NovelToon NovelToon
Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Keluarga / Teen Angst / Teen School/College / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.

Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Hari-hari berlalu. Tubuh Keira penuh memar, bekas pukulan Papa, tamparan Kakak-kakaknya. Namun yang lebih sakit adalah kenyataan bahwa tidak ada satu pun yang menyadari rasa sakitnya. Keyna tetap menjadi pusat perhatian, sementara ia hanya ada di pinggiran, diam dan tak pernah diingat.

Namun perlahan, hal itu mulai berubah. Kenzo, Mahendra, Rafael, dan Daena mulai menyadari sesuatu.

Mereka melihat memar di lengan Keira, melihat bagaimana ia selalu menunduk saat berjalan, melihat tatapan kosong di matanya.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Kenzo pelan saat mereka duduk bersama di taman sekolah.

Keira menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya jatuh."

"Jatuh tidak meninggalkan bekas seperti itu, Keira," kata Mahendra lembut. "Kau bisa cerita pada kami. Kami temanmu."

Keira terdiam. Selama ini ia berpikir tak ada yang peduli.

"Mama..." suaranya tercekat. "Mama yang melakukannya."

Keempat anak itu terdiam. Tak ada yang tertawa. Tak ada yang meremehkan. Mereka hanya duduk di sana, membiarkan Keira bercerita, dan itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya terasa sedikit lebih ringan.

"Maafkan aku, Keira," kata Kenzo pelan. "Dulu aku salah menilaimu. Dan soal Alya... aku akan memikirkannya lagi. Terima kasih sudah jujur padaku."

Keira tersenyum tipis.

"Ayo mabar," ajak Rafael. Mahendra dan Daena pun mengangguk, lalu mereka mulai menata posisi dan menyentuh layar ponsel, siap memulai permainan.

"Markas kita bakal ramai nih kayaknya," ujar Mahendra sambil menoleh ke arah Daena. Gadis itu pulang tak sendirian, ia membawa beberapa orang asing yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Selain Keira, Kenzo, Mahendra, dan Rafael, kini ada wajah-wajah baru di ruangan itu.

Daena sempat pergi membeli sesuatu, namun yang dibawanya pulang bukan sekadar barang belanjaan, melainkan beberapa orang yang tak dikenal.

"Siapa mereka, Daena?" tanya Kenzo penasaran, menatap orang-orang yang baru saja masuk.

"Teman baru. Ayo kalian duduk dulu," jawab Daena santai.

"Kau pasti suka melihat gadis itu," bisik Daena, lalu ia mengarahkan pandangannya ke arah seorang gadis yang duduk sendirian di tengah kerumunan laki-laki itu.

"Siapa dia?" tanya Kenzo lagi, matanya tak lepas dari sosok gadis itu.

Gadis itu tersenyum manis saat menyadari semua mata tertuju padanya. "Halo, aku Alya. Salam kenal semuanya," ucapnya lembut, memperkenalkan diri dengan sopan.

Kenzo tertegun seketika. "Dia..?" gumamnya tak percaya. Gadis yang selama ini ia kagumi diam-diam ternyata ada di hadapannya, meski penampilannya belum terlalu rapi.

"Ayo duduk," ucap Kenzo, suaranya terdengar gugup namun ia berusaha tetap tenang.

Setelah dipersilakan, semua orang pun duduk. Tempat itu ternyata sudah penuh, sehingga Alya terpaksa duduk tepat di samping Kenzo. Hati Kenzo berdebar kencang, ia duduk di sebelah gadis pujaannya.

"Ayo saling perkenalkan diri," ujar Kenzo dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, wajahnya terlihat begitu bahagia.

"Aku Iren."

"Hendra.."

"Nama lo sama kayak nama gue," canda Mahendra.

Sementara yang lain sibuk berkenalan, Keira justru memilih tidur di pangkuan Rafael. Ia memang pendiam, dan di antara mereka, Rafael adalah yang paling tenang saat bermain game, itulah sebabnya Keira merasa nyaman bersandar padanya.

"Ehm," Keira terbangun perlahan, matanya menyipit karena silau.

"Keyna?" Keira terkejut saat melihat wajah-wajah asing di depannya.

"Kau ngapain ke sini?" tanya Keira, suaranya pelan dan penuh keheranan.

Ia hanya diam, tak banyak bicara. Entah karena mereka berubah sikap terhadapnya, atau karena ia terlalu lama tak pulang, pikiran-pikiran buruk tiba-tiba menghantui benak Keira.

Keira memilih diam, menatap mereka tanpa semangat. Matanya kemudian beralih ke Kenzo yang sedang asyik mengobrol dengan Alya, seakan tak ada orang lain di ruangan itu.

Melihat mereka begitu asyik dengan dunianya masing-masing, Keira hanya bisa tersenyum miris. Terutama saat melihat wajah Kenzo yang begitu ceria bersama Alya, sosok yang selama ini ia harapkan bisa melihatnya.

