NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Begitu Lama

"Empat tahun, ya. Akhirnya dia hadir, Mas," ucap Naresta dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap perutnya perlahan.

Elvan menatap istrinya. Matanya kembali memerah.

"E-empat t-tahun..."

"Iya."

Naresta tersenyum meski air matanya mulai jatuh.

"Empat tahun kita menunggu."

Elvan perlahan menggenggam tangan istrinya.

"A-aku k-kira... k-kita t-tidak a-akan p-punya a-anak."

Naresta menggeleng pelan.

"Aku juga sempat berpikir begitu, Mas."

Selama empat tahun pernikahan mereka, Naresta dan Elvan memang tidak pernah berhenti berharap. Namun, semakin lama penantian itu berlangsung, mereka perlahan mencoba menerima apa pun yang telah ditakdirkan untuk mereka.

Naresta mengusap perutnya sekali lagi.

"Ternyata dia datang saat kita sudah nggak terlalu memikirkannya."

Elvan tersenyum.

"B-bayi k-kita."

"Iya, bayi kita."

Elvan perlahan membungkukkan tubuhnya. Dengan ragu, ia mendekatkan wajahnya ke perut Naresta.

"H-halo..."

Naresta langsung terkekeh kecil.

"Mas ngapain?"

Elvan menunjuk perut istrinya.

"B-bicara s-sama b-bayi."

Naresta tersenyum semakin lebar.

"Memangnya sudah bisa dengar?"

Elvan terdiam sejenak, kemudian mengangkat bahunya.

"A-aku t-tidak t-tahu."

Naresta tertawa kecil.

"Ya sudah, lanjutkan."

Elvan kembali menatap perut istrinya.

"H-halo, A-adek."

Tangannya mengusap perut Naresta dengan sangat hati-hati.

"A-aku... A-ayah."

Air mata Naresta kembali jatuh mendengar kalimat sederhana itu.

Elvan tersenyum lebar.

"A-ayah s-sudah m-menunggu k-kamu... l-lama s-sekali."

Naresta langsung menutup mulutnya menahan tangis.

"Mas..."

Elvan mengangkat wajah.

Naresta merentangkan kedua tangannya.

"Sini."

Elvan langsung mendekat dan memeluk istrinya.

"Terima kasih sudah bertahan sama aku selama empat tahun ini, Mas."

Elvan menggeleng di dalam pelukannya.

"A-aku y-yang h-harus b-bilang t-terima k-kasih."

"Kenapa?"

"K-karena k-kamu... t-tidak p-pernah m-meninggalkan a-aku."

Naresta memejamkan matanya sambil memeluk Elvan semakin erat.

"Mana mungkin aku meninggalkan suamiku sendiri."

Elvan tersenyum di dalam pelukan istrinya.

Setelah empat tahun menunggu, akhirnya ada satu kehidupan kecil yang hadir di tengah-tengah mereka—menjadi hadiah terindah setelah begitu banyak luka yang mereka lalui bersama.

Lima belas menit kemudian.

Tok.

Tok.

Pintu ruang perawatan terbuka. Aya masuk sambil membawa tas kecil milik Naresta.

"Mbak, kata dokter sudah boleh pulang. Tapi besok Mbak harus ke dokter kandungan."

"Oh, begitu, ya?" Naresta mengangguk pelan. "Di mana, ya, dokter kandungan?"

Aya langsung mengangkat kedua bahunya.

"Mbak jangan tanya saya, dong. Saya kan masih bujang."

Naresta langsung tertawa kecil.

"Memangnya kalau masih bujang nggak boleh tahu tempat dokter kandungan?"

"Ya nggak tahu, Mbak. Saya aja belum pernah ke sana."

"Siapa tahu pernah nganterin saudara."

Aya menggeleng cepat.

"Nggak pernah."

Elvan yang duduk di samping ranjang hanya memandang keduanya bergantian.

