Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Darah dan Janji
Musim gugur tahun ke delapan setelah Tang Hyun dan Permaisuri Xinyue menikah datang lebih cepat dari biasanya, dan dengan kedatangannya ia membawa angin yang tidak membawa aroma bunga plum melainkan bau besi dan obat-obatan yang sudah basi, karena tiga hari sebelumnya utusan dari Akademi Bunga Plum di Sichuan datang berlari ke Chang'an dengan wajah pucat dan dengan jubah yang robek di bagian bahu, membawa berita yang membuat seluruh istana membeku, yaitu bahwa Tang Yue, putri kedua Tang Hyun dan Xinyue yang berusia 15 tahun dan yang baru saja dikirim ke Sichuan untuk belajar langsung tentang sejarah Klan Tang dari arsip desa, telah diculik di tengah perjalanan oleh sekelompok orang bertopeng yang mengaku sebagai "Tangan Pembalas Desa Ling", sebuah kelompok baru yang lahir dari sisa kebencian yang tidak pernah mati meskipun sudah dua puluh tahun berlalu sejak Klan Tang secara resmi meminta maaf dan membangun seratus kuil peringatan, dan yang sekarang menggunakan nama anak Tang Hyun sebagai alat untuk memaksa Kaisar Tang Ming mencabut semua kebijakan tentang klinik gratis dan sekolah rakyat.
Berita itu sampai ke Tang Hyun ketika dia sedang di kebun belakang, memotong tangkai bunga plum untuk Xinyue, dan gunting di tangannya jatuh ke tanah tanpa suara, karena di dunia ini hanya ada dua hal yang bisa membuat "Tangan yang Menyembuhkan" kehilangan kendali, yaitu ketika Xinyue terluka, dan ketika anaknya terluka, dan sekarang keduanya terjadi bersamaan karena Xinyue yang mendengar berita itu langsung pingsan di pelukan pelayan dan ketika bangun, hal pertama yang dia katakan dengan suara serak adalah, "Bawa pulang anakku, Hyun."
Tang Hyun tidak menangis, tidak berteriak, tidak memecahkan meja, dia hanya berdiri, berjalan ke paviliun, mengambil kotak kayu berisi jarum dan racunnya yang sudah sepuluh tahun tidak dia sentuh kecuali untuk mengobati, dan berkata kepada Tang Ming yang sekarang sudah menjadi Kaisar, "Aku akan pergi. Sendiri. Karena ini tentang nama Tang, dan nama yang harus ditebus oleh orang yang menyandangnya."
"Jangan sendiri, Ayah," kata Tang Ming, "kirim pasukan."
"Tidak," jawab Tang Hyun, "jika aku bawa pasukan, maka mereka akan membunuh Yue untuk membuktikan bahwa Klan Tang hanya tahu perang. Aku harus pergi sebagai ayah, bukan sebagai jenderal."
Xinyue, yang wajahnya masih pucat tetapi matanya sudah kering karena air matanya sudah habis, menggenggam tangan suaminya erat, "Aku ikut."
"Kau harus tinggal," kata Tang Hyun lembut, "karena jika aku gagal, maka kau adalah satu-satunya yang bisa menjaga Ming dan Lei. Dan karena aku butuh kau tetap berdiri di sini, agar aku punya tempat untuk pulang."
Xinyue mengangguk, meskipun hatinya hancur, karena dia tahu suaminya benar, dan malam itu, sebelum Tang Hyun berangkat, mereka duduk di paviliun untuk terakhir kalinya sebelum badai, tanpa teh, hanya dengan keheningan, dan Xinyue berbisik, "Bawa dia pulang. Bahkan jika kau harus menukar nyawamu."
"Aku janji," jawab Tang Hyun, "aku tidak akan pulang tanpa dia."
Perjalanan ke Sichuan memakan waktu enam hari, dan setiap hari Tang Hyun tidak tidur, dia hanya mengikuti jejak yang ditinggalkan para penculik, jejak yang sengaja dibuat berantakan, jejak yang mengarah ke pegunungan di barat, ke sebuah kuil tua yang sudah lama ditinggalkan dan yang menurut peta lama adalah tempat persembunyian Sekte Iblis seratus tahun lalu, tempat yang cocok untuk orang yang ingin bersembunyi dari dunia dan dari pengampunan.
