Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Kael membaringkan Aurora dengan hati-hati di sofa panjang yang berada di ruang utama mansion miliknya. Interior rumah itu didominasi warna abu-abu, putih, dan sentuhan hitam yang membuat suasana terasa dingin sekaligus elegan. Kesunyian memenuhi setiap sudut ruangan, seakan seluruh rumah ikut menahan napas menunggu sesuatu terjadi.
Pria itu berdiri beberapa langkah dari sofa sambil menatap Aurora yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.
Ia mengangkat gelas kristal berisi sampanye, menyesapnya perlahan, lalu kembali melirik jam di pergelangan tangan.
"Di mana Adrian?" gumamnya dengan nada datar. "Cassian bilang dia sudah berangkat. Terlalu lama."
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman mansion.
Pintu utama terbuka.
Cassian berjalan lebih dulu, diikuti Adrian yang langsung melangkah cepat menuju ruang tengah tanpa menghiraukan siapa pun.
"Aurora..."
Suara Adrian terdengar lirih, dipenuhi kecemasan seorang kakak.
Ia segera berlutut di samping sofa. Jemarinya yang sedikit gemetar memeriksa denyut nadi adiknya, kemudian memastikan napas Aurora masih teratur. Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, Adrian akhirnya mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
Ketegangan di wajahnya sedikit memudar. Tidak tampak luka serius pada tubuh Aurora.
Adrian mengepalkan tangannya pelan sambil menatap adiknya yang masih tak sadarkan diri.
"Siapa pun yang melakukan ini..."
Kalimat itu menggantung, tertahan oleh emosi yang sulit ia sembunyikan.
Di sisi lain ruangan, Kael tetap berdiri dengan tenang, gelas kristalnya masih berada di tangan. Tatapannya tidak sedikit pun bergeser dari Aurora.
"Aku yang membawanya keluar sebelum semuanya terlambat." ucapnya singkat.
Adrian menoleh. Tatapan kedua pria itu bertemu, sama-sama tajam, sama-sama sulit ditebak.
Ruangan kembali diliputi keheningan.
Hanya suara napas Aurora yang menjadi pengingat bahwa gadis itu masih berjuang melewati semuanya.
Sementara itu, Kael dalam diam membuat satu keputusan.
Apa pun yang telah mengancam Aurora hari ini, ia tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya.
Bahkan jika seluruh dunia harus menjadi musuhnya.
"B-Bagaimana mungkin Aurora bisa berada di sini, Tuan?"
Suara Adrian terdengar bergetar. Lelaki paruh baya itu berdiri kaku di tengah ruang tamu mansion yang sunyi, kedua tangannya mengepal gugup. Ia sama sekali tidak berani menatap langsung wajah pria yang duduk tenang di hadapannya. Tatapan dingin Kael selalu cukup untuk membuat siapa pun kehilangan keberanian.
Kael menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sofa. Jemarinya mengetuk pelan sandaran kursi, sementara sepasang mata kelabunya meneliti Adrian tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.
"Apa kau ingin tahu di mana aku menemukan adikmu?"
Nada suaranya datar. Tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap katanya terasa seperti ancaman.
Adrian menggeleng pelan.
"Saya... saya tidak tahu, Tuan."
Sudut bibir Kael terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Di sebuah klinik kandungan."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung sebelum kembali melanjutkan.
"Tempat itu berada di bawah wilayah kekuasaanku. Adikmu datang ke sana untuk mengakhiri kehamilannya."
Setiap kata diucapkan perlahan, tajam, dan penuh penekanan, seolah sengaja memastikan tidak ada satu pun yang luput dari pendengaran Adrian.
Wajah pria itu seketika memucat. Napasnya tercekat, sementara matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.
"Tidak... tidak mungkin...."
Baginya, Aurora adalah gadis yang lembut dan selalu terbuka. Sulit menerima kenyataan bahwa adiknya menyimpan rahasia sebesar itu.
Dengan langkah gemetar, Adrian akhirnya mengangkat pandangan ke arah Kael.
"Tuan... apakah maksud Anda... Aurora benar-benar sedang mengandung?"
Pertanyaan itu keluar hampir seperti bisikan. Ada harapan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Namun Kael tidak segera menjawab.
Ia hanya menatap Adrian beberapa detik, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Kehamilan itu nyata."
Suara Kael tetap rendah dan terkendali.
Ruangan kembali diselimuti keheningan yang mencekam.
Adrian merasakan jantungnya berdetak semakin keras, sementara Kael bangkit dari duduknya dengan gerakan tenang. Aura pria itu begitu dominan hingga udara di dalam ruangan terasa semakin berat.
"Adikmu memang sedang mengandung, Adrian."
Suara Kael terdengar rendah, namun setiap katanya menghantam seperti palu. Rahangnya mengeras, tatapan kelamnya menusuk pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Ada kemarahan yang bergejolak di balik sorot matanya. Bukan semata karena kehamilan itu, melainkan karena seorang kakak bahkan tidak menyadari apa yang sedang dialami adiknya.
"Bahkan kau tidak tahu keadaan adikmu sendiri," lanjutnya dingin. "Itu kelalaian yang tak bisa kuterima."
Adrian membeku.
Dadanya naik turun tidak beraturan. Wajahnya kehilangan warna, sementara kedua matanya membesar penuh ketidakpercayaan.
"Tidak... itu tidak mungkin..." bisiknya lirih, menggeleng pelan seolah berharap kenyataan itu berubah. "Aurora gadis yang baik... dia tidak mungkin...."
Kakinya melemas.
Tubuh pria berusia dua puluh lima tahun itu perlahan merosot hingga terduduk di lantai marmer. Jemarinya yang bergetar menutupi wajah, sementara napasnya mulai tersendat oleh isak yang berusaha ia tahan.
Selama ini ia mengira telah menjadi kakak yang cukup baik.
Namun hari itu, seluruh keyakinannya runtuh dalam sekejap.
"Aku gagal menjaganya..." suaranya pecah. "Adik kecilku... harus menghadapi semua ini sendirian."
Ruangan luas itu mendadak dipenuhi kesunyian yang menyesakkan.
Kael hanya memandang tanpa sedikit pun menunjukkan belas kasihan. Ekspresinya tetap datar, seolah air mata bukan sesuatu yang mampu menggoyahkan pendiriannya.
"Kehamilan di luar pernikahan bukan lagi sesuatu yang menentukan harga diri seseorang," ucapnya tenang. "Yang menentukan adalah bagaimana seseorang bertanggung jawab setelahnya."
Ia melangkah mendekat hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka.
"Kau tahu? Adik kesayanganmu mengaku tengah mengandung darah dagingku. Dia memohon sekaligus menuntut agar aku bertanggung jawab atas semua itu!" hardik Kael dengan amarah yang nyaris tak terbendung. Nada suaranya mengguncang seisi ruangan.
Tatapan tajamnya mengarah sekilas ke sosok Aurora yang masih terbaring tidak jauh dari sana.
"Maafkan saya, Tuan..."
Suara Adrian terdengar lirih. Kepalanya tertunduk dalam, seolah beban yang dipikulnya mendadak menjadi terlalu berat.
Di dalam hatinya, ribuan pertanyaan berputar tanpa jawaban.
Bagaimana mungkin Aurora meminta pertanggungjawaban kepada seorang pria jika tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka?
Kecurigaan perlahan tumbuh di sudut pikirannya. Ada bagian kecil dari dirinya yang ingin mempertanyakan semuanya, bahkan mencurigai Kael. Namun keberanian itu tak pernah benar-benar sampai ke bibirnya.
Di hadapan pria itu, ia hanyalah bawahan.
Dan seorang bawahan tidak memiliki hak untuk mempertanyakan tuannya.
Tatapan Adrian beralih kepada adiknya yang masih terbaring lemah di atas sofa.
Wajah gadis itu terlihat begitu damai, seakan tidak sedang memikul rahasia sebesar itu.
Dadanya kembali terasa sesak.
"Kenapa kau memikul semuanya sendirian, Aurora...?" gumamnya lirih.
Ia tak habis pikir bagaimana adik yang selalu ia kenal sebagai gadis lembut dan penurut bisa nekat mendatangi klinik untuk mengakhiri kehamilannya.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe