Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku yang Memilih Tuannya
Perpustakaan tua itu masih terlihat sama seperti yang kuingat.
Bangunannya berdiri tenang di antara deretan toko dan bangunan tua Paris, seolah-olah waktu telah melupakannya. Papan nama di atas pintu tampak sedikit kusam, sementara kaca jendelanya memantulkan cahaya sore yang pucat.
Aku berdiri di depan pintu beberapa saat.
Entah mengapa, sejak tadi pagi aku merasa sedikit gelisah.
Buku tua itu berada di dalam tasku.
Aku dapat merasakan beratnya di sana.
Padahal beratnya tidak seberapa.
Namun setiap kali memikirkan buku itu, dadaku terasa aneh.
Leo berdiri di sampingku, “Kamu yakin ingin masuk?”
Aku mengangguk, “Ya.”
Aku membuka pintu.
Bunyi lonceng kecil terdengar.
Ting.
Aroma kertas tua dan kayu langsung menyambut kami.
Sama seperti kunjunganku sebelumnya.
Rak-rak tinggi memenuhi hampir seluruh ruangan. Buku-buku tersusun hingga mendekati langit-langit. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan garis-garis keemasan di antara debu yang melayang di udara.
Aneh.
Aku sudah pernah datang ke tempat ini.
Namun hari ini suasananya terasa berbeda.
Seolah-olah perpustakaan itu sedang menungguku.
“Langsung ke kasir?” tanya Leo.
Aku mengangguk, “Ya. Pemiliknya pasti masih ingat aku.”
Kami berjalan melewati beberapa rak.
Dan benar saja.
Pria tua itu masih duduk di balik meja kasir.
Rambutnya yang telah memutih disisir rapi ke belakang. Kacamata bundar bertengger di ujung hidungnya, sementara sebuah buku tebal terbuka di hadapannya.
Begitu melihatku, ia tersenyum.
“Ah.”
Ia menutup bukunya, “Kamu kembali.”
Aku membalas senyumannya dengan sedikit gugup.
“Selamat sore, Pak.”
“Selamat sore.”
Tatapannya berpindah kepada Leo.
“Dan kali ini kau membawa teman.”
“Pacar saya,” jawabku.
Leo tersenyum sopan, “Senang bertemu dengan Anda.”
Pria tua itu mengangguk.
“Senang bertemu denganmu juga.”
Aku menarik napas. Kemudian membuka tas.
“Maaf, Pak. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
Aku mengeluarkan buku tua itu.
Begitu buku tersebut diletakkan di atas meja, ekspresi pria tua itu berubah.
Senyumnya menghilang.
Matanya langsung tertuju pada sampul buku.
Beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun.
Aku memperhatikannya.
“Dari mana Anda mendapatkan buku ini?”
Pria tua itu mengangkat pandangannya kepadaku.
“Aku ingat kamu.”
Ia menunjuk buku tersebut, “Kamu yang membelinya beberapa hari lalu.”
“Benar.” Aku mengangguk.
“Tapi saya ingin tahu... buku ini sebenarnya berasal dari mana?”
Pria tua itu tidak langsung menjawab.
Ia mengambil kacamata dan membersihkannya dengan kain kecil.
“Kenapa?”
Aku melirik Leo. Kemudian kembali menatap pria tua tersebut.
“Karena sesuatu yang aneh terjadi setelah saya membawanya pulang.”
“Anak muda,” kata pria itu kepada Leo, “aku sarankan kau duduk.”
Nada suaranya berubah serius.
Kami duduk di dua kursi yang tersedia di depan meja.
Aku mulai bercerita.
Aku menceritakan bahwa sejak membaca buku tersebut, aku mengalami mimpi-mimpi yang sangat nyata.
Tentang gedung opera Paris.
Tentang seorang gadis bernama Christine.
Tentang Meg.
Tentang Raoul.
Tentang seorang pria misterius yang mengenakan topeng.
Tentang Phantom.