Ketika dia tiba di kaki gunung pada malam hari ketujuh, dia melihat api unggun di atas, dan di sekeliling api itu ada dua puluh orang bertopeng, dan di tengah mereka, diikat di tiang kayu, adalah Tang Yue, dengan rambut berantakan, bibir pecah, tetapi matanya tidak menangis, matanya menatap lurus ke depan seperti ibunya ketika marah, dan di lehernya ada kalung racun yang akan meledak jika tali pengikatnya dipotong dengan cara yang salah, sebuah jebakan yang hanya bisa dibuat oleh orang yang benar-benar mengenal Klan Tang.
Pemimpin mereka melangkah maju, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan bekas luka di pipi, "Kau Tang Hyun," katanya, "Anak Racun yang menjadi anjing istana."
"Aku ayahnya," jawab Tang Hyun tenang, "lepaskan dia. Dan bicara denganku."
"Kau pikir kami bodoh?" kata pria itu, "Kami tahu kau bisa membunuh kami semua dalam satu tarikan napas. Tapi jika kau bergerak, maka gadis itu mati. Dan jika Kaisar tidak mencabut undang-undang klinik dalam tiga hari, maka kami akan siarkan kepalanya ke seluruh negeri."
Tang Hyun menatap putrinya, dan Tang Yue, meskipun takut, menggeleng pelan, seolah berkata "Jangan lakukan apa yang mereka mau, Ayah", dan di saat itu, Tang Hyun membuat keputusan yang hanya bisa dibuat oleh seorang ayah, dia menjatuhkan kotaknya, mengangkat kedua tangan, dan berjalan maju tanpa senjata.
"Aku tidak akan melawan," katanya, "Tapi aku punya syarat. Lepaskan dia, dan aku akan tinggal di tempatnya. Kau bisa menyiksaku, membunuhku, apapun. Tapi jangan sentuh anakku."
Para penculik tertawa, "Berani sekali. Kau pikir kami akan percaya?"
"Tidak," jawab Tang Hyun, "tapi aku percaya pada satu hal. Bahwa kebencian tidak bisa diwariskan jika ada orang yang berhenti mewariskannya."
Dia berjalan sampai berdiri tepat di depan tiang, dan saat itulah dia melihatnya, kalung di leher Tang Yue bukan racun biasa, itu adalah "Lonceng Musim Dingin", racun yang dia sendiri ciptakan 20 tahun lalu, racun yang hanya bisa dinetralkan dengan penawar yang ada di dalam darahnya sendiri, karena dia pernah menggunakannya untuk menyelamatkan Xinyue dulu, dan karena itu, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Yue adalah dengan memotong jarinya dan membiarkan darahnya menetes ke kalung itu, sebuah tindakan yang akan membuatnya lumpuh atau mati jika terlalu banyak darah yang keluar.
"Baiklah," kata Tang Hyun, "aku setuju. Tapi beri aku pisau."
Pria bertopeng melempar pisau, dan Tang Hyun menangkapnya, lalu tanpa ragu dia mengiris telapak tangannya sendiri, dan darah merah tua menetes ke kalung itu, dan kalung itu mengeluarkan suara mendesis dan asap, dan ikatan di tangan Tang Yue menjadi longgar.
"Lari, Yue," kata Tang Hyun dengan suara yang mulai goyah karena kehilangan darah, "ke hutan. Jangan menoleh."
Tang Yue menangis untuk pertama kalinya, "Ayah!"
"Lari!" teriak Tang Hyun, dan Tang Yue berlari, dan para penculik yang panik mencoba mengejar, tetapi Tang Hyun, meskipun tubuhnya lemas, melemparkan jarum terakhirnya ke tanah, jarum yang meledak menjadi kabut putih yang membuat semua orang batuk dan tidak bisa melihat.
Dengan sisa tenaganya, Tang Hyun menggendong putrinya, tidak, dia mendorongnya pergi, "Terus lari. Sampai kau bertemu pengawal Klan. Katakan pada ibumu... katakan aku menepati janji."
Tang Yue berlari selama dua jam di tengah hutan, tersandung, jatuh, bangun lagi, sampai akhirnya dia bertemu dengan tim pencari Klan Tang yang dikirim diam-diam oleh Tang Ming, dan hal pertama yang dia katakan adalah, "Ayahku. Dia di kuil. Dia berdarah."
