Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA KERAGUAN KEMBALI DATANG
Keesokan harinya, Bandung datang ke sekolah tempat Oreo belajar.
Berbeda dari kebiasaannya selama ini, dia tidak berhenti di dekat para pedagang kaki lima di luar gerbang. Ferrari merahnya justru melaju langsung menuju pintu masuk sekolah.
Seorang petugas keamanan segera menghampirinya.
“Selamat pagi, Pak. Ada keperluan apa?”
Bandung mematikan mesin mobil, lalu turun.
“Pagi, Pak. Saya wali murid di sini. Saya mau bertemu kepala sekolah. Ada yang ingin saya tanyakan mengenai Bu Luna.”
Petugas keamanan itu mengamati Bandung sejenak sebelum kembali bertanya.
“Bapak orang tua murid kelas berapa?”
“Kelas dua. Anak saya namanya Oreo.”
“Oh, baik, Pak. Sebentar, saya hubungi petugas di dalam dulu.”
Bandung mengangguk. Dia kemudian mengikuti petugas keamanan tersebut menuju ruang penjagaan di dalam area sekolah.
Setelah berkoordinasi dengan rekannya, petugas itu mengantarkan Bandung ke ruang kepala sekolah.
Tok, tok, tok.
“Permisi, Pak. Ada wali murid yang ingin bertemu.”
“Silakan masuk.”
Petugas membuka pintu, lalu mempersilakan Bandung masuk sebelum berpamitan.
Kepala sekolah yang sedang duduk di balik meja kerjanya segera berdiri untuk menyambut tamunya.
“Selamat pagi. Silakan duduk, Pak. Maaf, boleh saya tahu ada keperluan apa?”
Bandung menjabat tangannya, kemudian duduk di kursi yang tersedia.
“Perkenalkan, Pak. Saya Bandung, ayahnya Oreo, murid kelas dua yang selama ini diajar oleh Bu Luna.”
“Oh, Pak Bandung.” Kepala sekolah tersenyum ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”
Bandung sempat terdiam sejenak. Dia sedang mencari cara untuk menyampaikan maksud kedatangannya tanpa membuat situasi menjadi canggung.
“Sebenarnya, saya ingin bertanya soal Bu Luna, Pak.”
“Bu Luna?” Kepala sekolah mengernyit tipis. “Memangnya ada masalah dengan beliau?”
“Bukan masalah, Pak. Saya cuma… cukup dekat dengan beliau. Selama ini, kami sering berinteraksi karena urusan anak saya.”
Bandung menghela napas kecil sebelum melanjutkan.
“Belakangan ini, saya baru sadar kalau hubungan kami ternyata lebih berarti buat saya daripada yang selama ini saya akui.”
Kepala sekolah memperhatikan wajah Bandung. Dia tampak mulai memahami arah pembicaraan itu, meskipun belum ingin berasumsi terlalu jauh.
“Begitu, ya, Pak?”
Bandung tersenyum canggung.
“Iya. Jujur saja, saya sendiri baru berani mengakuinya belakangan ini.”
Dia kemudian menceritakan kedekatannya dengan Luna. Bagaimana pertemuan-pertemuan sederhana mereka perlahan menjadi bagian dari kesehariannya, bagaimana Luna selalu hadir dalam percakapan kecil bersama Oreo,bahkan kesibukan Luna mengajar anak-anak jalanan dan bagaimana dia selama ini tidak pernah benar-benar berani mengakui perasaannya sendiri.
Kepala sekolah mendengarkan dengan saksama.
Setelah Bandung selesai bercerita, kepala sekolah menarik napas perlahan.
“Kalau begitu, mungkin Bapak perlu tahu bahwa Bu Luna sedang izin pulang kampung.”
Bandung mengangkat wajahnya.
“Pulang kampung?”
“Iya. Setahu saya, beliau sedang mempersiapkan pernikahannya.”
Meskipun sudah mengetahui kabar tersebut sebelumnya, mendengarnya secara langsung tetap terasa berbeda.
Senyum Bandung meredup sesaat.
“Iya, Pak. Saya sudah dengar soal itu.”
“Kalau Bapak sudah tahu, lalu apa yang bisa saya bantu?”
Bandung mengusap telapak tangannya di atas lutut, mencoba mengumpulkan keberanian.
“Saya ingin meminta alamat rumah dan nomor telepon Bu Luna, Pak. Kalau Bapak berkenan memberikannya.”
Kepala sekolah terdiam.
