Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak
"Bos, itu dia mayatnya."
Suara seorang anak buah terdengar sambil menunjuk mayat yang tergeletak tak jauh dari mereka.
Sang bos melangkah ke arah mayat, tatapannya penuh ekspresi saat memandangi mayat itu.
Lyn tergeletak di tanah, darah terus mengalir dari kepalanya, membasahi tanah di sekitarnya.
"Periksa dia," pinta sang bos.
Para anak buah mulai memeriksa mayat Lyn dengan menggunakan sarung tangan dengan hati-hati.
"Bos Rama, dia... dia masih hidup!" ucap salah satu anak buah, terkejut.
Rama membelalakan matanya, ia berjongkok lalu menatap Lyn dengan selidik.
"Apa para bocah itu tidak periksa dulu, dia masih hidup atau tidak?"
"Sepertinya tidak, Bos. Mereka diliputi rasa takut, sampai nggak sempat periksa terlebih dahulu."
Rama mengangkat wajah Lyn, ia yakin gadis ini adalah korban bullying.
"Malang sekali nasibmu, Nak," lirihnya.
"Bawa dia ke bagasi, selum ada yang melihat kita!" ucapnya tegas.
"Siap, Bos!"
Tubuh Lyn dimasukkan begitu saja ke dalam bagasi, dengan kasar tanpa belas kasihan, seakan nyawanya tak berarti apa-apa bagi mereka.
Rama menatap sekitar, memastikan tak ada yang melihat aksi mereka.
"Sudah beres, bos," ucap salah satu anak buahnya.
Rama mengangguk, lalu memasuki mobil.
"Jalan," perintahnya.
"Siap, bos!"
Mobil melaju perlahan meninggalkan sekolah, meninggalkan tempat yang kini hanya menyisakan kesunyian dan jejak darah sebagai saksi bisu.
Guntur menggelegar keras, disusul hujan turun dengan deras, seolah ikut meratapi kejadian yang baru saja terjadi.
—•—
Di kamar yang bernuansa merah muda, Clarisa menatap jendela dengan tatapan takut, kedua tangannya saling menggenggam, gemetar.
"Tidak..."
"Aku tidak membunuhnya..." gumamnya pelan, wajah Lyn masih menghantuinya.
Clarisa mengusap wajahnya dengan kasar dengan menghela napas berat. Ia berjalan mondar-mandi gelisah, langkahnya tak tenang dan pikirannya kalut.
Gadis itu mengambil ponselnya, lalu menghubungi Arya.
"Halo, baby," ucap Arya saat sambungan terhubung dengan nada santai, seolah tak terjadi apa-apa.
"Arya, bagaimana? Apa mereka sudah menyingkirkan Lyn?" ucap Clarisa dengan suara bergetar.
"Aman, baby. Om itu sudah melaporkannya padaku, dia sudah mengurus mayat Lyn," jawab Arya dengan tenang.
Clarisa menghela napas pelan, tapi bayangan wajah Lyn yang berlumuran darah karena ulahnya terus menghantui pikirannya.
"Tenang lah, kamu nggak akan mendapatkan masalah," ucap Arya.
"Bagaimana aku nggak tenang, Ar. Kalau sampai Daddy aku tahu... Arghh..."
Clarisa tak sanggup melanjutkan, ia tidak bisa membayangkan wajah ayahnya saat tau ia telah melalukan sesuatu yang buruk.
"Baby, Om itu sudah profesional melakukan hal semacam ini. Jejaknya, tak pernah diketahui oleh siapapun termasuk polisi. Jadi, tenanglah."
"Tapi, Ar..."
"Huss... Kalau kamu nggak percaya, kita ke sekolah besok. Besok sekolah diliburkan, kita bisa cek kembali."
Clarisa terdiam sesaat, lalu menghela napas berat.
"Hmm, baiklah."
"Sudah, jangan pikirkan lagi. Gadis itu sudah lenyap, itukan yang kamu mau?"
