NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: PERSIMPANGAN TAKDIR

Pagi itu, udara Jakarta masih menyisakan kesejukan setelah hujan yang turun semalaman. Embun tipis menempel di kelopak mawar yang berjejer rapi di taman kecil depan ruko percetakan. Rangga berdiri beberapa saat di sana, menyiram tanaman satu per satu sebelum memulai pekerjaannya.

Tangannya bergerak pelan, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana.

Proposal kerja sama dari PT Aruna Karya Nusantara masih terlipat rapi di atas meja kantornya. Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali mencoba tidur, bayangan angka-angka dalam proposal itu kembali memenuhi kepalanya.

Kesempatan sebesar itu belum pernah datang sebelumnya.

Namun, bersamaan dengan peluang itu, muncul pula konsekuensi yang tidak ringan.

"Semoga hari ini kepalaku lebih jernih," gumamnya pelan.

Ia mematikan keran air, lalu masuk ke dalam ruko.

Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit ketika sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan ruko. Mobil itu tampak bersih dan elegan, kontras dengan deretan kendaraan niaga yang biasa melintas di kawasan tersebut.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun sambil membawa map kulit berwarna cokelat.

Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan hitam. Penampilannya rapi, tetapi tidak berlebihan.

Pria itu menatap papan nama percetakan milik Rangga sejenak, lalu tersenyum kecil.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Pak."

"Saya Dimas Prasetyo."

Mereka berjabat tangan.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu."

"Sama-sama, Pak. Silakan masuk."

Rangga mempersilakan tamunya duduk di ruang tamu kecil yang biasanya digunakan untuk menerima pelanggan besar. Tak lama kemudian, ia menyuguhkan dua cangkir kopi hangat.

Dimas mengamati sekeliling ruangan.

Mesin cetak yang tersusun rapi.

Rak hasil produksi.

Papan jadwal pemesanan yang hampir penuh.

"Saya suka tempat ini."

Rangga tersenyum tipis.

"Masih sederhana, Pak."

"Justru itu."

Dimas mengangguk pelan.

"Tempat sederhana sering kali dibangun oleh orang-orang yang mengerti proses."

Kalimat itu membuat Rangga hanya tersenyum sopan.

Dimas membuka map yang dibawanya.

"Saya langsung saja."

Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Perusahaan kami sedang memulai proyek pembangunan kawasan terpadu di Kalimantan. Nilainya cukup besar dan berlangsung dalam beberapa tahap."

Rangga mulai membaca dokumen yang disodorkan.

"Kami membutuhkan mitra yang mampu menangani seluruh kebutuhan percetakan proyek. Mulai dari papan informasi, banner keselamatan kerja, buku panduan, company profile, materi promosi, hingga kebutuhan administrasi proyek."

Rangga mengangguk pelan.

"Semuanya?"

"Ya."

"Kenapa memilih saya?"

Dimas tersenyum.

"Pertanyaan yang bagus."

Ia menyandarkan punggungnya.

"Beberapa bulan lalu, salah satu rekan bisnis kami, PT Lestari, menggunakan jasa percetakan Anda."

"Tepat.”

"Mereka memberikan laporan yang sangat baik."

"Laporan?"

"Bukan hanya hasil cetaknya."

Dimas menatap Rangga.

"Mereka bercerita bahwa ketika terjadi kesalahan desain dari pihak mereka sendiri, Anda tidak menyalahkan siapa pun. Anda justru membantu memperbaikinya sampai selesai meski harus lembur."

Rangga terdiam.

Baginya, itu hanyalah bagian dari tanggung jawab.

Namun rupanya, sikap sederhana itu diperhatikan oleh orang lain.

"Bagi kami," lanjut Dimas, "kemampuan mencetak bisa dipelajari. Mesin bisa dibeli. Tetapi integritas pemilik usaha jauh lebih sulit ditemukan."

Kalimat itu membuat suasana ruangan sejenak hening.

Rangga tidak pernah menyangka bahwa reputasi kecil yang dibangunnya perlahan selama bertahun-tahun ternyata mampu membuka pintu sebesar ini.

