Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Resepsi yang Terlalu Sempurna
Keira tidak punya kemewahan untuk runtuh di koridor servis.
Di ballroom, pembawa acara sudah memanggil Rayhan dan Sanya ke panggung. Tepuk tangan tamu memenuhi ruangan. Kamera menunggu. Dua keluarga besar menunggu. Semua orang menunggu acara berjalan sempurna.
Keira menarik napas, lalu menunjuk Kevin.
"Kamu. Tetap di sini. Jangan mendekati ruang pengantin."
"Ci..."
"Satu langkah saja kamu membuat masalah, aku seret kamu keluar lewat dapur."
Kevin menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya lelucon.
Keira beralih ke koordinator hotel. "Pindahkan dia ke area minuman belakang. Jangan dekat keluarga Yong."
Koordinator mengangguk cepat.
Selene tertawa kecil. "Galak sekali."
Keira menatapnya. "Kalau kamu punya urusan denganku, tunggu sampai acara selesai."
"Aku? Aku cuma tamu."
"Tamu yang terlalu sering berdiri di dekat api."
Senyum Selene menipis, tetapi Keira sudah berjalan kembali ke ballroom.
Di depan, Rayhan dan Sanya memotong kue. Sanya tersenyum. Rayhan memegang pinggangnya dengan jarak yang pantas. Lampu kamera membuat mereka tampak seperti lukisan keluarga konglomerat yang berhasil. Keira berdiri di sisi panggung, memastikan urutan acara tidak berantakan, sambil merasakan kepalanya berdengung.
Kevin dan Sanya.
Sanya hamil.
Kevin ada di area pengantin perempuan.
Semua potongan itu terlalu mengerikan untuk disusun di tengah resepsi.
Sanya hampir goyah saat turun dari panggung. Keira bergerak lebih dulu daripada pengiringnya, memegang siku Sanya.
"Duduk lima menit," bisik Keira.
Sanya menatapnya. Di mata perempuan itu ada rasa takut yang membuat Keira makin yakin ada sesuatu yang busuk di bawah bunga putih hari ini.
"Terima kasih," kata Sanya.
"Jangan berterima kasih. Jaga diri."
Sanya mengangguk, lalu berbisik sangat pelan, "Maaf."
Keira membeku.
Sanya sudah berjalan ke ruang istirahat sebelum Keira sempat bertanya maaf untuk apa.
Rayhan muncul di belakangnya. "Apa yang terjadi di belakang?"
Keira menoleh. "Masalah staf hotel. Sudah saya tangani."
"Kamu pucat."
"Sepatu saya menyiksa."
Rayhan menatapnya jelas tidak percaya. "Keira."
"Pak Direktur, acara belum selesai."
Untuk beberapa detik, ia kira Rayhan akan memaksa. Namun Sanya dipanggil untuk foto keluarga, Hendrik memberi isyarat, dan Rayhan harus kembali menjadi pengantin pria.
"Setelah acara, kita bicara," katanya.
Keira tidak menjawab.
Ia tidak sempat bicara setelah acara.
Karena setelah itu, acara bergerak seperti mesin yang sudah telanjur dinyalakan. Rayhan harus berdiri di panggung untuk toast keluarga. Sanya harus mengganti sepatu karena kakinya bengkak. Herman meminta tambahan foto dengan beberapa rekan bisnis. Hendrik ingin semua direktur lama Gemilang menyapa pengantin. Darren dua kali mengirim staf keamanan untuk bertanya di mana Keira, dan dua kali Keira hanya menjawab, "Sebentar."
Rayhan menangkap jawabannya dari Darren dan wajahnya makin dingin.
Di panggung, ia mengangkat gelas sampanye tanpa meminumnya. Semua orang tertawa saat pembawa acara membuat lelucon ringan tentang pasangan baru. Rayhan ikut tersenyum secukupnya. Namun matanya beberapa kali bergerak ke arah pintu servis.
Sanya melihat itu.
"Kamu mencari Keira?" tanyanya pelan.
Rayhan menoleh. "Dia mengurus acara."
"Dia selalu mengurus banyak hal."
Kalimat Sanya terdengar biasa, tetapi ada kelelahan di dalamnya. Rayhan tidak sempat membaca lebih jauh karena kamera kembali menyala.
Resepsi berakhir dalam gelombang tangan bersalaman, foto terakhir, amplop angpao, dan tamu yang mencari supir. Keira memastikan Sanya masuk mobil keluarga Kie tanpa terlalu lama berdiri. Rayhan naik mobil lain untuk urusan setelah pesta dengan Hendrik dan Herman. Ibu Meilan melewati Keira, berhenti sebentar.
