NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Aroma Teh di Depan Pintu

Melati adalah tangan yang tetap memegang sikunya saat lantai mulai retak.

Tangan itu masih menggenggam Bunga ketika mobil berhenti di depan apotek kecil, tidak jauh dari kos. Melati memaksa turun lebih dulu, membeli plester yang "tidak kelihatan seperti hadiah dari warung", kapas, dan antiseptik ukuran kecil.

"Aku bisa beli sendiri," kata Bunga.

"Bisa. Tapi tadi kamu menyelamatkan anak orang kaya dari jatuh, menghadapi Ratih, dan mendengarkan curhatku soal dijadikan alat nikah. Hari ini biarkan aku beli plester."

Bunga menerima kantong apotek itu. "Kalau kamu membuat daftar jasaku, kedengarannya aku mahal."

"Kamu memang harus mulai mahal."

Rangga berkata, "Temanmu semakin masuk akal."

"Jangan sok menilai," gumam Bunga.

Melati menoleh. "Apa?"

"Aku bilang antiseptiknya kecil."

"Bohong."

Bunga tersenyum tipis, tidak membantah.

Di kosnya, beberapa jam sebelum tea gathering, Bunga sempat membuat teh untuk menenangkan perut. Bukan teh manis yang biasa ia minum di warung. Rangga, dengan nada seolah sedang menilai dokumen hukum, menyuruhnya menyeduh teh melati pahit, tanpa gula, tidak terlalu pekat.

"Kamu ini orang koma tapi selera masih rewel," gerutu Bunga saat itu.

"Itu bukan rewel. Itu standar."

"Standar orang kaya."

"Standar lidah yang tidak perlu disiksa gula berlebihan."

Bunga tetap membuatnya. Ia tidak tahu apakah Rangga benar-benar bisa merasa lewat tubuhnya saat ia minum, tetapi ketika aroma teh melati naik dari gelas, suara Rangga menjadi lebih tenang. Itu cukup.

Gelas itu tertinggal di meja kecil ketika ia berangkat bersama Melati.

Dan beberapa jam kemudian, Aditya Nugraha berdiri di depan gang sempit menuju kos Bunga dengan map tipis di tangan.

Ia tidak cocok berada di sana. Kemejanya terlalu rapi, sepatunya terlalu bersih, dan wajahnya terlalu terbiasa membuat resepsionis gedung tinggi menegakkan badan. Namun Aditya sudah lama belajar bahwa jejak paling menarik jarang berhenti di tempat yang pantas.

Di dalam map itu ada tiga hal.

Pertama, catatan akses internal Wicaksana Group atas beberapa berkas kepatuhan lama terkait PT Garuda Perkasa yang kembali dibuka setelah Rangga koma.

Kedua, riwayat pengiriman dokumen digital yang sempat lewat layanan cetak kecil di area ini sebelum jejaknya diputus.

Ketiga, satu nama yang muncul di daftar vendor kecil acara Prawira setelah gala: Bunga Lestari, personal sourcing and event assistance.

Secara hukum, itu belum cukup untuk menuduh siapa pun.

Secara naluri, itu cukup membuat Aditya membatalkan dua rapat dan datang sendiri.

"Mbak Bunga?" tanya penjaga kos, perempuan setengah baya yang duduk di dekat meja plastik sambil memilah uang listrik.

"Iya. Bunga Lestari. Dia tinggal di sini?"

Perempuan itu menatap Aditya dari atas ke bawah. "Mas siapa?"

Aditya tersenyum sopan. "Klien. Saya ada urusan pekerjaan."

"Klien biasanya chat dulu."

"Saya sudah coba. Mungkin dia sedang tidak lihat ponsel."

Itu bohong kecil. Ia belum menghubungi Bunga. Orang yang tidak tahu sedang diselidiki biasanya lebih jujur saat belum sempat bersiap.

Perempuan itu masih curiga. Bagus, pikir Aditya. Setidaknya kos ini tidak sepenuhnya bodoh.

"Dia keluar. Sama temannya. Belum balik."

"Boleh saya titip kartu nama?"

"Taruh saja di bawah pintu. Tapi jangan macam-macam, Mas. Di sini banyak anak perempuan."

Aditya hampir tersenyum sungguhan. "Saya pengacara, Bu. Macam-macam saya biasanya pakai surat."

"Justru itu lebih serem."

Kali ini ia tertawa pelan. "Poin bagus."