Dan tentang Malaikat Musik.
Aku tidak menyembunyikan apa pun.
Semakin jauh ceritaku berjalan, semakin serius ekspresi Leo.
Pria tua itu bahkan beberapa kali mengernyitkan kening. Ketika aku selesai, ruangan menjadi sunyi.
Hanya suara jam tua di dinding yang terdengar.
Tik... tok...
Leo akhirnya berbicara.
“Jadi setiap kali dia tidur setelah membaca buku itu, dia kembali ke tempat yang sama?”
Aku mengangguk.
“Tidak selalu persis sama. Tapi semuanya berada dalam dunia yang sama.”
“Dan kau benar-benar yakin itu bukan sekadar mimpi biasa?” tanya pria tua itu.
Aku terdiam.
“Awalnya aku yakin itu hanya mimpi.”
Aku menundukkan kepala.
“Tapi sekarang... aku tidak tahu.”
Pria tua itu memandang buku di hadapannya.
“Apakah kau tahu dari mana buku ini berasal?”
Aku menggeleng, “Tidak.”
“Begitu juga aku.”
Aku mengangkat wajah, “Bukankah Anda yang menjualnya?”
“Ya.”
“Tapi Anda tidak tahu asalnya?”
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Perpustakaan tua seperti ini memiliki banyak cerita.”
Ia menyentuh sampul buku itu dengan ujung jarinya.
“Buku-buku datang dari berbagai tempat. Sebagian diwariskan oleh keluarga. Sebagian ditemukan di rumah-rumah tua. Sebagian lagi dibeli dari kolektor.”
“Lalu buku ini?”
“Yang ini berbeda.”
Leo menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Berbeda bagaimana?”
Pria tua itu menarik napas, “Karena aku tidak pernah benar-benar merasa sebagai pemiliknya.”
Aku dan Leo saling berpandangan.
“Maksud Anda?”
Pria tua itu menatap kami.
“Dalam beberapa kepercayaan kuno Eropa, ada legenda tentang benda-benda yang dianggap memiliki kehendak sendiri.”
“Benda-benda?”
“Buku, cincin, cermin, bahkan pedang.”
Ia berbicara perlahan.
“Orang-orang dahulu percaya bahwa benda yang telah berpindah tangan selama beberapa generasi dapat menyimpan sesuatu dari pemilik sebelumnya. Bukan berarti benda itu benar-benar memiliki jiwa, tentu saja. Sebagian menganggapnya sebagai takhayul. Namun ada legenda yang mengatakan bahwa benda-benda tertentu tidak dapat dimiliki begitu saja.”
Aku menatap buku tersebut.
“Maksudnya?”
“Benda itu memilih.”
Leo tertawa kecil, meski jelas terdengar tidak yakin, “Memilih pemiliknya?”
Pria tua itu mengangguk.
“Begitulah legendanya.”
Ia kembali menyentuh sampul buku.
“Dalam beberapa cerita rakyat Eropa, ada gagasan tentang objets élus, benda yang dianggap memilih orang tertentu untuk membawanya. Pemiliknya bukan orang yang menemukan atau membeli benda tersebut. Pemiliknya adalah orang yang dipilih benda itu untuk melanjutkan kisahnya.”
Aku merasakan tengkukku meremang.
“Jadi menurut Anda... buku ini memilih saya?”
Pria tua itu tidak menjawab secara langsung.
“Ketika kau membelinya, apakah kau memilih buku ini?”
Aku mengingat kembali hari itu.
Aku memang tidak berniat membeli buku tersebut.
Aku bahkan tidak tahu mengapa mataku tertuju pada kotak kayu itu.
“Tidak.” Aku menggeleng.
“Aku melihat kotaknya secara kebetulan.”
“Dan kau membukanya?”
“Ya.”
“Lalu?”
“Aku tertarik.”
Pria tua itu tersenyum tipis, “Itulah yang aneh.”
Leo menyela, “Bisa saja hanya kebetulan.”
