NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kamar Atas

...

Aroma kayu tua yang mengering berpadu dengan wanginya cengkih dan sisa uap gula aren menyambut langkah Pamela saat dia melangkah lebih dalam ke area belakang Kedai "Selasih". Malam telah sepenuhnya larut, menyisakan deburan ombak pantai selatan yang terdengar ritmis, seolah menjadi musik latar yang berusaha menenangkan jiwanya yang compang-camping setelah perjalanan panjang dari pusat kota.

Ibu Sarah masih menggandeng tangan Pamela dengan kehangatan seorang ibu, menuntunnya melewati lorong kecil di samping dapur produksi kedai. Langkah kaki mereka menghasilkan derit halus di atas lantai papan jati yang terawat bersih.

"Neng, mulai malam ini, kamu jangan pulang lagi ke rumah panggung di ujung jalan itu sendirian," ucap Ibu Sarah, suaranya memecah kesunyian malam dengan nada yang teramat lembut namun penuh ketegasan. "Ibu tidak tenang kalau pria kota itu atau keluarganya datang lagi menyergapmu di tengah jalan yang sepi. Di sini, setidaknya ada Joni dan anak-anak anak magang lain yang tidurnya di paviliun belakang. Kamu aman di sini."

Pamela menghentikan langkahnya sejenak, menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan sepasang mata yang masih menyiratkan kelelahan mendalam. "Tapi, Bu... saya tidak mau merepotkan Ibu lebih banyak lagi. Fasilitas yang Ibu berikan selama ini sudah jauh dari cukup untuk pelarian saya."

Ibu Sarah tersenyum hangat, mengusap punggung tangan Pamela yang terasa dingin. Sifatnya yang keibuan seolah menjadi oase di tengah gersangnya kasih sayang yang Pamela terima selama tujuh tahun pernikahan dengan Zidan. "Merepotkan apa? Kamar di atas ini sudah lama kosong sejak anak perempuan Ibu menikah dan ikut suaminya ke luar kota. Daripada berdebu, lebih baik kamu yang tempati. Anggap saja ini bagian dari fasilitas kepala dapur baru di kedai Ibu."

Tanpa menunggu bantahan lagi dari Pamela, Ibu Sarah menuntunnya menuju sebuah tangga kayu vertikal yang terletak di sudut ruangan, dekat dengan area penyimpanan bahan kering. Tangga itu kokoh, dengan pegangan besi tempa hitam yang estetik.

Saat Pamela melangkah menaiki satu per satu anak tangga, hawa dingin malam pantai perlahan berganti dengan kehangatan yang mengalir dari lantai atas. Begitu kepalanya melewati batas lantai, sebuah ruangan kecil yang teramat asri menyambut pandangannya.

Kamar itu tidak luas, mungkin hanya berukuran tiga kali empat meter, namun penataannya begitu rapi dan fungsional. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu halus yang dicat putih gading, memberikan kesan lapang dan bersih. Di salah satu sudut, terdapat sebuah ranjang kayu jati rendah dengan kasur kapuk tebal yang dilapisi sprei katun bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru pudar yang tampak sejuk.

Yang paling menarik dari kamar ini adalah jendela kayu besarnya yang berdesain ganda. Jendela itu langsung menghadap ke arah laut lepas. Saat ini, daun jendelanya sedikit terbuka, membiarkan angin malam yang membawa aroma garam bertiup lembut, menggoyahkan tirai kain kelambu putih yang terpasang di sana. Di luar jendela, beberapa dahan pohon ketapang yang rimbun tumbuh merapat ke dinding luar, memberikan kesan asri dan alami seolah kamar ini menyatu dengan alam sekitarnya.

Di sudut lain, terdapat sebuah meja tulis kayu kecil yang di atasnya diletakkan sebuah lampu minyak pajangan yang kini telah dimodifikasi menggunakan bohlam kuning redup, memancarkan pendaran cahaya yang hangat dan menenangkan jiwa.

"Bagaimana, Neng? Memang kecil, tidak semewah rumah-rumah di kota besar," kata Ibu Sarah sambil melangkah masuk, merapikan sedikit lipatan selimut wol tebal di ujung ranjang.

Pamela berjalan pelan, jemarinya menyentuh permukaan meja kayu yang halus tanpa debu. Untuk pertama kalinya sejak dia turun dari bus antar-kota sore tadi, sebaris senyuman tulus yang teramat tipis terukir di bibirnya yang pucat. Jiwanya yang semula terasa kosong dan beku, perlahan merasakan sepercik kehangatan yang sudah sangat lama tidak dia rasakan.

Di rumah mewah Arkatama dulu, kamarnya bersama Zidan memang sangat luas, berlantai marmer Italia dengan ranjang berukuran king size dan fasilitas pendingin ruangan tercanggih. Namun, di dalam kemewahan itu, Pamela selalu merasa seperti seorang tahanan. Kamar megah itu adalah saksi bisu dari ratusan malam yang dia habiskan dengan menangis dalam sunyi, menunggu suaminya yang narsis pulang dalam keadaan mabuk atau mendengarkan makian dingin Zidan yang menganggap keberadaannya tidak lebih dari sekadar pajangan status sosial.

Kamar kecil di atas kedai ini, dengan segala kesederhanaannya, justru terasa seribu kali lebih bernyawa bagi Pamela. Di sini, tidak ada ketakutan, tidak ada cemoohan Keysha, dan tidak ada tekanan emosional dari keluarga narsistik yang selalu menganggapnya sebagai parasit.

"Ini... ini teramat indah, Bu. Terima kasih banyak," bisik Pamela, suaranya bergetar tipis menahan haru. Sifat dingin yang tadi sempat dia pasang di terminal kini perlahan mencair, menyisakan ketulusan seorang wanita yang merindukan tempat bernaung yang aman.

"Sudah, sekarang kamu bersihkan badan lalu langsung tidur. Jangan memikirkan apa-apa lagi. Besok pagi, kedai baru buka jam sembilan, kamu bisa istirahat lebih lama," ucap Ibu Sarah lembut sebelum akhirnya pamit turun ke bawah, menutup pintu kayu kecil kamar itu dengan perlahan.

Keheningan malam kembali mengunci kamar atas. Pamela berjalan mendekati jendela, bersandar pada bingkai kayunya yang kokoh. Angin laut bertiup bebas, memainkan helai demi helai rambut panjangnya yang hitam kecokelatan yang dia biarkan tergerai pasca-melepas seluruh beban hari ini.

Dia menatap hamparan laut gelap di luar sana, di mana ombak putih sesekali memecah kegelapan malam. Pikirannya kembali melayang pada anak-anaknya, Ryan dan Riana. Rasa rindu itu masih ada, menggores ulu hatinya dengan rasa perih yang lambat namun konstan. Namun malam ini, keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan membiarkan air mata kelemahan kembali menguasai dirinya. Kamar asri ini akan menjadi benteng pertahanannya yang baru, tempat dia mengumpulkan kekuatan untuk menata kehidupannya yang mandiri.

...

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di pusat kota, badai penyesalan yang sesungguhnya baru saja dimulai di kediaman keluarga Arkatama.

Rumah mewah bertingkat tiga itu tampak sunyi senyap, seolah-olah seluruh energinya telah ikut terbawa pergi bersama langkah kaki Pamela. Di dalam ruang kerja pribadinya yang luas, Zidan duduk diam di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Lampu ruangan sengaja dia matikan, hanya menyisakan pendaran cahaya dari layar laptopnya yang menampilkan berkas-berkas saham perusahaan yang mendadak terasa begitu memuakkan di matanya.

Pria narsis itu tidak sedang bekerja. Kedua tangannya saling bertaut di depan dagunya, sementara matanya menatap kosong ke arah sofa kulit di sudut ruangan.

Dulu, setiap kali dia lembur hingga tengah malam di ruang kerja ini, Pamela akan selalu masuk dengan langkah kaki yang teramat pelan agar tidak mengganggu konsentrasinya. Wanita itu akan meletakkan secangkir kopi hitam kesukaannya dan sepiring camilan hangat di atas meja kecil, lalu duduk diam di sofa itu dengan sebuah buku di pangkuannya, setia menunggunya selesai bekerja hanya agar mereka bisa berjalan ke kamar tidur bersama-sama.

Saat itu, Zidan sering kali mengabaikannya. Dia bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih, sering membiarkan kopi itu mendingin tanpa disentuh, dan menganggap kesetiaan Pamela sebagai sebuah kewajiban murah yang memang pantas dia dapatkan sebagai seorang suami yang memberi nafkah berlimpah.

Kini, melihat sofa kulit yang kosong itu, Zidan merasakan sebuah kekosongan yang teramat pekat meremas dadanya tanpa ampun. Kata-kata Pamela di kantin rumah sakit siang tadi kembali terngiang di telinganya bagai hantaman palu yang meremukkan seluruh harga diri narsistiknya.

'Wanita yang dulu mengemis perhatianmu di teras rumah malam-malam sambil memegang piring makanan dingin, sudah mati. Dia sudah kamu bunuh...'

Zidan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menonjol kemerahan menahan gejolak emosi batin yang kian menyiksa. Sifat angkuhnya dipaksa bertekuk lutut di hadapan kenyataan bahwa dia telah kehilangan hal paling berharga di dalam hidupnya. Penyesalannya yang terlambat kini telah menjelma menjadi sebuah kekerasan psikologis yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Dia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tidak ada pesan, tidak ada telepon masuk dari nomor Pamela. Wanita itu benar-benar telah memutus seluruh akses emosional di antara mereka. Kehadiran Pamela di rumah sakit tadi pagi murni hanya sisa-sisa belas kasih sebagai sesama manusia, bukan karena sisa cinta yang dulu selalu Zidan sepelekan.

...

Di atas kamar kecil kedai yang asri di pinggir pantai, Pamela mulai memejamkan matanya di atas kasur kapuk yang hangat dengan jiwa yang merdeka; sementara di dalam kamar megah rumah mewah kota, Zidan Arkatama terpaksa terjaga semalaman, merangkak di dalam kehampaan malam yang pekat bersama bayangan penyesalan keluarga yang tidak akan pernah membiarkannya tidur nyenyak lagi.

1
Himna Mohamad
notif yg ditunggu
kikyoooo: siap... bakal doublee up.. .
total 1 replies
adam Ridho
d bab ini aku meleleh thor😥 riana kangen mama pamela😭
Adam Markelov izaan
,
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Adam Markelov izaan
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Adam Markelov izaan
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
adam Ridho
semangat thor💪💪💪😍 lanjut dobel up ceritanya seeeruuu 🤩
Adam Markelov izaan
lanjutkn thorrr💪💪💪

⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Lili Inggrid
lanjut..endingnya happy 😊
Adam Markelov izaan
ngarepp dboom update-an
🤭🤭🤭🤭🤭

 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
adam Ridho
seruuu🤩 semangat d tunggu dobel upnya otor😍💪💪
Adam Markelov izaan
gregetttttt seruuuu
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
adam Ridho
d tunggu up kelanjutan cerita nya lagi otor💪💪💪💪💪🤩
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!