajingan lo!" Mahendra yang diredam oleh Digo menggeram pelan ke arah Kay Morgan yang masih diam.

"Lo nggak tau apa-apa, mending diem!" teriak Kay Morgan dengan sorot mata marah.

Di tempatnya Mahendra mengulas seulas senyum miring. Cowok itu memandang sosok Kay Morgan dengan tatapan merendahkan. "Nggak tau apa-apa, lo bilang?!"

"Gue tau anjing lo deketin itu cewek karena lo penasaran kan?!" Mahendra dengan berani menunjuk-nunjuk wajah Kay Morgan yang sudah mulai memerah menahan emosi.

"Lo penasaran, cewek mana yang selama ini bisa tahan sama kakak lo! Cewek mana yang bisa bahagiain kakak lo! Cewek mana yang bisa jadi alasan kakak lo kuliah jauh-jauh ke Boston, buat sukses! Cewek mana—"

"Diem lo, anjing!"

BUGH!

Kay Morgan memukul wajah Mahendra dengan keras. Membuat Digo terkejut di tempat. "Udah woi!" seru Digo, seraya mendorong tubuh Kay Morgan agar menjauh dari Mahendra yang masih tertunduk menahan sakit.

Mahendra tertawa mengejek di tempatnya. Kay Morgan itu bodoh—sangat! Cowok itu jelas bukan tipikal orang yang sudi memberikan perhatian kepada orang lain, dan gadis? Cih! Mahendra yakin sedikit pun Kay Morgan tidak menaruh rasa ketertarikan kepada gadis bernama Rora itu. Tapi nyatanya Rora lebih bodoh karena percaya dengan Kay Morgan.

Tahu kenapa?

Karena Mahendra tau, cowok brengsek kayak Kay Morgan itu cuma mau bangun hubungan sama orang yang bisa kasih dia keuntungan. Dan Rora—yang notabennnya pacar dari Shayen Morgan pasti lah memberikan banyak keuntungan jika didekati. Biar Mahendra beri tahu satu hal, Kay Morgan itu sangat membenci kakaknya sendiri. Dan alasan cowok itu selalu mencoba menarik Rora mendekat pastilah karena Shayen Morgan, tidak ada alasan lain.

Oh! Mungkin cowok itu tengah bermain-main dengan sesuatu yang dianggap penting oleh saudaranya sendiri, Shayen Morgan.

"Kenapa lo marah, apa karena omongan gue bener?! Lo curiga juga kan sama itu cewek?!" sindir Mahendra.

yang sukses membuat Kay Morgan terdiam.

"Apa lo marah karena kecewa, admit that fuck!" Suara Mahendra kembali terdengar.

"Lo kecewa karena itu cewek justru yang bikin lo hancur! Padahal rencananya, lo mau gunain dia buat hancurin Shayen Morgan kan?!"

Bukan hanya Kay Morgan, baik Digo, Devandra dan Tristan juga ikut diam. Enggan ikut campur. Itu masalah Kay Morgan, mereka tahu tujuan awal cowok itu. Bermain-main dengan Rora, dan terlihat jelas jika cowok itu menikmatinya. Terlalu menikmati sampai lupa dengan alurnya sendiri.

Tidak ada masalah, semua aman dan baik-baik saja. Mereka pun begitu, tidak ada masalah selama Rora tidak menjadi masalah untuk The Revenants—sekalipun gadis itu tahu banyak tentang mereka.

Tapi sekarang? Great! Rora benar-benar menunjukkan kepada mereka... jika karma itu memang ada.

"Gue cuma mau bilang satu hal ke lo..." Mahendra mendekat kembali ke arah Kay Morgan, menatap cowok itu dengan sorot mata tajam dan dingin.

"Mampus!" Skakmat!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Jangan lupa baca buku yg lain yah.....

1
falea sezi
🤣 harusnya Rora di buat jago beladiri🤣🤣 ini menye menye bgt 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Prettygirls: Hmm belum tau aja,masih polos2 itu
total 1 replies
Prettygirls
Serius yahh udah ku update 🤣
falea sezi
lanjut q kirim bunga🤣
Prettygirls
Hi kak falae bantu like yah biar semangat terus nulisnya🙏
falea sezi
🤣🤣🤣🤣kau bkin baper semua tau🤭
Enz99
bagus
Prettygirls: Terima kasih kak jangan lupa baca buku yg cinta terlarang diantara kita saudara tiri🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!