Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Amarah di Balik Topeng Tabib
Ledakan pertama yang tercipta dari benturan antara ratusan pedang bayangan raksasa milik Mo Jue dan ribuan anak panah petir emas Panglima Gao menghasilkan dentuman yang sanggup merobek dimensi udara. Cahaya ungu kehitaman dan kilatan emas suci bergesekan hebat di angkasa, menciptakan gelombang kejut raksasa yang memapar ke segala penjuru langit di atas Kota Gusu.
Namun, di bawah sana, jalanan kota dan rumah-rumah penduduk jelata sama sekali tidak merasakan getaran atau kerusakan apa pun.
Kubah Perisai Gerhana yang dipasang Mo Jue sebelum bertarung berdiri dengan teramat kokoh.
Setiap kali riak energi penghancur dari langit menukik ke bawah, perisai hitam transparan itu akan berpendar pelan, menyerap dan membelokkan seluruh daya rusak supernatural tersebut menjadi hembusan angin malam fana yang biasa.
Di dalam rumah mereka, ribuan rakyat jelata hanya mengira langit sedang dilanda badai guntur biasa yang aneh.
Di atas awan, jalannya pertempuran justru menjadi ladang pembantaian yang teramat keji.
Pedang-pedang bayangan raksasa Mo Jue tidak hancur oleh hujan panah langit. Sebaliknya, bilah-bilah kegelapan itu memotong gelombang petir emas seperti memotong helai kain sutra tipis. Dengan kecepatan yang melampaui logika kedewaan, ratusan pedang hitam itu menghantam barisan depan pasukan zirah emas.
BOOM! BOOM! BOOM!
Jeritan histeris para prajurit langit pecah membelah angkasa. Zirah-zirah emas yang terkenal sebagai benteng pertahanan terbaik di surga, seketika retak dan meledak menjadi serpihan logam tak berguna saat tertusuk oleh pedang bayangan Mo Jue.
Energi kegelapan yang terkandung di dalam pedang tersebut langsung menyusup ke dalam meridian tubuh mereka, membekukan inti spiritual suci mereka hingga mereka kehilangan kemampuan terbang dan jatuh berhamburan dari udara seperti rontokan daun mati.
"P-Pertahanan mereka hancur dalam sekali serang?!" Panglima Gao berteriak panik dari atas kereta tempur emasnya.
Wajah agungnya kini telah dipenuhi oleh peluh keringat dingin. Sepasang mata menatap horor ke arah halaman rumah bawah. Ia benar-benar terkejut setengah mati melihat bagaimana Raja Iblis legendaris yang paling ditakuti seisi jagat raya, kini berdiri tegak di tengah rumah fana dengan mengenakan sisa-sisa pakaian rami abu-abu kasar.
Pria kegelapan itu mengendalikan ratusan pedang maut di langit atas hanya dengan gerakan jentikan jarinya yang santai.
"Mo Jue... bagaimana bisa kau berada di tempat kotor seperti ini?!" jerit Panglima Gao dengan rasa panik dan harga diri dewa yang terancam runtuh.
Sementara langit di atas halaman menjadi lautan badai energi yang bergolak, di dalam kamar tidur utama yang terkunci rapat, suasana terasa sangat mencekam.
Shen Liya berdiri bersandarkan daun jendela kayu yang sedikit terbuka. Cadar sutra tipisnya telah ia lepas, memperlihatkan wajah cantiknya yang pucat pasi namun sepasang mata indahnya menatap lurus ke luar tanpa berkedip.
Air mata kebingungan terus mengalir membasahi pipi.
Pikirannya masih terguncang hebat oleh kalimat pengakuan Mo Jue di pelataran halaman beberapa menit lalu. Saat pria itu membongkar jati dirinya dan mengakui bahwa ia diam-diam mentransfer energi dingin murni setiap malam demi menjinakkan sisa racun Jue Qing San di tubuhnya, seluruh potongan teka-teki misterius selama ini mendadak menyatu di kepala Shen Liya.
Jadi... kesegaran tubuh yang kurasakan setiap pagi... bukanlah kesegaran palsu menjelang ajal, batin Shen Liya, dadanya berdenyut perih oleh rasa haru yang teramat masif. Itu bukan terminal lucidity seperti dugaan bodohku di sisi ranjang waktu itu.
Semua itu terjadi karena kau... kau memeluk sukmaku dan menahan laju kematianku dari balik kegelapan malam saat aku sedang tertidur lelap.
