NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Dermaga Sepi dan Wajah yang Tak Selalu Sama

Deru mesin mobil memecah keheningan malam yang pekat, melesat membelah jalanan yang sepi tanpa penerangan yang memadai. Cahaya merah yang menyala di atas puncak bukit itu semakin terang seiring kami semakin menjauh, seolah-olah api yang tak pernah padam terus mengawasi setiap gerak-gerik kami. Erlan menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, matanya menatap lurus ke depan namun sesekali melirik tajam ke arah pergelangan tangannya yang kini berdenyut semakin cepat dan kuat. Tanda merah itu seolah memiliki nyawa sendiri, menuntun kami menuju bahaya yang entah seberapa besar siap menyambut kami di ujung perjalanan ini.

"Jangan turun dari mobil jika aku belum memberi aba-aba," ucapnya pelan namun tegas, suaranya terdengar berat namun penuh kewaspadaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. "Apa pun yang terjadi, apa pun yang kau lihat... jangan pernah mendekat sebelum aku memastikan bahwa itu aman. Mereka tahu kelemahan kita, Dian. Mereka tahu bahwa kita rela melakukan apa saja demi orang yang kita sayangi, dan itulah yang akan mereka gunakan untuk menjatuhkan kita."

Aku mengangguk pelan, tanganku meremas tepi jaketnya erat seolah mencari kekuatan yang bisa kugenggam nyata. Di dalam dadaku, perasaan cemas bercampur takut menjadi satu beban yang begitu berat. Bagaimana jika yang menanti kami di sana bukan sekadar musuh, melainkan sosok yang wajahnya masih Dimas namun hatinya sudah berubah menjadi sesuatu yang tak lagi kami kenal? Bagaimana jika pertahanan terkuat kami, kepercayaan dan kasih sayang justru menjadi senjata yang paling tajam untuk menghancurkan kami sendiri?

Sekitar sepuluh menit kemudian, siluet dermaga tua itu mulai terlihat di kejauhan. Kayu-kayu penyangganya yang sudah lapuk dimakan air laut dan waktu tampak seperti kerangka raksasa yang berdiri sendirian di tengah gelapnya malam. Angin laut yang kencang menerpa bodi mobil begitu kami berhenti di pinggir jalan, membawa serta bau air asin yang bercampur dengan aroma anyir yang tak biasa. Erlan mematikan mesin, lalu sejenak duduk diam menenangkan diri, menyusun rencana di dalam kepalanya sebelum akhirnya menoleh padaku.

"Tetap di sini, kunci pintu dari dalam, dan jangan buka untuk siapa pun selain aku," pesannya sekali lagi, lalu merogoh saku jaketnya dan menyelipkan sebuah pisau lipat di pinggangnya. Ia membuka pintu perlahan, melangkah keluar dengan langkah yang tenang namun siap siaga, sementara matanya terus memindai setiap sudut dermaga yang diterangi cahaya bulan yang samar.

Aku memperhatikannya dari balik kaca jendela, napasku tertahan di tenggorokan. Perlahan Erlan melangkah mendekat ke ujung dermaga tempat bayangan yang kami lihat tadi seharusnya berada. Saat ia akhirnya berhenti dan berdiri tegak, napasku tercekat.

Di sana berdiri Dimas. Punggungnya menghadap kami, seolah sedang menatap ke arah laut yang gelap gulita. Namun sesuatu terasa sangat salah. Cara ia berdiri begitu kaku, begitu diam, seolah ia bukanlah manusia yang bernapas, melainkan patung yang baru saja diletakkan di sana.

"Dimas," panggil Erlan dengan suara lantang namun tenang. "Kami tahu kau ada di sana. Keluarlah dan bicaralah. Kami datang untukmu."

Perlahan sosok itu berbalik. Dan saat wajahnya akhirnya terlihat jelas di bawah cahaya bulan yang redup, aku hampir berteriak histeris. Wajahnya memang wajah Dimas namun matanya bukan lagi mata yang kukenal. Bola matanya kini berwarna merah samar, kosong, tanpa perasaan apa pun, seolah jiwa sahabat kami telah dicabut paksa dari dalam tubuhnya dan digantikan oleh sesuatu yang dingin dan haus akan kekuasaan. Di tangannya, ia memegang benda yang kulihat tadi, sebuah kepingan batu kecil yang berkilauan hitam pekat, yang ternyata adalah bagian lain dari pusaka yang selama ini kami cari.

