"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27 Kembali ke situasi awal
Sesampainya di rumah, Nenek Lusi menyambut mereka dengan senyuman puas setelah tahu Daren mengantar bahkan menggendong Nadia. Tak lama setelah itu, Nenek Lusi berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri karena urusannya sudah selesai, meninggalkan Daren dan Nadia kembali berdua dalam dinamika asli mereka.
Daren mendudukkan Nadia dengan perlahan diatas kursi sofa yang ada di ruang tengah rumahnya itu, Sementara nenek Lusi yang juga sedang duduk di kursi sofa tersebut memperhatikan sikap Daren yang benar-benar sudah berubah dari yang dulu kaku sekarang menjadi lebih penyayang pada Nadia.
"Bagaimana kata Dokter tentang luka di kaki Nadia, Daren?" tanya Nenek Lusi pada Daren yang sudah duduk di kursi sofa di samping Nadia.
"Kondisi kakinya mulai membaik Nek," jawab Daren.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kamu jangan lupa Daren ingat pesan Nenek harus tetap siaga menjaga Nadia jangan sampai ceroboh lagi dan kamu juga harus sering-sering mengecek kondisi tangga ataupun yang lainnya yang ada di dirumah ini agar tidak menimbulkan korban lagi seperti Nadia.
"Iya Nek, Aku pastikan aku akan siap selalu menjaga istriku dan tidak akan membiarkan Dia terjatuh lagi seperti kemaren," ucap Daren dengan bangganya.
Nenek Lusi tidak tahu kalau kaki Nadia yang terluka itu akibat dari ulah orang suruhan Elsa yang sudah menyabotase tangganya agar Nadia mendapatkan celaka. Daren tidak pernah bercerita kejadian yang sebenarnya yang sudah menyebabkan kaki Nadia terluka dan Nenek Lusi juga percaya pada cerita Daren yang mengatakan kalau luka kaki Nadia itu akibat tangga rumahnya yang sudah lama tidak di cek dan bautnya banyak yang longgar sampai menyebabkan Nadia mengalami kecelakaan saat menaiki tangga itu.
"Nenek percayakan Nadia sama kamu Daren, jadilah suami yang baik yang selalu menjaga istrinya dan menyayanginya dengan sepenuh hati ya," Nenek Lusi berpesan pada Daren sebelum dia pulang kembali ke kediamannya.
"Iya Nek," jawab Daren sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Nadia yang masih duduk di sampingnya itu, Lagi-lagi Nadia terpaksa harus diam mengikuti akting Daren di depan Nenek Lusi.
"Nadia, Kalau Daren berani menyakiti kamu, Jangan sungkan kamu bilang saja sama Nenek biar nanti Nenek yang urus dia," Pesan nenek Lusi pada Nadia.
Nadia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sopan pada Nenek "Iya Nek."
"Kalau begitu Nenek akan pulang siang ini juga," ucap Nenek Lusi sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa buru-buru Nek?" tanya Daren.
"Urusan Nenek di sini sudah selesai apalagi setelah melihat kalian berdua baik-baik saja hati Nenek jadi merasa tenang sekarang," ucap Nenek Lusi tersenyum pada Daren dan Nadia.
Daren dan Nadia mengantar Nenek Lusi sampai ke teras depan rumah, Nenek Lusi pun segera masuk ke dalam mobil mewahnya yang sudah sejak tadi si sopir Nenek menunggu.
Nenek Lusi membuka jendela kaca mobilnya dan tersenyum lagi pada Nadia dan Daren dan secara serentak Daren dan Nadia melambaikan tangannya pada Nenek Lusi.
Begitu mobil Nenek Lusi keluar dari gerbang, suasana hangat buatan itu langsung lenyap. Nadia langsung meminta izin untuk kembali ke kamar atas kamar Daren untuk beristirahat tanpa sepatah kata pun untuk Daren.
Daren mengerutkan keningnya menatap punggung Nadia yang sedang berjalan ke lantai dua itu.
Daren melangkahkan kakinya kembali berjalan ke ruang tengah Dia tidak mengikuti Nadia ke kamar atas karena Dia tahu kalau Nadia sudah kembali ke sifat aslinya yang selalu dingin pada dirinya.
Daren merebahkan punggungnya di atas kursi sofa besar yang ada di ruang tengah rumahnya itu, Dia duduk sambil sedang memikirkan sesuatu.
Malam harinya, Daren meminta pelayan untuk membawakan makan malam langsung ke kamar mereka agar Nadia tidak perlu repot turun tangga. Daren yang biasanya makan dengan tenang di meja makan, kini duduk di tepi ranjang, mencoba menemani Nadia makan.
Daren turun dari tangga lantai dua berjalan ke arah dapur, Dia melihat Bibik sedang memasak untuk makan malam. Daren berjalan mendekat pada Bibik " Bik, nanti kalau sudah matang makanannya di bawa ke kamar atas ya," perintah Daren pada Bibik.
"Baik Tuan," ucap Bibik tanpa banyak bertanya pada Daren.
Setelah itu Daren kembali lagi menaiki tangga menuju ke kamar atas di mana Nadia masih berada di sana.
Daren membuka obrolan dengan nada yang sangat rendah, jauh dari kesan angkuh. "Nadia... soal kejadian di rumah sakit tadi, dan soal ucapan Nenek... aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Aku tahu aku salah besar di masa lalu. Beri aku kesempatan untuk menebusnya."
Nadia meletakkan sendoknya perlahan. Dia menatap Daren dengan mata yang jernih namun sangat dingin. Tidak ada kebencian di sana, yang ada hanyalah ruang kosong yang membuat Daren merasa asing.
"Tuan Daren, Anda tidak perlu bersikap seperti ini. Perjanjian kita adalah kontrak kerja sama. Tugas saya hanya menjadi istri Anda di depan publik dan di depan Nenek Lusi. Di luar itu, kita tidak memiliki hubungan apa pun," ucap Nadia dengan nada tenang namun tegas.
Nadia melanjutkan, "Anda tidak perlu merasa harus menebus kesalahan dengan bersikap manis. Cukup jalani sisa kontrak ini dengan tenang, dan setelah waktunya habis, kita bisa berpisah dengan baik-baik tanpa ada drama lagi.
Kata "berpisah" yang keluar dari bibir Nadia dengan begitu mudahnya langsung membuat dada Daren terasa seperti dihantam godam. Daren menyadari satu hal yang mengerikan: Nadia benar-benar sudah tidak memiliki rasa apa pun padanya. Ketenangan Nadia adalah bukti bahwa wanita itu sudah mati rasa pada dirinya.
Daren yang terdiam seribu bahasa, menatap Nadia yang kembali bersiap untuk tidur di ujung ranjang yang jauh. Di dalam kegelapan kamar, Daren bersumpah dalam hati bahwa dia tidak akan pernah membiarkan kontrak itu berakhir dengan perceraian. Dia harus meruntuhkan dinding es di hati Nadia, bagaimana pun caranya.
"Tidak adakah sedikit perasaanmu untuk aku Nadia? Aku bersumpah, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu," gumam Daren saat terduduk di sofa sambil menatap Nadia yang sudah menutup matanya.
Malam semakin larut tapi Daren tetap tidak bisa memejamkan matanya, hatinya bergejolak memikirkan berbagai cara untuk bisa meruntuhkan dinding es yang sudah terlanjur menebal di hati Nadia.
Pandangan Daren beralih pada perban yang melingkari pergelangan kaki Nadia. Rasa bersalah kembali merayap, mencengkeram dadanya hingga terasa sesak. Setiap embusan napas tenang Nadia di seberang sana seolah menjadi tamparan tak kasat mata bahwa dia telah terlanjur melangkah terlalu jauh dalam menyakiti hati wanita itu.
Daren menyugar rambutnya dengan frustrasi. Selama ini, dia adalah pria yang selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan satu jentikan jari. Namun malam ini, di dalam kesunyian kamar yang dingin, Daren harus menerima kenyataan pahit: menaklukkan hati Nadia yang telah mati rasa akan menjadi perjuangan terbesar dan tersulit dalam hidupnya. Dan dia, bersedia melakukan apa saja demi menebusnya.
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang