NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Diantara Dua Wanita

Begitu memasuki toko bahan, Pratiwi langsung berubah menjadi sangat bersemangat. Ia berjalan dari satu rak ke rak lainnya, memperhatikan warna dan tekstur kain yang berjajar rapi.

"Wah, ini bagus-bagus sekali.”

Pratiwi mengambil selembar kain berwarna dusty pink, lalu mengangkatnya di depan tubuh. "Menurut kalian bagaimana?”

Mellisa mendekat dan memperhatikan warna itu.

"Bagus. Warnanya lembut.”

Pratiwi kemudian menoleh kepada suaminya. "Papi?”

Handoko yang sejak tadi mengikuti langkah istrinya tersenyum. "Bagus, Mi. Kalau Mami suka, ambil saja!”

"Jangan begitu. Papi harus ikut memilih. Ini kan buat seragam keluarga.”

Handoko terkekeh. "Papi ikut saja."

"Tidak boleh ikut saja.” Pratiwi menyenggol lengan suaminya dengan kain yang dipegangnya.

"Papi harus punya pendapat.”

"Kalau begitu, Papi pilih yang ini." Handoko menunjuk kain dusty pink tersebut.

Pratiwi tersenyum puas. "Nah, begitu dong.”

Mellisa ikut tersenyum melihat pasangan itu.

Namun, ketika Pratiwi beralih ke rak berikutnya, Handoko justru memperhatikan Mellisa.

Wanita itu sedang menyentuh beberapa lembar kain, mencoba membandingkan warnanya.

"Mell.”

Mellisa menoleh.

"Ya?”

"Kamu lebih suka yang mana?”

Mellisa menunjuk salah satu kain. "Yang ini.”

Handoko mengambil kain yang sama. "Kenapa?"

"Warnanya lebih hangat.”

Handoko tersenyum. "Dari dulu kamu memang suka warna seperti ini.”

Tangan Mellisa berhenti bergerak. Ia menatap Handoko."Masih ingat?”

Handoko tidak langsung menjawab. Ternyata masih, Mel.”

Ada sesuatu dalam tatapannya. Mellisa segera mengalihkan wajah. "Sudahlah, Mas.”

Handoko justru tersenyum kecil. "Aku cuma bilang aku masih ingat.”

"Ada banyak hal yang lebih baik tidak perlu diingat.”

"Termasuk aku?”

Mellisa menatapnya lagi. Pertanyaan itu terdengar terlalu pribadi untuk sebuah percakapan di tempat ramai seperti itu.

"Mas Handoko.”

"Apa?”

"Jangan mulai.”

Handoko terdiam beberapa detik. Tetapi bukannya mundur, ia justru mendekat sedikit.

"Saya tidak sedang mulai apa-apa.”

"Tatapanmu bilang sebaliknya.”

Handoko tersenyum tipis. "Kalau begitu, kamu masih bisa membaca aku.”

Mellisa menghela napas. "Kamu sudah menikah.”

"Aku tahu.”

"Dan aku juga punya kehidupan sendiri.”

"Aku tahu, tapi sekarang kamu sendiri kan?”

"Lalu kalau sendiri kenapa?”

Pertanyaan itu membuat senyum Handoko menghilang. Ia menatap Mellisa dengan wajah yang lebih serius.

"Karena ternyata bertemu kamu lagi, dan melupakan kamu tidak semudah yang aku bayangkan.”

Mellisa terdiam.

"Aku pikir semuanya sudah selesai,” lanjut Handoko. "Kupikir aku sudah benar-benar bisa melihat kamu sebagai seseorang dari masa lalu.”

"Lalu?”

"Aku ternyata salah.”

Mellisa menggeleng pelan. "Jangan bicara seperti itu.”

"Aku hanya mau jujur.”

"Kejujuran tidak selalu harus diucapkan, Mas.”

Handoko menundukkan wajah. Ia tahu perempuan di hadapannya benar. Sangat benar. Pratiwi tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadanya.

Pratiwi mencintainya dengan tulus. Menjadi istrinya, menjadi tempatnya pulang, dan mempercayainya tanpa pernah mempertanyakan masa lalu yang bahkan tidak ia ketahui sepenuhnya.

Namun, semua pertimbangan itu tidak mampu membuat Handoko berhenti memandang Mellisa.

Ia bahkan mulai mencari-cari alasan untuk berada di dekatnya.

"Kalau nanti Mami pindah ke rak sebelah,” bisik Handoko, “kamu jangan pergi jauh-jauh!”

