Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
BAB 16: Darah di Atas Peta
[Sudut Pandang: SURA]
Aula Takhta Kerajaan Ostand bukanlah tempat untuk debat. Itu adalah tempat untuk eksekusi.
Lantainya terbuat dari marmer hitam yang dipoles begitu mengkilap hingga kau bisa melihat bayangan ketakutanmu sendiri di sana. Di ujung ruangan, di atas singgasana yang terbuat dari leburan pedang musuh, duduklah Raja Regulus IV.
Raja itu tua, gemuk, dan terlihat bosan. Dia menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memainkan cincin permata raksasa. Di matanya, acara debat ini hanyalah hiburan sore untuk mengusir kantuk sebelum makan malam.
Di sisi kiri podium (Tim Oposisi - Perang), Jenderal Hanzor berdiri seperti tebing batu granit. Dia tidak memakai seragam debat. Dia memakai zirah tempur lengkap. Setiap kali dia bergerak, medali-medali di dadanya berdenting—bunyi kemenangan yang mengerikan. Di sebelahnya, Lysander berdiri tenang dengan senyum sopan yang menyebalkan.
Di sisi kanan (Tim Proposisi - Diplomasi), Sura dan Kian berdiri. Mereka terlihat kecil. Sangat kecil.
"Masa Depan Ostand," suara Raja menggema, malas namun berat. "Yakinkan aku. Apakah aku harus mengirim duta besar... atau mengirim algojo?"
Gong berbunyi.
Lysander mempersilakan Hanzor maju. "Silakan, Jenderal."
Jenderal Hanzor tidak berjalan ke podium. Dia berjalan langsung ke tengah aula, menghadap Raja. Dia mengabaikan mik pemeras suara sihir. Suara aslinya sudah cukup menggetarkan kaca jendela.
"Yang Mulia," Hanzor memulai. "Anak-anak ini..." dia menunjuk Kian dan Sura dengan jempolnya, "...akan bicara soal perdamaian. Soal perdagangan. Soal 'hidup berdampingan'."
Hanzor tertawa. Suaranya kasar seperti gesekan besi berkarat.
"Tapi dunia tidak dibangun di atas kertas perjanjian, Yang Mulia. Dunia dibangun di atas mayat musuh-musuh kita."
Hanzor mencabut belati dari pinggangnya. Penawal kerajaan tersentak, tapi Raja mengangkat tangan, membiarkan.
Hanzor berjalan ke sebuah peta besar Ostand yang dipajang di easel.
SREET!
Dia menancapkan belati itu tepat di perbatasan Utara—wilayah sengketa dengan kekaisaran tetangga.
"Diplomasi adalah meminta izin untuk mengambil apa yang menjadi hak kita," geram Hanzor. "Perang adalah mengambilnya tanpa bertanya."
Hanzor berbalik menatap Kian dan Sura. Tatapannya membunuh.
"Kalian bicara soal masa depan? Lihatlah Utara. Tambang besi di sana menghasilkan 40% pendapatan negara. Siapa yang mengamankannya? Duta besar dengan senyum manis? Tidak. Pasukanku. Darah prajuritku. Tanpa perang, Ostand akan menjadi negara pengemis."
Hanzor kembali menghadap Raja, menunduk hormat.
"Kedamaian adalah mimpi para domba, Yang Mulia. Tapi Ostand adalah Serigala. Dan Serigala harus berburu."
Hanzor mundur.
Aula hening. Para menteri dan bangsawan yang menonton mengangguk-angguk setuju. Pesona maskulinitas dan kekuatan militer Hanzor sangat memabukkan. Argumennya sederhana: Kuat itu Benar.
Kian maju ke podium. Wajahnya tegang. Dia membawa tumpukan catatan statistik ekonomi.
"Yang Mulia," suara Kian sedikit bergetar, lalu menguat. "Jenderal Hanzor benar soal tambang besi. Tapi... perang itu mahal. Data menunjukkan bahwa biaya invasi Utara menghabiskan 60% kas negara dalam tiga tahun terakhir. Jika kita menggunakan diplomasi dagang..."
"Biaya?" potong Hanzor dari tempatnya berdiri. "Kau menghitung nyawa patriot dengan koin emas, Bocah?"
"Saya menghitung efisiensi!" balas Kian berani. "Invasi militer menyusutkan tenaga kerja produktif. Ribuan pemuda mati di medan perang artinya ribuan ladang tidak digarap, ribuan pajak tidak dibayarkan!"
