Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Dua hari berlalu seperti mimpi buruk yang tidak berujung bagi keluarga Andreas. Selama kurun waktu empat puluh delapan jam tersebut, Papa Freddy dan Mama Dania telah mencoba segala cara yang memungkinkan untuk bisa menembus benteng pertahanan kediaman keluarga Raymond.
Mereka mendatangi gerbang utama mansion Raymond sebanyak tiga kali, membawa berbagai macam parsel buah impor dan hadiah mahal dengan harapan bisa meluluhkan hati petugas keamanan. Namun, jangankan menginjakkan kaki di halaman depan, mobil sedan Papa Freddy bahkan dicegat sejak jarak satu kilometer oleh barisan pengawal bersetelan jas hitam yang dipimpin langsung oleh Mark.
Setiap kali mereka mencoba memohon melalui sambungan telepon atau pesan singkat, balasan yang mereka terima hanyalah keheningan atau penolakan dingin yang disampaikan secara formal oleh asisten pribadi Brian.
Di dalam mansion mewah keluarga Andreas, suasana berubah menjadi medan perang penuh keputusasaan.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" teriak Nenek Fia dengan suara serak penuh amarah dan melemparkan cangkir teh porselennya hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer ruang tamu.
Wajah tua wanita paruh baya itu tampak kusut, kerutan di wajahnya menegang karena stres yang teramat sangat. Saham perusahaan Papa Freddy di lantai bursa terus merosot tajam akibat rumor penolakan keluarga Raymond terhadap besan mereka sendiri, para investor besar berbondong-bondong menarik modal mereka dan beberapa bank mulai melayangkan surat peringatan terkait jatuh tempo pinjaman modal usaha.
"Papa harus cari cara lain! Datangi kantor pusat Raymond Group! Temui langsung Tuan Muda Brian!" desak Mama Dania histeris, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan karena terus-menerus ia jambak akibat frustrasi.
Papa Freddy yang duduk di sofa dengan kepala tertunduk lesu hanya bisa menghela napas panjang yang terdengar berat, pria paruh baya itu tampak menua sepuluh tahun dalam waktu beberapa hari saja. Jas kerjanya kusut, matanya merah karena tidak tidur selama dua malam dan lingkaran hitam tebal menghiasi bawah kelopak matanya.
"Mama pikir Papa belum mencobanya?" suara Papa Freddy terdengar parau dan putus asa.
"Kemarin aku berdiri di depan lobi utama Raymond Group selama empat jam penuh berharap bisa melihat Brian turun dari lift privatnya. Tapi apa hasilnya? Aku bahkan diusir secara tidak hormat oleh satpam gedung sebelum sempat mendekati pintu lift!" lanjut Papa Freddy dengan nada suara bergetar menahan amarah dan rasa malu.
Tante Thania yang sejak tadi hanya mondar-mandir di sudut ruangan menggigit kuku jarinya dengan gelisah, wajahnya yang tebal karena riasan tampak pucat pasi.
"Semua ini salah anak sialan itu! Kyra sengaja memanfaatkan posisinya sekarang untuk melupakan kita! Dia pasti menghasut suaminya untuk menolak kedatangan keluarga kita!" desis Tante Thania penuh kebencian.
"Sudah cukup, Thania!" bentak Papa Freddy tiba-tiba, membuat iparnya itu terlonjak kaget.
"Kalau bukan karena ulah Sherly yang hamil di luar nikah dengan pria tidak jelas, kita tidak akan pernah berada di ambang kebangkrutan seperti ini! Kita sendiri yang menyerahkan leher kita ke algojo!" lanjut Papa Freddy.
Mendengar nama Sherly disebut, Tante Thania langsung terdiam seribu bahasa. Di lantai atas, Sherly yang sejak dua hari lalu dikurung di kamarnya karena malu hanya bisa menangis sesenggukan di balik pintu, meratapi nasibnya yang hancur lebur tanpa masa depan.
Keluarga Andreas benar-benar telah jatuh terpuruk, ambisi mereka untuk berdiri di puncak piramida sosial ibu kota kini dihancurkan oleh senjata yang mereka ciptakan sendiri dan menjadikan Kyra sebagai tumbal.
.