Naresta kemudian menoleh kepada suaminya.

"Mas tahu dokter kandungan di sekitar sini?"

Elvan langsung menggeleng.

"T-tidak t-tahu."

"Nah, sama saja," sahut Aya sambil terkekeh.

Naresta ikut tertawa.

"Terus besok aku harus ke mana?"

"Tenang, Mbak. Nanti kita cari tahu. Bisa tanya Bu RT juga. Siapa tahu beliau tahu."

Tak lama kemudian, Bu RT muncul dari balik pintu.

"Ngomongin saya, ya?"

Aya langsung menoleh.

"Nah, panjang umur, Bu."

"Apa?"

"Mbak Naresta besok disuruh periksa ke dokter kandungan. Kami bertiga nggak tahu harus ke mana."

Bu RT tertawa kecil.

"Ya ampun, cuma begitu saja bingung."

Naresta tersenyum malu.

"Maklum, Bu. Pengalaman pertama."

Bu RT mengangguk mengerti.

"Sudah, nanti saya kasih tahu tempatnya. Yang penting sekarang Naresta pulang dulu dan istirahat."

"Iya, Bu."

Elvan langsung berdiri dari kursinya.

"A-aku j-jaga S-sayang."

Naresta menatap suaminya sambil tersenyum.

"Iya, calon Ayah. Mulai sekarang harus lebih perhatian."

Elvan menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"I-iya."

"Mbak, tadi maaf, ya. Saya buka tas Mbak tanpa izin," ucap Aya dengan wajah sedikit tidak enak.

Naresta menoleh kepadanya.

"Lho, kenapa minta maaf?"

"Soalnya tadi petugas klinik minta data Mbak. Terus sekalian buat bayar biaya kliniknya juga."

Naresta tersenyum.

"Oh, nggak apa-apa, Mbak Aya."

"Benar nggak apa-apa?"

"Iya. Kan keadaannya tadi darurat. Aku juga masih belum sadar."

Aya langsung mengembuskan napas lega.

"Saya takut Mbak marah karena saya buka dompet sama ambil identitas Mbak tanpa izin."

"Nggaklah."

Naresta menggeleng pelan.

"Justru terima kasih sudah ngurusin semuanya."

Aya tersenyum.

"Sama-sama, Mbak."

Naresta kemudian teringat sesuatu.

"Eh, biaya kliniknya tadi berapa?"

"Sebentar."

Aya mengambil tas kecil Naresta, lalu mengeluarkan struk pembayaran dari dalamnya.

"Ini, Mbak. Struknya saya simpan juga."

Naresta menerima struk tersebut.

"Terima kasih."

"Sama-sama. Uang kembaliannya juga masih ada di dalam dompet Mbak. Saya nggak berani pegang lama-lama."

Naresta terkekeh kecil.

"Mbak Aya ini."

"Ya harus begitu, Mbak. Itu uang orang."

Naresta tersenyum, lalu memasukkan kembali struk tersebut ke dalam tasnya.

"Yang penting semuanya sudah selesai. Sekarang aku cuma ingin pulang dan istirahat."

Elvan yang duduk di sampingnya langsung mengangguk.

"I-iya. K-kita p-pulang."

Aya tersenyum melihat keduanya.

"Iya, calon Ibu sama calon Ayah. Ayo pulang."

**

Beberapa menit kemudian.

Akhirnya, mereka tiba kembali di depan toko. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Kejadian tadi terjadi sekitar pukul sembilan pagi, tepat saat toko baru saja dibuka.

Setelah mobil berhenti, Naresta turun dengan dibantu Elvan.

Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengambil beberapa lembar uang.

"Mas, ini buat uang bensin sama sewa mobilnya."

Pria yang sejak tadi membantu mereka langsung menggeleng.

"Nggak usah, Mbak."

"Ambil saja, Mas."

Naresta menyodorkan uang tersebut kepadanya.