"Mereka mati sebagai pahlawan!" bentak Hanzor. Suaranya menggelegar. "Sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh anak haram yang bersembunyi di balik tembok akademi!"
Serangan pribadi lagi. Kian tersentak mundur. Argumen logisnya tentang ekonomi hancur di hadapan retorika "Kepahlawanan" yang emosional. Penonton mencemooh Kian. Raja terlihat mulai menguap lagi.
Sura melihat Kian terpojok. Dia tahu mereka tidak bisa menang dengan moral atau logika biasa. Hanzor adalah simbol kekuatan. Melawan simbol kekuatan dengan data statistik itu percuma.
Mereka harus menyerang dompet Raja.
Sura maju, menepuk bahu Kian pelan. "Biar aku yang bicara pada serigala tua ini."
Sura melangkah ke depan podium. Dia tidak membawa catatan. Dia hanya membawa satu koin emas di tangannya.
"Jenderal Hanzor," panggil Sura santai. "Pidato yang sangat menggugah. Sangat jantan. Sangat... berdarah."
Sura melempar koin emas itu ke udara, menangkapnya, melemparnya lagi. Tring. Tring. Bunyi itu menarik perhatian Raja.
"Anda bilang Ostand adalah Serigala," kata Sura. "Saya setuju. Tapi Jenderal... tahukah Anda apa yang terjadi pada serigala yang terlalu banyak berburu?"
Hanzor mendengus. "Dia menjadi raja hutan."
"Salah," jawab Sura tajam. "Dia mati kelaparan karena mangsanya habis."
Sura berjalan mendekati peta yang tadi ditusuk Hanzor. Dia mencabut belati Hanzor dengan kasar. Trak.
"Anda menaklukkan Utara," kata Sura, menunjuk lubang bekas tusukan di peta. "Benar. Kita dapat tambang besi. Tapi penduduk Utara memberontak setiap bulan. Kita harus mengirim garnisun, membangun benteng, membayar gaji prajurit, membayar santunan janda..."
Sura berbalik menghadap Raja. Dia menatap mata Raja Regulus yang bosan.
"Yang Mulia," kata Sura. "Jenderal Hanzor menawarkan Anda kejayaan. Tapi saya menawarkan Anda sesuatu yang lebih nyata: Keuntungan."
Mata Raja terbuka sedikit lebih lebar.
"Perang adalah bisnis yang buruk," lanjut Sura, suaranya berubah menjadi nada pedagang pasar yang licik. "Anda membakar desa musuh? Selamat, Anda baru saja membakar calon pembayar pajak Anda. Anda membunuh penduduknya? Selamat, Anda baru saja membunuh calon konsumen barang dagangan Ostand."
Sura berjalan mendekati Hanzor. Dia mendongak, menatap mata sang Jenderal tanpa rasa takut.
"Diplomasi bukan tentang menjadi lemah, Jenderal. Diplomasi adalah cara menjadikan musuh bekerja untuk kita tanpa kita harus mengotori tangan."
Sura menunjuk Lysander.
"Tuan Lysander di sana pasti setuju. Mengapa harus membunuh sapi kalau kita bisa memerah susunya setiap hari?"
Lysander tersenyum tipis. Dia tidak bisa membantah itu tanpa terlihat bodoh.
"Jenderal Hanzor ingin Ostand ditakuti," Sura kembali ke tengah, merentangkan tangannya. "Saya dan Kian ingin Ostand menjadi Kaya. Karena di akhir hari, Yang Mulia... pedang bisa tumpul, zirah bisa karatan, tapi Emas..."
Sura mengangkat koin emasnya tinggi-tinggi.
"...Emas tidak pernah kehilangan kilauannya."
Keheningan melanda aula. Kali ini bukan keheningan karena takut, tapi karena berpikir. Para menteri keuangan berbisik-bisik. Raja menegakkan duduknya. Sura baru saja mengubah debat "Ideologi" menjadi debat "Bisnis". Dan para bangsawan Ostand sangat menyukai uang.
Lysander melihat perubahan atmosfer itu. Dia sadar Hanzor sudah kalah dalam argumen ekonomi. Dia harus masuk.
Lysander melangkah maju, tepuk tangan pelan.
"Brilian, Nona Valerine," kata Lysander halus. "Sungguh sudut pandang yang sangat... materialistis. Khas rakyat jelata."
Lysander berdiri di samping Hanzor.
"Tapi Nona melupakan satu hal. Uang butuh perlindungan. Tanpa tentara Jenderal Hanzor, tumpukan emas yang Nona janjikan itu hanya akan dijarah oleh negara tetangga dalam semalam."
Lysander menatap Raja.
"Diplomasi tanpa kekuatan militer hanyalah musik pengantar tidur sebelum kita disembelih. Pertanyaannya bukan 'Perang atau Diplomasi'. Pertanyaannya adalah: Siapa yang memegang kendali? Apakah Pedang yang memerintah Emas, atau Emas yang memerintah Pedang?"
Lysander tersenyum pada Kian.
"Adikku Kian ingin memberikan kendali pada pedagang. Saya dan Jenderal Hanzor ingin memastikan bahwa kendali tetap berada di tangan Raja."
Skakmat. Lysander memutar balik argumen Sura. Dia menuduh Sura & Kian hendak melemahkan kekuasaan Raja demi pedagang.
Raja Regulus mengerutkan kening. Wajahnya menjadi gelap. Dia tidak suka ide kekuasaannya digeser ke pedagang.
"Cukup," suara Raja menggelegar.
Debat dihentikan.
Raja berdiri. Dia menatap kedua tim.
"Kalian berdua punya poin," kata Raja. "Hanzor menjanjikan keamanan. Gadis kecil ini menjanjikan kekayaan."
Raja turun dari singgasana, berjalan perlahan. Langkah kakinya berat.
"Tapi aku bosan dengan kata-kata," kata Raja. Dia berhenti di depan Kian. "Kau, anak Arselio yang terbuang. Kau bicara soal 'Hibrida' dan 'Cara Baru'."
Kian membungkuk dalam. "Benar, Yang Mulia."
"Dan kau, Lysander," Raja menoleh. "Kau bicara soal tradisi dan kekuatan mutlak."
Raja kembali ke singgasananya. Dia mengambil sebuah piala emas.
"Aku tidak bisa memutuskan pemenang hanya dari omong kosong ini. Aku butuh bukti."
Raja melempar piala itu ke lantai. Klang!
"Ada satu masalah kecil di perbatasan Selatan. Kota Pelabuhan Mistry. Kota itu menolak membayar pajak selama tiga bulan terakhir karena hasutan seorang pemimpin pemberontak."
Raja menatap tajam ke arah kedua tim.
"Ini tugas kalian. Aku kirim kalian berdua ke Mistry. Lysander, kau bawa satu peleton pasukan Hanzor. Kian, kau bawa... tim diplomatmu yang menyedihkan itu."
Sura dan Kian saling pandang.
"Siapa pun yang bisa membuat Kota Mistry kembali membayar pajak dalam waktu satu minggu..." Raja menyeringai kejam, "...Dialah pemenang Turnamen ini. Dan dia akan kuangkat menjadi Penasihat Kerajaan."
"Bagaimana jika gagal?" tanya Hanzor.
"Jika gagal," Raja mengibaskan tangan, seolah mengusir lalat, "Kepala kalian akan dipajang di gerbang kota Mistry sebagai peringatan."
Sura menelan ludah. Taruhannya baru saja naik dari 'Piala Debat' menjadi 'Nyawa'.
"Kami terima tantangannya, Yang Mulia," jawab Lysander percaya diri.
Kian menatap Sura. Sura mengangguk pelan. Mereka tidak punya pilihan.
"Kami terima," jawab Kian.
Raja tertawa. "Bagus! Sekarang pergi dari hadapanku. Aku mau makan malam."
Di luar istana, Lysander mendekati mereka.
"Nikmati perjalanan ke Selatan," bisik Lysander. "Saran saya: siapkan peti mati ukuran kecil. Karena saat pasukanku selesai dengan kota itu, tidak akan ada yang tersisa untuk kalian negosiasikan."
Lysander pergi, diikuti Hanzor yang menyenggol bahu Kian dengan keras.
Kian memegangi bahunya yang sakit. Dia menatap Sura.
"Kita harus menyelesaikan pemberontakan kota tanpa tentara," kata Kian putus asa. "Melawan Lysander yang membawa pasukan elit. Bagaimana caranya?"
Sura menatap matahari terbenam. Otaknya yang licik mulai bekerja.
"Kita tidak butuh tentara, Kian," kata Sura, matanya berkilat berbahaya. "Raja bilang tujuannya adalah 'membuat mereka membayar pajak', kan? Raja tidak bilang caranya harus jujur."
Sura mengeluarkan Buku Hitam Horgath dari balik bajunya.
"Kita punya Ren si Pemalsu. Kita punya Lila si Logistik. Dan kita punya mulutku."
Sura menyeringai.
"Ayo kita pergi ke Mistry dan melakukan penipuan terbesar dalam sejarah kerajaan."