Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.
Dengan tubuh yang terasa remuk dan hati yang hancur berkeping-keping, Freya menyeret langkahnya menuju kamar masa kecilnya di lantai dua. Ia hanya ingin menutup pintu, merebahkan diri, dan menangis tanpa perlu melihat wajah-wajah iblis yang telah merusak hidupnya. Namun, baru beberapa menit ia memejamkan mata di atas ranjang tuanya, suara benturan keras mengejutkannya.
Brak!
Pintu kamar terbuka secara paksa. Sean berdiri di ambang pintu dengan wajah masai dan berkacak pinggang. Tatapannya menatap Freya penuh kejengkelan.
"Bangun! Jangan sok drama meratapi kematian ayahmu," bentak Sean kasar. "Cepat bersiap. Kita pulang ke mansion Ravindra sekarang juga!"
Freya perlahan duduk, menatap Sean dengan sisa-sisa air mata di pipinya. "Aku ingin tinggal di sini beberapa hari lagi, Sean. Rumah ini baru saja kehilangan Ayah. Aku belum mau pulang."
"Kau pikir ini kemauanku?" Sean mendengus sinis, melangkah mendekat lalu mencengkeram pergelangan tangan Freya, memaksanya berdiri hingga wanita itu meringis menahan nyeri di bagian intinya. "Papa yang menyuruh kita pulang malam ini juga. Dia tahu aku sudah kembali dari liburan. Sialan, entah siapa yang melapor padanya. Cepat rapikan dirimu, jangan membuat Papa semakin mengamuk!"
Mau tidak mau, Freya menuruti perintah itu. Ketika hari mulai beranjak malam, mobil Sean membelah jalanan kota menuju mansion Ravindra.
Suasana di dalam mobil begitu mencekam; Sean terus mengumpat sepanjang jalan karena liburan indahnya bersama Bianca terganggu, sementara Freya hanya bisa memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke luar jendela.
Sesampainya di mansion Ravindra, atmosfer dingin yang intimidatif langsung menyambut mereka. Di ruang keluarga yang luas, Rafael sudah duduk di sofa tunggalnya. Pria paruh baya itu masih mengenakan kemeja formal tanpa jas, dengan lengan yang digulung hingga siku. Tatapan mata elangnya begitu tajam dan menusuk saat Sean dan Freya melangkah masuk.
"Duduk," perintah Rafael. Suaranya berat, tenang, namun memiliki daya tekan yang mutlak.
Sean yang biasanya angkuh mendadak menciut. Ia segera duduk di sofa panjang, dan Freya mengambil tempat di sampingnya dengan jarak yang sengaja ia jaga.
Rafael meletakkan sebuah berkas tebal ke atas meja kaca dengan dentuman pelan. "Jelaskan padaku, Sean. Apa yang kau lakukan selama satu minggu ini?"
Sean menelan ludah, mencoba menegakkan punggungnya. "A-aku... aku pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, Pa. Meninjau proyek baru di daerah pesisir."
"Urusan bisnis?" Rafael mendengus dingin, sebuah senyuman meremehkan terukir di wajah matangnya. "Saham Ravindra Corp menurun tiga persen minggu ini karena kelalaianmu. Banyak komplain dari jajaran direksi bahwa kau hampir tidak pernah menunjukkan batang hidungmu di kantor. Dan tentang pekerjaan luar kota satu minggu itu..." Rafael memajukan tubuhnya, menatap Sean dengan kilat mata yang mematikan. "...tidak ada satu pun agenda resmi perusahaan yang mencatat perjalananmu. Kau pikir kau bisa membodohiku?"
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Sean. Pria muda itu ketakutan setengah mati, langsung mencari banyak alasan yang tidak masuk akal. "Itu... itu agenda mendadak, Pa! Jaringannya buruk di sana, jadi sekretarisku belum sempat memasukkannya ke sistem pusat! Tolong percaya padaku, Pa—"
"Cukup," potong Rafael datar, mengangkat satu tangannya untuk menghentikan racihan kebohongan putranya.
Rafael bersandar kembali ke sofanya, sikapnya kembali dingin tak tersentuh. "Mulai besok, kau tidak lagi memegang posisi di kantor pusat. Kau akan dipindahkan untuk memegang perusahaan cabang di pinggir kota. Sedangkan operasional pusat akan dihandel dan diawasi sendiri olehku."
"Apa?!" Sean tersentak kaget, wajahnya memerah karena kesal dan tidak terima. "Tapi Pa! Itu tidak adil! Aku sudah menstabilkan banyak hal di pusat! Kenapa Papa melemparku ke cabang?!"