Pria itu melihat jumlah uang di tangan Naresta, lalu langsung menggeleng lagi.

"T-tapi terlalu banyak, Mbak. Kan dekat aja kliniknya."

"Nggak apa-apa, Mas. Tadi Mas juga sudah bantu kami dari toko sampai klinik, terus menunggu dan mengantar kami pulang lagi."

"Tapi ini kebanyakan."

Naresta tersenyum.

"Ambil saja. Anggap sisanya buat beli makan siang."

Pria itu masih tampak tidak enak hati.

"Saya cuma membantu, Mbak."

"Makanya saya berterima kasih."

Bu RT yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut tersenyum.

"Sudah, Mas. Diterima saja. Kalau Naresta sudah memberi begitu, biasanya susah ditolak."

Pria itu terkekeh kecil.

"Ya sudah, Mbak. Saya terima. Terima kasih banyak."

"Sama-sama, Mas. Saya juga yang harus berterima kasih karena tadi sudah mau membantu."

Elvan yang berdiri di samping Naresta ikut menganggukkan kepalanya.

"T-terima k-kasih, M-mas."

"Iya, Mas Elvan. Sama-sama."

Pria itu kemudian berpamitan dan kembali masuk ke dalam mobil.

Naresta menoleh ke arah toko yang masih tertutup rapat.

"Mbak Aya, buka tokonya lagi, ya."

Aya yang memegang kunci langsung menoleh.

"Mbak yakin mau buka lagi? Mbak baru saja pulang dari klinik."

Naresta tersenyum kecil.

"Aku nggak apa-apa. Tapi nanti aku duduk saja di kasir."

Elvan langsung menggeleng cepat.

"T-tidak. S-sayang i-istirahat."

Naresta menoleh kepada suaminya yang memasang wajah serius.

"Mas..."

"I-istirahat."

Aya dan Bu RT langsung tersenyum melihat Elvan yang kali ini berani bersikap tegas kepada istrinya.

"M-mbak A-Aya, j-jangan b-buka t-tokonya," ucap Elvan tiba-tiba.

Tangan Aya yang sudah hendak memasukkan kunci ke lubang pintu langsung berhenti.

Ia menoleh ke arah Elvan.

"Lho, kenapa, Mas?"

Elvan menggenggam tangan Naresta erat.

"S-sayang h-harus i-istirahat."

Naresta tersenyum kecil.

"Mas, aku sudah nggak apa-apa."

Elvan langsung menggeleng berkali-kali.

"T-tidak."

"Mas..."

"T-tadi S-sayang p-pingsan."

Elvan menatap istrinya dengan wajah serius.

"S-sekarang a-ada b-bayi j-juga."

Naresta terdiam.

Bu RT yang mendengar itu langsung mengangguk setuju.

"Mas Elvan benar, Naresta."

"Tapi, Bu, tokonya baru buka sebentar tadi."

"Memangnya kenapa? Tutup sehari nggak akan membuat kamu bangkrut."

Aya ikut mengangguk.

"Benar, Mbak. Lagian pelanggan pasti mengerti."

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Tapi nanti kalau ada yang datang jauh-jauh bagaimana?"

"Bisa besok lagi," jawab Aya santai.

Elvan masih menggenggam tangan istrinya.

"I-istirahat, y-ya?"

Naresta menatap wajah suaminya beberapa saat. Melihat Elvan yang benar-benar khawatir, akhirnya ia menyerah.

"Iya, Mas."

Elvan langsung tersenyum lega.

"H-hari i-ini t-tutup."

"Iya, calon Ayah. Hari ini tutup."

Aya tertawa kecil.

"Nah, begitu dong. Sekali-sekali nurut sama suami."

Naresta terkekeh.

"Iya, iya."

Elvan kemudian menarik pelan tangan istrinya.

"A-ayo p-pulang."

Naresta mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, Mas. Kita pulang dan istirahat."

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!