“Tentu.”
Pria tua itu mengangguk.
“Aku tidak mengatakan bahwa legenda itu benar.”
Ia menatap Leo.
“Namun kebetulan tetap menjadi kebetulan sampai jumlahnya terlalu banyak.”
Aku terdiam.
Pria tua itu melanjutkan.
“Buku itu sudah berada di rak ini selama bertahun-tahun. Banyak orang pernah melihatnya.”
“Kenapa saya yang membelinya?”
“Entahlah.”
“Kenapa saya mengalami mimpi seperti itu?”
“Entahlah.”
“Kenapa mimpi itu selalu berlanjut?”
Pria tua itu kembali menatapku, “Itulah yang harus kau cari tahu sendiri.”
Aku mengerutkan kening, “Bukankah Anda bisa membantu?”
“Jika aku tahu jawabannya, mungkin aku tidak akan menjualnya kepadamu.”
Leo tertawa pendek, “Aku suka jawaban itu.”
Aku memandangnya kesal.
“Leo.”
“Apa?”
“Ini serius.”
“Aku tahu.”
Senyumnya menghilang.
Ia kemudian menatap pria tua tersebut.
“Menurut Anda, apa yang harus dia lakukan?”
Pria tua itu diam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Ada baiknya jika kamu menyelesaikan sesuatu yang sudah kamu mulai.”
Aku terdiam, “Menyelesaikan?”
“Ya.” Ia menunjuk buku itu.
“Kau sudah membuka pintunya.”
Aku menelan ludah.
“Pintu?”
“Anggap saja itu perumpamaan.”
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Tapi pasti ada benang merah yang membuatmu mengalami semua ini.”
Ia berhenti sejenak.
“Tidak mungkin kau membeli buku itu secara kebetulan, kemudian bermimpi tentang kisah yang sama berkali-kali tanpa alasan apa pun.”
Aku menatap buku itu.
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Baca.”
Aku langsung mengerutkan kening, “Hanya itu?”
“Baca sampai selesai.”
“Bagaimana jika aku kembali bermimpi?”
Pria tua itu tersenyum.
“Kalau memang buku itu yang membawamu ke sana, mungkin justru di sanalah jawaban yang kau cari.”
Aku terdiam cukup lama.
Aku tidak menyukai gagasan itu.
Sama sekali tidak.
Karena jika aku kembali membaca buku tersebut, ada kemungkinan aku kembali bertemu Phantom.
Kembali ke gedung opera.
Kembali menjadi Christine.
Namun di sisi lain...
Aku ingin tahu.
Aku ingin tahu mengapa semua ini terjadi.
Mengapa aku?
Mengapa buku itu?
Dan siapa sebenarnya pria bertopeng yang terus muncul dalam mimpiku?
Aku berdiri, “Terima kasih sudah menjelaskan semuanya.”
Pria tua itu mengangguk, “Jaga dirimu.”
Aku mengambil buku tersebut.
Leo berdiri di sampingku.
Sebelum pergi, aku menoleh sekali lagi.
“Pak?”
“Hm?”
“Kalau buku ini benar-benar memilih pemiliknya... apakah saya bisa mengembalikannya?”
Pria tua itu tersenyum.
Kali ini senyumnya terasa sangat aneh.
“Kau bisa mencoba.”
Aku membeku.
“Tapi?”
“Benda yang memilih untuk pergi bersamamu tidak selalu ingin kembali.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menggenggam buku itu lebih erat.
...----------------...
Malam telah turun ketika aku dan Leo selesai makan malam.
Kami memilih sebuah restoran kecil yang cukup tenang.
Aku tidak banyak berbicara.
Pikiranku masih dipenuhi percakapan dengan pemilik perpustakaan.
Leo tampaknya menyadarinya.
Ia meletakkan garpunya.
“Kamu masih memikirkan buku itu?”
Aku mengangguk.
“Sedikit.”
“Kenapa kamu tidak cerita sejak kemarin?”