"Kamu bekerja rapi hari ini."
"Terima kasih, Ibu."
Ibu Meilan menatapnya. "Tapi wajahmu seperti melihat hal yang tidak seharusnya dilihat."
Keira tidak tahu apakah itu intuisi seorang ibu atau pengalaman bertahun-tahun di keluarga kaya.
"Mungkin saya hanya lelah."
"Lelah tidak membuat mata orang setajam itu."
Ibu Meilan pergi sebelum Keira bisa menjawab.
Di area servis, Kevin sudah berganti pakaian biasa. Ia menunggu di dekat pintu karyawan, wajahnya kacau.
Keira berjalan menghampirinya.
"Sekarang bicara."
"Ci, jangan di sini."
"Di mana? Studio rahasia? Warung mie ayam? Hotel lain?"
Wajah Kevin langsung kehilangan warna.
Jadi benar.
Keira merasa lututnya lemas, tetapi ia tetap berdiri.
"Apa hubunganmu dengan Sanya?"
"Tidak seperti yang kamu pikir."
"Jangan hina aku."
Kevin menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku salah. Aku tahu. Tapi aku tidak merencanakan ini."
"Apa dia hamil karena kamu?"
Kevin menurunkan tangan. Matanya merah, mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara.
Keira hampir tidak perlu jawaban.
Namun sebelum ia bisa mendesak, seorang staf hotel lewat membawa troli kaca. Kevin mundur panik.
"Ci, kalau ini keluar, aku hancur. Sanya hancur. Keluarga kita juga bisa kena."
"Keluarga kita kena karena kamu berbuat, bukan karena aku tahu."
"Tolong. Aku akan bereskan."
"Bagaimana?"
Kevin tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Keira ingin menamparnya. Ingin menarik telinganya seperti saat mereka kecil dan Kevin mencuri kue nastar sebelum tamu datang. Tapi pria di depannya bukan anak yang bisa ditegur lalu selesai. Ia sudah menyentuh hidup perempuan yang akan menjadi istri Rayhan Kie, dan mungkin anak yang dikandung perempuan itu.
"Dengar aku baik-baik," kata Keira, suaranya rendah. "Mulai malam ini, kamu berhenti menemui Sanya."
Kevin menatapnya dengan mata panik. "Aku tidak bisa begitu saja hilang."
"Kamu bisa. Kamu memilih tidak."
"Dia sendirian, Ci."
"Dan kamu ingin jadi penyelamat? Lihat dirimu. Kamu bahkan tidak bisa menyelamatkan diri sendiri."
Kevin seperti tertampar tanpa disentuh.
"Aku tahu aku salah," bisiknya.
"Belum. Kalau kamu benar-benar tahu, kamu tidak akan berdiri di sini meminta aku ikut menutupinya."
Di ujung koridor, Selene lewat sebentar, cukup jauh untuk tidak terdengar, cukup dekat untuk membuat Keira sadar percakapan ini tidak aman. Ia menelan semua pertanyaan lain.
"Besok pagi ke rumah," kata Keira. "Kita bicara di depan Mama Lina kalau perlu."
"Jangan, Ci."
"Kalau kamu masih berbohong, aku yang pilih caranya."
Keira meninggalkan hotel dengan dada penuh batu. Ia tidak memberi tahu Rayhan. Belum. Ia bahkan belum tahu apakah ia punya hak, kewajiban, atau keberanian untuk melempar bom ke pernikahan yang baru selesai beberapa jam lalu.
Di mobil menuju Rumah Khiu, ia menerima pesan dari Arya.
Kamu sudah selesai? Aku tunggu di rumah.
Keira menatap pesan itu. Ia terlalu lelah untuk menjadi perempuan yang ditunggu dua pria dengan masalah berbeda.
Saat sampai rumah, lampu ruang tamu masih menyala. Mama Lina duduk bersama Papa Hendra, tetapi ada koper kecil di dekat pintu.
"Keira," kata Mama, wajahnya hati-hati. "Om Anton menelepon dari kantor polisi."
Keira berhenti.
Papa Hendra melanjutkan, "Vania datang ke Jakarta. Untuk sementara, dia akan tinggal di sini."
Dari kamar tamu, seorang gadis muda keluar dengan mata sembap dan ransel lusuh di bahu.
"Ci Kei?" katanya pelan.
Keira menatap wajah Vania Khiu, sepupu yang sudah lama tidak ia temui, lalu menyadari malamnya belum selesai sama sekali.