Mellisa menatapnya tidak percaya. "Untuk apa?”

"Aku ingin bicara denganmu.”

"Kita sudah bicara.”

"Belum cukup.”

"Mas, ini salah.”

"Aku tahu.”

"Lalu kenapa Mas masih melakukannya?”

Handoko terdiam. Karena ia sadar, kini ia kembali merasakan sesuatu yang pernah begitu kuat.

Dan ia membencinya. Tetapi sekaligus merindukannya.

Dari kejauhan, suara Pratiwi terdengar.

"Papi!”

Handoko langsung menoleh. Pratiwi berdiri di dekat rak kain lain sambil melambaikan tangan.

"Papi, sini! Mami sudah menemukan yang bagus.”

Handoko menarik napas panjang. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. Ia baru saja berdiri terlalu dekat dengan perempuan lain.

Perempuan yang pernah dicintainya. Dan yang lebih buruk, ia sendiri yang sengaja mencari kesempatan itu.

"Sebentar, Mi.” jawabnya.

Sebelum pergi, Handoko sempat menatap Mellisa.

Tatapan itu membuat Mellisa tahu bahwa percakapan mereka belum selesai. Handoko kemudian berjalan menghampiri Pratiwi.

"Ayo lihat, Papi.” kata Pratiwi dengan wajah ceria. “Menurut Papi yang mana yang paling bagus?”

Handoko melihat beberapa pilihan kain yang disodorkan istrinya.

"Yang ini.”

"Yang champagne?”

"Iya.”

"Kenapa?”

Handoko tersenyum. "Karena Mami pasti kelihatan cantik kalau pakai warna ini.”

Pratiwi langsung tersipu "Papi bisa saja.”

Mellisa yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengar kalimat itu. Dadanya terasa sesak.

Ia tahu Handoko mencintai Pratiwi. Namun ia juga baru saja melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Handoko masih memiliki perasaan kepadanya.

Dan Handoko sendiri tampaknya sedang berusaha mendekat. Pratiwi, yang tidak mengetahui apa pun, justru memanggil Mellisa dengan ceria.

"Jeng Mellisa, sini! Menurut Jeng bagus yang champagne atau dusty pink?”

Mellisa tersenyum dan berjalan mendekat.

"Champagne lebih cocok.”

"Papi juga pilih itu.”

Pratiwi tersenyum puas. "Berarti kita sepakat.”

Mereka kembali berdiri bertiga. Pratiwi sibuk membicarakan warna seragam, sementara Handoko sesekali mencuri pandang kepada Mellisa.

Sekali.

Dua kali.

Dan setiap kali tatapan mereka bertemu, Mellisa selalu buru-buru mengalihkan wajah.

Handoko pun akhirnya sadar. Ia sedang berdiri di antara dua wanita. Satu wanita yang telah memilihnya untuk menjadi suaminya. Dan satu wanita yang ternyata masih mampu membuat hatinya bergetar hanya dengan satu tatapan.

Ia tahu perasaannya salah. Ia tahu Pratiwi tidak pantas dikhianati. Tetapi kali ini Handoko tidak lagi yakin bahwa ia mampu mematikan perasaan lamanya begitu saja. Dan itulah yang paling menakutkan.

Saat Pratiwi sibuk bersama salah satu pegawai toko, Handoko justru menemukan kesempatan untuk berdiri sedikit lebih dekat dengan Mellisa.

Pegawai itu sedang memotong kain menjadi beberapa bagian sesuai pesanan. Setelah selesai, potongan-potongan kain tersebut dimasukkan satu per satu ke dalam plastik. Pratiwi kemudian membawa semuanya ke kasir untuk melakukan pembayaran.

Mellisa yang sejak tadi berdiri di dekat rak kain sebenarnya merasa sedikit lega. Setidaknya, untuk beberapa menit, ia bisa menghindari percakapan canggung dengan Handoko.

Namun ternyata laki-laki itu justru menghampirinya. "Masih suka warna seperti ini?” tanya Handoko sambil menunjuk kain yang sedang disentuh Mellisa.

Mellisa menoleh sekilas. “Masih.”

Handoko tersenyum. “Pantas.”

"Pantas apa?”

"Pantas masih kelihatan cantik.”

Mellisa langsung terdiam. Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Tetapi cara Handoko mengucapkannya—dengan senyum kecil dan tatapan yang begitu dikenalnya—membuat sesuatu di dalam dada Mellisa bergetar.

Handoko tertawa pelan melihat reaksinya. "Kenapa diam?”

"Apanya yang harus dijawab?”

"Biasanya dulu kalau aku puji langsung salah tingkah.”

"Dulu, itu dulu.”

"Iya.” Handoko mengangguk, lalu menatapnya lebih lama. “Tapi ternyata sekarang juga masih.”

Mellisa buru-buru mengalihkan pandangan.

"Mas Handoko masih suka menggoda orang, ya?”

"Tidak semua orang.”

"Lalu?”

"Cuma orang tertentu.”

"Siapa?”

Handoko mendekat sedikit, lalu berkata pelan, "Orang yang kalau saya goda masih kelihatan seperti dulu.”

Mellisa menahan napas. Sial. Begitulah Handoko yang dia kenal dulu. Laki-laki yang selalu punya cara untuk membuat hatinya berantakan hanya dengan beberapa kalimat sederhana. Dulu, setiap kali Handoko menggombalinya, Mellisa selalu berusaha memasang wajah kesal. Tetapi diam-diam, hatinya berbunga-bunga sepanjang hari. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, ternyata efeknya masih sama.

"Mel, kamu tahu nggak,” lanjut Handoko, “aku tadi sebenarnya memperhatikan kamu dari jauh.”

Mellisa mengerutkan kening. “Memperhatikan apa?”

"Cara kamu memilih kain.”

"Memangnya kenapa?”

"Masih sama.”

"Sama apanya?”

"Kalau memilih sesuatu, kamu selalu serius. Alis kamu sampai berkerut.”

Mellisa refleks menyentuh dahinya. Handoko terkekeh.“Nah, itu juga masih sama.”

Mellisa akhirnya ikut tersenyum kecil.“Masih ingat saja.”

"Bagaimana saya bisa lupa?”

Kalimat itu membuat senyum Mellisa perlahan menghilang. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, suara orang-orang di dalam toko seperti menjauh. Yang tersisa hanya tatapan Handoko dan kenangan lama yang tiba-tiba menyeruak begitu saja.

Dulu, laki-laki itu juga pernah mengatakan hal yang sama. "Bagaimana saya bisa lupa?" Dulu, Mellisa percaya sepenuhnya pada setiap kata yang keluar dari mulut Handoko. Dan sekarang, hanya dengan beberapa kalimat, ia kembali merasakan debar yang pernah dikuburnya bertahun-tahun.

Handoko tersenyum tipis.“Jangan lihat aku seperti itu!”

Mellisa mengerjapkan mata. "Seperti apa?”

"Seperti sedang mengingat sesuatu.”

Mellisa cepat-cepat membuang muka. "Saya nggak ingat apa-apa.”

"Bohong.”

"Kenapa Mas yakin?”

"Karena saya juga sedang mengingat hal yang sama.”

Jantung Mellisa berdegup semakin cepat. Handoko lalu tersenyum seperti dulu—senyum yang pernah begitu disukai Mellisa.

"Dulu kamu paling suka kalau saya bilang kamu cantik.”

Mellisa menelan ludah.“Sekarang sudah nggak mempan.”

Handoko mengangguk pelan, seolah percaya.

"Kalau begitu, saya ganti.”

"Ganti apa?”

"Dulu kamu cantik.” Handoko berhenti sejenak, lalu menatapnya lekat-lekat. “Sekarang kamu jauh lebih cantik.”

Mellisa spontan memukul pelan lengannya.

"Mas Handoko.”

Handoko tertawa. Dan tawa itu membuat hati Mellisa semakin kacau. Ia tahu seharusnya ia menjaga jarak. Ia tahu laki-laki di hadapannya bukan lagi sekadar lelaki dari masa lalu. Ada Pratiwi di toko yang sama. Ada kehidupan yang sudah berubah. Ada begitu banyak hal yang seharusnya membuat mereka tidak boleh kembali seperti dulu.

Tetapi hati ternyata tidak pernah benar-benar pandai melupakan.

Untuk beberapa menit saja, Mellisa merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu—perempuan yang mudah tersipu hanya karena satu senyum, satu tatapan, dan satu gombalan dari laki-laki yang pernah begitu dicintainya.

Sementara Handoko, meski tersenyum puas melihat pipi Mellisa kembali merona, menyimpan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia tahu dirinya sedang bermain api. Dan yang paling menakutkan, ia mulai menyadari bahwa api itu ternyata masih menyala di antara mereka.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!