Aku menatapnya, “Aku sudah cerita.”
“Tidak semuanya.”
Aku terdiam.
Leo tidak terdengar marah.
Ia hanya ingin mengerti.
“Aku pikir itu hanya mimpi,” kataku akhirnya.
“Jadi kamu memilih diam?”
“Aku takut kalau aku cerita, kamu akan menganggapku aneh.”
Leo tersenyum tipis, “Sofia.”
“Hm?”
“Aku sudah mengenalmu sejak kuliah.”
“Aku tahu.”
“Aku pernah melihatmu menangis karena tugas akhir.”
Aku tertawa kecil, “Jangan ingatkan.”
“Aku pernah melihatmu panik karena kehilangan kartu mahasiswa.”
“Itu memalukan.”
“Dan sekarang kamu takut aku menganggapmu aneh hanya karena mimpi?”
Aku tidak dapat menahan senyum.
Leo melanjutkan, “Kalau memang itu membuatmu takut, seharusnya kamu cerita.”
Aku menundukkan kepala, “Aku pikir hanya mimpi.”
“Lalu?”
Aku menarik napas, “Ternyata mimpinya berlanjut setiap kali aku tidur.”
Leo terdiam.
“Dan selalu tentang tempat yang sama.”
Aku mengangguk, “Ya.”
“Sekarang kamu ingin membaca buku itu lagi?”
Aku memandangnya, “Aku tidak tahu.”
“Kamu takut?”
“Sedikit.”
Leo meraih tanganku di atas meja.
“Kalau begitu jangan lakukan sendirian.”
Aku menatapnya.
“Kamu mau ikut?”
“Kalau bisa.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
...----------------...
Kami sampai di apartemen ketika malam sudah semakin larut.
Leo mengantarku sampai ke depan pintu.
Ia melihat wajahku yang terlihat lelah.
“Mau aku temani?”
Aku menggeleng, “Kamu juga harus beristirahat.”
“Kamu yakin?”
“Ya.”
Aku tersenyum, “Kamu bisa menginap kalau weekend.”
Leo mengangguk, “Baiklah.”
Ia mencium keningku, “Tidur yang nyenyak.”
“Kamu juga.”
Setelah Leo pergi, aku menutup pintu. Apartemen kembali sunyi. Aku berjalan menuju kamar.
Sebelum itu, aku mengeluarkan buku tua dari tasku.
Aku meletakkannya di meja kerja. Aku menatapnya beberapa detik.
Buku itu tertutup.
Aku memastikan tidak ada halaman yang terbuka.
“Tidak malam ini.”
Aku menguap, “Besok saja.”
Aku terlalu lelah untuk membaca.
Aku segera mandi.
Kemudian mengganti pakaian dan berbaring di tempat tidur.
Aku menarik selimut hingga ke dada.
Malam ini aku tidak ingin bermimpi.
Tidak ingin kembali ke gedung opera.
Tidak ingin bertemu Phantom.
Tidak ingin mendengar suara Malaikat Musik.
Aku bahkan tidak ingin memikirkan Christine.
Mungkin jika aku tidak membuka buku itu...
Aku tidak akan bermimpi.
Sederhana.
Aku memejamkan mata.
Namun beberapa menit sebelum kesadaranku benar-benar menghilang, sebuah pikiran melintas.
Bagaimana jika buku itu tidak membutuhkanmu untuk membukanya?
Aku membuka mata.
Aku menatap langit-langit kamar.
Kemudian menggeleng, “Tidak.”
Aku membalikkan tubuh, “Aku tidak mau memikirkannya.”
Aku memejamkan mata kembali.
Di meja kerjaki, buku tua itu terbaring di atas meja kerja.
Diam. Tertutup.
Dan diam-diam, Sofia mulai memahami sesuatu yang menakutkan.
Mungkin selama ini bukan dirinya yang membaca buku itu.
Mungkin...
buku itulah yang sedang membaca dirinya.