Dinding benci dan doktrin tentang kejahatan ras iblis yang sejak kecil ia pelajari di aula suci langit, seketika runtuh tak bersisa di dalam hatinya. Pria berzirah hitam naga kegelapan di luar sana adalah suaminya. Dia adalah pria yang dengan cermat menyeduh obat herbal pahit untuknya, pria yang melindunginya dalam diam, dan pria yang menjadi ayah dari anaknya.
Bahkan, di tengah amarah perangnya, Mo Jue masih meluangkan energinya untuk membentengi seluruh Kota Gusu demi menghormati sifat penyayangnya yang menolak melihat manusia fana mati tak bersalah.
Di samping kanan tubuh Shen Liya, Gu Yu kecil berdiri tegak di atas kursi kayu agar bisa ikut menengok ke luar jendela. Sepasang mata sehitam tintanya berkilat warna ungu menyala yang kian pekat, memancarkan binar takjub dan rasa hormat yang teramat agung pada sosok ayahnya.
"Ibu, pria dingin itu sangat kuat," ujar Gu Yu kecil dengan nada suara datar namun sarat akan kebanggaan cilik yang meledak-ledak.
"Serangga zirah emas di luar sana bahkan tidak bisa membuat ujung jubah hitam Ayah bergeser. Ayah... Ayah benar-benar seorang penguasa yang hebat."
Bocah tujuh tahun itu memanggil Gu Jue dengan sebutan "Ayah" untuk pertama kali di dalam hidupnya akibat rasa takjub dan resonansi darah iblisnya yang telah membeku.
Di dekat kaki kecil Gu Yu, Xiao Bai merunduk siaga di atas lantai kayu kamar. Harimau putih kecil itu menggeram rendah, sepasang mata biru kristalnya berkilat ungu misterius, ikut merasakan gejolak dewa perang purbanya yang kian terpicu aktif akibat benturan energi raksasa dari luar jendela.
Lan Xi berdiri diam di sudut kegelapan kamar, memegang belati kembar esnya dengan posisi menyilang di depan dada. Samaran jubah pelayan katun hijaunya sedikit berkibar ditiup hawa angin dingin pelindung kamar. Sepasang mata jenderalnya melirik sekilas ke arah Shen Liya yang sedang menangis haru.
"Nyonya Agung," panggil Lan Xi lembut melalui suara bariton tegasnya yang tidak lagi disembunyikan.
"Anda tidak perlu mencemaskan keselamatan Yang Mulia Raja Iblis. Ribuan serangga suruhan Ling Cang di atas sana tidak lebih dari barisan umpan lumpuh di hadapan kekuatan mutlak Raja Mo Jue. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah menjaga aliran meridian Anda agar tidak kembali terguncang oleh sisa racun langit."
Shen Liya menoleh perlahan menatap pelayan barunya yang ternyata adalah Pelindung Kiri Alam Kegelapan yang legendaris. "Bibi Ah Xi... jadi kau juga..."
"Nama asli hamba adalah Lan Shuo, Pelindung Kiri Istana Kegelapan, Nyonya," Lan Xi menundukkan kepalanya sedikit dengan khidmat yang teramat pekat.
"Hamba mohon ampun karena telah lancang menyamar di dapur Anda. Namun hamba bersumpah, ketulusan Yang Mulia Mo Jue dalam menjaga Anda selama delapan tahun ini di bumi fana adalah kebenaran sejati yang belum pernah ia berikan pada makhluk mana pun di jagat raya."
Mendengar konfirmasi kesetiaan tersebut, Shen Liya kembali menatap ke arah halaman luar.
Di luar sana, pertarungan telah memasuki fase akhir untuk barisan depan langit.
Mo Jue perlahan menurunkan tangan kanannya, membuat ratusan pedang bayangan di langit seketika berhenti melesat. Angin badai kegelapan di sekeliling tubuh zirahnya bergulung tebal, menciptakan aura intimidasi absolut yang membuat sisa-sisa pasukan zirah emas Panglima Gao di atas awan tidak berani memajukan tombak mereka bahkan untuk satu jengkal pun.
Sepasang mata ungu menyala sang Raja Iblis berkilat dingin menembus kegelapan, mengunci sisa targetnya dengan guratan senyum pembunuh yang teramat kejam. Pembantaian awal di atas udara Kota Gusu telah selesai ia eksekusi dengan keunggulan mutlak, menetapkan berakhirnya paruh pertama krisis dengan persiapan aksi pembersihan total yang akan menyeret Panglima Gao turun ke atas tanah halamannya.