Clarisa tak menjawab. Ia memang sangat membenci Lyn, apalagi gadis itu sampai bisa dekat dengan Alaric.
"Iya, sih... tapi Ar..."
"Cukup, Clarisa. Kamu lebih baik istirahat, besok aku akan jemput kamu di tempat biasa," potong Arya dengan tegas.
Clarisa mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah."
Tut!
Panggilan terputus, Clarisa mengakhirinya lalu ia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Benar kata Arya, ia memang merencanakan semua ini agar Lyn hancur dan Alaric hanya miliknya.
Rasa takut ia sempat menghimpit, kini hilang begitu saja digantikan dengan senyum miring.
—•—
Brum!
Sebuah mobil berhenti di sebuah gudang yang tampak sunyi, jauh dari keramaian kota.
Hujan masih mengguyur bumi, tak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
"Keluarkan gadis itu, masukkan dia kedalam gudang," perintah Rama.
"Siap, Bos."
Para anak buah Rama segera menjalankan perintah, di bawah hujan yang deras.
Sementara Rama menatap ponselnya sejenak, lalu menghubungi seseorang dengan senyum miring.
"Ada apa?" ucap seseorang di seberang sana dengan nada berat.
"Saya ingin bicara dengan Tuan Besar," jawab Rama.
"Tuan Besar sedang sibuk, dia nggak bisa dihubungi."
"Berikan padanya, saya ingin bicara, PENTING!" bentak Rama.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, hah?!"
"Hei, babu sialan. Ini menyangkut putrinya! Beritahukan padanya, hubungi saya dalam waktu satu menit, jika tidak... berita putrinya besok akan tersebar hhhh!"
Tut! Tanpa menunggu balasan, Rama memutuskan sambungan telepon. Senyum puas terukir di wajahnya, atas apa yang telah ia dapatkan malam ini.
Tok! Ketukan dari luar membuat Rama menurunkan kaca mobil.
"Ada apa?"
"Gadis itu sudah kami masukkan ke ruang pendingin, Bos."
Rama mengangguk singkat. "Bagus. Bagaimana dengan rekaman itu?"
"Aman, Bos!"
Rama tersenyum puas. "Sekarang kita kembali!"
"Siap, Bos!"
—•—
Di bawah hujan deras, Elea masih terus mencari putrinya.
"Lyn..."
"Kamu di mana, Nak?" teriaknya dengan nada putus asa, suaranya nyaris tenggelam oleh derasnya hujan.
Elea berlari menuju taman kota, tempat yang biasa Lyn kunjungi untuk menyendiri. Namun bangku itu kosong, hanya disinggahi rintik hujan yang terus jatuh.
"Lyn... kamu dimana sebenarnya, Nak? Maafkan Ibu..." lirihnya pelan. Andai saja ia tidak melakukan kesalahan itu, mungkin putrinya tidak akan pergi.
Tak ada kata menyerah, Elea kembali berlari, menembus jalanan yang basah dan sepi. Napasnya memburu, jantungnya berdebar kencang.
Langkahnya akhirnya berhenti di depan gerbang sekolah putrinya. Gelap dan sunyi, jauh berbeda dari suasana siang hari.
Elea menatap gerbang tinggi itu lama, tubuhnya basah kuyup, namun ia tak peduli.
"Bu? Ngapain ke sini malam-malam?"
Elea menoleh, seorang penjaga keamanan sekolah menghampirinya sambil memakai payung.
"Apa bapak melihat putri saya kemari?" tanya Elea.
"Maaf, Bu. Saya baru datang, saya nggak tahu ada yang datang atau tidak," jawab penjaga keamanan.
Elea menghela napas berat, rasa putus asa mulai menggerogoti hatinya. "Ya Tuhan... dimana lagi aku harus mencari putriku."
Penjaga itu mengernyit heran. "Emangnya ngapain anak Ibu ke sekolah malam-malam begini?"
