Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Lantai marmer kamar kecil itu terasa begitu dingin, namun kehangatan dari air mata Alvan yang menetes membasahi punggung tangan Andira merambatkan getaran hebat yang melumpuhkan seluruh kesadaran wanita itu.
Andira mematung. Matanya membelalak tak percaya menatap sosok pria tegap yang selama sembilan bulan terakhir ini berdiri bagaikan tembok raksasa yang dingin dan tak tersentuh.
Alvan Samudra, pria yang kata-katanya adalah hukum di dinasti Samudra, pria yang mengurungnya, menghakimi dan memanggilnya pembunuh dengan tatapan penuh kebencian, kini berlutut pasrah di hadapannya.
"Pak Alvan... tolong, berdiri..." suara Andira bergetar hebat.
Ia mencoba menarik jemari tangannya dari genggaman Alvan, namun pria itu tidak melepaskannya. Alvan justru makin mempererat genggamannya di dada, seolah genggaman itu adalah satu-satunya penjamin bahwa jiwanya yang hancur tidak akan tenggelam dalam penyesalan.
"Jangan minta aku berdiri sebelum kamu mendengarkan seluruh kejahatanku, Andira," bisik Alvan dengan suara parau yang pecah di tenggorokan.
Pria itu mengadah. Mata tegas yang biasanya memancarkan kilat kepemimpinan itu kini memerah, basah oleh air mata dan penderitaan batin yang teramat pekat.
"Aku adalah pria bodoh yang tertutup amarah," lanjut Alvan, setiap kata yang diucapkannya sarat akan kepedihan mendalam. "Aku menerima dokumen transaksi palsu dari Elena tanpa memeriksa kebenarannya. Aku menutup mata dari kebaikanmu, dari kejujuranmu, hanya karena aku membutuhkan seseorang untuk disalahkan atas kematian Roy. Aku menjadikanmu pelampiasan dari rasa bersalahku sendiri..."
Andira menahan napasnya, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya yang pucat.
"Tadi malam," Alvan menelan ludah yang terasa pahit bagai empedu, "Bima mengonfirmasi bahwa dokumen transaksi keuangan rahasia dari Elena seratus persen rekayasa palsu. Dan baru saja, di dalam brankas pribadi Roy... aku menemukan buku harian fisiknya."
Alvan mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan buku harian bersampul kulit cokelat tua berinisial 'R' dan flashdisk titanium yang ditemukannya di tangan Andira.
"Roy menuliskan semuanya," suara Alvan makin bergetar, "Roy menulis bagaimana Elena memerasnya, mengancam akan menghancurkan keluarga Samudra, dan memalsukan dokumen untuk menyudutkanmu. Pada malam 14 November itu, Roy tidak pernah menjadwalkan pertemuan denganmu. Dia dijebak dalam pertemuan rahasia dengan 'E'... dengan Elena."
DEGGGG!
Andira menyatukan kedua tangannya di depan bibir. Isakan halus akhirnya lolos dari dadanya. Kata-kata yang diucapkannya selama berbulan-bulan, bahwa ia tidak bersalah, bahwa ia tidak pernah menyentuh Roy, kini akhirnya terbukti lewat tulisan tangan almarhum Roy sendiri.
Rasa sesak yang menindih dadanya selama sembilan bulan seolah melolos seketika, menggantikannya dengan gelombang haru dan kelegaan yang tak terukur.
"Roy... Roy menulis itu...?" panggil Andira dengan suara terputus-putus oleh tangis.
"Ya," Alvan menundukkan kepalanya lagi, menempelkan dahi dinginnya pada punggung tangan Andira yang berada dalam genggamannya. "Roy membelamu sampai detik terakhir hidupnya. Dan aku... aku justru menjadi monster yang menyiksa wanita yang dilindungi oleh adikku sendiri. Demi Tuhan, Andira... aku tidak pantas mendapatkan maafmu, tapi izinkan aku memohonnya... maafkan aku..."
Keheningan melingkupi kamar kecil itu selama beberapa saat, hanya diisi oleh suara isak tangis Andira dan helaan napas berat Alvan yang penuh penyesalan.
Andira menatap puncak kepala Alvan yang tertunduk di hadapannya. Kebencian yang seharusnya ada di dalam dadanya tidak menemukan tempat untuk tumbuh. Di dalam diri Andira, yang ada hanyalah pemahaman atas penderitaan seorang kakak yang kehilangan adiknya dan dimanipulasi secara kejam oleh iblis berwajah malaikat.
Dengan jemari tangan kirinya yang bebas, Andira secara perlahan menyentuh bahu tegap Alvan yang gemetar.
"Pak Alvan..." ujar Andira lembut, suaranya kini kembali tenang meski masih menyisakan kebasahan air mata. "Berdirilah. Tolong..."
Alvan perlahan mengangkat matanya, menatap Andira dengan tatapan bertanya yang rapuh.
"Saya sudah memaafkanmu," kata Andira tulus, mengulas senyuman tipis yang teramat bening di tengah pipinya yang basah. "Saya memaafkanmu bahkan sebelum Kau menemukan buku harian ini. Saya tahu rasa sakit yang Kau pikul karena kehilangan Roy... Kau hanya seorang kakak yang dibutakan oleh duka."
Alvan membeku. Pengampunan yang begitu tulus dan tanpa syarat dari wanita yang telah disiksanya bertubi-tubi menghantam dinding hatinya hingga runtuh total. Pria itu berdiri perlahan, matanya tak pernah lepas dari Andira.
"Terima kasih..." bisik Alvan parau. Ia menyapu air mata di wajahnya dengan punggung tangan, lalu menatap Andira dengan ketegasan baru yang menyala di balik matanya. "Tapi memaafkanku saja tidak cukup, Andira. Aku harus membalas seluruh penderitaanmu dan membalas kematian Roy."
