Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Malam Hujan
Hujan menghantam gerbang tua keluarga Sim seperti ribuan batu kecil yang dilemparkan dari langit.
Kirana Li berlari menembusnya dengan gaun pengantin yang sudah tidak lagi putih. Kain panjang itu melekat di kulitnya, berat oleh air dan bercak merah yang merembes dari bagian bawah rok. Telapak kakinya telanjang. Setiap kali menginjak lantai batu di halaman Boyantara, rasa dingin menusuk sampai ke tulang, bercampur perih dari kerikil yang melukai kulit.
Namun ia tidak berhenti.
"Reuben!"
Suaranya pecah di tengah hujan.
Lampu rumah utama menyala satu per satu. Di balik jendela tinggi, bayangan para pelayan bergerak panik. Gerbang samping terbuka setengah, lalu seorang penjaga berlari keluar dengan payung hitam. Ia tertegun melihat pengantin perempuan yang berdiri di bawah hujan dengan wajah pucat dan rambut menempel di pipi.
"Nona Kirana?"
Kirana tidak menjawab. Napasnya pendek, dadanya naik turun seperti baru saja dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Ia terus menatap pintu utama.
"Panggil Reuben," ucapnya. Bibirnya bergetar. "Tolong panggil Reuben sekarang."
Penjaga itu ragu. Dari dalam rumah terdengar suara ribut, langkah tergesa, dan seseorang menyebut nama Alexander Sim dengan nada tertahan. Malam yang seharusnya menjadi malam pernikahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap daripada langit.
Pintu utama akhirnya terbuka.
Reuben Sim muncul dengan kemeja yang belum rapi, wajahnya pucat, matanya merah karena terkejut atau karena ketakutan. Di belakangnya beberapa anggota keluarga berdiri menjaga jarak. Tidak ada yang mendekat kepada Kirana.
"Kirana?" Reuben turun dua anak tangga. "Kamu dari mana? Apa yang terjadi?"
Kirana melangkah maju, tetapi lututnya hampir menyerah. Ia memegang pilar batu di sisi tangga agar tidak jatuh.
"Aku tidak membunuh Pak Alexander," katanya cepat. "Aku tidak melakukannya, Reuben. Aku bersumpah."
Wajah Reuben menegang.
Di balik bahunya, bisik-bisik langsung pecah. Nama Alexander Sim terdengar lagi. Kata meninggal. Kata darah. Kata batu. Semua bercampur dengan suara hujan sampai seperti vonis yang belum dijatuhkan.
Reuben menatap noda merah di gaun Kirana. Pandangannya turun ke tangan Kirana yang gemetar. Ada darah kering di sela jarinya, sebagian sudah luntur oleh air hujan.
"Kenapa ada darah di bajumu?"
Pertanyaan itu membuat Kirana seperti ditampar.
"Aku tidak tahu." Ia menggeleng cepat. "Aku bangun di dekat gudang belakang. Kepalaku sakit, semuanya berputar. Saat aku sadar, Pak Alexander sudah... sudah tergeletak. Aku panik. Aku lari mencari kamu."
"Kamu lari dari lokasi kejadian?"
Nada Reuben berubah. Tidak keras, tetapi cukup dingin untuk membuat Kirana berhenti bernapas sejenak.
"Aku mencari kamu," ulang Kirana. "Karena kamu satu-satunya orang yang akan percaya padaku."
Satu-satunya.
Kata itu jatuh di antara mereka, basah dan hancur.
Reuben menoleh ke belakang. Seorang paman keluarga Sim menatapnya tajam dari ambang pintu. Seorang perempuan tua menutup mulutnya dengan saputangan. Tidak ada yang berani menyebut Kirana sebagai calon pengantin keluarga malam itu. Mereka melihatnya seperti melihat noda yang harus segera disingkirkan sebelum merusak nama besar mereka.
Kirana menangkap perubahan itu. Jari-jarinya semakin kuat mencengkeram pilar.
"Reuben, dengarkan aku." Ia naik satu anak tangga. "Aku memang masuk ke rumah belakang karena Jessica bilang kamu menunggu di sana. Katanya kamu ingin bicara sebelum acara keluarga dimulai. Tapi setelah itu semuanya gelap. Aku tidak ingat siapa yang memukulku. Saat aku bangun, aku sudah di sana."
