NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Pelayan Baru di Rumah Halaman

Aroma fajar yang segar perlahan-lahan mengikis kebekuan malam sisa badai gerimis di Kota Gusu. Sinar matahari pagi yang lembut menjatuhkan berkas cahaya keemasan di atas dinding batu abu-abu rumah halaman sewaan baru milik Gu Jue.

Di dalam dapur rumah yang kecil, suasana tenang yang seharusnya tercipta di pagi hari mendadak berubah menjadi sebuah medan pertempuran batin yang teramat kaku.

Lan Shuo—atau Pelindung Kiri Lan Xi yang menyamar menggunakan nama samaran manusia, Ah Xi—berdiri kaku di depan tungku perapian tanah liat. Gaun katun kasar berwarna hijau lumut miliknya tampak sedikit berantakan. Rambut panjangnya digelung kaku menggunakan tusuk konde kayu murahan yang miring ke kanan.

Di tangan kanannya, jenderal tertinggi militer Alam Kegelapan yang biasa memegang belati kembar penghancur sukma itu kini sedang menggenggam sebilah kipas anyaman bambu kecil dengan cengkeraman yang begitu erat hingga bambunya retak halus.

Bagaimana bisa menyalakan api fana ini begitu rumit? batin Lan Xi bergolak frustrasi, dahi cantiknya dipenuhi bulir keringat dingin.

Sebagai petinggi Alam Kegelapan, jika ia ingin membakar satu kerajaan langit, ia hanya perlu mengibaskan lengan zirahnya dan memanggil api neraka hitam.

Namun sekarang, demi sandiwara menjadi "pelayan desa dari desa tetangga", ia dilarang keras memercikkan seujung kuku pun energi iblis luar miliknya agar tidak memancing kecurigaan Dewi Shen Liya yang sedang tidur di kamar utama. Akibatnya, asap hitam pekat dari pembakaran kayu fana yang gagal justru mengepul hebat dari dalam tungku, membuat wajah cantiknya sedikit tercoreng jelaga hitam.

Uhuk! Uhuk!

Lan Xi terbatuk kaku, buru-buru mengibaskan kipas anyaman bambunya dengan panik demi mengusir asap tebal yang mulai memenuhi rongga dapur fana tersebut.

Suara langkah kaki kecil yang sangat ringan mendadak terdengar berhenti tepat di ambang pintu dapur.

Lan Xi menoleh cepat, dan sepasang matanya langsung bertumpu pada sesosok tubuh mungil berusia tujuh tahun yang sedang berdiri bersandarkan tiang kayu dapur dengan melipat kedua tangan kecilnya di depan dada.

Gu Yu kecil menatap pelayan baru bernama Ah Xi itu dari atas ke bawah dengan tatapan mata sehitam tintanya yang teramat tajam dan dingin—sebuah tatapan menyelidiki yang menuruni tabiat Gu Jue secara absolut. Di punggung jubah rami abu-abunya, sebilah pedang kayu kecil tersampir dengan rapi.

"Bibi Ah Xi, jika kau berniat membakar rumah halaman sewaan baru kami menggunakan asap dapur itu, sebaiknya kau katakan padaku sekarang agar aku bisa menyelamatkan kain rajut ibuku," celetuk Gu Yu kecil dengan nada suara datar dan ketat, tidak ada seulas rasa takut sedikit pun di wajah tampannya.

Lan Xi terkesiap sekilas, menatap keponakan ciliknya yang berwajah duplikat persis rajanya namun memiliki tabiat licik yang sangat menyebalkan. Sebagai Pelindung Kiri yang dihormati ribuan faksi iblis, berada di bawah kendali intimidasi seorang bocah berusia tujuh tahun terasa seperti sebuah kehinaan moral yang luar biasa kocak.

"T-Tuan Muda Cilik, saya hanya... kayu bakar di kota ini agak lembap karena gerimis semalam, jadi apinya sedikit malas untuk menyala," dusta Lan Xi dengan senyuman paksa yang terlihat sangat konyol di wajah jenderalnya. Ia buru-buru menyeka jelaga hitam di pipinya menggunakan ujung lengan baju hijaunya.

Gu Yu kecil melangkah masuk ke dalam dapur dengan gerakan lambat yang luwes. Ia mendekati rak kayu tempat penyimpanan bahan makanan, lalu mengambil sebuah manisan buah persik kering yang semalam dibelikan ayahnya di pasar malam.

Bocah cerdas itu menggigit manisannya santai, sepasang matanya tetap mengunci pergerakan kaku Lan Xi. Melalui indra sensorik iblis murni di dalam tubuhnya yang semakin pekat setelah berlatih kemarin fajar, Gu Yu tahu 100% bahwa pelayan baru ini memikul aliran hawa dingin murni yang jalurnya sangat selaras dengan energi tersembunyi milik "pria dingin" (Gu Jue).

Artinya, wanita berbaju hijau lumut ini dikirim oleh ayahnya dari garis belakang, atau dia adalah bawahan rahasia ayahnya di dalam lingkaran "master kungfu manusia tersembunyi" yang pura-pura jadi tabib gubuk miskin.

"Bibi Ah Xi," panggil Gu Yu kecil lagi, sudut-sudut bibir kecilnya terangkat membentuk guratan senyum sinis yang sangat licik.

"Kemarin sore saat kau mencoba mencuci pakaian katun biru milik Ibuku di sumur halaman belakang, kau mematahkan papan gilasan kayu jati itu menjadi dua bagian hanya dengan sekali kucek, kan?"

Mendengar pemerasan halus dari sang pangeran cilik, seluruh tubuh Lan Xi seketika menegang kaku (gemetar ketakutan). Ia teringat bagaimana tenaganya yang terlalu besar tidak sengaja menghancurkan fasilitas kayu manusia itu kemarin sore.

Jika bocah menyebalkan ini mengadukan kecerobohannya pada Gu Jue, sang Raja Iblis pasti akan memberikan tatapan membunuh atau menyeret sukmanya kembali ke Istana Kegelapan dalam hitungan detik.

"Tuan Muda Cilik... itu... papan kayunya memang sudah lapuk sejak awal," bisik Lan Xi panik melalu transmisi suara batin khusus agar tidak terdengar ke luar dapur.

"Apa maumu, huh? Katakan saja celah negosiasimu sebelum Tuan Ah Jue masuk ke tempat ini!"

Gu Yu kecil tertawa hambar tanpa suara, menikmati kemenangan taktik ciliknya atas pelayan barunya.

"Mudah saja," jawab Gu Yu kecil dengan transmisi batin yang secara ajaib berhasil ia lepaskan berkat resonansi darah iblisnya, membuat Lan Xi terbelalak sempurna menyadari bakat jenius keponakannya.

"Pasar malam di distrik timur kota ini menjual kue beras manis berlapis madu hitam yang sangat enak. Setiap sore setelah aku selesai memotong kayu bersama Ayah, kau harus diam-diam membelikan itu untukku dan menaruhnya di bawah bantal tempat tidurku tanpa sepengetahuan Ibu. Jika kau melanggar... aku akan memberi tahu Ibu bahwa pelayan barunya tidak tahu cara mencuci baju tanpa menghancurkan kayunya."

Lan Xi menggigit bibir bawahnya, menahan rasa geram yang teramat pekat. Jenderal tertinggi militer Alam Kegelapan kini resmi menjadi kurir kue beras manis seorang anak kecil berusia tujuh tahun!

"Baik! Deal! Aku akan membelikan kue beras bodohmu itu setiap sore! Sekarang keluar dari dapurku sebelum asap ini mencekik lehermu!"

Belum sempat Gu Yu kecil melangkah pergi, sesosok bayangan putih kecil mendadak melesat masuk ke dalam dapur, mendarat dengan lincah tepat di atas bahu baju katun hijau lumut milik Lan Xi.

Xiao Bai menggerakkan ekor kecilnya, lalu dengan sengaja menggosokkan kepala berbulunya ke pipi mulus sang Pelindung Kiri, menyisakan coretan jelaga hitam baru di dahi jenderal tertinggi tersebut.