“Maaf, Pak Bandung. Saya sebenarnya tidak bisa sembarangan memberikan informasi pribadi seorang guru.”
Bandung mengangguk. Dia memahami keberatan itu.
“Saya mengerti, Pak. Saya juga nggak ingin membuat Bapak berada dalam posisi yang sulit. Saya hanya ingin memastikan sesuatu langsung kepada Bu Luna. Kalau memang beliau tidak berkenan berbicara dengan saya, saya akan menghormatinya.”
Kepala sekolah memperhatikan kesungguhan di wajah Bandung.
Sebagai wali murid, Bandung memang dikenal cukup dekat dengan sekolah. Selama ini, dia juga tidak pernah membuat masalah. Namun, memberikan informasi pribadi tetap bukan perkara sepele.
Setelah mempertimbangkannya sejenak, kepala sekolah akhirnya berkata, “Begini saja, Pak. Saya akan coba menghubungi Bu Luna terlebih dahulu. Kalau beliau mengizinkan, saya bisa membantu Bapak mendapatkan nomor yang bisa dihubungi.”
Bandung mengangguk cepat.
“Itu sudah lebih dari cukup, Pak. Terima kasih banyak.”
Kepala sekolah mengambil ponselnya, lalu mencoba menghubungi Luna. Setelah beberapa saat, dia kembali menatap Bandung.
“Sepertinya beliau belum bisa saya hubungi sekarang. Namun, saya memiliki nomor yang biasa digunakan untuk keperluan komunikasi sekolah. Saya akan memberikannya kepada Bapak, tetapi tolong gunakan dengan bijak, ya.”
Bandung menerima nomor tersebut dengan penuh rasa terima kasih.
“Tentu, Pak. Saya sangat menghargainya.”
Percakapan mereka berlanjut cukup lama. Hampir satu jam berlalu sebelum Bandung akhirnya berdiri untuk berpamitan.
“Terima kasih atas waktu dan bantuannya, Pak.”
“Sama-sama. Semoga urusan Bapak bisa diselesaikan dengan baik.”
Saat Bandung hendak melangkah keluar, kepala sekolah kembali memanggilnya.
“Pak Bandung, bukankah biasanya Bapak menunggu Oreo pulang?”
Bandung menoleh sambil tersenyum.
“Biasanya memang begitu, Pak. Tapi hari ini saya ada urusan lain. Lagi pula, Oreo biasanya dijemput tantenya, Jessica.”
Kepala sekolah mengangguk memahami.
“Oh, begitu. Baiklah, Pak. Hati-hati di jalan.”
Bandung kembali menjabat tangannya, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Di sepanjang perjalanan menuju galeri, nomor telepon Luna terus terlintas di pikirannya.
Dia sudah mendapatkan apa yang dicari.
Namun, anehnya, keberanian yang tadi terasa begitu besar kini perlahan bercampur dengan kecemasan.
Bagaimana kalau Luna tidak ingin berbicara dengannya?
Bagaimana kalau perempuan itu benar-benar sudah menganggapnya tidak lebih dari seorang teman?
Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau selama ini Bandung hanya terlambat menyadari sesuatu yang sudah lama diketahui Luna?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Sesampainya di galeri, Bandung langsung mengeluarkan ponselnya. Dia duduk di depan meja kerja, membuka nomor yang diberikan kepala sekolah, lalu menatap layar cukup lama.
Jempolnya bergerak hendak menekan tombol panggilan, tetapi berhenti tepat sebelum menyentuhnya.
“Cuma telepon doang, Bandung,” gumamnya kepada diri sendiri. “Bukan mau perang.”
Dia menghela napas, lalu akhirnya menekan tombol panggilan.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Klik.
“Halo?”
Bandung langsung menegakkan punggungnya.
Suara seorang laki-laki terdengar dari seberang.
“Ya, halo. Dengan siapa, ya?”
Bandung terdiam sesaat.
“Oh, selamat siang, Pak. Maaf mengganggu. Apa benar ini nomor Bu Luna?”
“Iya, benar. Ini siapa, ya?”
Bandung ragu-ragu. Dia tidak mungkin langsung mengaku sebagai pria yang diam-diam menyimpan perasaan kepada calon istrinya.
“Nama saya Bandung, Pak. Saya… salah satu pengelola kegiatan sosial yang pernah bekerja sama dengan Bu Luna. Kami punya kegiatan belajar untuk anak-anak jalanan, dan Bu Luna beberapa kali membantu mengajar.”