Tim itu langsung bergerak, dan ketika mereka sampai di kuil, mereka menemukan Tang Hyun tergeletak di tanah, pucat, napasnya hampir habis, tetapi dia masih hidup, karena tubuhnya sudah kebal terhadap sebagian besar racun, dan di sekelilingnya, para penculik sudah lumpuh karena kabut yang dia buat, tidak mati, karena Tang Hyun tidak pernah membunuh jika bisa dihindari.
Tang Hyun dibawa kembali ke Chang'an dengan kecepatan tercepat, dan selama tujuh hari dia berada di antara hidup dan mati, demam tinggi, menggigil, dan memanggil nama Xinyue dan Yue, dan Xinyue tidak pernah meninggalkan sisinya, dia menyuapi obat, mengompres dahi, dan berbisik, "Kau janji akan pulang. Jadi pulanglah."
Di hari kedelapan, Tang Hyun membuka mata, dan orang pertama yang dia lihat adalah Tang Yue yang duduk di samping tempat tidur, dengan mata bengkak tetapi dengan tangan menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah," kata Tang Yue sambil menangis, "maaf."
"Untuk apa?" tanya Tang Hyun dengan suara lemah.
"Karena aku tidak cukup kuat."
Tang Hyun mengangkat tangan yang masih diperban dan mengusap kepala putrinya, "Kau cukup kuat. Karena kau berlari. Dan karena kau tidak menyerah. Itu yang membuatmu menjadi anak Tang."
Xinyue masuk membawa teh, dan ketika melihat suaminya sadar, dia tidak berkata apa-apa, dia hanya memeluknya erat, dan Tang Hyun bisa merasakan tubuh istrinya gemetar, "Kau bodoh," bisik Xinyue, "mengorbankan diri untuk anak kita."
"Aku ayahnya," jawab Tang Hyun, "itu tugasku."
Tiga hari kemudian, Kaisar Tang Ming mengumumkan hukuman untuk "Tangan Pembalas Desa Ling", bukan eksekusi, melainkan kerja paksa selama 20 tahun di klinik perbatasan, karena Tang Hyun bersaksi di pengadilan bahwa "kebencian hanya bisa dilawan dengan membuat orang yang membenci melihat apa yang mereka benci lakukan", sebuah keputusan yang membuat banyak orang marah tetapi juga membuat banyak orang menghormati.
Sebulan setelah itu, ketika Tang Hyun sudah bisa berjalan, keluarga mereka berkumpul di Paviliun Bunga Plum, dan Tang Yue, yang biasanya paling banyak bicara, hanya duduk diam.
"Ada apa?" tanya Tang Hyun.
"Maaf karena membuat Ayah dan Ibu khawatir," kata Tang Yue, "dan terima kasih karena datang."
Tang Hyun tersenyum, "Ayah mana yang tidak akan datang untuk anaknya?"
Xinyue menuang teh untuk semua orang, "Mulai sekarang, kita tidak akan berpisah sejauh ini lagi. Tidak untuk belajar, tidak untuk apapun."
Tang Lei yang dari tadi diam langsung berkata, "Berarti aku tidak usah sekolah?"
Semua orang tertawa, dan tawa itu memecah ketegangan yang sudah dua bulan menggantung di rumah mereka.
Malam itu, sebelum tidur, Tang Hyun duduk di balkon bersama Xinyue, dan Xinyue bersandar di bahunya, "Kau menakutiku," katanya.
"Aku juga takut," jawab Tang Hyun, "takut kehilangan kalian."
"Kita tidak akan kehilangan," kata Xinyue, "karena kita sudah berjanji."
"Janji apa?" tanya Tang Hyun.
"Janji bahwa kita akan melindungi satu sama lain. Sampai akhir."
Mereka duduk sampai bulan naik tinggi, dan di dalam rumah, Tang Yue sedang menulis di jurnalnya, "Hari ini aku belajar bahwa menjadi Tang bukan tentang seberapa kuat racunmu. Tapi tentang seberapa jauh kau mau berjalan untuk orang yang kau cintai."
Di luar, angin membawa kelopak bunga plum terakhir musim gugur, dan Tang Hyun menutup mata, karena untuk pertama kalinya setelah lama, dia merasa damai, karena putrinya selamat, karena istrinya ada di sampingnya, dan karena janji itu masih utuh.
Dan di langit, bintang-bintang bersinar, menyaksikan seorang ayah yang memilih darahnya sendiri untuk menyelamatkan darahnya, dan seorang ibu yang memilih untuk tetap berdiri agar suaminya punya alasan untuk kembali.