NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEASON 2 (WARISAN YANG TERKUBUR) BAB 1 AWAL YANG TIDAK BIASA

Tiga bulan telah berlalu sejak malam di laboratorium tua itu, dan hidup Josh, setidaknya di permukaan, telah kembali ke bentuknya yang biasa. Alarm ponsel yang berbunyi pelan setiap pukul enam pagi, langit-langit kamar yang masih temaram oleh cahaya subuh, rutinitas mandi-sarapan-seragam yang sudah ia hafal luar kepala. Ia bahkan mulai bisa tidur nyenyak lagi, tanpa terbangun tengah malam dengan jantung berdebar seperti bulan-bulan sebelumnya.

Setidaknya, begitu yang ingin ia percayai.

Pagi itu, seperti pagi-pagi lain sejak dua minggu terakhir, Josh terbangun mendapati lampu kamarnya menyala sendiri padahal ia yakin betul sudah mematikannya sebelum tidur. Ia menatap saklar di dekat pintu selama beberapa detik, mencoba mengingat-ingat, sebelum akhirnya menggeleng dan meyakinkan diri bahwa mungkin ia lupa, atau mungkin ibunya masuk semalam untuk memeriksa. Alasan-alasan kecil semacam itu selalu berhasil menenangkannya, meski hanya sebentar.

Ia turun ke ruang makan, mendapati ibunya sedang menuang teh seperti biasa.

"Kamu ngobrol sama siapa semalam?" tanya ibunya tiba-tiba, tanpa menoleh dari cangkirnya.

Josh mengerutkan kening. "Nggak ngobrol sama siapa-siapa, Bu. Kenapa?"

"Ibu denger suara kamu dari kamar, kayak lagi ngomong sama orang. Sekitar jam satu-an." Ibunya akhirnya menoleh, tersenyum tipis, seolah mencoba membuatnya terdengar seperti candaan biasa.

"Mungkin cuma mimpi Ibu kali, ya." Josh tertawa kecil, meski sesuatu di dadanya terasa mengganjal.

"Kayaknya gitu, Bu."

Ia tidak bilang bahwa ia sendiri sempat terbangun sekitar jam itu, dengan tenggorokan kering dan perasaan aneh bahwa ada seseorang baru saja meninggalkan kamarnya beberapa detik sebelum matanya terbuka.

Sarapan pagi itu berlangsung seperti biasa roti bakar, telur mata sapi, dan teh hangat yang selalu jadi menu andalan ibunya sejak Josh masih SD. Ia makan dalam diam, sesekali mencuri pandang ke arah ibunya yang tampak sibuk menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri sebelum berangkat kerja.

Ada satu hal yang belakangan ini Josh perhatikan namun tidak pernah ia utarakan: ibunya jadi lebih sering menatap ke arah sudut ruangan yang sama, sudut yang dulu jauh sebelum semua ini dimulai pernah ia ceritakan sebagai tempat "teman" masa kecil Josh biasa duduk mengobrol dengannya.

Josh mengusir pikiran itu jauh-jauh, mengangkat tas sekolahnya, dan berpamitan seperti hari-hari biasa.

...----------------...

Koridor sekolah pagi itu ramai seperti biasa derap sepatu, obrolan riuh, aroma kantin yang mulai menyeruak dari ujung lorong. Josh berjalan menyusuri koridor menuju kelas XI IPA 2, earphone tersemat di telinga kiri, mencoba menenggelamkan diri dalam rutinitas yang familiar.

"Josh!"

Gibran melambai dari bangku belakang, seperti biasa dengan senyum lebar yang seakan tidak pernah padam.

"Woy, sini, gue punya sesuatu buat lo."

Josh menghampiri, mendapati Gibran menyodorkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk bulan sabit, terbuat dari logam berwarna perak kusam.

"Apaan nih?"

tanya Josh, membolak-balik benda itu di tangannya.

"Beli di toko souvenir deket rumah nenek gue pas liburan kemarin. Lucu kan? Buat lo, Veron, sama Brandon, gue beliin semua biar seragam gitu."

Gibran nyengir, menepuk pundak Josh.

"Anggap aja tanda kita masih solid abis semua kejadian gila kemarin."

Josh tersenyum, menyematkan gantungan kunci itu ke resleting tasnya tanpa curiga sedikit pun.

"Makasih, ya."

"Santai aja,"

jawab Gibran ringan, sudah berbalik untuk melempar bola kertas ke arah Brandon yang baru masuk kelas rutinitas lama yang tidak pernah benar-benar berubah.

Josh duduk di bangkunya dekat jendela, memandang keluar ke arah pohon trembesi tua di sudut lapangan. Semuanya terasa begitu normal, begitu menenangkan dan justru ketenangan itulah yang belakangan ini mulai terasa mencurigakan baginya, meski ia tidak bisa menjelaskan alasannya dengan tepat.

Brandon menjatuhkan diri di kursi sebelah Gibran sambil menggerutu soal PR yang belum selesai, sementara Veron masuk kelas beberapa saat kemudian dengan buku di tangan seperti biasa, tenang seperti biasa meski Josh memperhatikan ada bayangan tipis di bawah matanya, tanda ia juga tidak tidur nyenyak belakangan ini.

Mereka bertiga tidak pernah benar-benar membicarakannya secara terbuka, tapi ada semacam pengertian diam-diam di antara mereka: jika salah satu terlihat lelah, yang lain tidak perlu bertanya kenapa.

Bel berbunyi. Wali kelas masuk membawa map berisi pengumuman, wajahnya lebih serius dari biasanya.

"Sebelum kita mulai pelajaran, Bapak mau sampaikan sesuatu,"

katanya, suaranya menggantung sejenak di udara kelas yang tiba-tiba hening.

"Semalam ada anak SD di kompleks perumahan dekat sini yang sempat dilaporkan hilang. Untungnya sudah ditemukan pagi ini, dalam keadaan selamat."

Beberapa murid saling berbisik. Josh merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya, meski ia belum tahu kenapa.

"Ditemukan di mana, Pak?"

tanya seorang siswa di baris depan. Wali kelas menghela napas pendek.

"Di halaman belakang sekolah kita. Dekat gudang lama."

Ruangan kembali riuh oleh bisik-bisik, tapi bagi Josh, suara-suara itu terdengar jauh, seperti didengar dari balik kaca tebal. Ia menatap ke luar jendela, ke arah gudang tua yang samar terlihat dari kelasnya tempat yang seharusnya sudah selesai dengan segala cerita mengerikannya tiga bulan lalu.

Anak kecil itu ditemukan dalam keadaan selamat, kata wali kelas. Persis seperti Josh dulu, waktu ia berumur tiga tahun. Josh menoleh ke arah Veron yang duduk dua bangku di depannya.Tapi Veron sudah menoleh lebih dulu, matanya bertemu pandang dengan Josh, dan dalam sepersekian detik itu, mereka berdua tahu tanpa perlu bicara apa pun bahwa pikiran yang sama sedang berputar di kepala masing-masing.

Ini belum selesai.

...----------------...

Malam itu, setelah semua rutinitas hari itu usai, Josh duduk di meja belajarnya, mencoba mengerjakan tugas yang menumpuk sambil sesekali melirik jendela kamarnya yang gelap. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan gorden tipis, dan untuk sesaat ia merasa seperti diawasi perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak malam puncak di laboratorium itu.

Ia mengabaikannya, memaksa diri fokus pada soal matematika di hadapannya, sampai matanya tanpa sengaja jatuh pada buku harian lama yang tergeletak di sudut meja buku yang sudah berbulan-bulan tidak ia sentuh sejak semua kejadian itu berakhir.

Entah kenapa, malam ini ia merasa perlu membukanya. Halaman terakhir yang ia isi seharusnya tertanggal beberapa hari sebelum malam puncak, tiga bulan lalu. Tapi saat ia membuka lembar demi lembar, jantungnya berhenti sejenak. Ada satu halaman baru. Tulisan tangan yang jelas miliknya sendiri goresan huruf yang sama, kemiringan yang sama, bahkan kebiasaan mencoret huruf J dengan garis tambahan di bawahnya yang hanya ia lakukan sejak kecil.

Hanya berisi satu kalimat, tanggalnya adalah hari ini.

"Dia sudah mulai bangun lagi."

Josh menatap kalimat itu lama sekali, mencoba mengingat kapan, atau bagaimana, ia bisa menuliskannya dan sama sekali tidak menemukan jawaban apa pun dalam ingatannya.

Di luar jendela, angin malam berembus sedikit lebih kencang, membawa dingin yang menusuk jauh ke dalam kamarnya yang seharusnya hangat. Josh menutup buku harian itu perlahan, tangannya sedikit gemetar, lalu meletakkannya kembali ke sudut meja seperti semula seolah dengan begitu, apa yang baru saja ia baca bisa dianggap tidak pernah terjadi.

Ia mematikan lampu kamar, merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit yang gelap sambil mendengarkan detak jamnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. Entah berapa lama ia terjaga seperti itu sebelum akhirnya rasa kantuk mengalahkannya, tapi tepat sebelum matanya benar-benar terpejam, ia bisa bersumpah mendengar suara kecil begitu pelan, begitu dekat, seperti berasal dari sudut kamarnya sendiri.

"Hai, Josh."

Ia membuka mata lebar-lebar, jantungnya berdegup kencang, menatap sudut kamarnya yang gelap. Kosong. Tidak ada apa-apa di sana selain lemari pakaian tua dan tumpukan buku pelajaran yang belum sempat ia rapikan, persis seperti biasanya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir, Josh tidak berani memejamkan mata lagi sampai cahaya pagi benar-benar menyusup dari celah gordennya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!