NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Ikatan yang Menguat

Malam itu, setelah kejadian di Guild, mereka bertiga makan malam bersama di ruang makan penginapan yang hangat, jauh lebih tenang dibanding suasana yang mereka alami siang tadi. Elaina, yang sepertinya menyadari sesuatu telah terjadi meski tidak sepenuhnya memahami detailnya, menghabiskan sebagian besar waktu makan bercerita panjang lebar tentang harinya bersama keluarga penitipnya—tentang seekor anak kucing baru yang lahir di rumah itu, tentang permainan lompat tali yang baru ia pelajari, tentang seorang anak lelaki sebayanya yang terus-menerus berusaha membuatnya tertawa dengan wajah-wajah lucu.

"Namanya Tomas," Elaina bercerita sambil mengunyah kentang rebusnya, "dia lucu banget, Mama! Tapi giginya ompong satu, jadi kalau ngomong suka pakai 'th' bukan 's'!"

"Kedengarannya kau bersenang-senang," Saviera menjawab, tersenyum tulus mendengar celoteh anaknya, meski matanya sesekali melirik ke arah Sasuke, seolah masih memikirkan kejadian di Guild.

"Iya! Tapi Elaina kangen Papa sama Mama juga," Elaina menambahkan, sedikit merengut. "Kenapa Elaina nggak boleh ikut ke dungeon terus?"

"Dungeon berbahaya untuk anak sekecil kau," Sasuke menjelaskan lembut, mengusap kepalanya. "Tapi begitu kau sedikit lebih besar, kami akan mengajakmu ke dungeon-dungeon yang lebih aman. Janji."

Elaina, meski masih terlihat sedikit kurang puas dengan jawaban itu, mengangguk menerima, terlalu lelah untuk berdebat lebih jauh setelah harinya yang panjang. Tidak lama setelah makan malam selesai, matanya sudah mulai berat, dan begitu kepalanya menyentuh bantal, ia tertidur lebih cepat dari biasanya.

Sasuke dan Saviera duduk berdua di beranda kecil kamar mereka setelahnya, seperti yang sudah menjadi kebiasaan tak terucap di setiap kota yang mereka singgahi.

Saviera masih mengenakan jubah yang Sasuke berikan siang tadi, meski jubah aslinya sendiri sudah diperbaiki oleh penjahit kota. Ia tidak mengatakan kenapa ia belum juga menggantinya kembali, dan Sasuke tidak bertanya.

"Terima kasih untuk hari ini," Saviera berkata, memecah keheningan nyaman di antara mereka. "Bukan hanya soal insiden di Guild. Tapi juga soal dua minggu ini. Kau benar-benar mengajariku banyak hal."

"Kau yang bekerja keras," Sasuke menjawab jujur. "Aku hanya memberi sedikit arahan."

"Tetap saja," Saviera bersikeras, menatap ke arah bintang-bintang asing yang menghiasi langit Astral. "Aku tidak pernah membayangkan akan sekuat ini. Selama bertahun-tahun, aku hanya berfokus bertahan hidup dan melindungi Elaina. Aku tidak pernah benar-benar berpikir tentang berkembang, tentang menjadi lebih kuat untuk diriku sendiri."

"Kenapa begitu?" Sasuke bertanya, penasaran. "Kau punya kekuatan besar sejak awal. Kau bisa saja fokus mengembangkannya sendiri, bahkan sebelum bertemu denganku."

Saviera terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya. "Aku rasa... aku takut. Setiap kali aku menjadi terlalu kuat, terlalu menonjol, itulah saat orang-orang mulai memperhatikanku dengan cara yang salah. Orang tuaku, para bangsawan yang mengejarku—semua itu dimulai karena aku terlalu berbeda, terlalu berbakat untuk dibiarkan begitu saja. Jadi aku belajar untuk menyembunyikan diri, membatasi diriku sendiri, alih-alih benar-benar tumbuh."

"Itu masuk akal," Sasuke berkata pelan, memahami logika di balik trauma itu. "Tapi kau tidak perlu melakukannya lagi. Tidak bersamaku."

"Aku mulai menyadari itu," Saviera menjawab, senyum kecil namun tulus muncul di wajahnya. "Perlahan-lahan."

"Kau berhak untuk itu," Sasuke melanjutkan. "Kau bukan hanya seorang ibu, Saviera. Kau juga seseorang yang berhak punya mimpi dan kekuatan sendiri, terlepas dari Elaina."

Kata-kata itu menghantam sesuatu yang dalam di diri Saviera, matanya berkaca-kaca sejenak sebelum ia buru-buru mengedipkannya, mencoba menyembunyikan emosi yang tiba-tiba muncul.

"Tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku sebelumnya," ia berbisik, suaranya sedikit bergetar. "Bahkan orang tuaku sendiri hanya melihatku sebagai... alat. Sesuatu yang bisa dimanfaatkan."

Sasuke menatapnya, sesuatu yang hangat dan protektif menjalar di dadanya. "Mereka salah. Kau lebih dari itu."

"Kau tahu," Saviera berkata setelah hening sejenak, suaranya lebih ringan, mencoba mencairkan suasana yang mulai terlalu berat, "kau juga tidak buruk dalam memberi nasihat, untuk seseorang yang mengaku tidak pernah dekat dengan siapa pun sebelumnya."

Sasuke tersenyum kecil, sedikit tergelitik dengan godaan ringan itu. "Mungkin aku hanya belajar dari pengalamanmu. Kau cukup terbuka soal perasaanmu, sesuatu yang belum pernah kupelajari sebelumnya."

"Kalau begitu kita berdua sama-sama belajar," Saviera menjawab, tawa kecil lolos dari bibirnya, meredakan sisa ketegangan emosional yang sempat muncul.

---

Hening menyelimuti mereka sejenak, hanya suara jangkrik malam dan angin yang berembus lembut, membawa aroma bunga malam dari taman kecil penginapan di bawah mereka.

"Boleh aku tanya sesuatu?" Saviera akhirnya berkata, menoleh menatapnya.

"Tentu."

"Kenapa kau melakukan semua ini?" Saviera bertanya, suaranya penuh keingintahuan yang tulus. "Bukan hanya menyelamatkan kami dari dungeon itu. Tapi terus bersama kami, mengajariku, menjaga Elaina seolah dia anakmu sendiri. Kau punya misi sendiri yang jauh lebih besar—orang yang kau cari, dunia yang harus kau jelajahi. Kenapa membiarkan kami memperlambatmu?"

Sasuke terdiam cukup lama, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati—bukan karena ia tidak tahu jawabannya, melainkan karena ia baru menyadari betapa jujur ia ingin menjawabnya.

"Kalian tidak memperlambatku," ia akhirnya berkata. "Kalian memberiku alasan untuk melangkah maju setiap hari, bukan hanya menjalankan misi karena aku merasa berutang pada seseorang yang memberiku kekuatan ini."

Ia menghela napas, menatap ke arah bintang-bintang yang sama seperti Saviera. "Sebelum aku bertemu kalian, aku menjalani hari-hariku seperti... menjalankan program. Bangun, berjalan, mengumpulkan informasi, tidur, ulangi. Tidak ada yang benar-benar terasa nyata, meski aku tahu ini bukan mimpi."

"Dan sekarang?"

"Sekarang," Sasuke berkata, menoleh menatapnya langsung, "aku menghitung hari berdasarkan seberapa banyak Elaina tertawa, atau seberapa jauh kau berkembang, atau kapan kita akan menemukan kota berikutnya yang mungkin punya kedai dengan kue favorit Elaina. Itu terasa jauh lebih nyata daripada misi apa pun."

Saviera menatapnya lama, matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya. "Itu... jawaban yang sangat jujur."

"Aku tidak pandai berbohong," Sasuke menjawab, sedikit canggung dengan keterbukaannya sendiri. "Terutama pada orang-orang yang berarti bagiku."

"Apakah kau pernah menyesal?" Saviera bertanya pelan, ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Menyelamatkan kami, maksudku. Membiarkan misimu tertunda demi kami berdua."

"Tidak sekali pun," Sasuke menjawab tanpa ragu, begitu cepat hingga mengejutkan dirinya sendiri. "Kalau ada yang kusesali, itu adalah tidak menemukan kalian lebih cepat."

Saviera tertawa kecil, meski matanya masih berkaca-kaca. "Itu terdengar seperti rayuan, kau tahu."

"Aku tidak pandai merayu," Sasuke membalas, telinganya sedikit memerah. "Itu murni kejujuran."

"Itu yang membuatnya lebih efektif daripada rayuan sungguhan," Saviera menjawab, senyumnya melebar.

Angin malam berembus lembut, membawa aroma bunga dari taman di bawah mereka, menciptakan keheningan nyaman yang tidak perlu diisi kata-kata untuk beberapa saat.

---

Tangan Saviera bergerak perlahan, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menggenggam tangan kanan Sasuke yang tersisa, jemarinya menyatu dengan lembut.

"Aku juga," ia berkata pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan ini tanpa terdengar berlebihan, tapi... aku tidak pernah membayangkan hidupku akan terasa selengkap ini. Bukan hanya karena kau menyelamatkan kami. Tapi karena kau membuatku merasa aku boleh menjadi diriku sendiri, bukan hanya pelindung Elaina atau korban masa laluku."

Sasuke menatap tangan mereka yang bertautan, kehangatan sederhana itu terasa lebih berarti dari kekuatan apa pun yang pernah ia miliki.

"Aku senang," ia berkata pelan, "bisa memberikan itu padamu."

Mereka duduk dalam diam setelah itu, jemari masih bertautan, membiarkan momen itu berbicara dengan caranya sendiri di bawah langit Astral yang dipenuhi bintang-bintang asing dan dua bulan yang tergantung tenang di kejauhan.

"Sasuke," Saviera akhirnya berkata lagi, suaranya lebih pelan sekarang, hampir seperti berbisik. "Boleh aku bertanya satu hal lagi? Kau tidak perlu menjawab kalau tidak nyaman."

"Katakan saja."

"Orang yang kau cari," Saviera berkata hati-hati, "Eternity. Apakah kau masih berencana menemukannya? Bahkan sekarang, dengan... semua ini?" Ia menggerakkan tangannya sedikit, seolah menggambarkan kehidupan kecil yang mereka bangun bersama.

Sasuke terdiam cukup lama, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius. "Aku tidak tahu," ia akhirnya mengakui jujur. "Dulu, itu satu-satunya hal yang kupikirkan. Sekarang... aku masih merasa itu penting, masih merasa itu tanggung jawabku. Tapi caraku memandangnya berubah."

"Berubah bagaimana?"

"Dulu aku menjalankannya seperti kewajiban," Sasuke menjelaskan, memilih kata-katanya perlahan. "Sesuatu yang harus kuselesaikan secepat mungkin. Sekarang, aku lebih ingin memahami dulu, sebelum bertindak gegabah. Aku tidak terburu-buru lagi, karena aku punya alasan untuk berhati-hati—alasan untuk tetap hidup dan kembali, bukan hanya menyelesaikan misi apa pun risikonya."

Saviera meremas tangannya lebih erat, mengerti sepenuhnya apa yang tersirat di balik kata-kata itu. "Kami akan selalu ada, kapan pun kau siap menghadapinya. Kau tidak perlu melakukannya sendirian, ingat?"

"Aku ingat," Sasuke menjawab, senyum kecil namun tulus muncul di wajahnya. "Aku tidak akan melupakannya."

---

Dari dalam kamar, suara napas teratur Elaina yang tertidur pulas menjadi latar belakang yang tenang, seolah menegaskan bahwa apa pun yang terjadi di antara mereka berdua malam ini, keluarga kecil yang mereka bangun bersama akan tetap menjadi fondasi dari segalanya.

---

*Bersambung ke Bab 21: Panggilan dari Kejauhan*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!