NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga yang Iri

"Mas, uangnya sudah terkumpul. Besok aku panggil tukangnya, ya, buat renovasi bagian depan toko. Biar sedikit lebih luas," ucap Naresta sambil memperlihatkan buku tabungan kepada Elvan.

Elvan yang sedang melipat kardus bekas mengangkat kepalanya dan menatap sang istri.

"I-itu... t-terserah k-kamu, Sayang. K-karena i-itu uangmu," jawabnya pelan.

Naresta tersenyum lembut, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tapi izin dari seorang suami itu penting, Mas."

Elvan terdiam beberapa saat. Ia memang tidak pernah melarang apa pun yang dilakukan Naresta, apalagi semua itu demi mengembangkan usaha mereka.

"T-tapi... a-aku p-percaya s-sama k-kamu."

Mendengar jawaban itu, senyum Naresta semakin lebar.

"Terima kasih, Mas. Semoga setelah direnovasi, pelanggan jadi lebih nyaman belanja di sini."

Elvan menganggukkan kepalanya pelan.

"I-iya... semoga r-ramai."

**

Keesokan harinya, beberapa tukang mulai berdatangan ke toko Naresta. Mereka menurunkan semen, pasir, serta beberapa tumpuk bata yang akan digunakan untuk merenovasi bagian depan toko agar lebih luas.

Naresta tampak menjelaskan bagian mana yang akan direnovasi, sementara Elvan membantu memindahkan beberapa barang agar tidak menghalangi pekerjaan para tukang.

Tak lama kemudian...

"Cih! Manggil tukang saja bisa. Berarti uangnya ada, dong. Ngasih utang saja nolak, padahal nanti juga dibayar lunas," sindir seseorang dengan suara cukup keras.

Naresta langsung menoleh ke arah datangnya suara.

Siapa lagi kalau bukan Dewi.

Wanita itu berdiri di depan toko sambil melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya dipenuhi rasa iri melihat toko Naresta yang akan direnovasi.

Sementara beberapa tetangga yang melintas mulai menghentikan langkah mereka, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Saya menggunakan uang tabungan yang saya kumpulkan selama beberapa tahun ini, Mbak. Bukan memakai uang modal untuk belanja barang," jawab Naresta dengan tenang.

"Alah! Alasan saja. Kalau memang perhitungan, ya bilang saja perhitungan. Harusnya kamu itu saling membantu. Toh, cuma kamu di sini yang paling kaya," sindir Dewi dengan nada sinis.

Naresta tidak terpancing. Ia justru tersenyum lembut.

"Aamiin," sahutnya singkat.

Jawaban itu membuat Dewi mengernyit.

"Kok malah diamini?"

"Iya, Mbak. Saya mengamini doa yang baik. Semoga memang rezeki kami terus dilancarkan."

Beberapa tukang yang mendengar percakapan itu saling melirik, sementara beberapa tetangga hanya menggelengkan kepala melihat Dewi yang kembali mencari masalah.

Dewi mendecak kesal. Bukannya berhasil

memancing emosi Naresta, ia justru dibuat semakin jengkel karena wanita itu selalu menjawab dengan tenang dan penuh senyuman.

Melihat Elvan yang hendak keluar dari toko, Naresta segera menghampiri suaminya.

"Ayo, Mas. Masuk saja, nggak perlu keluar," ucapnya lembut sambil menggenggam tangan Elvan.

Elvan menatap istrinya dengan bingung.

"K-kenapa?"

Naresta tersenyum tipis.

"Udah, kita masuk saja ya, Mas."

"I-iya..."

Elvan menurut. Ia kembali masuk ke dalam toko bersama Naresta.

Melihat itu, Dewi kembali melontarkan sindiran.

"Cih! Mau disembunyikan bagaimana pun, semua orang sudah tahu kalau suamimu itu cacat, Naresta."

Naresta menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan dan menatap Dewi dengan tenang.

"Seharusnya kamu sadar. Hidup sudah enak, malah perhitungan. Makanya suamimu itu cacat begitu!" ejek Dewi.

Senyum di wajah Naresta perlahan memudar.

"Mbak Dewi," ucapnya pelan, "tolong jangan bawa-bawa kondisi suami saya hanya karena Mbak kesal tidak diberi utang."

"Memangnya kenapa? Saya cuma bilang kenyataan."

"Autisme bukanlah cacat yang pantas dijadikan bahan hinaan."

