Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Suara tamparan kembali menggema keras di dalam ruang kerja Bratasena Mahendra yang remang-remang.
Siska jatuh tersungkur ke lantai dengan sudut bibir yang kembali mengeluarkan darah segar.
"Wanita tidak berguna, kau akan kubuat mati malam ini juga jika kau berani menolak perintahku," desis Bratasena sambil menginjak punggung tangan Siska.
Siska menangis histeris menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur lengannya akibat injakan tersebut.
"S-saya akan melakukan apa pun yang Tuan minta, tolong jangan bunuh saya," ratap Siska dengan suara bergetar ketakutan.
Bratasena melemparkan sebuah botol kaca berukuran kecil yang berisi cairan bening ke lantai tepat di depan wajah Siska.
"Itu adalah obat bius dosis tinggi yang biasa dipakai untuk melumpuhkan gajah liar di sirkus."
"Temui Gibran besok pagi di lobi hotelnya dan campurkan obat ini ke dalam minumannya saat dia lengah," perintah Bratasena dengan senyum iblis.
Siska menatap botol kecil itu dengan tubuh gemetar hebat membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
"Setelah dia pingsan, polisi bayaranku akan langsung menyergapnya dengan tuduhan kepemilikan narkoba mematikan."
"Pemuda sombong itu akan membusuk di penjara sebelum acara pelelangan akbar dimulai," tawa Bratasena menggelegar kejam.
Di tempat lain, Gibran sedang duduk bersantai di ruang tamu suite mewah hotelnya bersama Aurel Larasati.
Aurel baru saja menandatangani dokumen transfer senilai dua puluh lima miliar rupiah untuk membeli Giok Kuning Emas milik Gibran.
"Uangnya sudah masuk semua ke rekeningmu, sekarang kau resmi menjadi salah satu pemuda terkaya di kota ini," ucap Aurel sambil menyesap teh hangatnya.
"Terima kasih Nona Aurel, kerja sama kita selalu berjalan dengan sangat lancar dan menyenangkan," balas Gibran tersenyum ramah.
Gibran meletakkan cangkir kopinya lalu menatap mata Aurel dengan sorot yang lebih serius dari sebelumnya.
"Keluarga Mahendra pasti sudah kehabisan akal dan akan mulai menggunakan cara kotor dari dunia bawah."
"Apakah kau punya kenalan agensi keamanan independen yang bisa kusewa untuk menjaga punggungku mulai besok?" tanya Gibran langsung ke tujuan.
Aurel mengangguk pelan seolah sudah menduga permintaan dari rekan bisnisnya tersebut.
"Aku punya koneksi dengan kelompok mantan tentara bayaran elit yang sudah beroperasi mandiri di pinggiran kota."
"Aku akan menghubungi mereka malam ini juga agar mereka siap menjadi perisai pribadimu mulai besok pagi," janji Aurel tanpa ragu.
Keesokan paginya, Gibran melangkah turun ke area restoran lobi hotel untuk menikmati sarapan prasmanan.
Baru saja ia menuangkan kopi ke dalam cangkirnya, sosok wanita berantakan tiba-tiba menerjang dan memeluk kakinya.
"Gibran tolong aku, mereka mau membunuhku Gibran!" teriak Siska dengan tangisan histeris yang memancing perhatian seluruh tamu hotel.
Wajah Siska dipenuhi memar kebiruan dan pakaiannya terlihat sangat kotor seperti orang yang baru saja disiksa semalaman.
Gibran menatap wanita yang memeluk kakinya itu dengan tatapan mata yang sangat dingin dan kosong.
"Lepaskan tangan kotor itu dari sepatuku sekarang juga Siska, atau aku sendiri yang akan mematahkannya," ancam Gibran dengan suara sangat rendah.
Siska tidak melepaskan pelukannya, ia justru semakin keras meratap dan mendongakkan wajahnya yang menyedihkan ke arah Gibran.
"Aku berhasil kabur dari rumah Bratasena pagi ini saat pengawalnya sedang tertidur Gibran."
"Izinkan aku duduk dan minum segelas air saja di mejamu sebelum aku pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri," mohon Siska dengan napas tersengal-sengal.
Gibran memicingkan matanya melihat akting Siska yang terlihat terlalu dipaksakan untuk ukuran seorang buronan.
[Peringatan. Deteksi niat jahat tingkat tinggi dari entitas di bawah kaki Master.]
[Memindai objek tersembunyi. Ditemukan botol kaca berisi zat bius saraf dosis tinggi di balik saku jaket entitas.]
Suara mekanis sistem langsung menggema di kepala Gibran membongkar semua rencana kotor wanita murahan tersebut dalam sedetik.