Elea terdiam sejenak, tak tahu harus menjawab apa. "Anak saya nggak pulang, sejak sore tadi Pak. Saya sudah mencari kesana kemari, sampai firasat saya membawa saya kemari."
"Firasat?" penjaga itu mengangkat alis, sedikit ragu.
"Iya," Elea mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.
Penjaga itu menatapnya penuh perhatian. "Sudah coba hubungi teman-temannya, Bu?"
Elea terdiam, siapa yang harus ia hubungi. Hingga saat ini, Lyn tidak pernah memperkenalkan temannya.
"Saya... nggak tahu siapa teman putri saya Pak," jawabnya pelan.
Penjaga itu menghela napas pelan, bisa-bisanya dia nggak tahu siapa teman putrinya, batinnya.
Hening sejenak, hanya suara hujan yang terus mengguyur di sekitar mereka.
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di benak Elea.
"Pak, sekolah ini punya CCTV, kan?" ucapnya cepat, matanya berbinar penuh harap.
"Tentu ada, Bu."
"Boleh saya lihat rekamannya? Mungkin ada petunjuk tentang putri saya."
Penjaga itu mengangguk mantap. "Boleh, Bu. Kalau memang anak Ibu sempat ke sini, pasti terekam."
Mata Elea langsung berbinar penuh harap.
Penjaga keamanan itu berjalan ke ruangan keamanan.
Sesampai di sana, ia langsung mengecek rekaman CCTV.
"Putar satu jam yang lalu," ucap Elea.
Penjaga keamanan itu mengangguk, rekaman mulai terputar.
Elea terus memperhatikannya secara teliti, tak ingin melewatkan detail sekecil apa pun.
Hingga beberapa menit...
"Pak, itu putriku..."
Dalam rekaman, terlihat Lyn memasuki sekolah sebelum hujan turun. Namun setelah beberapa langkah, sosoknya menghilang dari jangkauan kamera.
"Maaf Bu, CCTV hanya sampai situ..."
"Ini menuju ke lokasi mana, Pak?"
"Gudang belakang, Bu."
Tanpa berpamitan, Elea keluar dari ruang keamanan. Ia tak peduli teriakan penjaga itu, ia terus berlari mencari putrinya.
Langkah Elea seketika terhenti saat matanya menangkap genangan darah di tanah. Tubuhnya membeku, hatinya bergetar tak karuan.
Elea menggeleng pelan. "Tidak... ini bukan darah putriku."
Ia mundur selangkah, lututnya lemas hingga ia terjatuh.
Air matanya perlahan jatuh.
"Lyn..." ia menutup mulutnya, mencoba menahan isakan yang mendesak keluar.
"Tidak... putriku masih hidup..."
Elea terduduk di tanah yang basah, tubuhnya bergetar hebat oleh isak tangis tak bisa ia lagi tahan.
"LYN!"
Air matanya mengalir deras, bercampur dengan sisa hujan yang membasahi wajahnya.
"Ini nggak mungkin... Lyn... nggak mungkin..." lirihnya di sela tangisnya, tangannya mencengkeram dada, seolah ingin menahan rasa sakit yang menusuk hatinya.
Tangannya menyentuh tanah, gemetar mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan agar tubuhnya tak sepenuhnya ambruk.
Namun jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan kecil di antara genangan air.
Elea menghentikan tangisnya sejenak, mengangkat benda itu perlahan ke depan matanya.
Sebuah jepitan rambut, jepitan berbentuk bunga dengan berbagai mutiara asli disekelilingnya.
Elea menatap jepitan itu. Jepitan ini mahal. Ia yakin ini bukan milik putrinya. Ia terus menatapnya, seperti pernah melihatnya sebelumnya.
Elea memejamkan mata perlahan. Ingatan di ruang kepala sekolah kembali terlintas. Lalu, ia membuka mata, raut wajahnya berubah datar. Ia sudah tahu siapa pemilik jepitan ini.
"Clarisa Narendra..."