Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 027: Demam Merah Bayangan
Alaric menatap Seraphina dengan pandangan penuh kasih sayang. “Bagaimana? Apa semuanya sudah selesai?” tanyanya lembut namun penuh harap.
“Semuanya sudah selesai, Ayah. Kaum Srigala kini aman,” jawab Seraphina mantap.
Alaric tersenyum lega, lalu menepuk pundak Seraphina dengan bangga. “Baguslah… Kamu memang putri Ayah yang hebat.”
Sementara itu, tenaga Elara habis seiring hancurnya inti kehidupan Morgarth. Tubuhnya melemah, seolah seluruh kekuatannya tersedot pergi. "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa bisa begini?" batinnya, bingung sekaligus marah yang tak mampu diluapkan.
Ia berjalan terus menembus hutan malam, melangkah tanpa arah hingga sebuah goa gelap muncul di hadapannya. "Goa… sebaiknya aku beristirahat di sana untuk memulihkan tenagaku," gumam Elara pelan, lalu masuk dan menghilang di balik bayang dinding batu.
Di Klan De Luna, Seraphina dan Alaric duduk berhadapan. Cahaya obor menyinari wajah mereka yang tampak tenang namun sarat pemikiran.
“Kamu berhasil menghancurkan inti kehidupan Morgarth?” tanya Alaric memastikan.
“Iya, Ayah. Aku berhasil menghancurkannya. Seluruh kawanan Srigala aman dari Elara dan Morgarth untuk sementara,” ucap Seraphina tegas, meski matanya menyiratkan kekhawatiran, ia tahu kejahatan tak berakhir begitu saja.
“Terus, apa rencanamu selanjutnya?”
"Besok pagi aku akan menemui Nazar untuk memastikan keadaan di sana, lalu kembali ke Kerajaan Bulan Perak."
Alaric mengangguk pelan, penuh bangga dan haru. Ia tahu, putri angkatnya tak hanya memegang kekuasaan, tapi juga melindungi kaum Srigala dan kelak akan menjadi Ratu Kerajaan Bulan Perak yang paling dihormati.
Sebulan berlalu. Kerajaan Bulan Perak yang biasanya damai bercahaya tiba-tiba gelisah wabah misterius muncul tanpa peringatan, menyerang rakyat di seluruh penjuru kerajaan.
“Lapor, Ratu! Rakyat mulai terserang penyakit aneh!” pengawal itu melapor terengah-engah. “Tubuh mereka menggigil hebat, muncul bercak merah yang menyebar ke sekujur tubuh!”
Ratu Lira berdiri tegak, wajahnya tenang meski hati berat. “Mari kita lihat keadaan rakyat. Kita harus tahu apa yang terjadi.”
Di pedesaan, rakyat mengerang kesakitan. “Panas sekali… tubuhku terbakar sekaligus beku!” “Gatal dan perih… penyakit apa ini?” Rasa sakit yang luar biasa membuat mereka lemah tak berdaya.
Lira mengenakan penutup wajah, berjalan di antara rakyatnya. “Ratu, jangan terlalu dekat! Penyakit ini menular!” peringat pengawal dengan cemas.
“Tidak apa-apa. Aku harus tahu penderitaan mereka,” jawab Lira lembut namun tegas. Ia berjongkok menyentuh lengan rakyat yang terbaring lemah. Bercak merah itu panas dan menyebar cepat. “Ini… Demam Merah Bayangan, kutukan sihir hitam, bukan penyakit biasa,” gumamnya terbelalak kaget.
Sari yang berdiri di sampingnya langsung paham. “Besok pagi, datanglah ke istana mengambil obat. Kami akan bantu kalian,” ucapnya lembut dan menenangkan.
“Ayo kita kembali ke istana. Aku akan meracik obat penawar untuk Demam Merah Bayangan ini secepat mungkin,” kata Lira.
“Baik, Ratu.”
Mereka bergegas kembali ke istana, namun tak ada yang menyadari di balik bayang-bayang pohon tua, seorang wanita tersenyum puas melihat kekacauan yang terjadi. Matanya bersinar merah gelap, seolah menikmati setiap derita yang menimpa rakyat Kerajaan Bulan Perak.
Di goa yang jauh, Nazar tiba-tiba membuka matanya lebar. Ia merasakan kegelapan berat menyelimuti Kerajaan Bulan Perak. "Sihir hitam… bangkit kembali. Kali ini menyebar bagai wabah," gumamnya pelan, lalu berdiri bersiap memberi tahu Seraphina. Ancaman belum usai ia baru saja dimulai.