"Kalian terlambat," ucapnya, namun suara yang keluar bukanlah suara Dimas yang biasa kami dengar. Suaranya berat, bergema, dan seolah ada dua suara yang berbicara bersamaan dari mulut yang sama. "Kalian membiarkan waktu berlalu terlalu lama, dan kini kesempatan untuk menghentikannya sudah hilang."

"Ini bukan kau, Dimas," ucap Erlan perlahan, melangkah maju selangkah namun tetap waspada. "Kami tahu kau masih ada di sana. Jangan biarkan dirimu dipergunakan oleh kekuatan yang tak kau pahami. Kami bisa menyelamatkanmu."

Dimas tertawa, namun tawanya terdengar mengerikan, tanpa keriangan sedikit pun. "Menyelamatkan? Kalian yang sebenarnya butuh diselamatkan. Kalian berpikir cinta kalian adalah kekuatan terbesar? Cinta kalian hanyalah rantai yang mengikat kalian pada takdir yang sudah ditetapkan ribuan tahun lalu. Dan sekarang... rantai itu akan putus, dan keseimbangan yang sesungguhnya akan kembali pulih."

Tiba-tiba tubuh Dimas melengkung ke belakang seolah diserang rasa sakit yang luar biasa. Kepalanya bergetar hebat, dan mulutnya terbuka lebar namun tak ada suara yang keluar. Di dadanya, lencana merah itu kini bersinar terang benderang, seolah sedang merobek kulitnya sendiri untuk keluar. Sesaat kemudian, ia kembali tegak, namun kali ini tatapannya tertuju lurus ke arah mobil tempat aku bersembunyi.

"Kau... istri yang membawa cahaya dari masa lalu," ucapnya, jarinya menunjuk tepat ke arahku. "Kaulah yang membuat siklus ini berulang kembali. Dan kaulah yang harus mengakhiri semuanya dengan cara yang benar."

Erlan mencoba menyerang, namun Dimas mengangkat tangannya sekilas, dan Erlan seketika terlempar mundur hingga menghantam tumpukan peti kayu di pinggir dermaga. Ia meringis menahan sakit, namun segera bangkit kembali. Saat itu juga, kepingan batu hitam di tangan Dimas terbang melayang ke udara, menyatu dengan cahaya merah yang menyala di atas bukit, seolah memberi sinyal kepada sesuatu yang jauh lebih besar.

Dimas kembali menatapku, dan untuk sepersekian detik, di balik tatapan kosong itu, aku melihat secercah kesadaran yang masih tersisa. Bibirnya bergerak pelan, tanpa suara, namun aku bisa membacanya dengan jelas: "Jangan biarkan dia mengambilnya... jangan biarkan dia mengambil cinta kalian..."

Dan seketika itu juga, di belakang tubuh Dimas, bayangan yang jauh lebih besar dan lebih gelap perlahan muncul dari balik kabut laut yang tebal. Sosok itu tak memiliki wajah yang jelas, namun di tengah badannya yang gelap, terbentuk sebuah rongga yang memancarkan cahaya merah yang sama persis dengan tanda di pergelangan tangan Erlan. Cahaya itu berdenyut, seolah jantung dari mimpi buruk yang tak berujung.

Erlan berteriak memanggil namaku sambil berlari kembali ke arah mobil, namun aku terpaku diam melihat pemandangan itu. Entah bagaimana, aku tahu satu hal yang pasti: kedatangan kami ke sini bukan sekadar untuk menyelamatkan Dimas. Kami telah menginjakkan kaki tepat di ambang pintu dunia yang selama ini tersembunyi, dan entitas yang selama ini menunggu kini akhirnya berdiri tegak di hadapan kami, siap untuk menuntut apa yang ia yakini sebagai hak mutlaknya. Dan yang paling mengerikan... di tengah keheningan yang mencekam itu, aku mendengar bisikan halus yang bukan berasal dari mulut siapa pun, melainkan dari dalam darahku sendiri:

"Selamat datang kembali, Pemilik Kunci. Akhirnya siklus ini akan berakhir dengan benar... atau hancur selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!