NovelToon NovelToon
JADIAN YUK!!

JADIAN YUK!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.

Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.

Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Makan Bersama

Arjuna melangkah masuk ke dalam rumah dengan sikap yang tidak biasa, tenang, sopan, dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa kaget atau jijik melihat kesederhanaan tempat tinggal itu. Ruang tamunya sempit, hanya berisi satu set kursi kayu dan meja kecil yang sudah agak tua, tapi terlihat sangat bersih dan tertata rapi. Bau harum masakan yang baru matang langsung menyapa hidungnya, membuat perutnya yang memang sudah lapar makin keroncongan.

Dari dalam ruang tengah, terlihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk bersandar sambil membaca koran bekas. Begitu mendengar langkah kaki, ia mengangkat wajahnya dan menatap tamu baru itu dengan pandangan ramah.

“Yah, ini ada teman sekolahnya Laila.” ucap Bu Ami memperkenalkan.

Pak Joko, ayah Laila, segera berdiri dan menyambutnya dengan senyum. “Silakan duduk, Nak. Maaf rumah kami sempit dan seadanya saja.”

Arjuna segera mencium tangan pria itu dengan hormat. “ngga apa-apa Pak, justru terasa hangat dan nyaman di sini. Terima kasih sudah diterima,” jawabnya tulus, bukan sekadar basa-basi.

Laila duduk di sudut ruangan, hanya diam mengamati. Ia masih tidak percaya Arjuna bisa bersikap sebaik ini di depan orang tuanya, padahal biasanya di sekolah atau di jalan tingkahnya selalu bikin emosi.

Tak lama kemudian, Bu Ami menyajikan makanan di atas meja...nasi hangat, sayur lodeh, tempe goreng, dan ikan asin. Makanan sederhana tapi terlihat sangat menggugah selera.

“Maaf ya Nak, lauknya hanya seadanya saja. Tidak seperti di rumahmu yang mungkin lebih lengkap,” kata Bu Ami sedikit canggung.

Arjuna tersenyum lebar lalu segera mengambil nasi dan lauknya sendiri. “Saya justru udah lama nggak makan masakan sehangat dan seenak ini, Bu. Di rumah saya sering makan makanan mahal tapi rasanya biasa saja. Ini jauh lebih enak,” ucapnya jujur lalu mulai menyantapnya dengan lahap.

Orang tua Laila terkejut sekaligus senang mendengarnya. Sementara Laila menatapnya curiga takut Arjuna hanya berpura-pura sopan sebentar saja.

Selama makan, Pak Joko dan Bu Ami bertanya banyak hal soal sekolah, keluarga, dan hobi Arjuna. Pemuda itu menjawab semua pertanyaan dengan santun dan jujur, tanpa menyombongkan kekayaan atau statusnya. Bahkan ketika Pak Joko bercerita soal kenapa Laila jarang pulang cepat karena harus bekerja, Arjuna hanya mendengarkan dengan perhatian penuh.

“Laila ini anak yang rajin dan mandiri, Nak. Ia ingin membantu kami, padahal kami sudah melarangnya agar fokus sekolah saja. Tapi ia tetap berkeras, katanya ingin membiayai kebutuhannya sendiri nanti untuk kuliah,” ucap Pak Joko sambil menatap putrinya dengan pandangan bangga namun juga sedih.

Mendengar itu, rasa kagum Arjuna makin memuncak. Ia baru benar-benar mengerti mengapa Laila terlihat lebih dewasa, tegas, dan tidak gampang tergoda hal-hal duniawi semua itu dibentuk oleh perjuangan hidup yang tidak mudah.

Setelah selesai makan, Arjuna malah ikut membereskan piring dan gelasnya sendiri, padahal Bu Ami sudah berkali-kali melarang. “Sudah, Nak, biar Ibu saja yang bereskan. Kamu tamu, nggak usah repot,” kata Bu Ami. Tapi Arjuna tetap nekat, katanya nggak enak kalau cuma duduk diam saja.

Selesai beres-beres, ia duduk lagi sambil sesekali melirik Laila yang sejak tadi cuma diam sambil memainkan ujung bajunya, entah lagi mikir apa.

Melihat langit di luar sudah mulai gelap, Arjuna sadar sudah agak malam. Ia pun berdiri santai dan menoleh ke orang tua Laila.

“Bu, Pak, hari sudah mulai gelap. Saya pamit pulang dulu ya, takut nanti dicari orang tua di rumah. Makasih banyak tadi sudah disuguhi makan, enak banget sampai kenyang maksimal,” ucap Arjuna sambil menyengir lalu mencium tangan mereka dengan sopan.

Bu Ami tersenyum lebar. “Sama-sama Nak, kapan-kapan boleh mampir lagi ya. Pintu rumah ini selalu terbuka buatmu.”

Di luar rumah, saat mereka berdua berdiri di samping motor, Laila akhirnya berbicara. “Tadi bagus banget loh sandiwaranya, Sopan banget sampai bikin ibu dan ayah gue kagum.”

Arjuna tersenyum tipis, kali ini tanpa nada menggoda. “Ini bukan sandiwara, La. Gue bicara apa adanya. Orang tua lo baik banget, dan rumah lo terasa lebih nyaman daripada rumah gue yang besar tapi sepi.”

Ia melangkah mendekat sedikit, suaranya menjadi lebih lembut. “Dan tadi gue makin yakin, gue nggak salah memilih lo. Sifat lo yang mandiri, tegar, dan rendah hati itu yang bikin gue makin suka.”

Laila terdiam, wajahnya memerah lagi namun kali ini tidak sepenuhnya kesal. Ia memalingkan wajah agar tidak terlihat bingung. “Apasih… kalau ngomong seenaknya aja. udah pulang sana, jangan sampai orang tua lo cari.”

Arjuna tertawa kecil, lalu menaiki motornya. “Yaudah, gue pulang dulu. Ingat ya, mulai besok gue antar jemput sekolah. Ngga ada kata penolakan!”

Sebelum Laila sempat membalas, Arjuna sudah menyalakan mesin dan melaju pergi sambil melambaikan tangan. Laila hanya berdiri mematung di depan rumah, hatinya kini terasa lebih berdebar daripada sebelumnya rasa yang ia sendiri belum bisa mengerti dengan jelas.

1
Rafi Hafizh
hati hati Laila🫣
Rafi Hafizh
vampir kali jun🤣
Ananda Anggit
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!