Ia berjalan ke koridor sempit yang ditunjukkan. Lantai semen, dinding dicat ulang terlalu tipis, beberapa sandal di depan pintu. Di ujung koridor, pintu kamar Bunga tertutup. Tidak ada hiasan, hanya gantungan kecil yang miring dan nomor kamar yang catnya hampir lepas.

Aditya berhenti di depan pintu itu.

Ia hendak menaruh kartu nama ketika aroma itu menyentuh hidungnya.

Teh melati pahit.

Tanpa gula.

Tidak pekat, tetapi diseduh cukup lama sampai wangi bunganya tinggal di udara.

Aditya membeku.

Aroma tidak bisa dijadikan bukti. Di pengadilan, ia akan ditertawakan kalau berkata ia menemukan sesuatu karena mencium teh. Jakarta penuh orang yang minum teh. Minimarket menjual teh melati di rak paling rendah. Tidak ada yang istimewa.

Kecuali ia mengenal satu orang yang selalu memesan teh seperti itu.

Rangga Wicaksana.

Di asrama kampus dulu, ketika teman-teman lain minum kopi sachet menjelang moot court, Rangga menyeduh teh melati pahit dan berkata gula membuat argumen orang menjadi malas. Aditya pernah mengejeknya selama satu semester penuh.

Kenangan itu datang terlalu jelas.

Rangga duduk dengan kemeja putih digulung sampai siku, mata merah karena begadang, cangkir teh di sebelah tumpukan berkas. Rangga berkata, "Kalau kamu kalah, setidaknya jangan kalah dengan napas bau kopi murahan."

Aditya pernah melempar stabilo ke arahnya.

Sekarang Rangga terbaring koma di fasilitas keluarga, sementara aroma teh kesukaannya keluar dari kamar kos seorang gadis yang namanya muncul di pinggir jejak berkas Garuda Perkasa.

Aditya menatap ventilasi kecil di atas pintu.

"Kebetulan?" gumamnya.

Tidak ada jawaban.

Ia menaruh kartu namanya di bawah pintu. Lalu, setelah berpikir satu detik, ia menariknya kembali.

Belum.

Kalau Bunga memang tidak tahu apa-apa, kartu nama akan membuatnya takut. Kalau Bunga tahu sesuatu, kartu nama akan membuatnya bersiap. Aditya butuh melihat reaksi alaminya, bukan versi yang sudah dilatih.

Ia kembali ke meja penjaga kos.

"Kalau Mbak Bunga pulang, tidak perlu bilang saya datang," katanya.

Perempuan itu menyipitkan mata. "Lho, katanya klien."

"Saya berubah pikiran. Saya akan buat janji resmi."

"Orang kantor memang ribet."

"Benar, Bu. Kami hidup dari keribetan."

Aditya keluar dari gang, tetapi tidak langsung masuk mobil. Ia berdiri di tepi jalan, membuka ponsel, dan melihat foto Rangga yang ia ambil diam-diam di ruang perawatan beberapa hari lalu. Wajah sahabatnya pucat, mata tertutup, tubuh penuh alat medis.

Ia hampir menelepon Arjuna, lalu menahan diri. Hampir.

Pada akhirnya ia tetap menekan nama itu.

"Ada apa?" suara Arjuna terdengar rendah, lelah, dan waspada.

"Kamu pernah dengar nama Bunga Lestari?"

Hening pendek.

"Siapa?"

"Itu juga yang sedang saya cari tahu."

"Aditya."

"Santai. Saya belum menuduh siapa pun. Saya hanya menemukan namanya di pinggir beberapa jalur yang terlalu sering berdekatan dengan berkas Rangga."

Arjuna mengembuskan napas. "Kalau ini berhubungan dengan berkas yang dipakai orang kantor, jangan bergerak sendirian."

"Lucu. Saya mau bilang hal yang sama ke kamu."

"Jawab pertanyaan saya. Dia berbahaya?"

Aditya melihat kembali gang sempit itu. Anak kecil berlari membawa es plastik, motor lewat terlalu dekat, dan dari lantai dua kos seseorang menjemur handuk.

"Belum tahu," katanya. "Tapi ada sesuatu yang sangat tidak cocok."

Ia memutus telepon sebelum Arjuna bisa bertanya lebih jauh.

Lalu ia melihat lagi alamat kos di catatannya.

Rangga tidak mungkin membuat teh di kamar itu.

Tetapi sesuatu dari Rangga pernah sampai ke sana.

Aditya memasukkan map ke jok mobil, menyalakan mesin, dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai menyelidiki berkas itu, ia merasa kasus ini tidak hanya busuk.

Kasus ini aneh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!