Andira mengangguk mantap. "Elena tidak boleh lolos dari apa yang sudah dia perbuat pada Roy dan keluarga ini."
"Elena percaya bahwa aku masih memusuhimu dan bahwa dokumen palsunya masih menjadi peganganku," kata Alvan, langkah kakinya mendekati jendela kamar. "Kita akan memanfaatkan itu. Kita akan berpura-pura bahwa hubungan kita tetap retak di depan publik, sementara secara rahasia... kita kumpulkan seluruh bukti dari flashdisk dan audit keuangan perusahaan cangkang milik Elena untuk menyeretnya ke penjara tanpa jalan keluar."
Sebuah aliansi rahasia lahir di antara mereka, bukan lagi atas dasar dendam dan perbudakan, melainkan atas dasar keadilan, kepercayaan, dan lindungan mutlak.
"Bereskan barang-barangmu di kamar tamu," tegas Alvan, suaranya kembali membawa wibawa kepemimpinan yang dingin, namun kali ini terpancar kehangatan yang tak tersembunyi di dalamnya.
Andira mengerutkan dahinya bingung. "Maksud Pak Alvan?"
"Mulai detik ini, kamu tidak akan pernah tidur di kamar tamu lagi, dan... kamar kecil ini biarkan menjadi saksi saat pertama kali kau menginjakkan kakimu dirumah ini," kata Alvan tanpa membantah. Pria itu meraih jemari Andira, menuntunnya keluar dari kamar belakang. "Kamu adalah istri sah Alvan Samudra. Mulai sekarang, kamu akan pindah ke kamar utama bersamaku."
"Tapi Pak... kalau Elena atau pelayan lain melihat..."
"Biarkan mereka melihat apa yang perlu mereka lihat," potong Alvan mantap seraya menatap Andira dalam-dalam. "Di kamar utama, aku bisa memastikannya secara langsung bahwa tidak ada penyusup yang menyakitimu lagi, tidak ada racun yang menyentuh makananmu, dan luka bakar serta demammu terawat dengan benar. Ini perintah, Andira."
Andira menatap genggaman tangan Alvan yang hangat pada jemarinya. Tidak ada lagi rasa takut atau trauma ketika berada di dekat pria ini. Dinamika di antara mereka telah bergeser secara radikal, sang algojo kini telah bertransformasi menjadi pelindung terdepan yang siap mempertaruhkan segalanya.
Alvan membawa sendiri tas kecil berisi pakaian Andira dan menempatkan wanita itu di kamar utama yang luas dan mewah. Pria itu menyelimuti Andira di sofa bersantai dekat jendela, memintanya beristirahat sementara ia memanggil Bima untuk meneliti seluruh berkas enkripsi di dalam flashdisk Roy.
~
Sore harinya, cahaya mentari merah jingga membias masuk menembus kaca kamar utama.
Alvan dan Andira duduk berhadapan di meja kerja kamar utama. Di atas meja, laptop khusus Alvan sedang menjalankan proses descryption data audit rahasia dari flashdisk Roy yang dipandu oleh Bima via panggilan terenkripsi.
"Pak Alvan," suara Bima terdengar dari speaker phone laptop, "di dalam flashdisk Roy, terdapat rekaman percakapan suara antara Roy dan Elena tiga hari sebelum pembunuhan, serta bukti pengalihan dana lima ratus miliar ke rekening penampungan atas nama ibu kandung Elena. Ini bukti mahkota yang bisa langsung memenjarakan Elena."
Matanya Alvan berkilat tajam. "Bagus. Siapkan tim hukum dan serahkan salinan ini pada kejaksaan secara rahasia. Kita akan melakukan penangkapan di rapat pemegang saham lusa..."
KRRRRINGGG! KRRRRINGGG!
Kalimat Alvan terputus seketika.
Ponsel pribadi Alvan yang tergeletak di samping laptop bergetar hebat. Di layarnya, nama Direktur RS Medika Samudra berkedip-kedip cepat.
Alvan mengerutkan dahi, merasakan firasat buruk yang mendadak menyengat tengkuknya. Pria itu menggeser ikon hijau dan menempelkan telepon ke telinganya.
"Ya, Dokter Sandi? Ada apa?" tanya Alvan tegas.
"Pak Alvan! Mohon maaf mengganggu Anda di sore hari !" suara Dokter Sandi di seberang telepon terdengar sangat panik, diiringi suara nyaring dari alat deteksi jantung (ECG monitor) yang berbunyi bip berulang-ulang tanpa henti di latar belakang. "Ibu Rosa... kondisi Ibu Rosa mendadak kritis kembali, Pak! Detak jantungnya merosot drastis dan terjadi pendarahan otak sekunder !"
Alvan seketika berdiri dari kursinya, dadanya bergemuruh keras. "Apa?! Bagaimana mungkin? Bukankah kondisi Ibu sudah stabil sejak minggu lalu?!"
"Kami sedang melakukan tindakan resusitasi darurat, Pak !" teriak Dokter Sandi di seberang telepon. "Tapi... menurut catatan penjaga ruang ICU, sekitar dua puluh menit yang lalu... Ibu Elena baru saja keluar dari ruang perawatan Ibu Rosa setelah membesuk beliau secara pribadi !"
DEGGGG!
Dunia di sekitar Alvan dan Andira seolah runtuh seketika.
Andira yang mendengar teriakan dari telepon ikut berdiri dengan wajah pucat pasi.
Elena. Wanita iblis itu telah menyadari bahwa posisinya terancam, dan kini ia mulai melancarkan serangan balasan yang paling kejam, mencoba menghabisi nyawa Ibu Rosa.
...----------------...
To Be Continue ....