Tidak hanya itu, mata biru kristal Xiao Bai berkilat jenaka menatap mangkuk kue beras berlapis madu hitam yang disembunyikan Lan Xi di bawah meja, mengeluarkan suara mengeong manja seolah menuntut jatah bagiannya sebagai upeti tutup mulut.

Lan Xi menegang kaku, menatap anak harimau putih di bahunya dengan mata yang melotot geram namun tidak bisa melepaskan energi iblisnya.

"Bahkan binatang suci ini ikut tertular kelicikanmu, Tuan Muda Cilik!" gerutu Lan Xi melalu transmisi batin yang dibalas oleh tawa renyah tanpa suara dari Gu Yu kecil.

Gu Yu mengambil sepotong kue beras manis, menyuapkannya ke dalam mulut kecil Xiao Bai yang langsung mengunyahnya dengan riang, sebelum keduanya berjalan melompat-lompat kecil keluar dari dapur dengan wajah penuh kemenangan.

Di pelataran halaman tengah, di bawah pohon persik kecil, Gu Jue sedang berdiri diam memegang teko keramik kecil berisi air hangat. Pakaian rami abu-abu kasarnya tampak rapi, dan sepasang mata sehitam tintanya menurunkan pandangan, menatap tajam ke arah pintu dapur yang mengepulkan asap kelabu tipis.

Meskipun wajah manusianya tetap datar sedingin es abadi, Gu Jue sebenarnya sudah mendengar seluruh percakapan batin antara Lan Xi dan putranya tadi murni menggunakan jangkauan indra sensorik rajanya.

Sudut bibir tegap Mo Jue terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang sangat tersembunyi. Sisi hatinya yang selama ribuan tahun membeku diam kini dipenuhi oleh kehangatan komedi domestik yang teramat pekat melihat bagaimana Pelindung Kiri kepercayaannya di buat mati kutu oleh kelicikan cilik darah dagingnya sendiri.

Pintu kamar tidur utama terbuka pelan, dan Shen Liya melangkah keluar dengan gaun katun biru mudanya yang anggun. Wajah cantiknya tampak jauh lebih bugar dan bersinar, memancarkan pesona suci seorang dewi langit yang akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa gangguan hawa kematian dari luar perisai hutan lagi.

"Ah Jue, selamat pagi," sapa Shen Liya lembut, melangkah mendekat dan menyandarkan tangannya dengan alami di lengan kokoh Gu Jue. Cadar sutra tipisnya bergerak lembut ditiup angin fajar.

"Bau asap apa ini? Apakah Bibi Ah Xi sedang menyiapkan sarapan baru untuk kita?"

Gu Jue menoleh, menatap wajah damai istrinya dengan sepasang mata hitam yang seketika mencair penuh kelembutan pelindung yang dalam.

Ia merangkul pinggang Shen Liya, membimbingnya duduk di bangku batu bawah pohon persik dengan gerakan yang sangat cermat.

"Ah Xi berasal dari desa terpencil di utara, Liya. Dia belum terlalu terbiasa dengan model tungku tanah liat di kota besar ini," ujar Gu Jue dengan dusta manusianya yang mengalir begitu mulus tanpa cela.

"Biarkan dia belajar di dapur. Jika dia membakar kayu gubug sewaan ini, aku yang akan memotong gajinya bulan depan."

Shen Liya tertawa kecil mendengar kalimat ketus suaminya, suara tawa merdu khas dewi yang seketika melenyapkan seluruh sisa hawa dingin malam di halaman rumah tersebut.

Lan Xi melangkah keluar dari dapur membawa nampan kayu berisi semangkuk bubur jagung hangat fana yang akhirnya berhasil ia matangkan setelah pertempuran sengit melawan tungku api.

Dengan kepala menunduk khidmat dan senyuman pelayan yang dipaksakan sekuat tenaga, ia menyajikan makanan tersebut di atas meja batu di depan rajanya dan sang Nata Agung, memulai babak baru berupa rutinitas harian keluarga dewa-iblis rahasia yang sarat akan warna komedi manis di tengah hiruk-pikuk kedamaian kota fana Kota Gusu kelak.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!