Rafael tidak membalas protes itu dengan kemarahan. Ia hanya menatap Sean dengan pandangan kosong yang teramat dingin. Sean mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia sangat kesal, namun ia sadar bahwa ia sama sekali tidak memiliki otoritas atau kekuatan untuk melawan keputusan ayahnya.
Daripada ia bertingkah dan akhirnya didepak tanpa kebagian aset apa pun, lebih baik dia menurut dan patuh untuk sementara waktu. Toh, Papa pasti akan memberikan seluruh perusahaan ini padaku nanti. Aku adalah pewaris satu-satunya Ravindra, batin Sean menghibur diri sendiri.
Setelah keheningan yang tegang, Rafael mengalihkan pandangannya. Kini, sepasang mata elang itu mengunci sosok Freya yang sejak tadi hanya menunduk diam. Tatapan Rafael berubah, menjadi lebih dalam dan penuh selidik yang pekat.
"Freya," panggil Rafael.
Freya perlahan mendongak, hatinya berdesir ngeri saat harus beradu pandang dengan pria yang telah menodainya itu.
"Tentang wanita bernama Bianca yang bersamamu di pemakaman tadi," ucap Rafael dengan nada dingin dan tegas. "Apakah memang benar dia adalah adik tirimu?"
Freya meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar. "Iya, Paa. Bianca adalah anak kandung dari Mama tiri saya, Leticia."
Rafael terdiam sejenak, lalu melontarkan pertanyaan berikutnya yang membuat suasana ruangan semakin membeku. "Lalu, apakah kau tahu tentang masa lalu antara Sean dan adik tirimu itu?"
Mendengar pertanyaan sang ayah, Sean yang duduk di samping Freya seketika menegang. Ia langsung menatap Freya dengan tatapan tajam dan menghunus, sebuah isyarat penuh ancaman yang menuntut Freya untuk menjaga rahasia mereka dan bersandiwara. Sean tidak tahu bahwa Rafael sebenarnya sudah tahu segalanya.
Freya melirik Sean sekilas, lalu kembali menatap Rafael. Mengingat wasiat terakhir ayahnya yang meminta agar ia tidak berpisah dengan suaminya, Freya terpaksa menelan seluruh harga dirinya. Ia memilih untuk berbohong demi menjaga keutuhan rumah tangga yang diwasiatkan ayahnya, sekaligus melindungi rahasia tentang ancaman hak waris yang dilakukan Sean tadi siang.
"Saya tahu, Papa," jawab Freya, suaranya terdengar tenang namun rapuh. "Memang benar Bianca adalah adik tiri saya, dan mereka berdua memiliki hubungan asmara di masa lalu, bahkan sebelum Sean mengenal saya. Tapi... semua itu sudah berakhir sebelum kami menikah. Sean sudah memutuskannya dan memilih saya untuk menjadi istrinya."
Rafael yang tahu betul fakta bahwa Sean baru saja berselingkuh dengan Bianca di hotel mewah selama seminggu ini, hanya diam. Ia mendengarkan kebohongan menantunya dengan wajah datar tanpa ekspresi, meskipun di dalam dadanya ada rasa tak suka yang bergejolak melihat Freya yang begitu mati-matian melindungi Sean.
Freya menarik napas dalam-dalam, melanjutkan kebohongannya demi menuruti topeng sandiwara yang diinginkan Sean. "Selama pernikahan ini, Sean selalu memperlakukan saya dengan sangat baik, Paa. Dia suami yang penuh perhatian.."
Sean mengembuskan napas lega yang amat besar di samping Freya, merasa posisinya aman karena kebohongan istrinya.
Namun, air mata Freya tiba-tiba menetes satu demi satu, membasahi pipinya yang pucat. Ia menatap lurus ke arah meja, dengan getaran suara yang teramat tulus dan menyakitkan, ia membisikkan kata-kata yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Saya bertahan di rumah ini... karena saya sangat mencintai Sean, Papa. Saya teramat mencintai suami saya..." ucap Freya lirih disusul sebuah isakan kecil.
Ya, itu adalah perkataan yang paling tulus dari seorang Freya. Terlepas dari segala kekejaman, pengkhianatan, dan perlakuan kasar yang ia terima dari Sean, Freya menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa ia memang teramat sangat mencintai suaminya.
