NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027

Mana Ada Searah

Sekalian lewat.

Kalimat itu tinggal di kepala Louisa bahkan setelah mangkuk buburnya kosong.

Ia tidak membantah lagi pagi itu. Bukan karena percaya, melainkan karena ada bagian kecil dalam dirinya yang belum siap memaksa Nathanael mengaku. Kalau ia bertanya terlalu keras, mungkin hal-hal lembut seperti bunga di meja dan bubur hangat akan berubah menjadi kewajiban yang harus dijelaskan.

Louisa belum ingin menjadikannya berat.

Jadi ia hanya membantu Bu Sari membereskan mangkuk, meski Bu Sari berkali-kali berkata tidak perlu.

"Bu Louisa istirahat saja."

"Saya cuma bawa ke sink."

"Nanti Pak Nathanael protes."

Louisa berhenti. "Kenapa dia harus protes?"

Bu Sari tersenyum sambil mengambil mangkuk dari tangannya. "Karena tadi sebelum berangkat, beliau bilang Ibu jangan kebanyakan berdiri pagi ini. Katanya semalam tidur kurang."

Louisa menatap lorong menuju pintu apartemen yang sudah tertutup.

Nathanael sudah pergi ke kantor lima belas menit lalu.

Namun perintah kecilnya masih tertinggal di dapur.

Hari berikutnya, bubur itu muncul lagi.

Kali ini Louisa bangun lebih cepat. Ia membuka pintu kamar saat langit Jakarta masih pucat. Vas di meja kerja sudah berisi bunga baru, warna peach lembut. Dari arah meja makan, aroma kaldu ayam sudah memenuhi ruangan.

Nathanael berdiri di sana dengan kemeja kerja belum dikancing penuh di pergelangan tangan. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja mandi terburu-buru.

"Kamu keluar lagi?" tanya Louisa.

"Sebentar."

"Ke Mangga Besar?"

"Iya."

"Sekalian lewat?"

Nathanael mengangkat mata. Untuk pertama kalinya, jawaban itu tampak hampir membuatnya sendiri ragu.

"Hari ini," katanya, "aku tidak bilang sekalian lewat."

Louisa menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum.

"Lalu bilang apa?"

"Aku beli bubur."

Jujur, tetapi tetap tidak menjawab bagian terpenting.

Louisa duduk di kursi. "Kenapa naik sendiri? Kan bisa minta driver."

"Lebih cepat kalau sendiri."

"Jam berapa kamu berangkat?"

"Cukup pagi."

"Nathanael."

"Jam lima lewat sedikit."

Sendok Louisa berhenti di udara.

Jam lima lewat sedikit.

Ia melihat wajah Nathanael, lalu mangkuk bubur di depannya, lalu bunga peach di meja kerja yang terlihat dari pintu kamar. Ada banyak hal yang bisa ia tanyakan. Kenapa sejauh itu? Kenapa harus pagi-pagi? Kenapa kamu tahu aku tidak suka daun bawang? Kenapa semua ini seperti sesuatu yang sudah lama kamu hafal?

Tetapi Nathanael sudah mendorong wadah kacang ke dekatnya.

"Makan dulu. Nanti dingin."

Kalimat itu menutup pertanyaan dengan cara yang terlalu lembut.

Di PT Nusatek Mandiri, kelembutan itu tidak bertahan lama.

Pukul sembilan lewat sepuluh, Jason Halim keluar dari lift eksekutif sambil membawa kopi dan suasana hati yang secara umum siap mengganggu orang. Ia baru saja selesai meeting di gedung sebelah dan memutuskan mampir tanpa janji, karena setelah kabar pernikahan mendadak, ia merasa memiliki hak historis untuk mengganggu Nathanael kapan pun.

Tiffany melihatnya dari meja resepsionis dan langsung menghela napas kecil.

"Pak Jason."

"Tif, jangan pasang muka begitu. Gue datang membawa energi positif."

"Biasanya energi positif Bapak membuat jadwal Pak Nathanael mundur dua puluh menit."

"Itu bukan mundur. Itu penyesuaian mental."

Tiffany tidak sempat menjawab karena pintu lift pribadi terbuka lagi.

Nathanael masuk dari arah koridor samping, bukan dari parkiran basement seperti biasa. Jasnya tersampir di lengan. Di tangan kirinya ada tumbler. Di tangan kanannya ada kantong kain lipat yang sudah kosong, tetapi Jason masih bisa melihat ujung plastik bening dengan stiker merah menyembul dari dalam.

Mata Jason langsung menyipit.

"Nath."

Nathanael berhenti.

Terlambat.

Jason berjalan mendekat dengan langkah lambat yang penuh niat buruk. Ia menunjuk kantong itu.

"Itu apa?"

"Kantong."

"Terima kasih, Kamus Besar Nathanael. Isinya bekas apa?"

"Sarapan."

"Sarapan dari mana?"

Nathanael tidak menjawab.

Tiffany menunduk ke layar komputernya. Bahunya diam, tetapi telinganya jelas bekerja.

Jason menarik ujung plastik dari kantong kain sebelum Nathanael sempat menyembunyikannya. Stiker merah itu muncul dengan sangat tidak bersalah.

Bubur Ayam Mangga Besar.

Jason membaca, lalu pelan-pelan mengangkat wajah.

"Lo beli bubur jam berapa?"

"Pagi."

"Itu bukan jawaban. Pagi bisa jam tujuh, bisa jam lima, bisa jam empat kalau hidup lo makin mencurigakan."

Nathanael mengambil kembali plastik itu. "Aku ada meeting."

"Meeting sama bubur?"

"Jas."

"Jangan Jas-Jas gue. Lo dari SCBD, ke Mangga Besar, balik lagi ke SCBD, lalu masuk kantor seolah ini rute manusia normal?"

Beberapa staf di area luar tiba-tiba sangat sibuk menatap layar.

Tiffany mengangkat telepon meja yang tidak berdering.

Jason menunjuk sepatu Nathanael. "Dan ini apa? Sepatu lo ada bekas becek. Driver lo mana?"

"Aku tidak pakai driver."

"Naik apa?"

Nathanael diam.

Jason melihat kartu uang elektronik yang terselip di saku luar tas laptop Nathanael. Wajahnya berubah dari curiga menjadi tercerahkan secara menyebalkan.

"Lo naik MRT?"

Nathanael mengambil kartu itu dan memasukkannya ke tas.

"Lebih cepat."

Jason menatap Tiffany. "Tif, tolong catat. Hari ini CEO kalian mengakui bahwa demi bubur, dia naik MRT subuh-subuh."

Tiffany berkata datar, "Saya tidak mendengar apa pun, Pak."

"Kantor ini penuh orang berbakat pura-pura tuli."

Nathanael mulai berjalan ke ruangannya. Jason mengikutinya tanpa diundang.

"Jas, aku ada call sepuluh menit lagi."

"Bagus. Berarti gue punya sembilan menit untuk menyelamatkan akal sehat lo."

Begitu pintu ruang kerja tertutup, Jason langsung meletakkan kopinya di meja.

"Lo bilang ke Louisa apa?"

"Apa?"

"Jangan apa-apa. Lo beli bubur Mangga Besar buat dia. Lo naik MRT pagi-pagi. Lo balik bawa dua porsi. Lo bilang apa?"

Nathanael membuka laptop. "Aku bilang beli bubur."

"Sebelumnya?"

"Sekalian lewat."

Jason menatapnya kosong.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia meledak.

"SCBD ke Mangga Besar mana ada searah?!"

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!