Berbanding terbalik dengan kekacauan yang melanda kediaman keluarga Andreas, suasana di dalam mansion utama keluarga Raymond justru terasa sangat tenang, megah dan hangat.
Di ruang keluarga yang luas berlantai marmer putih dengan pilar-pilar bergaya klasik Eropa, Kyra duduk bersantai di atas sofa empuk berlapis kain beludru hijau zamrud. Di pangkuannya, sebuah piring berisi buah stroberi segar tersaji rapi, sementara di hadapannya, Mama Ivy menemani dengan secangkir teh chamomile hangat.
Selama dua hari ini, hidup Kyra mengalami perputaran drastis seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi bentakan kasar, tidak ada lagi kurungan di dalam gudang bau apek dan tidak ada lagi ancaman kelaparan. Yang ada hanyalah kenyamanan mutlak dan pelayan pribadi yang siap melayani segala kebutuhannya dengan membungkuk hormat.
"Kamu terlihat lebih segar hari ini, Kyra," puji Mama Ivy lembut sambil tersenyum tulus menatap menantunya.
Kyra meletakkan garpu kecilnya, lalu membalas senyuman ibu mertuanya dengan kikuk namun tulus. "Iya, Ma... Terima kasih ya. Semua ini juga karena Mama yang selalu memanjakan Kyra," jawabnya.
"Kamu tahu, Kyra... Mama itu dari dulu pengen banget punya anak cewek, tapi ya sayangnya Mama cuma punya anak satu dan itupun laki-laki. Jadi, kamu sudah Mama anggap seperti anak sendiri," ucap Mama Ivy.
Setelah beberapa saat mengobrol dan menikmati suasana sore yang tenang di ruang keluarga bersama ibu mertuanya, Mama Ivy tiba-tiba teringat sesuatu dan meletakkan cangkir tehnya ke atas meja porselen.
"Ah, Kyra sayang... bisa tolong Mama sebentar?" pinta Mama Ivy dengan lembut.
"Iya, Ma? Ada yang bisa Kyra bantu?" jawab Kyra sigap.
"Brian sedang sibuk di ruang kerjanya di lantai dua, tolong antarkan segelas jus mangga dingin ini ke ruangannya, ya. Biar dia tidak terlalu lelah bekerja," ujar Mama Ivy seraya menunjuk nampan berisi jus mangga segar yang baru saja disiapkan oleh kepala pelayan.
"Iya, Ma. Biar Kyra yang antar ke atas," balas Kyra patuh.
Kyra pun bangkit dari sofa, mengambil nampan tersebut dengan hati-hati, lalu melangkah meninggalkan ruang keluarga menuju tangga utama.
Sesampainya di lantai dua, koridor mansion yang dilapisi karpet tebal itu terasa begitu sunyi. Kyra berjalan pelan hingga tiba di depan pintu kayu jati besar ruang kerja pribadi Brian, pintu tersebut ternyata tidak tertutup rapat dan memperlihatkan pendar lampu meja kerja dari dalam.
Kyra awalnya hendak mengetuk pintu, namun ia mengurungkan niatnya saat tidak mendengar suara orang berbicara di dalam. Penasaran, ia mendorong pelan pintu itu dan melangkah masuk.
Suasana di dalam ruang kerja itu sangat luas, dipenuhi rak buku tinggi yang menjulang hingga ke langit-langit dan meja kerja besar berbahan kayu mahoni tua. Namun, ruangan itu tampak kosong. Tidak ada siapa pun di sana.
Kyra meletakkan nampan berisi jus mangga di atas meja sudut ruangan. Namun, saat matanya menyapu sekeliling, sebuah pikiran melintas di benaknya. Di meja kerja utama Brian, terdapat tumpukan berkas dan laptop yang menyala. Jantung Kyra berdegup lebih kencang, ia teringat kembali pada dendamnya terhadap keluarga Andreas.
'Apa ada dokumen di sini yang bisa membantuku menghancurkan keluarga Andreas lebih cepat?' batin Kyra.
Didorong rasa penasaran dan sisa-sisa amarah yang belum padam, Kyra melangkah mendekati meja kerja Brian. Ia mulai meramban beberapa lembar dokumen di atas meja, mencari tahu apa saja yang sedang diurus oleh suaminya itu.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