Reuben berkedip. "Jessica?"
Kirana mengangguk cepat. "Dia yang mengirim pesan. Cek ponselku. Cek pesan itu."
Tangan Reuben bergerak seolah ingin meraih ponselnya, tetapi ia berhenti ketika suara mesin mobil terdengar dari sisi halaman. Lampu depan sebuah sedan hitam menyala redup di balik tirai hujan, terparkir agak jauh dari pintu utama, dekat pohon kamboja tua.
Di kursi belakang mobil itu, Jessica Lim duduk dengan gaun pendamping pengantin berwarna champagne. Rambutnya masih rapi. Riasannya hanya sedikit luntur, cukup untuk membuatnya terlihat seperti korban yang baru menangis.
Kirana melihatnya.
Seluruh tubuhnya membeku.
Jessica juga melihat Kirana dari balik kaca jendela yang berembun. Untuk satu detik, wajahnya kosong, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan calon anggota keluarga karena pembunuhan.
Lalu sudut bibirnya naik sedikit.
Sangat sedikit.
Namun Kirana melihatnya.
"Jessica!" Kirana berbalik ke arah mobil itu. "Kamu yang suruh aku ke gudang belakang! Kamu bilang Reuben menunggu di sana!"
Pintu mobil terbuka.
Jessica keluar dengan payung kecil yang langsung miring diterpa angin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, matanya melebar seolah takut. Ketika ia berjalan mendekat, tumit sepatunya mengetuk lantai basah dengan ritme pelan dan terukur.
"Kirana, apa maksudmu?" Suara Jessica terdengar gemetar, tetapi tangannya tidak gemetar sama sekali. "Aku tidak pernah mengirim pesan apa pun."
"Bohong!"
Kirana merogoh kantong kecil di sisi gaunnya. Jari-jarinya licin oleh hujan. Ponselnya tidak ada.
Ia meraba lagi. Tidak ada.
Wajahnya semakin pucat.
Jessica berhenti di samping Reuben, tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk terlihat seperti pihak yang lebih pantas dipercaya. "Reuben, aku tadi bersama tante-tante di ruang tengah. Banyak yang melihat. Aku bahkan baru keluar setelah dengar suara ribut."
"Kamu bohong," bisik Kirana.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" Jessica menatapnya dengan mata basah. "Pak Alexander selalu baik padaku. Aku tidak punya alasan menyakitinya."
Kirana ingin menjawab, tetapi tenggorokannya seperti tersumbat. Ia tahu ada sesuatu yang salah. Ada lubang besar di ingatannya. Ada pesan yang hilang, ponsel yang hilang, darah di bajunya, dan wajah Jessica yang terlalu tenang di balik kaca mobil.
Namun semua orang hanya melihat darah di tubuhnya.
Mereka hanya melihat pengantin perempuan yang datang dari arah tempat Alexander Sim ditemukan sekarat.
Reuben melangkah turun satu anak tangga lagi. Payung penjaga bergerak mengikuti kepalanya, tetapi ia menepisnya. Hujan membasahi rambutnya.
"Kirana," katanya pelan. "Kalau kamu tidak bersalah, kenapa kamu tidak langsung panggil orang? Kenapa datang ke sini dalam keadaan seperti ini?"
Kirana menatapnya tidak percaya.
"Karena aku takut," jawabnya. "Karena orang yang tergeletak di lantai itu adalah pamanmu. Karena aku tahu kalau orang lain melihatku lebih dulu, mereka akan mengira aku pelakunya. Aku datang kepadamu karena aku percaya kamu."
Reuben tidak menjawab.
"Kamu bilang setelah menikah nanti, apa pun yang terjadi kita hadapi bersama." Air mata Kirana bercampur dengan hujan. "Kamu bilang kamu percaya padaku lebih dari siapa pun."
Rahang Reuben mengeras.
Di belakangnya, seorang keluarga Sim berkata dengan suara rendah, "Jangan gegabah, Reuben. Ini menyangkut nyawa Pak Alexander."
Kalimat itu seperti tali yang ditarik ke leher Reuben.
