NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Bagus Beraksi

"Pak Hendry," kata Bagus sambil menggulung lengan baju, "yang ini boleh sebelum makan, kan?"

Empat pria berpipa besi itu tertawa.

Tawa mereka kasar, penuh asap rokok dan keyakinan orang yang terlalu sering memukul orang lemah. Di dalam ruko, Gilang Nugraha mengangkat kepala dengan susah payah. Satu matanya bengkak, bibirnya pecah, dan kedua tangannya terikat di belakang kursi.

"Pak Hendry..." Suaranya serak. "Jangan... mereka banyak..."

Hendry berdiri di ambang pintu, matanya menyapu ruangan. Bau keringat, tembakau, dan lembap gudang menempel di dinding. Di atas meja ada beberapa map, kalkulator tua, stempel, dan tumpukan surat utang. Ruangan itu lebih mirip kandang untuk menakut-nakuti orang yang sudah putus asa.

"Golianto," kata Hendry, "tutup mata sebentar."

Salah satu preman menyeringai. "Kenapa? Takut dia lihat kalian dipatahkan?"

Bagus menggaruk pipinya. "Saya tidak suka mematahkan orang sebelum makan. Nanti nafsu makan hilang."

"Bajingan!"

Preman pertama mengayunkan pipa besi ke kepala Bagus.

Gerakannya cepat untuk ukuran orang biasa. Tetapi bagi Bagus, itu seperti daun kering yang jatuh.

Tangannya naik.

TOK!

Pipa itu berhenti di telapak Bagus. Bukan dihindari. Bukan ditangkis. Ditangkap.

Wajah preman itu berubah.

Bagus menarik pipa itu sedikit. Tubuh preman tersebut ikut terseret ke depan. Sebelum ia sempat berteriak, bahu Bagus bergerak.

BUGH!

Satu dorongan pendek menghantam dada preman itu. Tubuhnya terlempar mundur, menabrak meja hingga kalkulator dan map utang berhamburan.

Tiga orang sisanya membeku.

Keheningan turun selama satu detik.

Lalu mereka menyerbu bersama.

Bagus maju.

Langkahnya tidak indah. Tidak ada jurus yang berputar seperti pertunjukan. Ia hanya melangkah seperti tembok yang diberi kaki. Pipa kedua menghantam lengannya, tetapi suara yang terdengar justru seperti besi memukul batang pohon.

Bagus menatap pemilik pipa itu. "Sakit?"

"Apa--"

Kepalan Bagus mendarat di perutnya. Udara keluar dari mulut preman itu dalam suara pendek. Ia jatuh berlutut, pipa terlepas dari tangan.

Preman ketiga mencoba menyerang dari belakang. Bagus tidak menoleh. Ia hanya menggeser bahu, menangkap kerah orang itu, lalu melemparnya ke sofa robek di sudut ruangan. Sofa itu ambruk.

Preman terakhir mendadak berhenti.

Ia menatap tiga temannya yang sudah terkapar, lalu menatap Bagus yang bahkan belum berkeringat.

"Masih?" tanya Bagus.

Preman itu menjatuhkan pipa.

"Pintar," kata Bagus.

Dua puluh detik.

Empat orang yang tadi menutup pintu seperti penjaga neraka kini mengerang di lantai.

Golianto menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak. Ia bekerja di produksi kemasan, bukan dunia bawah. Selama hidupnya, ia mengira preman bertato dan pipa besi adalah hal paling menakutkan di kota. Malam ini ia baru tahu, ada orang yang bisa membuat pipa besi terlihat seperti mainan anak.

Hendry berjalan masuk.

Seorang pria gemuk dengan kemeja batik murah keluar dari ruangan belakang. Wajahnya licin oleh minyak, matanya kecil dan tajam. Ia membawa tas selempang hitam, tetapi tangannya gemetar sedikit.

"Siapa kalian?" tanyanya, mencoba tetap galak. "Kalian tahu tempat siapa ini?"

"Tempat orang meminjamkan uang dengan bunga yang membuat orang miskin tidak pernah selesai membayar," jawab Hendry.

"Ini bisnis."

"Bisnis punya aturan."

Pria itu tertawa kering. "Aturan? Dia pinjam Rp 80 Juta. Tanda tangan sendiri. Sekarang dengan bunga dan denda, totalnya Rp 500 Juta. Kalau mau bawa orangnya, bayar."

Hendry mengambil salah satu map dari meja. Ia membuka lembar perjanjian. Tidak ada nama notaris. Tidak ada struktur bunga yang jelas. Hanya tanda tangan Golianto, fotokopi KTP, dan angka yang ditulis semakin besar setiap minggu.

"Perjanjian seperti ini hanya jerat."

"Terserah kau sebut apa. Di sini, angka kami yang berlaku."

Bagus melangkah satu kaki. Pria gemuk itu langsung mundur.

Hendry mengangkat tangan kecil, menghentikan Bagus. "Nama?"

"Raka."

"Raka, aku tidak datang untuk berdebat soal moral. Golianto meminjam Rp 80 Juta. Aku bayar pokoknya malam ini. Kau hapus bunga ilegal dan serahkan semua berkas."

Raka hampir tertawa, tetapi melihat preman-premannya di lantai, tawa itu tersangkut.

"Kau pikir kau siapa?"

Hendry meletakkan ponsel di meja. Layarnya menampilkan satu nama kontak: Budiman Suryadi.

Tidak ada ancaman. Tidak ada teriakan.

Hanya nama.

Raka menatap layar itu. Matanya berkedip beberapa kali.

Di Kota Biru, nama Budiman Suryadi membawa bayangan gedung tinggi yang jatuh di atas kepala orang kecil. Pelabuhan, gudang, logistik, bank lokal, proyek pemerintah, rumah sakit, restoran, semuanya pernah bersentuhan dengan tangannya.