Dimas kemudian menggeser satu dokumen lain ke hadapan Rangga.

"Ini gambaran kerja samanya."

Rangga membacanya dengan saksama.

Semakin jauh membaca, dahinya semakin berkerut.

Proyek itu bukan pekerjaan beberapa minggu.

Bukan pula beberapa bulan.

Tahap pertama saja diperkirakan berlangsung hampir satu tahun.

"Bapak berharap saya pindah ke sana?"

Dimas menggeleng.

"Bukan pindah."

"Namun?"

"Kami berharap Anda bersedia membuka cabang operasional di lokasi proyek."

Rangga terdiam.

"Masa operasionalnya fleksibel. Anda boleh bolak-balik Jakarta dan lokasi proyek. Namun pada fase-fase tertentu, kehadiran Anda di lapangan akan sangat dibutuhkan."

Kalimat itu terdengar tenang.

Namun, bagi Rangga...

Kalimat itu terasa seperti sebuah garis yang membelah masa depannya menjadi dua arah yang berbeda.

Di satu sisi...

Ada ruko kecil yang dibangunnya bersama mimpi dan kerja keras.

Ada taman mawar yang selalu dirawat bersama Sari.

Ada seseorang yang perlahan mulai menganggapnya sebagai rumah.

Di sisi lain...

Ada kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Kesempatan untuk membawa namanya melampaui batas kota tempat ia memulai semuanya.

Rangga mengembuskan napas panjang.

Tangannya masih menggenggam lembar proposal itu erat-erat.

Tanpa disadarinya, persimpangan yang selama ini hanya ia bayangkan...

Kini benar-benar berdiri tepat di hadapannya.

*****

Rangga kembali meletakkan proposal itu di atas meja. Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam sambil memandangi deretan angka yang tercetak rapi di hadapannya.

Nilai kerja sama itu benar-benar mampu mengubah arah hidup seseorang.

Namun, semakin besar peluang yang ditawarkan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Dimas tampaknya memahami apa yang sedang berkecamuk di benak Rangga. Ia tidak terburu-buru meminta jawaban. Sebaliknya, pria itu memilih menyeruput kopinya lebih dulu.

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang," ucapnya tenang.

Rangga mengangkat pandangan.

"Proyek sebesar ini memang tidak pantas diputuskan dalam hitungan menit."

"Terima kasih, Pak."

"Saya lebih senang bekerja sama dengan orang yang berpikir matang daripada orang yang terlalu cepat berkata 'iya'."

Rangga menganggukkan kepala pelan.

Ucapan itu sedikit meringankan beban di dadanya.

Dimas kembali membuka map kulitnya.

"Ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui."

Ia mengeluarkan beberapa lembar foto.

Foto-foto itu memperlihatkan kawasan pembangunan yang masih berupa hamparan tanah luas.

Di beberapa sudut tampak alat-alat berat mulai bekerja.

Jalan akses masih berupa tanah merah.

Bangunan kantor proyek pun baru berdiri sebagian.

"Lokasinya masih berkembang," jelas Dimas. "Karena itu kami membutuhkan mitra yang siap tumbuh bersama proyek ini."

Rangga memperhatikan setiap foto dengan saksama.

Di balik hamparan tanah kosong itu, ia seperti melihat sesuatu yang lain.

Sebuah kesempatan.

Kesempatan untuk membuktikan bahwa usaha kecil yang ia bangun dari nol mampu dipercaya menangani proyek berskala nasional.

Sebagai seorang pengusaha, darahnya berdesir.

Instingnya mengatakan bahwa peluang seperti ini tidak datang dua kali.

"Ada berapa perusahaan yang sedang Bapak pertimbangkan?" tanya Rangga.

"Tiga."

Rangga sedikit mengangguk.

"Dan saya salah satunya?"

"Bukan."

Dimas tersenyum tipis.

"Kamu adalah kandidat terakhir yang kami temui."

Rangga mengernyit.

"Kenapa terakhir?"

"Karena dua perusahaan sebelumnya jauh lebih besar."

"Kalau begitu..."

"Namun," potong Dimas pelan, "perusahaan besar sering kali hanya melihat angka."

Tatapan pria itu berubah lebih serius.

"Sementara kami sedang mencari rekan kerja yang masih mau turun langsung ketika ada masalah."

Rangga tidak langsung menjawab.

Ia teringat masa-masa awal membuka percetakan.

Ketika mesin rusak, ia memperbaikinya sendiri.

Ketika karyawan sakit, ia menggantikan pekerjaan mereka.

Ketika pelanggan komplain, ia datang meminta maaf tanpa menyuruh orang lain.

Barangkali...

Justru pengalaman-pengalaman kecil itulah yang membentuk kepercayaan orang terhadap dirinya.

"Kalau saya menerima proyek ini..."

Rangga berhenti sejenak.

"...berapa lama kontraknya?"

"Lima tahun."

Jawaban itu membuat napas Rangga seolah tertahan.

"Lima tahun?"

"Kontrak utama dua tahun, dengan opsi perpanjangan hingga lima tahun sesuai perkembangan proyek."

Rangga menundukkan kepala.

Lima tahun.

Bukan waktu yang singkat.

Dalam lima tahun...

Seseorang bisa membangun keluarga.

Memiliki anak.

Atau...

Kehilangan seseorang yang menunggu terlalu lama.

Bayangan wajah Sari kembali memenuhi pikirannya.

Ia teringat ucapan perempuan itu beberapa malam lalu.

"Aku ingin terus memasak untukmu seperti ini... sampai nanti."

Kalimat sederhana itu kini berubah menjadi beban yang menghangatkan sekaligus menyakitkan hatinya.

Dimas melirik arloji di pergelangan tangannya.

"Saya tidak akan mengambil banyak waktu kamu."

Ia berdiri, lalu merapikan mapnya.

"Pertemuan hari ini hanya untuk menjelaskan gambaran besarnya."

Rangga ikut berdiri.

"Saya menghargai kepercayaan yang Bapak berikan."

"Kami juga menghargai kerja keras yang sudah kamu bangun."

Sebelum melangkah keluar, Dimas berhenti di depan pintu.

"Oh ya..."

Rangga menoleh.

"Satu minggu."

"Maksudnya, Pak?"

"Itu waktu yang kami berikan."

Dimas tersenyum ramah.

"Dalam tujuh hari ke depan, kami menunggu keputusanmu."

Setelah mengucapkan salam, pria itu berjalan menuju mobilnya.

Tak lama kemudian, sedan hitam itu melaju perlahan meninggalkan kawasan ruko.

Rangga masih berdiri di depan pintu.

Matanya mengikuti mobil itu hingga menghilang di tikungan jalan.

Angin siang berembus pelan.

Pandangannya bergeser ke taman kecil di depan ruko.

Kelopak-kelopak mawar merah bergoyang lembut diterpa angin.

Entah mengapa...

Untuk pertama kalinya sejak menanam bunga-bunga itu bersama Sari, Rangga merasa taman kecil tersebut bukan sekadar taman.

Melainkan simbol dari kehidupan yang selama ini mulai ia bangun.

Kehidupan yang kini sedang diuji oleh sebuah kesempatan besar.

Di atas meja kerjanya, proposal itu masih terbuka.

Sementara di dalam dadanya...

Dua suara terus saling bersaing.

Suara hati yang ingin menetap.

Dan suara mimpi yang memanggilnya untuk kembali melangkah.

*****

Setelah kepergian Dimas, suasana ruko kembali sunyi.

Hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar samar, berpadu dengan bunyi jarum jam yang terus bergerak tanpa peduli pada kegelisahan seseorang.

Rangga kembali duduk di kursinya.

Proposal kerja sama itu masih terbuka di hadapannya.

Namun, matanya tidak lagi membaca setiap kalimat.

Pikirannya telah melayang jauh.

Ia membayangkan dirinya berdiri di lokasi proyek yang baru saja diperlihatkan Dimas.

Hamparan tanah luas.

Alat-alat berat yang bekerja tanpa henti.

Puluhan pekerja berlalu-lalang.

