NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran Safa Dan Alana

Saat Johan dan Safa pulang, Alana masuk ke kamar Cia. Terlihat Cia tengah asik mengerjakan tugas menggambar dari sekolahnya.

"Wah, Cia gambar apa sayang?" Tanya Alana dengan wajah penasaran.

"Gambar keluarga, ini Mama, ini Cia yang agak besar, yang kecil ini Vino, Ini Papa Rafa, Ini Papa Johan lengkap kan?" Seru Cia bersemangat menerangkan apa yang ia gambar.

Alana tertegun melihat hasil gambar anaknya itu kemudian ia memegang tangan Cia.

"Gambar Cia bagus, Mama suka. Papa Rafa dan Papa Johan pasti suka juga" Ucapa Alana sambil menatap putrinya itu.

"Wah, nanti Cia gambar lagi nanti gambarnya bertiga aja. Papa Rafa, Mama, Cia. Biar dipasang di dinding kamar. Boleh kan mah?"

"Boleh sayang...." Alana melihat putrinya kini sudah tumbuh besar.

"Cia... Mama boleh tanya sesuatu?"

"Boleh dong Mah"

"Sayang, seandainya mama melakukan kesalahan. Apakah Cia akan memaafkan kesalahan mama?" Alana memegang erat tangan Cia berharap analnya jujur.

"Iya, kan seperti yang mama bilang. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya".

Kalimat Cia membuat Alana seperti tertampar kenyataan. "Sayang, Cia sayang Mama?"

"Cia saaaayang banget sama mama"

Bocah perempuan itu memeluk Alana yang duduk di kursi roda. "Mama jangan kemana-mana ya. Jangan pergi, jangan ninggalin Cia ya Mah".

Kalimat anaknya terasa menyesakan dadanya.

"Apa Vino juga sama seperti Cia? Dia bakal nyariin Safa, nangisin Safa. Apa aku harus memaafkan dan melupakan kesalahan Safa? Safa menderita juga karna aku"

Batin Alana berkecamuk ditambah kalimat Cia yang begitu jujur, polos semakin membuat hatinya tak tega jika Vino harus tumbuh tanpa seorang ibu.

______

Malam hari saat Alana berbaring diranjang, ia memcoba tidur namun kepalanya sangat berisik

kalimat Safa yang menitipkan Vino padanya memenuhi seluruh otaknya.

"Mas..." Alana melirik ke arah Rafa yang bersiap tidur.

"Kenapa sayang?"

"Aku kefikiran Safa, Mas".

"Kefikiran apanya? Kamu mau dia gimana? Kita bisa jeblosin dia ke penjara sayang"

"Nggak deh mas... Dia ibu, sama kayak aku. Vino butuh Safa dimasa pertumbuhannya".

Hening sesaat

"Kamu mau maafin dia dan menyelesaikan secara kekeluargaan?"

Tanya Rafa sambil menggenggam tangan Alana. Kemudian anggukan kecil hadir dari Alana, menandakan ia akan memaafkan Safa demi Vino.

"Dulu, Johan juga aku maafin pas dia udah bikin aku rugi enam milyar". Rafa menarik nafas

"Sekarang, kamu maafin istrinya meski kita berdua hampir mati gara-gara dia".

Rafa mengelus punggung tangan Alana, menciumnya berkali-kali, lalu menatap Alana penuh kasih sayang.

"Kamu yakin sayang?"

"Iya, Mas... Aku juga gak tega kalo Vino ibunya dipenjara, dia pasti akan malu, belum mentalnya entah dia akan kuat atau nggak".

"Kamu terlalu berfikir jauh sayang. Yaudah, besok kita bicara lagi sama mereka ya. Sekarang kamu istirahat"

Rafa menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.

"Besok pagi, jadwal kamu terapi. Semangat ya sayang, semoga kaki kamu bisa secepatnya pulih dan bisa jalan normal lagi".

Rafa mencium kening Alana, lalu ia merebahkan tubuhnya disamping Alana.

_____

Dikediaman Johan

Vino datang ke kamar mereka berdua, membawa guling kesayangannya.

"Mommy, Vino mau tidur sama Mommy dan Papah"

"Vino kan udah gede, kenapa gak tidur sendiri aja." Sahut Safa datar.

"Sini nak, kita tidur bertiga."

Johan menjemput Vino yang berada diambang pintu.

Vino berbaring ditengah-tengah mereka memeluk guling abu-abu miliknya.

"Gulingnya dipeluk terus Vin, peluk papah aja sini"

Johan memeluk anak laki-lakinya itu.

"Ini hadiah dari mommy, pas aku ulang tahun"

Ucap Vino polos, membuat Safa yang tadinya cuek menoleh ke arah Vino.

"Hadiah dari mommy? Mommy aja gak inget sayang"

Safa segera meraih tangan mungil anaknya.

"Maaf ya nak, mommy jarang ada waktu buat kamu".

"Nggak apa-apa, Mommy kan kerja" sahut anaknya polos.

"Yaudah, kuta bobo ya besok Vino sekolah, biar gak kesiangan bangunnya" Kata Johan dan memeluk Vino.

Baru kali ini, Vino merasakan pelukan hangat orangtuanya secara utuh saat tidur. Vino pun tertidur dengan senyuman mengembang di bibirnya.

____

Tengah malam, Safa bangun lalu memastikan Johan dan Vino benar-benar tidur pulas. Ia meninggalkan kasur, menuju dapur dan menelpon seseorang.

"Halo, Adam posisi dimana sekarang?"

"Saya dirumah yang ibu sewain" jawab dari sebrang.

"Denger baik-baik, saya mau kamu menghentikan semua rencana yang sudah disusun. Jangan sentuh Alana dan Rafa."

"Tapi kan ibu udah bayar setengah kesaya untuk kerjaan ini" jawab dari sebrang lagi.

"Pokoknya saya perintahkan kamu untuk berhenti mengganggu Alana dan Rafa. Saya nggak mau mereka terluka lebih parah karna saya. Jadi stop, rencana-rencana lain jangan ada yang dilanjutin. Saya harap, kamu bisa ngerti dan tau posisi kamu dan anak buah kamu".

"Aman aja bu, yang peting kabar sama transfernya lancar"

"Oke, uang untuk anak buah kamu sudah saya transfer, cek aja. Ingat jangan macam-macam, saya gak bertanggung jawab jika kalian tertangkap polisi".

"Oke sip bu, aman aja. Makasih, udah mempercayakan pekerjaan ini kepada saya"

Safa menutup telponnya, lalu melihat sekeliling dapur memastikan tak ada yang mendengar percakapannya, setelah dirasa aman ia membuka kulkas mengeluarkan minuman rasa anggur lalu menuangkan ke gelas, ia duduk di meja makan sendirian menikmati minumannya sambil melamun.

"Gimana kalo Rafa beneran laporin gue ke polisi? Nggak, itu nggak boleh terjadi. Gue gak boleh dipenjara, gue harus bikin Alana kasihan sama gue. Dan gue gak boleh cerai sama Johan, gila aja gue udah berjuang mati-matian buat nikah sama dia, masa cerai gitu aja?"

Safa benar-benar frustasi dengan kondisinya sekarang. Minuman anggur ia tenggak sampai habis kemudian gelas kosongnya ia tuang lagi dengan minuman yang sama.

______

Alana gelisah, ia tak bisa tidur sama sekali memikirkan semuanya. Memikirkan kakinya, Vino, tangan Rafa yang tertusuk, dan tuntutan cucu dari orangtua dan mertua hingga membuat kepalanya terasa sakit.

"Argh, kenapa malah jadi overthinking sih?" Ia melirik jam dinding menunjukan pukul dua malam.

"Astaga... Aku gak bisa tidur"

Alana melihat Rafa yang terlelap disampingnya dengan tangan yang masih diperban.

"Mas... Maaf ya, gara-gara aku, tangan kamu jadi kayak gini" ia mengusap pelan tangan suaminya yang diperban.

Alana bangun duduk dari tidurnya, membuka selimut yang menutupi kakinya, berharap keajaiban datang dijam dua malam untuk kedua kakinya.

"Tuhan, jika ini hadiah dari engkau agar aku bisa beristirahat sejenak, aku ikhlas. Tapi aku merindukan kaki ku yang bisa bergerak dan berjalan dengan normal".

Tanpa terasa air matanya jatuh, hatinya terasa perih melihat kakinya yang kaku tak bergerak.

Alana mengambil minyak angin aroma terapi dari nakas disamping tempat tidurnya lalu mengoleskan ke kakinya berharap ia bisa merasakan hangatnya minyak itu dikakinya.

"Ayo Alana, kakinya harus sembuh. Cia dan mas Rafa butuh kamu untuk segera bangkit".

Alana menangis terisak saat kakinya terasa sakit dan kaku, ia merasa frustasi dengan kondisi kakinya yang sekarang tak bisa bergerak sempurna.

"Tuhan... Sakit" Lirihnya dalam tangis, tanpa ia sadari jari kelingking di kakinya mulai bergerak sedikit demi sedikit, namun sakit di kakinya tak tertahankan hingga tangisnya semakin kencang.

Rafa tersentak dan membuka mata, melihat Alana duduk sambil menangis

"Alana..." Ia terkejut dan langsung bangun tanpa peduli tangan kirinya juga sakit, ia memeluk dan menenangkan istrinya.

"Sayang kenapa? Ada yang sakit?" Rafa mengusap rambut Alana perlahan.

"Kaki aku sakit mas, tuhan lagi hukum aku atau suruh aku istirahat mas?" Pertanyaan Alana membuat dada Rafa serasa dihantam bagu besar.

"Sayang, tuhan mau kamu istirahat. Tuhan sayang sama kamu, kamu yang tenang ya. Besok pagi, kamu terapi lagi semoga semakin ada kemajuan ya sayang"

Tangis Alana pecah dipelukan suaminya, ia merasa rapuh saat ini. Beruntungnya Rafa memberikan pelukannya tanpa merasa terbebani sedikitpun.

"Aku ngerasa gak berguna mas, aku capek duduk dikursi roda terus" keluh Alana lagi.

"Iya, mas tahu sayang. Mas ngerti, makanya kamu semangat terapinya ya. Biar kamu bisa cepet pulih. Biar kita bisa jalan-jalan jauh lagi, semangat sayang".

Rafa mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali, ia menghirup bau shampo dirambut istrinya guna menenangkan hatinya juga.

"Tidur lagi ya sayang, kamu harus fit. Biar besok semangat terapinya, biar badannya seger sayang"

"Mas.... Kamu sayang aku?"

Pertanyaan template itu mungkin sudah seribu kali Alana pertanyakan kepada suaminya. Namun, Rafa selalu sabar menjawab pertanyaan istrinya itu.

"Aku selalu sayang banget sama kamu".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!