Gibran menarik sudut bibirnya membentuk senyum sinis yang sangat tipis dan mematikan.
"Ternyata kau memang lebih suka menjadi anjing suruhan Bratasena daripada menyelamatkan nyawamu sendiri Siska."
"Baiklah, bangun dan duduk di kursi itu, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa memainkan drama konyol ini," ucap Gibran sambil menendang pelan kaki kursi di depannya.
Siska buru-buru bangkit berdiri sambil terus menghapus air mata buayanya yang membasahi pipi.
Wanita itu duduk dengan tangan yang diam-diam merogoh saku jaketnya saat Gibran pura-pura menoleh memanggil pelayan.
"Pelayan, tolong bawakan satu teko air putih hangat untuk tamu yang tidak diundang ini," panggil Gibran dengan suara keras.
Saat itulah tangan Siska bergerak sangat cepat membuka tutup botol biusnya.
Namun sebelum setetes pun cairan itu jatuh ke dalam cangkir kopi Gibran, sebuah tangan besar sudah mencengkeram pergelangan tangan Siska dengan kekuatan mengerikan.
Krek.
"Aaaargh! Tanganku patah!" jerit Siska dengan suara melengking kesakitan hingga botol kaca itu jatuh menggelinding di atas meja.
Gibran mencengkeram pergelangan tangan Siska begitu kuat hingga tulang rawannya berbunyi retak.
"Kau pikir trik murahan seperti ini bisa mengelabui mataku Siska?" desis Gibran mendekatkan wajahnya.
"Bratasena benar-benar bodoh karena mengirim seorang wanita tolol sepertimu untuk melakukan pekerjaan pembunuh bayaran."
Siska menangis meraung-raung menahan sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya yang sudah membiru.
"L-lepaskan aku Gibran! Bratasena yang memaksaku melakukan ini semua atau dia akan membunuhku!" teriak Siska panik ketakutan.
Tiba-tiba, suara sirene mobil terdengar meraung-raung dengan sangat nyaring dari arah pintu masuk utama hotel.
Ngiung ngiung ngiung.
Lima orang pria berseragam polisi yang tampak kasar melangkah masuk ke dalam lobi dengan pistol tergenggam di tangan.
"Angkat tanganmu sekarang juga Gibran! Kami mendapat laporan bahwa kau menyimpan obat bius ilegal berbahaya di mejamu!" teriak pemimpin polisi bodong itu.
Para tamu hotel langsung menjerit ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri menjauhi area restoran.
Gibran sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya dari tangan Siska dan justru tertawa lepas menatap kelima polisi korup tersebut.
Hahahaha.
"Kalian datang tepat waktu sekali seperti di adegan film aksi murahan."
"Tapi sayangnya, kalian salah memilih orang untuk dijebak pagi ini," ucap Gibran dengan ketenangan yang membekukan darah.
Pemimpin polisi bodong itu melangkah maju menodongkan pistolnya tepat ke arah kepala Gibran.
"Jangan banyak bicara anak muda, kau resmi ditahan dan akan membusuk di penjara mulai hari ini," ancamnya kasar.
Belum sempat polisi itu memborgol tangan Gibran, sebuah bayangan hitam melesat dari arah pintu masuk restoran.
Bugh.
Pemimpin polisi itu terpental ke belakang menabrak meja makan hingga hancur berantakan setelah menerima tendangan telak di dadanya.
Empat polisi lainnya terkejut dan langsung mengarahkan senjata mereka ke arah pintu masuk.
Enam orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam dan rompi antipeluru melangkah masuk dengan santai.
Mereka membawa senjata laras panjang yang jauh lebih mematikan dari sekadar pistol polisi biasa.
"Maaf kami sedikit terlambat Tuan Gibran, jalanan di ibu kota cukup macet pagi ini," sapa pria kekar dengan bekas luka codet di wajahnya.
Pria bercodet itu adalah kapten dari kelompok tentara bayaran elit yang disewa oleh Aurel semalam.
Gibran akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya membiarkan Siska jatuh meringkuk ke lantai sambil menangis kesakitan.
"Tidak masalah Kapten, kalian datang tepat saat sampah-sampah ini mulai mengganggu sarapanku."
"Patahkan kedua kaki polisi-polisi palsu ini dan seret mereka semua keluar dari hotelku sekarang juga," perintah Gibran sambil duduk kembali di kursinya dengan sangat elegan.
Para polisi bayaran Bratasena itu langsung pucat pasi melihat moncong senjata laras panjang yang diarahkan tepat ke kepala mereka.
Mereka menyadari bahwa target yang mereka jebak bukanlah pemuda biasa, melainkan penguasa baru yang memiliki pasukan militer pribadinya sendiri.