Orang seperti Raka bisa menakut-nakuti buruh dan staf produksi.

Tapi menantang Budiman Suryadi?

Keberanian seperti itu sama dengan bunuh diri pelan-pelan.

"Kau... orang Pak Budiman?"

"Aku orang yang sedang dia perhatikan," kata Hendry.

Kalimat itu lebih berbahaya daripada pengakuan langsung.

Raka menelan ludah. "Saya perlu telepon atasan."

"Silakan."

Raka masuk ke ruangan belakang dengan langkah cepat. Suaranya terdengar tertahan, tetapi cukup jelas.

"Bos Bayu... ada masalah. Orangnya bawa nama Pak Budiman... iya, satu orang besar menghajar anak-anak... bukan polisi... namanya Hendry Pratama..."

Keheningan.

Lalu suara Raka berubah semakin kecil.

"Baik, Bos. Saya mengerti."

Ia keluar lagi dengan wajah yang sudah jauh lebih pucat.

"Rp 80 Juta," katanya cepat. "Pokok saja. Tidak perlu bunga."

Hendry menatapnya. "Berkas."

Raka mengambil semua map terkait Golianto: surat utang, fotokopi KTP, foto rumah, bahkan catatan nomor telepon ibunya. Ia meletakkannya di meja dengan kedua tangan.

Hendry meminta nomor rekening. Transfer dilakukan dari kartu dana darurat yang diberikan Budiman. Rp 80 Juta masuk dalam hitungan detik.

Raka segera memberi tanda lunas dan stempel. Hendry memeriksa setiap lembar, lalu menyerahkannya pada Golianto.

"Lihat baik-baik. Semua selesai."

Golianto menatap kertas itu. Tangannya gemetar saat Bagus membuka ikatannya. Air mata langsung jatuh ke pipinya yang lebam.

"Pak Hendry... saya..."

"Kamu masih bisa kerja?"

Golianto mengangguk keras. "Bisa. Saya bisa. Saya harus selesaikan warna untuk order PT Surya Abadi."

"Kalau begitu jangan menangis terlalu lama."

Golianto tertawa pendek di antara tangisnya.

Hendry menoleh pada Raka. "Mulai malam ini, jangan ganggu dia, keluarganya, atau orang PT Daun Kreasi."

"Iya, Pak."

"Kalau ada orangmu muncul lagi?"

Raka menatap Bagus, lalu cepat menunduk. "Tidak akan, Pak."

Hendry membawa Golianto keluar. Saat melewati preman yang masih mengerang, Bagus berhenti sejenak dan mengambil satu pipa besi yang bengkok.

Ia menatap pipa itu dengan kecewa. "Kurang bagus."

Hendry berjalan tanpa menoleh. "Jangan bawa pulang."

"Baik, Pak Hendry."

Di mobil, Golianto duduk di kursi belakang dengan tubuh kaku. Ia masih belum percaya bahwa ia keluar dari tempat itu hidup-hidup, tanpa bunga Rp 420 Juta yang menggantung seperti batu di lehernya.

"Pak Hendry," katanya lirih, "kenapa Bapak sejauh ini membantu saya?"

"Karena Jessica membutuhkanmu. Karena perusahaan membutuhkanmu. Dan karena ibumu tidak seharusnya kehilangan anak hanya karena utang rumah sakit."

Golianto menunduk. "Mulai hari ini, selama Pak Hendry dan Bu Jessica membutuhkan saya, saya tidak akan pergi."

"Buktikan dengan kerja."

"Saya buktikan malam ini."

Mereka kembali ke PT Daun Kreasi hampir tengah malam. Tina masih di depan komputer, matanya merah, tetapi file desain sudah siap. Ketika melihat Golianto masuk dengan wajah lebam, ia berdiri kaget.

"Mas Golianto!"

"Nanti ceritanya." Golianto langsung menuju mesin proofing. "Mana file final?"

Dalam satu jam berikutnya, kantor kecil itu hidup kembali. Printer besar menyala, warna disetel ulang, bahan kemasan diuji, dan sampel pertama keluar dari mesin dengan garis potong yang rapi.

Staf yang tadi siang berbisik kini bekerja tanpa banyak bicara. Sesekali mereka melirik Hendry dengan rasa ingin tahu yang hati-hati.

Saat sampel final diletakkan di meja, Tina menghela napas panjang.

"Ini bisa dikirim pagi," katanya.

Hendry mengangguk. "Kirim tepat waktu."

Ponselnya bergetar.

Nomor Budiman muncul, tetapi suara yang terdengar adalah pria lain, lebih muda dan formal.

"Pak Hendry, saya Adrian Chandra."

Hendry berjalan ke sisi jendela. "Ada apa?"

"Ada permintaan dari keluarga Wirawan melalui kontak lama. Mereka ingin mendapatkan bagian proyek kemasan dari PT Surya Abadi. Katanya, karena Bu Jessica masih bagian dari keluarga mereka, mereka berharap diberi prioritas."

Keluarga Wirawan.

Wajah Mama Ayu dan surat perceraian di meja kaca melintas di benak Hendry. Orang-orang yang menghina Jessica saat perusahaannya kecil, kini ingin datang membawa nama keluarga begitu proyek besar terlihat.

Hendry menatap sampel kemasan di meja. Kertas itu bersih, hasil kerja orang-orang yang hampir jatuh tetapi masih bertahan.

Suaranya turun menjadi dingin.

"Jangan berikan proyek apapun kepada mereka."

Di ujung telepon, Adrian terdiam tiga detik.

Lalu suaranya terdengar lebih hormat.

"Baik, Pak Hendry."

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!