Kirana melihat matanya berubah. Bukan lagi mata lelaki yang beberapa jam lalu hampir menjadi suaminya. Ada hitungan di sana. Ada rasa takut terhadap keluarga, nama besar, polisi, dan masa depan.
Ia mundur setengah langkah.
Kirana melihat gerakan kecil itu.
Dadanya terasa runtuh.
"Kamu mundur?" tanyanya hampir tanpa suara.
Reuben menelan ludah. "Aku cuma ingin semuanya jelas."
"Jelas?" Kirana tertawa pendek, tetapi tidak ada suara gembira di dalamnya. "Aku berdiri di depanmu seperti ini, meminta kamu percaya padaku, dan kamu bicara soal jelas?"
Jessica menunduk. Dari sudut wajahnya, Kirana melihat senyum itu lagi, cepat seperti kilat.
Kirana mendadak maju.
"Katakan yang sebenarnya!" Ia menunjuk Jessica. "Kamu tahu sesuatu. Kamu tahu apa yang terjadi malam ini!"
Jessica terperanjat mundur dan meraih lengan Reuben. "Reuben, aku takut."
Sentuhan itu kecil, tetapi cukup.
Reuben langsung berdiri di antara mereka.
"Kirana, jangan menyerang dia."
Kirana berhenti.
Hujan terasa semakin dingin.
"Menyerang dia?" Bibir Kirana bergetar. "Aku bahkan tidak bisa berdiri dengan benar."
Ia mengangkat kedua tangannya. Ada luka tipis di telapak kirinya. Cincin pertunangan di jarinya memantulkan cahaya lampu halaman, basah oleh air dan darah yang sudah pudar.
"Lihat aku, Reuben. Lihat aku baik-baik. Apa menurutmu aku bisa membunuh seseorang lalu datang ke sini untuk memohon seperti orang bodoh?"
Reuben menatap cincin itu.
Sesaat, matanya goyah.
Kirana melihat harapan kecil terbuka. Ia segera naik satu anak tangga lagi. "Tolong. Kita cari ponselku. Kita cek kamera. Kita tanya semua orang. Aku tidak takut diperiksa, asal kamu jangan meninggalkan aku."
Kata terakhirnya pecah.
Jangan meninggalkan aku.
Untuk pertama kalinya malam itu, Reuben seperti ingin meraih tangannya.
Namun dari kejauhan terdengar suara lain.
Sirene.
Awalnya tipis, tertutup hujan. Lalu semakin dekat. Lampu merah biru memantul di jalan basah di luar gerbang Boyantara.
Tubuh Kirana menegang. "Reuben..."
Jessica memegang lengan Reuben lebih kuat. "Polisi sudah datang. Kita harus hati-hati dengan apa yang kita katakan."
Kirana menoleh cepat. "Kita?"
Jessica segera menunduk lagi, seolah kalimat itu keluar karena panik.
Tetapi Reuben mendengarnya.
Dan justru karena mendengarnya, wajah Reuben berubah.
Kirana melihat semua yang tersisa dari malam pernikahan mereka mati di matanya. Kepanikan yang tadi membuatnya tampak manusiawi perlahan mengeras menjadi sesuatu yang dingin, rapi, dan jauh.
Ia melepas tangannya dari jangkauan Kirana.
"Kirana," ucap Reuben pelan, "sampai polisi selesai memeriksa, jangan bicara apa pun lagi."
Kirana seperti tidak mengenali suaranya.
"Kamu tidak percaya padaku."
Reuben menatap jalan, bukan wajahnya.
Mobil polisi berhenti di depan gerbang. Dua petugas turun dengan jas hujan gelap. Cahaya lampu mereka menyapu halaman, menyapu gaun pengantin Kirana yang basah kuyup, menyapu darah di ujung kain, lalu berhenti di wajahnya.
Jessica berdiri di belakang Reuben.
Ketika petugas pertama melangkah masuk, ia mengangkat tangan ke kaca mobil yang masih terbuka sedikit. Dua jarinya membentuk tanda kemenangan kecil, tersembunyi dari semua orang kecuali Kirana.
Kirana menatap tanda itu, lalu menatap Reuben.
Pria itu tetap diam.
Di tengah suara hujan dan sirene yang semakin dekat, ekspresi Reuben berubah dari panik menjadi dingin.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