Keira menyadari bahwa Alya memiliki aura yang jauh lebih lembut dibandingkan dirinya. Tak heran jika semua orang merasa nyaman dengannya. Alya memiliki senyum manis dan sifat yang ceria, sedangkan Keira terasa dingin dan tertutup.

Kenzo pun sepertinya tak terlalu memperhatikannya. Matanya terus tertuju pada Alya, gadis yang ia kagumi.

Keira duduk di sebelah Kenzo, namun ia merasa seperti bayangan yang tak terlihat. Kenzo bahkan seakan menghalangi pandangan orang lain terhadapnya, membuatnya semakin tersisih.

Perutnya tiba-tiba terasa perih. Keira lupa makan hari itu. Ia berusaha mengatur napas, menahan rasa sakit agar tak mengganggu mereka yang tampak begitu bahagia. Namun rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.

Ia memberanikan diri menyentuh lengan Kenzo pelan. "Bisa tolongi Keira? Perut Keira sakit," ucapnya lembut, berharap Kenzo mendengar.

Tak ada jawaban. Suara tawa dan kencangnya suara televisi menenggelamkan suaranya.

"Ken," panggilnya sekali lagi. Tetap tak ada tanggapan.

"Ken, tolongin Keira." Rasa sakit itu semakin hebat, namun Kenzo tak kunjung menoleh. Akhirnya Keira menyerah.

Ia merebahkan diri di sofa, menahan rasa sakit sekuat tenaga. Napasnya memburu, kepalanya pun ikut terasa pening. Namun tak ada satu pun yang menyadari keberadaannya.

Saat ia menengok ke sekeliling, ruangan itu kini sepi. Semuanya telah berpindah ke ruang makan. Keira berjalan pelan ke sudut ruangan, duduk sendirian di kursi yang kosong. Rasa sakit di perutnya perlahan berkurang, namun wajahnya masih tampak pucat.

"Kau sudah bangun, Keira? Tadi aku bangunin tapi kamu tidur terus," ujar Kenzo, seolah baru menyadari kehadiran Keira.

"Iya," jawab Keira singkat, lalu kembali menunduk memakan makanan di hadapannya.

"Tidak sopan," celetuk Ireb sinis saat melihat Keira yang hanya menjawab seperlunya. Ia tak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Keira.

Alya yang melihat itu segera menegur. "Udah..."

Kenzo hanya diam. Ia tahu sifat Keira memang begitu, namun ia tak pernah benar-benar mencoba memahaminya. Atau mungkin perasaan itu hanya ada di hati Keira saja.

Setelah selesai makan, mereka kembali ke ruang televisi. Keira tetap duduk di pojok, diam dan tak digubris siapa pun. Hatinya terasa perih, namun ia tak berani mengatakannya.

"Kau lucu banget pipinya gemoy," ujar Mahendra sambil mencubit pipi Keira.

"Keira bukan gemoy, kenapa sih kalian selalu bilang Keira lucu?" protes Keira, wajahnya terlihat kesal namun imut.

"Justru makin lucu deh," Mahendra tertawa dan langsung memeluknya.

"Jadi adikku yang satu ini, memang suka sekali diganggu," ujar Daena sambil tersenyum gemas.

"Aku sudah punya Kakak, tak mau tambah lagi," jawab Keira cemberut, bibirnya mengerucut.

"Kak, besok jemput Keira ya?" tanya Keira pada Rafael yang duduk di dekatnya. Sepeda yang biasa ia pakai sedang rusak, dan ia takut sulit mencari kendaraan umum pagi itu.

Keira menghela napas berkali-kali, namun tak ada jawaban yang datang karna kini fokus mereka sepenuhnya terpusat pada Alya, seakan keberadaannya tak pernah berarti. Padahal ia sudah berusaha berbicara cukup keras.

1
Sulati Cus
g usah berharap py temen klu semua palsu, mending sendiri apapun akan aman jika sendiri🤔
Sulati Cus
km nya aneh msh bertahan dg keluarga toxic😔 mending pergi kerja sambil sekolah, ku dulu kg kek gitu pdhl jmn dulu tu susah nyari duit g kek sekarang dg ngoten, nulis online apapun keknya menghasilkan uang😅
Herlina Susanty
buat Keira pergi thor
Herlina Susanty: pergi ke mana aj lah thor yg penting gag kecewa trus 🤣🤣💪
total 2 replies
Cty Badria
karena kamu bodoh 1000% bodoh
Cty Badria
kok cmn 1 up nya
lily
masih membaca kpn bangkitnya ni si keira...
Murni Dewita
ya udah gak usah aja gabung sama orang2 yg spt t
Cty Badria
lupakan saja mereka dari pd sakit hati. buat hekulah hatimu tuk mereka
Cty Badria
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Cty Badria
kenapa g keluar Dr rmh itu setiap hr dipukuli...aj rasanya bodoh banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!