Di tengah kesibukan itu, berdiri sebuah kantor operasional dengan papan nama perusahaan percetakannya.

Membayangkan semua itu saja sudah membuat dadanya bergetar.

Sejak pertama kali merantau ke Jakarta, ia selalu memimpikan hari ketika usahanya mampu dipercaya menangani proyek-proyek besar.

Kini, impian itu benar-benar mengetuk pintunya.

Namun, semakin dekat mimpi itu datang...

Semakin jelas pula bayangan seseorang yang harus ia tinggalkan.

Menjelang sore, ponselnya bergetar.

Nama Sari muncul di layar.

Rangga menarik napas sebelum mengangkat panggilan itu.

"Halo, Sar."

"Mas, masih di ruko?"

"Iya."

"Ramai hari ini?"

Rangga menatap proposal di atas meja.

"Cukup ramai."

Sebuah kebohongan kecil terucap.

Yang memenuhi pikirannya sejak pagi bukanlah pelanggan, melainkan keputusan yang belum sanggup ia ambil.

"Kalau begitu nanti aku mampir sebentar, ya."

"Mau ke sini?"

"Iya. Aku beli beberapa roti. Sekalian kita minum teh seperti biasa."

Rangga tersenyum tipis.

"Baik. Aku tunggu."

Panggilan berakhir.

Ia memandang layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya menyimpannya kembali ke saku.

Entah mengapa, justru setelah mendengar suara Sari, hatinya terasa semakin berat.

Sore mulai berubah menjadi senja.

Langit Jakarta dihiasi semburat jingga yang perlahan memudar.

Sari datang membawa kantong kertas berisi roti hangat dari toko langganan mereka.

Begitu masuk ke dalam ruko, ia langsung menyadari sesuatu.

"Mas..."

"Hm?"

"Kamu capek?"

Rangga menggeleng sambil tersenyum.

"Sedikit."

Sari memandangnya beberapa detik.

Ia sudah cukup mengenal Rangga untuk tahu bahwa senyum itu bukan senyum yang biasanya.

Tanpa banyak bertanya, ia berjalan ke belakang, membuatkan dua gelas teh hangat.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berdampingan di teras ruko, menghadap taman kecil yang mulai diterangi lampu jalan.

Tidak banyak percakapan.

Mereka menikmati teh hangat dalam diam.

Anehnya...

Keheningan itu tidak terasa canggung.

Justru terasa menenangkan.

Setelah beberapa saat, Sari membuka suara.

"Mas..."

"Iya?"

"Kalau suatu hari nanti..."

Ia menggantungkan kalimatnya.

"...hidup membawamu ke tempat yang lebih jauh, jangan takut melangkah."

Rangga menoleh cepat.

"Aku percaya..."

Sari tersenyum lembut.

"...orang yang bekerja sekeras kamu memang pantas mendapatkan kesempatan besar."

Kalimat itu membuat dada Rangga sesak.

Ia ingin mengatakan semuanya.

Tentang proposal.

Tentang Kalimantan.

Tentang kemungkinan harus sering meninggalkan Jakarta.

Namun...

Bibirnya tetap membisu.

Ia belum siap.

Belum malam ini.

Setelah Sari pulang, Rangga kembali berdiri sendirian di depan taman kecil.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Di tangannya, proposal itu kembali ia buka.

Lembar terakhir berisi kolom persetujuan kerja sama.

Masih kosong.

Belum ada tanda tangan.

Belum ada keputusan.

Rangga mengeluarkan sebuah pulpen dari saku kemejanya.

Ujung pena itu sempat menyentuh kertas.

Namun...

Beberapa detik kemudian, ia menariknya kembali.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Belum..."

gumamnya lirih.

"Aku belum boleh memutuskan hanya dengan logika."

Ia menutup map itu perlahan.

Malam semakin larut.

Di atas langit Jakarta, bintang-bintang kembali tertutup cahaya kota.

Namun jauh di dalam hatinya...

Rasi Bintang Arkais masih bersinar.

Seolah menunggu keberanian Rangga untuk menentukan arah langkah berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!