Dewi mendengus sinis.

"Ah, sama saja."

Naresta menggeleng pelan.

"Tidak, Mbak. Yang salah bukan kondisi suami saya, melainkan orang yang dengan mudah merendahkan orang lain."

Ucapan itu membuat beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian tersebut terdiam. Bahkan para tukang yang sedang bekerja ikut menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke arah mereka.

Naresta menatap Dewi dengan tenang. Meski hatinya terluka, suaranya tetap lembut.

"Saya sadar kok kalau suami saya memang tidak sempurna. Tapi, sehina itukah suami saya di mata Mbak Dewi?"

Dewi hanya mendengus pelan.

"Apa Mbak Dewi sudah merasa menjadi orang yang sempurna? Karena setiap kali berbicara, yang Mbak lakukan selalu menghina suami saya."

Naresta melirik Elvan yang berdiri di belakangnya dengan kepala tertunduk.

"Suami saya juga punya perasaan, Mbak. Dia bisa mendengar semua ucapan Mbak. Hanya saja, dia memilih diam dan bersabar."

Naresta kembali menatap Dewi.

"Tapi bukan berarti karena dia diam, Mbak bebas terus menyakitinya. Diamnya suami saya bukan tanda dia lemah atau tidak berani melawan. Dia hanya memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan."

Suasana mendadak hening.

Beberapa tetangga yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran itu mulai merasa tidak enak. Bahkan beberapa tukang yang sedang bekerja ikut menundukkan kepala, menyadari bahwa ucapan Naresta memang tidak ada yang salah.

Naresta menarik napas pelan sebelum kembali berbicara. Tatapannya tetap tenang, tetapi kali ini penuh ketegasan.

"Tidak apa-apa kalau Mbak menghina saya atau mencaci maki saya. Saya masih bisa menerimanya."

Ia menggenggam tangan Elvan yang sejak tadi berdiri di sampingnya.

"Tapi ada satu hal yang harus Mbak tahu."

Nada suaranya terdengar lebih tegas.

"Jangan pernah menghina dan mencaci maki suami saya lagi."

Naresta menatap Dewi tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.

"Karena saya tidak terima, Mbak."

Suasana mendadak sunyi.

Semua orang yang berada di depan toko terdiam.

Tak ada satu pun yang menyangka Naresta, yang selama ini dikenal lembut dan jarang membalas perkataan orang, akhirnya menunjukkan ketegasannya demi membela sang suami.

Sementara itu, Elvan menatap Naresta dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang berdiri paling depan untuk melindunginya dari semua hinaan yang selama ini ia terima.

Naresta menatap Dewi dengan sorot mata yang tegas.

"Kalau Mbak marah karena saya tidak memberikan utang lagi, itu masalah Mbak."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Seharusnya yang sadar diri itu Mbak, bukan saya."

Beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian itu hanya saling berpandangan.

"Utang Mbak sudah sangat banyak. Jadi, bagaimana saya bisa memberikan utang lagi kalau yang sebelumnya saja belum dilunasi?"

Naresta tetap berbicara dengan sopan, tanpa meninggikan suaranya.

"Saya membuka toko untuk mencari nafkah, bukan untuk terus menambah daftar utang pelanggan. Kalau modal saya habis karena terlalu banyak piutang, bagaimana saya bisa menjalankan usaha ini?"

Ucapan Naresta membuat beberapa warga mengangguk pelan. Mereka sadar bahwa apa yang dikatakannya memang masuk akal.

Namun, Dewi justru semakin kesal karena tidak menemukan kesalahan dalam perkataan Naresta.

Naresta mengembuskan napas pelan, berusaha tetap menahan emosinya.

"Lebih baik Mbak pergi saja."

Dewi menatapnya dengan tatapan tajam.

"Daripada saya kelepasan mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya."

Naresta tetap berbicara dengan nada tenang, tetapi ketegasan terpancar dari sorot matanya.

"Toh, yang sedang mempermalukan diri sendiri bukan saya, melainkan Mbak."

Ucapan itu membuat suasana di depan toko mendadak hening.

Beberapa tetangga saling berpandangan. Tidak sedikit dari mereka yang mengangguk pelan karena merasa Naresta sudah bersikap sabar sejak awal, sementara Dewi terus mencari-cari alasan untuk membuat keributan.

Dewi mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan malu karena kali ini tak seorang pun membelanya.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!