Sebenarnya, Bandung merasa tidak nyaman harus berbohong. Namun, dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia hanya mencari kesempatan untuk berbicara dengan Luna.
“Oh, begitu.” Suara laki-laki itu terdengar ramah. “Sebentar, ya. Saya panggilkan orangnya.”
Bandung menggenggam ponselnya lebih erat.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dan percakapan samar dari seberang. Setelah itu, suara laki-laki tadi kembali terdengar.
“Ini, calon istri saya sudah pegang teleponnya.”
Jantung Bandung berdegup sedikit lebih cepat.
Calon istri.
Dua kata itu terasa menekan dadanya, mengingatkannya pada kenyataan yang selama ini berusaha dia hadapi.
Lalu terdengar suara perempuan.
“Halo?”
Bandung membeku.
Dia menatap layar ponselnya, seolah berharap bisa memastikan siapa yang sedang berbicara dengannya.
Suara itu terdengar asing.
Bukan suara yang selama ini dia kenal. Bukan suara Luna yang biasa menyapa Oreo, bukan pula suara yang pernah didengarnya saat mereka berbincang di sekolah.
“Halo? Ada yang bisa saya bantu?”
Bandung masih belum menjawab.
“Maaf, ini siapa, ya?”
Barulah Bandung tersadar.
“Ah… maaf, Bu. Saya mungkin salah sambung.”
“Lho, tadi katanya mau bicara dengan saya?”
“Iya, tapi… maaf, sepertinya saya keliru.”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Bandung mengakhiri panggilan.
Dia menurunkan ponselnya perlahan, lalu menatap layar yang kini kembali gelap.
Untuk beberapa saat, dia hanya duduk diam.
Apa benar tadi Luna yang berbicara?
Atau nomor yang diberikan kepala sekolah ternyata bukan nomor pribadi Luna?
Mungkin perempuan itu sedang sedih karena harus meninggalkan kehidupannya di kota. Mungkin juga dia sedang bahagia menyambut pernikahan sehingga cara bicaranya terdengar berbeda.
Namun, semakin Bandung mencoba mencari alasan, semakin besar pula keraguannya.
“Kenapa suara lu beda banget, Lun?” gumamnya lirih.
Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
Semua keberanian yang dikumpulkannya sejak malam tadi seolah runtuh hanya karena satu panggilan singkat.
Bandung kemudian mengangkat pandangannya ke arah lukisan yang masih berdiri di sudut ruangan.
Luna di atas Ferrari merah itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
Lukisan yang dibuatnya dengan penuh perasaan, ketika dia akhirnya berani mengakui siapa perempuan yang ingin diperjuangkannya.
Bandung berdiri dan melangkah mendekati kanvas tersebut.
Dia menatap lukisan itu lama sekali.
Kenangan tentang Luna bermunculan tanpa bisa dia kendalikan. Percakapan kecil mereka, senyum perempuan itu, tingkahnya saat bersama Oreo, dan momen-momen sederhana yang dulu tidak pernah dia anggap istimewa.
Kini, semuanya terasa begitu berharga.
Namun, di tengah semua kenangan itu, pikirannya justru dipenuhi pertengkaran yang tak kunjung selesai.
Satu sisi dirinya berbisik agar dia tetap maju. Dia sudah memutuskan untuk memperjuangkan Luna, dan satu panggilan aneh seharusnya tidak cukup untuk menghentikannya.
Sisi lain justru menyuruhnya mundur. Bagaimana kalau dia memang sudah terlambat? Bagaimana kalau kedatangannya hanya akan mengganggu kebahagiaan Luna?
Bandung mengepalkan tangan.
“Gue harus gimana, sih?”
Tidak ada yang menjawab.
Hanya wajah Luna dalam lukisan yang seolah terus tersenyum kepadanya, tanpa mengetahui betapa kacau hati pria yang melukisnya.
Akhirnya, Bandung melangkah menuju kamar mandi.
Dia menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur kepala dan tubuhnya. Dia memejamkan mata, berharap kesegaran air itu bisa meredakan pikirannya yang terus bergejolak.
Perlahan, ketegangan di bahunya mulai mengendur.
Namun, satu hal tetap tidak berubah.
Di balik suara air yang jatuh, nama Luna masih bergema di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya, Bandung menyadari bahwa memperjuangkan cinta bukan hanya soal keberanian untuk datang.
Terkadang, yang paling sulit adalah tetap melangkah ketika hati sendiri mulai meragukan keyakinan yang baru saja dibangun.