*
Suasana di ruang keluarga itu kembali terjerembap ke dalam keheningan yang mencekam. Rafael hanya terdiam, jemarinya bertaut di atas meja, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia tidak memberikan komentar apa pun atas pengakuan cinta Freya, namun rahangnya tampak mengeras seolah ada gejolak besar yang sedang ia redam di balik wajah datarnya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Rafael akhirnya bergerak. Ia berdiri dengan perlahan, postur tubuhnya yang tinggi menjulang memberikan tekanan psikologis yang nyata bagi Sean dan Freya.
"Waktu sudah larut," ucap Rafael datar, suaranya kini terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Kembalilah ke kamar kalian. Istirahatlah. Besok pagi, aku tidak ingin mendengar alasan apa pun soal keterlambatan di kantor."
Sean, yang merasa sudah lolos dari interogasi berat ayahnya, segera bangkit dengan gerakan canggung. Ia menarik lengan Freya dengan kasar, memberi isyarat agar istrinya segera mengikuti. "Baik, Pa. Kami permisi."
Freya menunduk, mengangguk patuh sambil menahan isak tangis yang masih tersisa di tenggorokannya. Ia membalikkan badan, mengikuti langkah cepat Sean menuju tangga.
Namun, tepat ketika mereka berdua sudah berada di ambang pintu, langkah mereka terhenti oleh suara bariton Rafael yang menggema di seluruh ruangan, membawa ancaman yang jauh lebih berat dari sekadar pemindahan jabatan.
"Sean," panggil Rafael.
Sean menghentikan langkahnya, tubuhnya sedikit gemetar saat ia menoleh kembali ke arah ayahnya. "Ya, Pa?"
Rafael tidak langsung menoleh. Ia masih memunggungi mereka, menatap lukisan besar di dinding ruang keluarga dengan tatapan yang tajam. "Ini adalah peringatan pertamaku, dan mungkin yang terakhir," ucapnya dengan penekanan di setiap kata.
Rafael kemudian berbalik, menatap tajam tepat ke arah Sean. Sorot matanya bukan lagi tatapan seorang ayah, melainkan tatapan seorang predator yang siap menerkam.
"Freya adalah istri yang sah secara hukum dan agama dalam keluarga ini. Dia adalah tanggung jawabmu," ujar Rafael dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Aku sudah tahu banyak hal yang kau sembunyikan selama seminggu ini. Tapi aku masih memilih untuk diam demi harga diri keluarga."
Sean terdiam mematung, wajahnya pucat pasi.
"Namun, dengarkan aku baik-baik," lanjut Rafael, melangkah perlahan mendekati mereka, membuat Sean terpaksa mundur selangkah. "Sekali saja kau melakukan kesalahan fatal yang menyakiti Freya—sekali saja aku melihat setitik air mata di pipinya karena perlakuan kasarmu, atau satu kali saja kau mengkhianatinya lagi... maka aku tidak akan segan-segan untuk membuangmu."
"Pa—" Sean mencoba memotong, suaranya tercekat.
"Jangan membantah," potong Rafael dengan kilatan amarah yang tertahan di matanya. "Aku tidak akan membiarkanmu menginjakkan kaki di Ravindra Corp, aku akan mencoret namamu dari daftar ahli waris, dan kau akan keluar dari rumah ini dengan tangan kosong. Kau mengerti?"
Sean menunduk, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya, menahan gejolak amarah dan rasa malu yang luar biasa. "Ya... saya mengerti, Pa."
Rafael kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Freya. Tatapan yang tadinya tajam berubah menjadi lebih lunak—hampir terlalu lembut untuk ukuran seorang ayah mertua, yang justru membuat Freya merasa semakin tercekik.
"Kau bisa beristirahat sekarang, Freya. Jika ada apa-apa, kau tahu di mana mencariku."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Rafael berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Sean dan Freya yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
Begitu punggung Rafael menghilang di balik pintu kayu mahoni ruang kerjanya, Sean langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Freya. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian dan rasa terancam.
"Kau puas?" desis Sean dengan suara rendah namun tajam, mendekatkan wajahnya ke telinga Freya. "Kau lihat sekarang? Papa sampai harus turun tangan mengancamku karena kau mengadu, kan?"
"Aku tidak mengadu, Sean..." isak Freya pelan, air matanya kembali terjatuh. "Aku tidak mengatakan apa pun pada Papa."
"Jangan munafik!" Sean mencengkeram bahu Freya dan mendorongnya pelan ke arah koridor kamar mereka. "Jangan harap kau bisa merasa aman hanya karena Papa membelamu."
*
*
*
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean